Hal-hal Yang Diperlukan Demi Langgengnya Pernikahan

7 Replies

Keluarga Lomba Blog

Beberapa bulan sebelum saya dan suami menikah, saya dikagetkan dengan berita perceraian salah satu orang yang sangat menginspirasi saya. Beliau baru saja menginjak 2 tahun pernikahan namun berpacaran sudah cukup lama, sekitar 8 tahunan. Saat ditanya mengapa akhirnya memutuskan bercerai, beliau hanya memberikan nasehat, bagusnya sebelum menikah benar-benar terdapat komunikasi satu sama lain mengenai hal-hal yang diharapkan dengan pernikahan, juga mengenai keadaan diri masing-masing, baik atau buruk.

Saya dan calon suami waktu itu akhirnya melaksanakan nasehatnya. Kami saling menceritakan sifat buruk kami dengan tidak mengharapkan apa-apa. Kalau memang cinta dan benar-benar berniat menjadikan pernikahan sebagai ibadah, insyaAllah sifat buruk kami masing-masing akan saling dikurangi.

Akhirnya kami pun menikah pada tanggal 26 Juni 2011 yang lalu.

Pernikahan

Pernikahan

Setelah saya menikah, tidak berapa lama terdapat lagi seorang sahabat yang pernikahannya berada di ujung tanduk. Di dalam hati, saya sebenarnya mengagumi keluarga beliau karena merupakan keluarga yang cukup harmonis dan sang ibu benar-benar menjadi pendidik yang asik bagi anak-anaknya. Fuah, saya jadi was-was lagi, huhu.

Akhirnya saya menjadikan umur pernikahan kedua sahabat itu menjadi patokan keberhasilan mempertahankan pernikahan saya dan suami. Patokan yang paling ringan adalah ketika memasuki usia 2 tahun pernikahan. Terbersit rasa lega yang tidak sedikit saat usia pernikahan kami menginjak umur 2 tahun 4 bulan yang lalu. Patokan selanjutnya adalah di umur pernikahan ke 10 nanti, sama dengan sahabat yang pernikahannya di ujung tanduk dan umur pernikahan mbak Uniek Kasgarwanti, seorang blogger yang saya kenal dari komunitas emak2 blogger (KEB) yang baru saja merayakan umur pernikahan ke 10 ~Semoga beliau bahagia selalu bersama suami dan pernikahannya langgeng sampai akhir hayat, aamiin~. Yang satu di ujung pernikahan, yang satu masih sangat langgeng, dari keduanya kita bisa belajar πŸ˜€

Selain menjadikan umur pernikahan kedua sahabat tersebut sebagai patokan ringan, saya juga menjadikan umur pernikahan orangtua saya dan suami sebagai patokan selanjutnya. Mereka masih tetap harmonis sejak awal menikah hingga sekarang, dan saya sangat mengagumi keduanya. Umur pernikahan mertua saya sudah mencapai 26. Dan umur pernikahan orangtua saya lebih dari itu, yaitu 38. Harapannya siih saya dan suami bisa langgeng seumur hidup. Bahkan dipersatukan kembali di surgaNya kelak, Aamiin.

Namun, dari pengalaman buruk kedua sahabat itu serta dari keharmonisan keluarga orangtua kami, saya mengambil beberapa pelajaran dalam pernikahan.

*Saya pernah bikin postingan mengenai persiapan mental sebelum menikah, nah kali ini pendapat saya untuk membuat pernikahan langgeng dengan melihat pengalaman-pengalaman pernikahan teman maupun sanak saudara.

1. Selalu komunikasi

Tanpa adanya komunikasi yang baik, hubungan juga tidak akan berjalan baik. Saya dan suami Alhamdulillah selalu berkomunikasi dengan baik. Biasanya kami menyediakan waktu 1 hari kosong untuk hanya di rumah saja dan bersantai, hihi. 1 hari bersantai itu kita gunakan untuk saling bercerita panjang lebar mengenai segala hal. Tapi jika dalam satu minggu kami tidak memiliki hari libur yang bisa digunakan untuk di rumah saja, suami kadang-kadang ijin kerja di weekdays πŸ˜›

2. Saling percaya dan menjaga kepercayaan

Huah, ini penting banget nih. Walaupun komunikasi berjalan mulus, tapi tanpa adanya rasa saling percaya tetap saja komunikasi yang berjalan hanya akan saling mencurigai dan itu tidak baik bagi sebuah hubungan. Ini yang saya pelajari dari orangtua saya dan suami. Mereka, walaupun tanpa berkomunikasi, benar-benar bisa saling percaya dan saling menjaga kepercayaan itu. Sekali saja kita mengkhianati kepercayaan pasangan, selanjutnya tidak akan pernah bisa sepenuhnya dipercaya lagi. Huhu.

3. Selalu mempelajari dan mengerti kekurangan pasangan

Iya, mempelajari, hehe. Kita biasanya akan terus menemui kekurangan pasangan yang tidak bisa kita tolerir. Nah, buat saya sih, kekurangan tersebut dipelajari untuk dimengerti. Jadi, saat kita melihat kekurangan pasangan, kita sudah tau cara mengatasinya untuk selanjutnya kita kurangi sedikit demi sedikit. Kita juga harus tau kekurangan kita untuk dikurangi sedikit demi sedikit juga.

4. Selalu belajar untuk menjadi lebih baik

Tanpa belajar, kita gak bisa mengubah diri kita untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Tentunya agar pernikahan langgeng, kita mau selalu lebih baik lagi kan? Nah, dengan selalu berkomunikasi, saya dan suami jadi tau harapan dan kekurangan masing-masing. Dengan begitu, kita bisa selalu belajar untuk bisa memenuhi harapan tersebut atau memperbaiki kekurangan agar hubungan terjaga.

5. Jangan malu untuk sering-sering berhias

Bukan cuma istri, suami juga perlu berhias untuk menyenangkan istrinya, hehe. Biasanya kan yang menuntut selalu suami agar istrinya bisa terlihat cantik di matanya. Nah, istri juga bisa donk menuntut suaminya tampil ganteng dan rapi, hihihi. Maka dari itu, jangan gengsi untuk sesekali berhias diri walaupun gak pergi keman-mana, yaa sekedar menyenangkan hati pasangan πŸ˜€

6. Samakan visi dan misi keluarga

Hihi, kaya apaan aja yak punya visi dan misi. Etapi bener lho, suami istri itu harus punya pandangan yang sama terhadap keluarga yang mereka bentuk, ya punya visi dan misi yang harus sama gitu. Kalau visi yang dipegang suami berbeda dengan istri, ya bisa wassalam deh, dan bisa selalu terangkat ketika terjadi keadaan yang tidak enak *alias emosi*. Kalau untuk hal-hal kecil sih gak masalah bisa beda, tapi visi dan misi ini adalah suatu hal yang prinsipil bentuknya.

7. Rutin memberi kejutan-kejutan kecil

Hihi, kejutan-kejutan kecil gini bisa membuat makin cinta dengan pasangan lho. Pernah suatu hari, suami ada acara di *lupa tempatnya*, karena saya orang yang penakut, jadi saya tidak membolehkan suami pulang terlalu malam ~paling malam ya jam 8 lah~. Nah, karena waktu itu suami pulang agak lebih malam, saya sudah terlanjur tidur dan sudah terlanjur *sedikit* kesal, huhu *mana saya lagi hamil pula*. Tetapi, akalnya suami pinter banget deh. Dia membawakan makanan favorit saya plus hadiah kecil. Seumur-umur saya memang menginginkan barang itu dan belum kesampean sampai dia membelikan XP *sampai saya posting di facebook juga, hihi*

hadiah kecil

8. Mesra di manapun

Asal jangan vulgar yaa, hehe. Sekedar mencuri2 cium saat berdua saja di lift atau di tempat umum atau sekedar mencolek-colek iseng suami juga bisa membuat hubungan gak datar lhoo. Malah bisa semakin harmonis, hihi

9. Jangan remehkan kata tolong, terima kasih, dan maaf

Yap, ketiga kata ini penting digunakan agar pasangan selalu merasa dihargai dan bermanfaat. Pada bagian ini, saya juga pernah membuat postingan sendiri di sini.

10. Sering-sering ucapkan “I love you”

Jangan gengsi juga untuk sering-sering mengatakan “I love you” untuk pasangan, tiap hari juga boleh XP Bener deh, kata-kata ini menjadi penyemangat hati yang sedang suntuk atau tidak bersemangat.

Rasanya baru segitu saja dari saya. No 8 sampai 10 baru ditulis setelah diingatkan oleh kakak sepupu yang komen, hehehe. Memang saya newbie sih untuk urusan pernikahan, hihi maklum baru 2,5 tahun :P. Tapi saya mau dan semangat untuk terus belajar menyenangkan suami, anak, dan juga membuat keluarga yang harmonis. Aamiin.

Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine.

Giveaway 10th Wedding Anniversary

7 comments

  1. CalAndrea

    ada lg is:
    1. flirting ke suami, godain suami di tempat umum (cubit/colek bagian tertentu), curi2 cium suami di lift saat ga ada org lain di lift, tetap mesra (jangan vulgar) dimanapun, dll
    hehehe… .

    2. jgn remehkan hal kecil seperti ucapan terima kasih, maaf, I love you.

Leave a Reply

%d bloggers like this: