Momopururu » December 2013

Monthly Archives: December 2013

Hobi Pribadi

Al-Qur’an itu terlalu mulia kawan

Al-Qur’an itu terlalu mulia kawan

Terlalu mulia jika kau sanding dengan kesibukanmu..

Aku tuh harus bangun pagi. Hrs sekolah, ada ulangan, byk PR, tugas, huhu 🙁 . Waktuku itu gak ada jedanya pokoknya!

Jadi…. Al-Qur’an harus ngertiin kesibukanmu, begitu?

Al-Qur’an terlalu agung teman…
Terlalu agung jika kau bandingkan dengan target harianmu..

Hari ini skripsian 5 jam, ke perpus, trus mampir ke toko buku, baca jurnal bahasa inggris minimal 2 jurnal, ngikut seminar dan persiapan lomba debat. Aku tuh padet banget agendanya…

So what??

Al-Qur’an itu terlalu suci kawan…
Terlalu suci untuk kau balap-balap dengan mimpimu..

2 tahun ke depan harus mendapat beasiswa S2 di Jerman, pada tahun yang sama keliling 3 negara. Setelah wisuda menikah (berharap dapat suami/istri yang hafidz atau minimal punya hafalan agar bisa mengingatkanku untuk menghafal) dan 2 tahun kedepan pindah bersama keluarga ke Amrik. Mapan. Beli rumah. Beli BMW. Anak belajar disekolah internasional
(tak ada target dirinya pribadi untuk menghafal)

Sungguh!!

Meski tak kau baca, tak kau hafalkan, tak kau tadabburi apalagi tak kau amalkan, Al-Qur’an tak merugi!!
Tak terhinakan.
Sama sekali!!!

Hey! Tapi lihat…
Lihat siapa nanti yang kelak akan menangis tersedu..
Meraung-raung meminta dikembalikan dalam keadaan semula agar punya kesempatan membersamai Al-Qur’an..
Bermesra dengan Al-Qur’an..
Benar-benar menjadikannya sahabat..

Nanti….
Suatu saat nanti…
Di saat semuanya tak mungkin kembali lagi….
:'(

(Sumber: grup di WA dan Al-Quran)

*Nasihat yang sangat tepat ditunjukkan ke diri ini, astaghfirulloh.

Published by:
Pribadi

Jangan Meninggalkan Kebaikan

Jangan meninggalkan amal krn takut tdk ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripda tdk beramal sama sekali.

Jangan meninggalkan zikir krn ketidakhadiran hati. Kelalaian kita dari zikir lebih buruk daripada kelalaian kita saat berzikir.

Jangan meninggalkan tilawah karna tak tau maknanya. Ketidaktauan makna dalam tilawah masih lebih baik daripada ketidak mauan membaca firman-Nya.

Jangan meninggalkan dakwah karna kecewa. Kesabaran kita bersama orang2 shalih lebih baik daripada kesenangan kita bersama orang2 yg tidak shalih.

Jangan meninggalkan amanah karna berat. Beratnya amanah yg kita emban insya Allah sebanding dengan beratnya timbangan amal yg akan kita dapatkan.

Jangan meninggalkan medan juang karna terluka. Kematian di medan juang lebih baik daripada hidup dalam keterlenaan.

Jangan meninggalkan kesantunan karna lingkungan kasar. Santun kita saat dikasari hanya akan menambah kemuliaan dan mengundang simpati-Nya.

Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubana ‘ala tho’atik.
Yaa muqollibal quluub tsabbit quluubanaa ‘alaa diinik.

Ya Allah yg memalingkan hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan pd-Mu.
Wahai yg membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.

~ Renungan Tarbiyah Dzatiyah ~

Published by:
Uncategorized

Berlomba Dalam Kebaikan

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(QS Al- Baqarah : 148)

Published by:
Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 2, Sering Berbohong

Pernah gak sih kita sebagai ibu melakukan kebohongan-kebohongan. Misalnya saja saat ada telpon yang tidak ingin diterima oleh Ibu lalu kita bilang ke anak “Nak,bilang ibu sedang pergi ya”. Nah lhoo, berbohongnya memang bukan termasuk kebohongan besar sih, tapi tetap saja anak akan belajar kalau berbohong itu hal yang wajar dan diperbolehkan. Toh, itu dicontohkan oleh si Ibu sendiri. Jadi wajar saja kalau suatu saat si anak bisa menjadi pembohong yang baik, ya karena itu hasil didikan orangtua.

Nah, di buku Ayah Edi yang pernah saya baca, ini termasuk kebiasaan buruk yang sering tidak disadari oleh orangtua. Berbohong kecil dan sering. Iya, gak cuma sekali dua kali kan berbohong seperti itu? Bahkan sering demi menenangkan anak yang melarang ibu atau ayah untuk pergi kerja, kita bilang “Nak, ayah/ibu perginya cuma sebentar kok, gak lama, jadi kamu tenang ya”. Lah, kalo ternyata ibu atau ayahnya kerja sampai larut malam gimana? Atau sampai waktu normal aja deh, jam 5 sore misalnya. Apakah itu waktu yang sebentar? Nanti akan tertanam juga deh di benak anak kalau pergi seharian termasuk waktu yang sebentar.

Kata sebentar atau lama sebenarnya juga kurang dianjurkan sih, karena itu termasuk waktu yang relatif. Ada yang menganggap 1 jam itu lama, ada yang menganggap 1 jam itu sebentar. Maka, untuk mengajarkan anak mengenai waktu, disaat anak belum bisa mengenal jam atau menit, sebaiknya pakai batas waktu yang pasti. Misalnya, “Kamu ditemani ibu setelah ibu selesai menggosok”. Nah, jelas batas waktunya, yaitu selesai menggosok! Anak akan belajar sabar dan akan mengenal batas waktu. Tapi disaat anak sudah mulai mengenal waktu, jam, menit, dsb, penting untuk selalu menggunakan batas waktu yang pasti tersebut. 15 menit lah, 30 menit lah, bahkan 8 jam kalau akan pergi bekerja. 

Balik lagi ke bohong. Sebagai orangtua, selalu lah usahakan untuk tidak berbohong, baik kebohongannya hanya kebohongan kecil seperti yang telah disampaikan. Mulailah selalu bicara jujur dan selalu membiasakan hal tersebut ke anak sejak anak lahir. Lebih baik bicara jujur mau ke mana, bersama siapa, dan akan pulang jam berapa nantinya ke anak. Walaupun anak nangis dan merengek, peluk dan tenangkan dulu. Kalau masih merengek, coba diajak mengantar sampai depan pintu, depan gang, atau depan komplek. Dengan begitu anak juga akan belajar berkomunikasi dengan baik kepada orangtua.

Saya pernah membuktikannya lho. Ceritanya ada di postingan saya yang ini, hehe.

Begitulah, semoga berguna dan bisa menghindari kebohongan-kebohongan kecil ini ya para orangtua 😉

Published by:
Pribadi

Kosakata Naia

Hihi, saya mau ngelist kata-kata yang baru bisa diucapkan oleh Naia aah. Ada beberapa kata yang pengucapannya hampir mirip tapi buat Naia itu berbeda.

  • Naia -> naia
  • Ampu -> lampu
  • Apu -> garpu
  • Amma -> Mama
  • Appa -> Papa
  • Ama -> sama
  • Ata -> mata
  • Aca-> kaca
  • Ta -> Ikan
  • Na -> kena
  • Nyaaang -> kenyang
  • Atuuh -> Jatuh
  • Tu -> Situ
  • Atu -> Satu

Hihihi, lucu sekali kamu nak :*

Published by:
Keluarga Parenting

[Parenting] Biarkan Anak Menanggung Konsekuensi Perbuatannya

Postingan ini betul-betul reblog dari artikel di Parents Guide dengan judul yang sama. Hal ini juga yang ditekankan oleh Toge Aprilianto, agar anak menjadi mandiri dengan mengatasi masalahnya sendiri.

“Bermain air basah, bermain api hangus.” Masih ingatkah pada pepatah lama ini? Benar, tiap perbuatan manusia memang selalu diikuti akibat. Datang terlambat di kantor ditegur. Telat bayar tagihan kartu kredit didenda. Kadang kita berusaha tidak peduli. Tapi setelah satu-dua kali terantuk akibat – apalagi kalau akibatnya berat – biasanya kita jera.

Hal serupa berlaku di dunia anak-anak. Tulisan ini membahas bagaimana membuat anak mengambil pelajaran dari konsekuensi perbuatannya. Ada dua jenis konsekuensi tiap perbuatan: alamiah dan logis.

Konsekuensi Alamiah

Published by:
%d bloggers like this: