Momopururu » April 2013

Monthly Archives: April 2013

Keluarga Pribadi

Arti Tolong, Terima Kasih, dan Maaf

Buat saya kata tolong, terima kasih, dan maaf itu sangat penting. Iya donk penting, gimana enggak? Itu semua menunjukkan kalau kita menghargai orang lain. Setidaknya orang yang merasa sendirian akan merasa dirinya dianggap dan bermanfaat oleh orang lain dengan kata sederhana seperti itu.

Apalagi dalam komunikasi sebagai pasangan. 3 kata itu benar-benar harus sering ada.

Kata tolong contohnya. Walaupun kita hanya butuh ~misalnya~ diambilkan minum oleh pasangan disaat kita sendiri sedang repot, kata tolong tetap harus ada. Pasangan akan merasa dibutuhkan dengan kata tolong ini. Setiap orang senang merasa dibutuhkan kan? Saya sih begitu, hehe.

Terima kasih diucapkan ketika melihat pasangan melakukan sesuatu, baik untuk diri kita, rumah, atau anak. Ah, rasanya setiap kali saya capek, dapet ucapan terima kasih dari suami tuh salah satu cara yang bisa menghilangkan rasa capeknya. Setidaknya berpikir kalau tidak capek yaa, walaupun badan tetap terasa capek. Badan capek ya dihilangkannya dengan istirahat ­čśŤ

Terima Kasih

Terima Kasih

Gak mesti hal besar ko yang dilakukan. Kemarin saya habis mencuci semua pakaian kotor kami ~hal yang memang biasa dilakukan kan?~ dan setelah semua selesai, dapat ucapan terima kasih dari suami. Enggak, gak spesial sih, tapi kata “terima kasih” itu benar-benar bisa menghangatkan hati saya, hehehe.

Untuk kata maaf, setiap ada ucapan atau tindakan ~walaupun kecil juga~ yang menyebabkan pasangan jadi sedikit “gak enak” (kalo udah kesal sih ya berarti tindakan/ ucapannya sudah keterlaluan :D) gak usah gengsi untuk bilang maaf.

Maaf

Maaf

Yaa, pasangan benar-benar merasa dihargai dan dimengerti dengan ucapan maaf itu. Walaupun belum tentu kita yang salah atau pasangan yang salah, kata maaf diucapkan untuk mengembalikan keadaan. Ketika keadaan kembali membaik, baru deh berpikir kembali atau cerita atau beri penjelasan secara baik-baik mengenai keadaan sebelumnya. Dengan cerita itu kita bisa tau tindakan atau ucapan yang mana yang membuat keadaan sebelumnya menjadi “gak enak” ­čśÇ

Tapi jangan kebanyakan minta maaf juga ya, nanti jadi kaya mpok minah deh *ada yang inget gak yaa, mpok minah di bajaj bajuri* ­čśŤ

Oh iya, keadaan “gak enak” seperti itu juga penting untuk diceritain. Karenaa, biar perasaan itu tidak terpendam, menumpuk, dan lama-lama malah jadi bom waktu. Jadi, setiap ada perasaan “gak enak” seperti itu benar-benar jangan gengsi untuk saling minta maaf dan jangan segan untuk membicarakannya kembali ~pastinya secara baik-baik~.

Dalam berkeluarga, penting banget membiasakan ketiga kata ini biar semua anggota keluarga bisa saling menghargai, merasa dibutuhkan, dan merasa dimengerti ;). InsyaAllah saya akan membangun kebiasaan ini dalam keluarga kami.

Ah, saya sama sekali bukan yang paling mengerti akan arti ucapan tolong, terima kasih, dan maaf ini. Ini benar-benar murni pengalaman sendiri saja ­čśÇ

Published by:
Lomba Blog

Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen

Yak, berhubung saya lumayan suka belanja online dan sehari-hari juga memang melakukan transaksi jual beli, jadi saya harus paham apa saja hak dan kewajiban sebagai konsumen. Dengan kata lain, saya harus jadi konsumen cerdas paham perlindungan konsumen.

Know Your Rights

Know Your Rights

Menurut Pasal 4 Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK), Hak-hak Konsumen antara lain:

  1. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
  2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
  3. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
  4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
  5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
  6. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
  7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
  8. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi/penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
  9. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Salah satu hak kita adalah adanya perlindungan konsumen dari pemerintah, khususnya dari kementrian perdagangan Republik Indonesia, demi menciptakan perasaan yang aman terhadap transaksi jual-beli.

Kementrian Perdagangan

Kementrian Perdagangan

Pemerintah telah berupaya banyak lho demi melindungi konsumen yang ada di Indonesia dan menjadikan masyarakat Indonesia sebagai konsumen cerdas paham perlindungan konsumen. Contohnya saja, seperti yang dilakukan oleh Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan bersama dengan Kepala Bareskrim POLRI Irjen Pol Sutarman pada akhir Januari 2013 lalu. Mereka menandatangani Nota Kesepahaman yang disaksikan oleh Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan terkait peningkatan penegakan hukum di bidang perlindungan konsumen dan metrologi legal di Tanah Air.

Selain itu, dilakukan juga penandatanganan Nota Kesepahaman antara Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Nus Nuzulia Ishak dengan Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian yang juga selaku Kepala Badan Karantina Pertanian Banun Harpini dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Lucky S. Slamet tentang Kerjasama Pengawasan Barang Untuk Produk Non Pangan, Pangan Olahan, dan Pangan Segar.

Upaya pemerintah pastinya tidak terbatas hal tersebut di atas saja, masih banyak lagi usaha lainnya demi meningkatkan kenyamanan konsumen dan kepastian konsumen akan perlindungan hukum. Undang-undang perlindungan konsumen pun sudah ada sejak tahun 1999.

Undang-undang perlindungan konsumen no. 8 th. 1999

Dari hal di atas, kita sebagai konsumen harusnya sudah memiliki perasaan aman untuk melakukan transaksi jual-beli di negara Indonesia tercinta ini :D. Tapiii, jangan dengan yakinnya kita akan dilindungi, kita jadi melupakan kewajiban kita sendiri sebagai konsumen ya.

Kewajiban sebagai konsumen pun sudah diatur sedemikian rupa dalam undang-undang. Berikut ini merupakan kewajiban-kewajiban konsumen yang harus dipenuhi sesuai dengan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen.

  1. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
  2. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
  3. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
  4. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.

Paham akan hak dan kewajiban merupakan salah satu cara kita untuk menjadi konsumen yang cerdas. Selain memahami hak dan kewajiban sebagai konsumen, kita juga perlu banget teliti sebelum melakukan transaksi jual beli.

Teliti sebelum membeli itu penting banget biar kita gak terjebak dengan produk yang tidak kita inginkan :). Nah, ada 10 hal yang bisa dijadikan panduan nih sebelum konsumen melakukan transaksi jual beli (menurut ketua YLKI, Taufik husni). 10 hal tersebut antara lain:

  1. Cari dan bandingkan informasi (mengenai harga, merek, spesifikasi produk, layanan purna jual). Dalam kasus saya, suami pernah ingin membeli HP android dan dia benar-benar membandingkan beberapa produk mengenai spesifikasi, merk, harga, serta kecanggihannya dari berbagai situs.
  2. Dapatkan saran dari pihak lain (mengenai teknis, cara pakai, pengalaman menggunakan merek tertentu dari teman atau┬á┬á saudara). Kalau di langkah ini, saya dan suami biasanya baca-baca pengalaman yang udah pernah beli produk yang kita incer biar lebih sreg atau tercerahkan kalau ternyata produknya gak worth it┬á ­čśÇ
  3. Simpanlah bukti tertulis (mengenai kartu garansi, dsb, serta ke mana akan mengadu apabila terdapat masalah pada barang atau jasa yang dikonsumsi). Saya sih menyediakan tempat khusus untuk menyimpan kartu-kartu garansi, kuitansi pembelian, dsb sehingga mudah dicari.
  4. Kenali hak Anda dan lakukan langkah yang benar (apabila masalah tidak selesai, laporkan kepada lembaga konsumen atau pemerintah terkait). Hak yang udah saya sebut di atas tadi yaa.
  5. Kontrol diri Anda saat membeli produk (beli hanya apa yang Anda butuhkan, buat daftar belanja). Kalau belanja bulanan termasuk gak yaa? :P. Prinsip saya dan suami Alhamdulillah sama, jadi kita membeli barang yang benar-benar kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Sayang kan uangnya kalau ternyata barang yang kita inginkan dan terbeli malah gak bermanfaat? ­čśÇ
  6. Jangan ragu membeli produk lokal.
  7. Biasakan membaca label produk. (yang berisi kandungan bahan, masa kadaluarsa, dan petunjuk penggunaan). Biasanya sih produk makanan, yaa biar kita tau halal enggaknya. Kalau produk yang bukan makanan ya biar tau sudah memenuhi persyaratan SNI (Standar Nasional Indonesia) atau belum ­čśë
  8. Beli dari sumber yang terpercaya (hindari rantai distribusi yang panjang atau dari perusahaan yang tidak dikenal melalui internet). Hihihi, berhubung saya malah lebih banyak beli lewat internet, saya punya cara sendiri memastikan transaksinya aman dan terpercaya. Biasanya sih saya menilai dari CSnya, yang responsiflah yang saya percaya, hehe.
  9. Laporkan langsung setiap komplain yang ada. Bener nih, harus dilaporkan sesegera mungkin biar masalahnya gak berlarut-larut.
  10. Lindungi generasi mendatang (dengan membeli produk daur ulang, gunakan isi ulang dsb).
Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen

Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen

Jadi, jika disimpulkan, menurut saya pribadi konsumen yang cerdas adalah konsumen yang paham akan hak dan kewajibannya serta selalu berhati-hati sebelum melakukan transaksi.

Nah, definisi resminya sendiri, konsumen cerdas adalah konsumen yang kritis dan berani memperjuangkan haknya apabila barang/jasa yang dibelinya tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan tidak sesuai dengan yang diperjanjikan, tetapi konsumen juga harus mengerti akan kewajibannya.

Dengan menjadi konsumen cerdas, kita jadi paham akan perlindungan konsumen kan? ­čśÇ

Selamat menjadi konsumen yang semakin cerdas dan paham perlindungan konsumen yaa ­čśë

Lomba Menulis & Kontes SEO 2013 ÔÇô Konsumen Cerdas

Lomba Menulis & Kontes SEO 2013 ÔÇô Konsumen Cerdas

Sumber lain:

YLKI

Buletin Metropolis

Published by:
Keluarga

Mertua Idaman

Entah sejak kapan saya ingin sekali  menulis tentang ini. Mertua.

Jadi, seperti apa mertua idaman itu? Buat saya mertua saya adalah mertua idaman, hihi. Somehow saya kagum sekali dengan mereka, khususnya dengan ibu mertua. Oh, tentu saya mengagumi orang tua saya melebihi siapapun, dan mereka sudah menjadi orang tua juga buat saya sejak saya menikah.

Baru saja blogwalking dan membaca blog http://kakmila.wordpress.com/ tentang family value dan jadi teringat dengan mertua, khususnya ibu mertua. Beliau seorang wanita karir, seorang istri, dan seorang ibu dari 4 anak (3 laki-laki  dan 1 perempuan).

Buat saya yang melihatnya, beliau selalu punya semangat lebih untuk melakukan segala hal. Mengurus rumah tangga dengan seabreg pekerjaan rumah sehingga rumah terjaga rapi dan bersih, juga bekerja sebagai PNS yang merupakan pekerjaan yang tidak mudah.

Bangun paling pagi dan harus segera masak demi membekali anaknya yang masuk sekolah pagi dengan bekal makan siang. Setelah masak harus secepatnya siap-siap berangkat ke kantor yang membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan. Begitu pulang kantor, harus secepatnya sampai di rumah untuk masak makan malam. Dan kalau ada pekerjaan kantor yang belum selesai karena terlalu banyak, biasanya dibawa ke rumah sambil dikerjakan malam harinya ~yang memang sangat jaraaaang sekali~.

Setiap hari Sabtu adalah jadwal mencuci. Berhubung 3 sekarang 2 anaknya adalah laki-laki ditambah pakaian suami dan pakaian sendiri, jadi semua cucian ya dicuci olehnya sendiri. Biasanya dibantu menjemur oleh anak perempuannya. Belum lagi kalau weekend ada acara tertentu ~acara kantor, acara reuni, atau undangan pernikahan~, jadwal mencuci jadi sedikit terimprovisasi.

Selain itu, berhubung beliau memang akuntan, jadi memang sangat ketat terhadap urusan keuangan ~yang harus saya contoh juga~. Beliau bisa menabung sehingga bisa membeli rumah dalam waktu 3 ~atau 4 ya?~ tahun pernikahan juga semua biaya pendidikan sudah tidak perlu dipusingkan lagi, juga bisa menjadi donatur tetap sebuah yayasan, serta selalu memberi bingkisan lebaran di setiap idul fithri.

Dalam urusan rumah tangga, dulu sih memang memakai jasa pembantu tapi sejak anak-anak sudah cukup besar dan si kakak sudah bisa mengasuh adik-adiknya, sampai sekarang semua pekerjaan rumah bisa dikerjakan sendiri. Untuk urusan kebersihan rumah, sekarang dibagi ke anak-anaknya, jadi biasanya saat weekend seisi rumah berbagi tugas membersihkan rumah.

Sebelum menikah saya bertanya-tanya bagaimana hubungan saya dengan mertua kelak. Dan Alhamdulillah saya memiliki mertua yang begitu baik terhadap menantunya, tidak segan mendidik namun tetap bersahaja, bahkan rela menghabiskan cuti tahunannya demi menemani saya sehabis lahiran :P.

Ah, masih banyak hal-hal baik lainnya yang akan membuat postingan ini begitu panjang, jadi saya hentikan di sini saja. Saya sekarang cuma “wondering” bisakah saya menjadi mertua idaman buat menantu saya kelak? *mikirnya kejauhan ­čśŤ

Published by:
Keluarga

Family Value [Reblogged]

Saya juga termasuk salah satu yang ingin kuliah lagi, tapi kalau dengan begitu saya jadi mengorbankan pengasuhan anak, pendidikan untuk anak saya dan perhatian suami, pikir2 lagi deh, hee.

Sejak menikah saya telah mendedikasikan hidup ini untuk suami dan anak-anak, insyaAllah akan terus begitu. Itu jihad seorang perempuan kan? ­čśÇ

ÔÇťJika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan.ÔÇŁ(HR. Ahmad nomor 1661, hadits hasan lighairihi).

Published by:
%d bloggers like this: