Momopururu » February 2014

Monthly Archives: February 2014

Keluarga Parenting

Happy Mom Raise Happy Kids

Postingan ini hanya ingin membicarakan sedikit sekali tentang sebutan ibu-ibu. Ada SAHM atau Stay At Home Mother, ada WM atau Working Mother, dan yang sekarang sedang ‘ngetrend’, WAHM alias Working At Home Mother. Sebenarnya saya agak risih juga sih sama orang yang membeda-bedakan status ibu. Mau dia SAHM, mau WM, atau WAHM, dia tetap menyandang kata “Mother”. Jadi kayanya gak ada tuh istilah ibu mana yang derajatnya lebih terhormat atau lebih tinggi. Semua lebih karena pilihan mana yang membuat mereka menjadi lebih bahagia, hihi.

Bener kan? Yang terpenting adalah kebahagian agar tidak terjadi kasus-kasus seperti Andrea Yates atau kasus-kasus lain yang serupa dimana penyebab hal tersebut adalah seorang ibu yang depresi.

Mari saya jabarkan satu persatu

Published by:
Keluarga Parenting

Weaning Alias Menyapih

Entah cara menyapih yang saya lakukan ini bisa disebut WWL (Weaning With Love) atau tidak, yang jelas penyapihan ini didasari oleh rasa cinta, hihi.

Walaupun Naia belum berumur 2 tahun *sebentar lagi siih*, saya dianjurkan untuk menyapihnya. Hal ini dikarenakan demi memperbaiki gizi Naia.

Proses penyapihan ini diawali dari kunjungan kami ke dokter gizi menyangkut BB Naia yang jauh dibawah garis normal BB batita seusianya *kasus BB kurang ini pernah saya ceritakan di sini*. Nah, saat kunjungan ke dokter itu, dokter bertanya akan seringnya Naia ‘nenen’ sehari-harinya. Lalu, saat saya mengutarakan betapa sering dan lamanya Naia nenen itu dokter lalu berkata kalau Naia ternyata ‘nyandu’ nenen dan malah asik menjadikan itu sebagai mainan alias ngempeng! Hiks, saya sediiih sekali saat mendengar ini. Saya gak mau anak saya ngempeng tapi secara tidak sadar selama ini Naia ternyata ngempeng T_T Belum adanya pengalaman sebagai ibu sebelumnya *yaiyalaah* ikut serta membuat saya jadi tidak bisa membedakan apakah anak saya ngempeng atau bukan. 

Oke, itu prolognya, sekarang bagian bagaimana proses penyapihan tersebut

Published by:
Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 7, Papa dan Mama Tidak Kompak

Alkisah *elah, kok pake alkisah yak*. oke, saya ganti..

Suatu malam Bela (bukan nama sebenarnya *halah) ingin menonton televisi dan membujuk sang Ibu agar ia diperbolehkan menonton. Tapi ternyata si Ibu melihat kalau Bela ini belum makan, jadilah ia memberi syarat Bela harus makan dulu sampai habis baru bisa menonton. Tentunya dengan bahasa yang telah diatur sedemikian rupa sehingga penyampaiannya baik. Tapi Bela malah tetap gak mau makan dan langsung merengek yang lama kelamaan jadi menangis kencang. Karena si Ibu tau itu hanya strategi, ya dibiarkan saja Bela menumpahkan tangisannya. Toh, Ibu tau kalau tangisan strategi itu biasanya gak bertahan lama. Kalau dia sangat ingin menonton televisi, toh dia pada akhirnya mau makan.
Tapi ternyata Ayahnya Bela kasihan dengannya dan akhirnya mengabulkan permintaannya untuk menonton televisi. Walhasil tangisan berhenti, Bela menonton televisi namun tidak jadi makan. Si Ibu jadi bingung dengan Ayah yang gak kompak itu dan akhirnya hanya geleng-geleng kepala sendiri.

Pernah mendengar kisah serupa? Atau kisah lain dimana Ayah tidak mau membelikan mainan karena bulan itu telah dibelikan mainan namun Ibu tetap membelikannya dengan alasan takut nangis dan mengganggu pengunjung toko lain?

Itu tandanya pengaasuhan Ayah – Ibu yang masih belum kompak.

Published by:
Hobi

Belajar Jualan Online: Menjadi Spesialis di Produk, bukan Toserba

Belajar dari pengalaman, pengkhususan produk dalam toko online itu lebih memudahkan dan menguntungkan.

Jadi, beberapa bulan lalu, saya dan sahabat saya membuka toko online baju muslimah, kerudung, serta pernak-perniknya bernama Hijaiya. Konsep kami awalnya semua yang dibutuhkan wanita bisa didapat di toko kami dengan harga murah. Gamis yang harganya berkisar 50ribu – 80ribu saja, kerudung yang berkisar 15ribu-35ribu, dompet yang berkisar 60ribu-80ribu, dan barang-barang lainnya, termasuk baju renang dan dompet.

Produk-produk tersebut bisa murah karena kami belanja secara grosir dan mengambil untung hanya sedikit sekali. “Untung sedikit asal perputarannya cepat”, begitu pikir kami. Tapi sayangnya, modal kami sangat terbatas. Jadi, satu jenis produk hanya bisa menampung 5-6 model saja, sedikit kan untuk toko online? Apalagi perempuan lebih menyukai toko online dengan model yang banyak agar pilihannya tidak terbatas. Tapi kami tetap melaju dengan konsep semua ada ini. Yaa sesuai namanya, hijaiya yang diambil dari huruf hijaiya. Dari alif sampai ya, yang mengartikan dari gamis sampai dompet pun ada.

*sebenarnya celana panjang, rok, manset, serta legging pun ada, hanya saja tidak sempat kami bikin foto untuk promosinya 😀

Masalahnya?

Published by:
Lomba Blog

Video Mommychi

Beberapa waktu lalu saya membahas aplikasi kesehatan terbaru bernama mommychi yang berjudul “Mommychi: Demi Anak dan Waktu Yang Tidak Akan Pernah Kembali” di blog ini *bagi yang belum tau, silakan baca postingan saya tersebut ya, hehe. Aplikasi ini sangat bermanfaat untuk memantau tumbuh kembang kehidupan anak kita di 1000 hari pertamanya.

Sangat jauh lebih lengkap dari KMS (Kartu Menuju Sehat) yang biasa diberikan pada saat kita melahirkan. 

Setelah mengetahui adanya aplikasi yang bagus ini, saya jadi memindahkan catatan semua pertumbuhan dan perkembangan Naia yang ada di buku kesehatannya ke mommychi. Saya sangat dimudahkan karena terdapat grafik yang otomatis dibuat berdasarkan data yang kita berikan dan langsung dibandingkan dengan grafik pertumbuhan normal balita seusianya.

Yuk tonton videonya di sini 😀

Published by:
Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 6, Merendahkan Diri Sendiri

Pernah mengatakan ke anak setiap kali anak itu tidak mau menurut dengan perkataan seperti ini: ?

nanti mama bilangin papa lho” atau “biarin, begitu mama pulang nanti kamu pasti dimarahi

Kalau pernah, SELAMAT! Kalian telah merendahkan diri kalian sendiri di hadapan anak. Iya, kalau salah satu saja dari orangtua yang berwenang dan berkuasa atas segala peraturan di rumah, lantas kita sebagai pasangan bagaimana? Bukankah yang berwenang dan berhak mengasuh anak adalah kita berdua sebagai orangtua?

Dan, komunikasi yang paling baik adalah tetap dimana terjadi kesepakatan antara orangtua dan anak. Kesepakatan tersebut bisa dibuat oleh ibu maupun ayah karena kedua-duanya sama-sama berwenang, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah kuasanya di hadapan anak.

Buat kesepakatan

Jadi, kalau anak mau menurut, ya buatlah kesepakatan dan patuhilah kesepakatan tersebut. Misal, si anak tidak mau mandi karena masih asik menonton. Tentukan pilihan dan beri batasan waktu untuk disepakati berdua. Minta ia untuk mandi sekarang agar nanti malam bisa menonton lagi atau mandi 10 menit lagi namun setelah itu tidak bisa menonton TV di malam nanti. Apabila ia lebih memilih mandi 10 menit lagi, tepat 10 menit kemudian datangi anak dan ajak mandi saat itu juga tanpa ada kompromi lebih lanjut. Karena itu adalah pilihannya tadi, dan dia harus menepati janjinya untuk tidak menonton TV nanti malam sebagaimana kita menepatinya untuk menunggu 10 menit.

Memang untuk membuat suatu kesepakatan seperti itu, kita sebagai orangtua harus sangat kreatif dan memiliki banyak ide. Namun, sesungguhnya tidak menjadi sulit ketika kita sangat mengenal anak kita. Apa kesukaannya dan apa yang yang tidak disukainya. Hal itu akan sangat memudahkan orangtua untuk memberinya hadiah atau hukuman yang tepat di isi kesepakatan.

Happy parenting ^^

Published by:
%d bloggers like this: