Baby Blues Teratasi?

1 Reply

Pribadi

Belum sepenuhnya sih, tapi sekarang sudah cukup teratasi.

Jadi, banyak yang menyarankan agar saya tinggal bersama orangtua saja. Saya pun maunya begitu, sewaktu baby blues sedang parah kemarin saya kepengeeen banget pulang ke priuk.

Keinginan pulang ke priuk rasanya karena saya merasa kesepian. Di rumah priuk begitu banyak orang di rumah dan saya sudah terbiasa dengan suasana rumah yang ramai. Sedangkan di rumah mertua, saya merasa sepi 😛

Tapi saya gak enak sama mertua. Dia sudah rela mengambil cuti tahunannya agar kami (saya, suami, dan Naia) tinggal di rumahnya.

Lalu, saya disarankan oleh suami dan kaka saya agar bersabar dan menunggu sampai cutinya habis. Tapi saya merasa gak bisa bersabar.

Akhirnya sepulang kantor, suami berusaha menyenangkan saya dengan memberikan saya kejutan. Dan, cukup berhasil. Suasana hati saya sedikit lebih tenang.

Esoknya, jadwal saya kontrol ke dokter untuk buka perban. Karena jadwal dokter Shinta pada hari itu siang, jadi suami tidak bisa menemani. Akhirnya kita sepakat kalau diundur aja kontrolnya jadi hari setelahnya yang jadwal dokternya malam agar bisa ditemani suami.

Tapi, begitu suami pengen berangkat ke kantor, saya tiba2 menangis lagi. Akhirnya suami rela untuk gak masuk kantor demi menemani saya seharian itu. Nah, karena udah ijin, akhirnya kontrol ke dokter jadi di hari itu. Hari itu suasana hati sudah jauh membaik.

Esoknya lagi, suami masuk kantor tapi dia selalu mengirim kabar atau setidaknya mengobrol lewat sms agar saya tidak kesepian. Mulai hari itu akhirnya dia selalu mengirim dan mengobrol lewat sms dengan saya jika sedang di kantor.

Dan sekarang, saya engeh kalau keadaan saya jauh membaik. Dan saya baru engeh juga keadaan saya membaik sejak suami memberikan saya kejutan itu.

Akhirnya baby blues saya lumayan teratasi dengan sikap suami yang sangat pengertian itu. Terima kasih ya Ilman Akbar :*

1 comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: