Momopururu » January 2014

Monthly Archives: January 2014

Parenting Pribadi

[Parenting] Bukan “Mengharamkan”, Hanya “Mengurangi”

Sejak mengenal ilmu pengasuhan alias parenting, saya menyadari dan memahami kenapa kata ‘jangan’ tidak bisa sering-sering kita gunakan. Saya bahkan pernah membuktikannya sendiri. Dengan tidak menggunakan kata ‘jangan’, si anak malah lebih mengerti apa yang seharusnya dia lakukan.

Namun, beberapa waktu lalu saya sempat kaget dengan salah satu artikel di salah satu situs islami yang berjudul “Untukmu yang Mengharamkan Kata “Jangan”, Adakah Engkau Telah Melupakan Kitabmu?

Sesungguhnya artikel tersebut sangat bermanfaat sebagai pengingat bagi kita-kita yang sangat anti dengan kata ‘jangan’. Namun, yang saya tangkap, dengan adanya artikel itu, kata ‘jangan’ jadi sangat diperbolehkan dan dipersilakan untuk sering-sering menggunakannya, termasuk untuk hal yang remeh temeh sekalipun. Dan yang saya pahami, artikel tersebut tidaklah menampilkan perbandingan yang setara. Artikel tersebut malah membuat para orangtua menjadi bingung mengenai cara pengasuhan mereka yang telah mengurangi kata ‘jangan’ ini.

Yayasan parenting akhirnya menjawab kebingungan para orangtua mengenai hal ini

Published by:
Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 4 (Bicara Tidak Tepat Sasaran) dan 5 (Menekankan Pada Hal-hal yang Salah)

BICARA TIDAK TEPAT SASARAN [4] DAN MENEKANKAN PADA HAL-HAL YANG SALAH [5]

Kenapa kebiasaan buruk 4 dan 5 ini saya jadikan satu? Karena kedua kebiasaan ini biasa berjalan bersamaan. Misalnya, saat anak sudah remaja dan ingin pergi dengan teman-temannya padahal dia masih memiliki satu kewajiban yang belum dikerjakan, yaitu membereskan kamarnya. Nah, contoh bicara tidak tepat sasaran dan menekankan pada hal-hal yang salah adalah saat orangtua sebenarnya ingin agar anaknya membereskan kamarnya terlebih dahulu, tapi omongannya malah jadi kemana-mana.

orangtua: Nak, itu kamarnya belum diberesin, kok kamu udah mau pergi aja? kamu tu emang anak yang gak bertanggung jawab banget ya. papa mama udah sering ngasih tau juga kalau mau pergi kemana2 harus beresin kamar dulu. kemaren juga tuh, kamu gak nyuci baju kamu sendiri  yang menumpuk. jadi anak kok gak rapi banget. papa mama gak suka deh kamu kayak gitu

anak: X0*lkr$*%(2 o_O

Bicara tidak tepat sasaran.

Apa yang diinginkan orangtua? Agar si anak membereskan kamarnya bukan? Di ocehan tersebut si orangtua malah membicarakan banyak hal. Tentang anak yang tidak bertanggung jawab, tentang baju yang tidak dicuci, tentang anak yang tidak rapi. Si anak malah jadi bingung dan merasa sangat dipojokkan dan malah membuatnya frustasi.

Buatlah kesepakatan

Published by:
Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 3, Banyak Mengancam

Kakaaak, ganti baju..!!! Dari tadi gw suruh ganti baju gak ganti2 nih anak. Gw tendang luh kalo gak ganti-ganti, cepet ganti!!!

si anak: santai, main-main, ngeledek.

si ibu: tetap teriak-teriak tanpa melakukan apa yang diancamnya: menendang.

lama kelamaan si Ibu tetap teriak-teriak lalu sambil mencubit yang akhirnya membuat si anak ganti baju sambil menangis

Pernah kalian mendengar cerita serupa? Atau bahkan cerita lain dimana si ibu memerintahkan anaknya untuk membereskan mainan dengan ancaman kalau mainannya akan dibuang? Namun apa yang dilakukan kalau anak tetap tidak mau membereskan mainan? Si ibu lah yang akhirnya membereskan mainan tanpa membuang mainan tersebut.

sumber gambar: http://www.parenting.co.id/

sumber gambar: http://www.parenting.co.id/

Jadi bagaimana agar tidak mengancam?

Published by:
Pribadi

Not Much

— I wrote this post on January 3rd actually 😀 —

sumber gambar: betanews. klik gambar untuk menuju sumber

sumber gambar: http://betanews.com/

I never thought of making some kind of resolutions before. Every year and every time I just think that I want to be a better person. More and more. But, these year, I want to started making some resolutions. And these so called resolutions might take my life into more interesting life. I could be more excited in doing my role as a wife, a mother, and an entrepreneur.

Yea, I read back my last posting, and I thought my wishes for 2014 is too general. You don’t know what exactly a better person, a better wife, or even a better mother do you?

So, here they are my so called resolutions this year:

  1. I want to be hafidzah. I want my children be hafidz or hafidzah, so I have to be the one first. So I am starting to read Quran more and starting to follow the program ODOJ (One Day One Juz). Bismillaah.
  2. My cooking skills increased even more.
  3. I want to train Naia to be more independent. At least she can wear her clothes and shoes by herself *she already done the shoes part :P* and rearrange the toys she has been played.
  4. Add some knowledge in parenting skills. Yea, through people’s experience and also experiencing myself, I want to get a lot of parenting lesson that I can share later.
  5. Write more about parenting in my blog.
  6. Write an english post *at least* once a month.
  7. Add some value in my business, Hijaiya.

Thats it. Eventough it’s not much, it’s…

Not much, haha. The important thing is action!

I hope all of my resolutions can be done by the end of this year.

Published by:
Pribadi

NYALEM a.k.a meNYALurkan EMosi

Sebagai manusia, kita pasti selalu merasakan yang namanya emosi. Entah kita termasuk yang cepat tersulut atau yang sabar. Menurut saya, orang yang sabar bukanlah orang yang tidak pernah merasa emosi atau marah. Tapi dia bisa menyalurkan emosinya tersebut dengan aman dan nyaman.

Emosi yang aman dan nyaman adalah disaat emosi kita yang meluap tidak menjadikan kita akhirnya menyakiti diri sendiri. Tidak menjadikan kita meluapkan emosi tersebut ke orang lain sehingga menyakiti orang tersebut. Tidak juga menyakiti lingkungan sekitar kita. Piring yang pecah atau barang yang rusak misalnya, atau bahkan rumah yang kebakaran *Naudzubillah*.

Nah, sudah sejak dari *kira-kira* tahun 2010an saya berusaha dan belajar agar saya bisa menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman seperti itu. Awalnya memang tidak mudah. Saya masih sering meluapkan emosi ke orang lain yang hasilnya orang yang tidak memiliki salah apapun tersebut malah terkena luapan emosi saya sehingga ia kesal. Sering juga saya membuat keputusan saat itu yang akhirnya saya sesali kemudian.

Jangan membuat keputusan saat emosi. Jangan membuat janji saat bahagia.

Dua hal inilah yang akhirnya paling saya ingat selalu. Saat sedang marah atau emosi, kita tidak akan mengerti apa yang kita pikirkan yang selanjutnya apabila kita membuat keputusan saat itu akan sangat mungkin sekali kita akan menyesalinya di kemudian hari. Maka dari itu disaat kita emosi kita harus benar-benar menahan diri untuk tidak mengambil keputusan. Tunggu sampai emosi mereda baru kita bisa berpikir secara dewasa kembali dan bisa berpikir lebih baik.

Nah, saya memiliki beberapa cara atau beberapa penyaluran emosi disaat emosi saya sedang tidak terbendung. Salah satunya adalah dengan menulis di blog ini. Ada beberapa hasil tulisan saya yang merupakan penyaluran emosi, seperti tulisan ini, hehe. Terkadang saya juga hanya berdiam diri, membaca-baca buku yang belum selesai saya baca, mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk, membuat makanan yang enak yang bisa meningkatkan mood, dan terkadang juga dengan ‘menikmati’ waktu dengan diri sendiri alias me-time. Yap, cara-cara tersebut ampuh untuk meredakan emosi saya. Emosi yang kembali mereda membuat saya bisa bergaul lagi dengan Naia dan suami tanpa menyakiti hati mereka.

Buat saya, cara menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman ini sangat penting. Ya berhubung saya sehari-hari di rumah hanya bersama Naia, saya gak mau kalau sampai akhirnya emosi saya tersalurkan ke Naia. Alhamdulillah hasil belajar menyalurkan emosi yang aman dan nyaman ini sudah terlihat sedikit demi sedikit.

Juga agar saya bisa mengajarkan Naia menyalurkan emosinya dengan aman dan nyaman nantinya. Yang tidak membuatnya menyakiti diri sendiri, lebih-lebih orang sekitar, bahkan tidak membuatnya membanting barang-barang. Karena saya percaya, orangtua yang tidak mengerti bagaimana cara menyalurkan emosi tidak akan bisa mengajarkan anak menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman.

So, sudahkah kalian menyalurkan emosi dengan aman dan nyaman?  😀

Published by:
%d bloggers like this: