Momopururu » January 2013

Monthly Archives: January 2013

Hobi Keluarga

Jadwal Menu Masakan

Bikin jadwal menu masakan harian bikin rajin masak lho, khususnya sih untuk saya ya 😛

Jadwal Menu

Jadwal Menu

Sebelum nikah saya jaraaang sekali masak, bahkan hampir gak pernah. Makanya waktu mau nikah juga saya wanti-wanti ke calon suami kalo saya gak bisa masak, eheheh. Biar suami gak berharap banyak dengan makanan yang saya masak. 😛 Alhamdulillahnya suami mengerti dan mauuu banget bantuin saya masak, meng-encourage setiap masakan yang saya masak, mengkritik atau ngasih saran akan masakan saya, dsb yang dilakukan agar masakan saya lebih baik.

Awal-awal nikah sih cukup rajin masak, itu juga yang simple-simple banget. Tapi seiring perkembangan waktu saya jadi jarang masak lagi, rajin masaknya bertahan 1 atau 2 bulan kali yak 😛 Karena malas dan bingung mau masak apa sih setiap harinya. Ya walaupun ada buku resep masakan yang segede gaban itu, tetep aja saya bingung. Apalagi kalo bahan makanan yang ada itu-itu aja, jadinya ya gak variasi deh makanannya.

Kitab Resep Masakan

Kitab Resep Masakan

Begitu punya anak, tetep aja begitu keadaannya. Kalau niat saya lagi timbul dan semangat banget ya saya masak, tapi kalo enggak ya gak masak 😛 Atau kalo niat ada tapi gak semangat, saya paling masak yang simple (sesimple mie goreng, nasi goreng atau sekedar telor ceplok, heheheh)

Akhir tahun lalu, saya dan suami ikut seminar parenting dan pembawanya membahas mensiasati anak  biar mau makan adalah dengan cara membuat jadwal menu harian, dan yang memutuskan menunya ya anak-anak sendiri. Saya dan suami setuju dengan ide itu dan ingin diterapkan nanti ketika anak-anak sudah mengerti.

Tapii, saya mikir lagi, kenapa gak dibiasain dari sekarang aja, dimulai dari saya dan suami yang menentukan. Mungkin saja dengan begitu saya bisa jadi rajin masak dan gak kebingungan lagi pengen masak apa 😛

Akhirnya baru deh minggu ini kita bikin jadwal menu harian di kertas beserta bahan belanjaan yang mau dibeli selama seminggu itu. Alhamdulillah udah 3 hari ini kita berhasil mengikuti jadwal itu, hehe. Dan, dari masakan yang biasanya cuma 1 lauk 1 sayur, sekarang jadi bisa 2 lauk dan 1 sayur deh.

Menu Seminggu

Menu Seminggu

Dengan bikin jadwal kaya gini, gizi kita makin banyak dan seimbang, makanan makin variatif, dan saya juga jadi gak males masak 😀

Mudah-mudahan cara ini bisa kita lakukan seterusnya sama anak2 nanti. Aamiin…

Published by:
Uncategorized

Supir Taksi & Gendongan

Sebelum kejadian kemarin, saya percaya sekali dan yakin kalau memang masih banyak orang-orang baik yang akan mengembalikan barang temuannya, apapun barang itu. Tapi, saya hanya sebatas yakin tanpa ada rasa kagum yang begitu sangat.

Kemarin, ketika saya mengalami sendiri dan membuktikan bahwa memang ada orang seperti itu, saya benar-benar menjadi kagum akan kebaikannya dan semakin sangat kagum akan kebesaranNya.

Jadi, ceritanya kemarin itu kita (saya, suami, dan Naia) ingin pulang dari rumah orangtua di priuk dan kembali ke kontrakan. Karena barang bawaan kita cukup banyak, akan merepotkan sekali kalau kita nekat naik angkutan umum, akhirnya kita memutuskan untuk naik taksi.

Biasanya kalau kemana-mana itu Naia pasti saya gendong pake gendongan, tapi kemarin enggak karena saya ingin Naia bisa bergerak bebas di taksi itu. Jadilah gendongan yang saya bawa saya pegang-pegang aja, di taksi juga digeletakin aja.

Begitu sampai rumah dan turun, saya bertugas bawa Naia dan tas kecil dan suami bertugas bawa barang-barang besar yang ada di bagasi. Begitu cerobohnya saya sampai melupakan si gendongan bayi itu ~padahal itu paling penting~ huhu.

Baby Carier

Gendongan

Ketika mengecek barang di bagasi, suami yakin kalau sudah tidak ada barang apapun lagi. Sedangkan saya, saya mengecek barang yang ada di bangku, dan saya sangat yakin kalau sudah gak ada barang apapun lagi.

Pas di rumah, ketika suami mau menjemur pakaian  yang dicuci, barulah kita sadar kalau gendongan itu tidak ada, hiks. Dicari-cari di dalam dan sekitar perjalanan ke rumah gak ada. Begitu diingat-ingat lagi saya yakin kalau gedongan itu ketinggalan di taksi yang tadi, dan mungkin ada di bawah bangku penumpang. Hiks, hiks, saya benar-benar sedih. Masalahnya, gendongan yang kita punya itu bagus dan itu merupakan hadiah dari teman-teman kuliah kita. Dan saya sangat menyesal sudah menghilangkan itu.

Sampai suami ke warung dan membelikan saya minuman untuk menyegarkan diri, saya masih sedih. Walaupun akhirnya suami berusaha membujuk dan menenangkan hati saya, tetap saja gak mempan menghilangkan kesedihan saya. Sampai akhirnya suami mengeluarkan kata-kata yang benar-benar membuat saya sadar.

Sudahlah, kembalikan ke yang punya

Jleb, seketika itu saya tersadar dan hati saya benar-benar menjadi tenang. Kenapa saya harus bersedih? toh semua memang hanya titipan bukan? hehe. Yang punya itu maksudnya siapa? Ya Allah. Apapun jenis dan bentuknya, semua yang ada di dunia pasti milikNya kan? Dan Dia berhak menitipkan itu pada siapa saja 😀

Sudah tenang akhirnya kita lanjut makan sambil bersantai ~oiya, di luar sedang hujan saat kita makan ini~. Saat makan tiba-tiba pintu kontrakan kita diketuk dan orang itu mengucapkan “Assalamu’alaikum”. Ternyata, jeng-jeeeng, si bapak supir taksi yang tadi balik lagi dan mencari rumah kontrakan kita untuk ngembaliin gendongan yang tadi ketinggalan di taksinya, huhu. Sangat-sangat terharuu Kita mau ngasih sekedar uang ganti dan uang repot sebenernya, tapi begitu dikejar dia sudah pergi dan sudah tak terlihat lagi.

Kita sama sekali lupa siapa namanya, gak nyatet nomor taksinya, apalagi nyatet nomor plat taksinya. Yang kita benar-benar ingat itu dia adalah supir taksi Putra.

Taksi Putra

Taksi Putra

Sekarang balasan untuknya benar-benar hanya bisa diserahkan kepada Allah. Semoga si bapak supir taksi itu selalu diberkahi dan dilimpahkan rejekinya serta dijaga keikhlasannya, Aamiin.

Published by:
Parenting

8 Cara Membuat Anak Mandiri

Sore-sore iseng browsing pengasuhan anak nemu artikel lama tapi bagus, saya copy aja deh ke sini 😀

Mempunyai anak mandiri, siapa yang tak ingin? Anak yang mandiri, artinya dia bisa melayani kebutuhan sendiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Untuk membentuk anak menjadi mandiri, bukanlah hal sulit, asal Anda telaten dn konsisten. Berikut ini kiat membentuk anak mandiri:

  1. Awali dengan keterampilan mengurus diri sendiri. Mulai dari makan, menggosok gigi, dan memakai baju sendiri.
  2. Berilah waktu untuk bermain bebas di mana mereka bisa mengembangkan idenya sendiri, sekaligus belajar menghibur dan menyibukkan diri sendiri.
  3. Bertambah besar, mereka bisa membantu tugas rumah tangga seperti menyiram tanaman atau membuang sampah.
  4. Bila semua berlangsung dengan baik, mereka sebaiknya dibiarkan mengatur waktunya sendiri dalam urusan sekolah dan pergaulannya. Orangtua hanya ikut campur bila mereka merasa sang anak melen ceng dari jalurnya.
  5. Anak-anak harus diberi tanggung jawab dan dimintai pertanggungjawabannya bila mereka tak memenuhi tugasnya. Ini akan memberi perasaan penting dan mereka akan merasa bahwa orang tua mereka memercayai mereka melakukan tugas itu.
  6. Kondisi badan yang fit dan kuat adalah bagian penting dari perasaan kompeten dan mandiri. Anak harus didorong melakukan olahraga dan kegiatan di alam terbuka.
  7. Izinkan anak menentukan tujuannya sendiri, kecuali bila Anda merasa mereka memilih jalan mudah sementara Anda tahu benar kemampuan mereka jauh lebih tinggi.
  8. Ingatlah selalu, Anda tak akan selalu berada di samping mereka, melindungi mereka saat meng hadapi cobaan dalam hidup mereka. Yang terbaik bantulah mereka menjadi orang yang mandiri.

Sumber artikel: http://kolom.abatasa.com/kolom/detail/parenting/608/ini-lo-8-cara-agar-anak-mandiri.html

Published by:
Hobi Pribadi

Newly Wed

Heheh, this is our pictures when we were going to bandung for honeymoon 😛

Forehead Kiss

Forehead Kiss

Actually, these pictures should be uploaded one and a half years ago instead of now, but I was ~sort of~ forgot where I put these pictures back then.

And, yesterday, when we (my husband and I) were sorting some pictures to be printed in photo album, we started to think where the honeymoon pictures are. So, we were searching it once more, in my laptop as well as my husband’s. Then, tadaaaa, we found those in my husband’s notebook 😛

Here are ~some of~ our pictures back then, and yea, both of us are blue lovers 😀

~maklum norak, namanya juga penganten baru 😛

Published by:
Parenting

Parenting Style by Diana Baumrind

Jadi, beberapa waktu lalu, kawan saya ikhma menyarankan untuk follow twitter @SuperbMother, berhubung saya udah emak2 yak 😛

Yaudah saya follow deh, lumayan, tiap hari ada kultwit berguna sekitar parenting dan pernikahan, hehe. Nah, ini ringkasan kultwit parenting style dari @SuperbMother itu. Saya posting di blog ini sih sebenernya buat saya sendiri, kalo lagi pengen baca2 tentang parenting lagi tinggal baca di blog deh, gak usah bingung2 nyarinya, hehe.

Jadi kultwitnya itu ngomongin tentang tipe-tipe pengasuhan menurut Diana Baumrind, psikologis ternama. Setelah saya googling, ternyata banyak referensi tentang ini, yaudah deh, semakin lengkap yang bisa ditulis :D.

Nah, menurut Diana Baumrind ada 4 tipe pengaasuhan yang sering dilakukan oleh orangtua. Kalo digambarin pake skema sih kaya gini gambarnya:

four-basic-parenting-styles-model-diana-baumrind

4 Parenting Styles

Yang pertama itu tipe pengasuhan AUTHORITARIAN (Pengasuhan Restriktif). Tipe pengasuhan ini sering juga disebut tipe pemaksa. Orangtua tipe ini punya aturan yang sangat ketat dan HARUS diikuti oleh anak-anaknya tanpa ada diskusi. Mereka juga cenderung memaksakan kehendaknya serta tidak mentoleransi adanya kesalahan kecil.

Authoritarian Parenting

Authoritarian Parenting

Nah, sisi positif dari tipe ini adalah adanya aturan-aturan dan orangtua jadi punya kontrol penuh terhadap anak-anaknya. Tapii, kelemahannya justru di tidak adanya toleransi sikap tadi. Bisa-bisa anak jadi tidak terkontrol kalau di luar rumah, berhubung di rumah banyak sekali aturan yang mengikat. Anak juga bisa terlalu agresif atau terlalu malu di lingkungan sosialnya. Singkatnya, orangtua kurang responsiflah terhadap keinginan dan kepentingan anak, hiks.

Tipe kedua itu tipe AUTHORITATIVE. Tipe ini yang banyak disarankan dan yang dirasa paling pas dalam mendidik dan mengasuh. Kenapa begitu? Karena tipe ini memungkinkan adanya diskusi dan keterbukaan dengan anak tapi tidak meninggalkan aturan-aturan dan batasan-batasan. Malah aturan-aturan yang berlaku bisa jadi adalah hasil kesepakatan orangtua dan anak.

Authoritative Parenting

Authoritative Parenting

Jadi, dengan pengasuhan seperti ini, di dalam rumah selalu tercipta suasana demokrasi, selalu tercipta keterbukaan antar anggota keluarga. Sudah terbayang kan kalau tipe ini adalah tipe pengasuhan terbaik. Pengasuhan authoritative ini bisa membuat anak tumbuh jadi anak yang bertanggung jawab, percaya diri, dan bahagia.

Yang ketiga, tipe NEGLECTFUL (Uninvolved Parenting). Yang ini tipenya itu cueeek banget, gak peduli anaknya mau ngapain. Biasanya buat orangtua yang super sibuk, jadi sama sekali gak ada waktu buat anaknya. Atau bisa juga orangtua yang emang males 😛 Jadi, terkadang nonton TV lebih baik daripada ngurus anak, huhu.

Neglectful Parenting

Neglectful Parenting

Tipe yang kaya gini bisa mengakibatkan anak tidak punya kontrol akan dirinya. Jadi kebayang kan kalau di masyarakat akan seperti apa anak yang diasuh oleh orang tua tipe neglectful ini?

Terakhir, tipe INDULGENT (Permissive Parenting). Nah, kalo ini justru sangat-sangat terlibat dalam kehidupan anak. Tapii, kuraang banget aturan dan selalu mengikuti apa maunya anak. Tipe ini yang bisa mengakibatkan anak itu menganggap dirinya Raja dan harus selalu dituruti juga kurang menghargai orang tuanya dan orang sekitar.

Permissive Parenting

Permissive Parenting

Jadi kalau disimpulkan:

  1. Authoritarian -> Tinggi akan aturan tapi sangat kurang responsif
  2. Authoritative -> Tinggi akan aturan, tinggi juga responsifitas orangtua terhadap anak.
  3. Neglectful -> Rendah atau tidak punya aturan juga tidak responsif terhadap anak.
  4. Indulgent -> Rendah atau tidak punya aturan tapi sangat responsif terhadap anak.

Sebenernya sih udah dibikin chirpstory-nya sama @SuperbMother sendiri di: http://chirpstory.com/li/46110

Nah, chirpstory-nya saya bikin ulang, soalnya yang asli urutannya tebalik, jadi bacanya mesti dari bawah. Jadi, saya bikin biar bisa dibaca dari atas, nih dia: http://chirpstory.com/li/46704. 😀

Oiya, postingan ini juga tidak sepenuhnya mengacu ke kultwitnya @superbMother sih, ada yang dari All About Motherhood dan Positive Parenting.

Published by:
Parenting Review

37 Kebiasaan

Oke, jadi beberapa waktu lalu saya dan suami sepakat untuk memberikan bacaan ringan ke tetangga sebelah tentang pengasuhan anak. Heheh, bukan berarti kita udah paham, ya sama-sama belajar sih, cuman pengen aja ilmunya gak cuma kita yang punya, tapi semua orang tua juga punya, dimulai dari yang terdekat 😀

Nah, nemu buku bagus deh waktu jalan sambil kondangan ~heheh~ karangan ayah Edy, judulnya sih “Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur?” tapi sub judulnya “37 Kebiasaan Orangtua yang Menghasilkan Perilaku Buruk Pada Anak”, hihi. Jadi, kalau sekilas sih ini kaya di pihak orangtua yang menyetujui anaknya susah diatur, padahal di balik itu buku ini menjelaskan kesalahan yang sering dibuat oleh para orangtua secara tidak sadar. Bagus kan? 😀

Buku 37 Kebiasaan

Buku 37 Kebiasaan

Ah iya, maksud saya nulis ini adalah mau membagi apa saja 37 kebiasaan itu. Eh, tapi gak saya jelaskan satu-satu yaa, kalau mau lebih jelas mungkin beli bukunya aja, gak mahal juga kook, hehehe.

37 Kebiasaan yang salah dan dapat menghasilkan perilaku buruk pada anak itu antara lain: *di bukunya, 1 kebiasaan 1 bab*

  1. Selalu menyalahkan orang lain atau hal lain. Di buku sih judulnya “Raja yang Tak Pernah Salah”
  2. Berbohong kecil dan sering. Contohnya: kalau kita mau pergi, sering berbohong “Mama/papa hanya pergi ke depan sebentar, gak lama”, padahal perginya bisa seharian penuh 😛
  3. Banyak mengancam.
  4. Bicara tidak tepat sasaran. Kaya apa tuh? Misalnya, padahal kita marah karena barang kesayangan kita dipecahkan oleh anak, tapi kita jadi mengungkit-ungkit kesalahannya yang lama2 bukannya menjelaskan apa yang harus diperbuat lain kali.
  5. Menekankan pada hal-hal yang salah. Mirip dengan yang nomer 4 sih 😀
  6. Merendahkan diri sendiri. Misalnya dengan menekankan kalau main PS terus nanti papa marah *yang ngomong mamanya*.
  7. Papa dan mama tidak kompak. Yang satu membela, yang satu menghukum. Harusnya dalam mengasuh anak, orangtua sudah sepakat dan satu suara.
  8. Campur tangan kakek, nenek, tante, atau pihak lain. Di sini kita jadi harus memastikan kepada siapapun untuk tidak ikut campur atau justru mendukung pola pengasuhan kita.
  9. Menakuti anak. Contohnya itu saat mendiamkan anak nangis, “Hayo, kalo nangis terus nanti disuntik lho”.
  10. Ucapan dan tindakan tidak sesuai. Misalnya kita udah berjanji mau memberikan hadiah, tapi ternyata tidak. Atau akan menghukum anak tapi karena tempat dan waktunya belum pas, jadi terundur dan lupa. Anak akan jadi sulit percaya kepada orangtua nantinya.
  11. Hadiah untuk perilaku buruk anak. Misalnya anak merengek untuk membeli jajanan tidak sehat dan kita gak mengabulkannya. Tapi dia terus merengek sampai kita tidak tahan dan akhirnya mengalah. Jajanan itu termasuk hadiah untuk perilaku rengekan tersebut.
  12. Merasa salah karena tidak memberikan yang terbaik. Mungkin karena kedua orangtua bekerja, jadi merasa bersalah jarang bertemu akhirnya memaklumi perilaku buruk anak.
  13. Mudah menyerah dan pasrah.
  14. Marah yang berlebihan.
  15. Gengsi untuk menyapa.
  16. Memaklumi yang tidak pada tempatnya. Misalnya anak kita bertengkar dengan temannya dan anak kita memukul. Terkadang dimaklumi dan bicara “Maklumlah, namanya juga anak2”.
  17. Penggunaan istilah yang tidak jelas maksudnya. Misalnya, “Awas, jangan macam-macam ya”. Definisikan “macam-macam” itu.
  18. Mengharap perubahan instan.
  19. Pendengar yang buruk. Sebelum anak menjelaskan panjang lebar dan baru 1 kalimat keluar, kita sudah memarahi dan menasehatinya panjang lebar. Nantinya anak jadi enggan bercerita dan enggan terbuka.
  20. Selalu menuruti permintaan anak.
  21. Terlalu banyak larangan.
  22. Terlalu cepat menyimpulkan. Mirip dengan no. 19 sih. Anak baru menjelaskan, kita seolah2 sudah mengerti dan membuat kesimpulan yang salah, jadi langsung memarahi panjang lebar.
  23. Mengungkit kesalahan masa lalu.
  24. Suka membandingkan. Ingat selalu bahwa setiap manusia itu unik, termasuk anak kita dengan anak-anak lainnya.
  25. Paling benar dan paling tahu segalanya.
  26. Saling melempar tanggung jawab.
  27. Kakak harus selalu mengalah. Kita harus selalu bertindak adil. Walaupun si adik masih kecil, tetap harus diberitahukan mana yang benar dan mana yang salah.
  28. Menghukum secara fisik. Sudah pasti tau ya, memukul.
  29. Menunda atau membatalkan hukuman.
  30. Terpancing emosi. Agak mirip dengan nomor 11 nih sepertinya. Jadi, kita harus bersabar dan tahan dengan rengekan anak dan tetap konsisten dengan yang kita katakan.
  31. Menghukum anak saat kita marah. Sebaiknya jika sudah tidak bisa tertahan lagi, segera menjauh dari anak dan pilih cara terbaik untuk menenangkan diri.
  32. Mengejek.
  33. Menyindir.
  34. Memberi julukan yang buruk. Julukan ini seperti “cengeng”. Jika anak terus-menerus diberi julukan cengeng sejak kecil, maka akan tertanam di otak kalau dia adalah pribadi yang cengeng.
  35. Mengumpan anak yang rewel.
  36. Televisi sebagai agen pendidik anak.
  37. Mengajari anak untuk membalas.

Yah, kira-kira begitulah isi buku itu, walaupun bukan penjelasan lengkap dan cuma daftar kebiasaannya saja, tapi lumayan kan? 😛

Dan yang terakhir, pengasuhan dan pendidikan itu dilakukan oleh kedua orangtua. Jadi, jangan ragu-ragu menghabiskan banyak waktu untuk mengkomunikasikan pengasuhan dan pendidikan anak kita kelak seperti yang diinginkan. Komunikasi antar orang tua itu sangat penting untuk menjaga kekompakan dan menghasilkan kesepakatan pola pengasuhan. 🙂

Published by:
%d bloggers like this: