Weaning Alias Menyapih

11 Replies

Keluarga Parenting

Entah cara menyapih yang saya lakukan ini bisa disebut WWL (Weaning With Love) atau tidak, yang jelas penyapihan ini didasari oleh rasa cinta, hihi.

Walaupun Naia belum berumur 2 tahun *sebentar lagi siih*, saya dianjurkan untuk menyapihnya. Hal ini dikarenakan demi memperbaiki gizi Naia.

Proses penyapihan ini diawali dari kunjungan kami ke dokter gizi menyangkut BB Naia yang jauh dibawah garis normal BB batita seusianya *kasus BB kurang ini pernah saya ceritakan di sini*. Nah, saat kunjungan ke dokter itu, dokter bertanya akan seringnya Naia ‘nenen’ sehari-harinya. Lalu, saat saya mengutarakan betapa sering dan lamanya Naia nenen itu dokter lalu berkata kalau Naia ternyata ‘nyandu’ nenen dan malah asik menjadikan itu sebagai mainan alias ngempeng! Hiks, saya sediiih sekali saat mendengar ini. Saya gak mau anak saya ngempeng tapi secara tidak sadar selama ini Naia ternyata ngempeng T_T Belum adanya pengalaman sebagai ibu sebelumnya *yaiyalaah* ikut serta membuat saya jadi tidak bisa membedakan apakah anak saya ngempeng atau bukan. 

——

Alhamdulillah penyapihan Naia tidak serumit bayangan dan ekspektasi saya sendiri. Sebenarnya saya sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan-kemungkinan penyapihan yang terburuk. Tapi saya juga selalu meyakinkan diri kalau Naia itu pintar dan sangat bisa diberi pengertian sehingga berharap yang terbaik. “Expect for the best,  prepare for the worst” lah istilahnya, hehe.

Mama & Naia

Mama & Naia

*abaikan latar belakang yang terlalu ramai dan berantakan XP*

Oiya, proses menyusui sebenarnya bukan merupakan proses yang susah dan juga bukan merupakan proses yang mudah. Ketakutan-ketakutan akan proses menyusui ini sebenarnya cukup banyak. Sewaktu awal menyusui saya ditakutkan akan bengkaknya payudara yang bisa membuat si ibu demam 2 sampai 3 hari. Alhamdulillah saya mengalami itu dan berhasil melewatinya. Saya juga ketakutan setiap kali orang lain bercerita kalau payudaranya sakit saat anaknya mulai tumbuh gigi karena selalu digigit-gigit. Alhamdulillah Naia tidak begitu, terima kasih yaa Naia *ciuum*. Lalu, saya juga ditakutkan akan lepasnya ikatan antara saya dan Naia ketika saya mulai menyapihnya. Saya juga ketakutan akan susahnya menyapih Naia karena pernah membaca kisah seorang ibu yang menyapih anaknya sampai anaknya menangis meraung-raung setiap malam selama hampir 2 minggu. Saya lalu menyiapkan diri sesiap-siapnya di proses penyapihan ini karena kisah-kisah itu. Namun, Alhamdulillah *banget* saya tidak merasa kehilangan ikatan batin saya dan Naia dan Alhamdulillah juga Naia termasuk anak yang cepat mengerti sehingga proses penyapihan semakin berjalan mulus. Tidak henti-hentinya saya bersyukur akan hal itu.

Saat hari pertama penyapihan, saya menjelaskan kepada Naia kalau mulai hari itu Naia tidak nenen lagi dan akan diganti dengan susu atau air putih. Naia sih hanya mengangguk dan mem’beo’kan saya “nenen, ndak” *sambil geleng2* dan “tiih, cucu” *artinya air putih, susu*. Hum, okee, let’s see then. Saat malam menjelang dan sudah menjelang waktu tidur, Naia mulai merengek meminta nenen dari saya. Saya lalu mengingatkannya akan penjelasan saya siang atau sore harinya, tapi tetap Naia tidak berhenti menangis. Diganti air putih? Menggeleng. Diganti susu? Menggeleng juga. Akhirnya kami pun *iya, kami, saya dan suami, hehe* gantian menggendongnya kesana kemari demi menenangkan Naia. Lalu saya kepikiran ide untuk membiarkan Naia nonton kereta api *thomas* di laptop. Ide menonton ini akhirnya disambut dengan baik oleh Naia karena kami sangat jarang menonton atau memberi memberi harga mahal kepada Naia untuk sekedar menonton dan sekarang bisa didapatkannya secara gratis, kesempatan langka! hihi. Dia langsung tenang dan mau bersabar menunggu dari awal laptop dinyalakan sampai akhirnya bisa menonton kereta api itu. Dan tanpa sadar, dia pun tertidur saat menonton.

Hari kedua masih merengek-rengek meminta nenen saat mau tidur tapi dapat ditenangkan lagi dengan menonton. Hari ketiga mulai bisa diganti dengan minum susu sebelum tidur. Tapi hari selanjutnya, karena Naia sangat bosan dengan rasa susunya *bosannya Naia akan susu ini akan saya ceritakan di lain kesempatan :D*, akhirnya diganti dengan air putih saja. Dan Alhamdulillah sampai sekarang *baru berjalan satu minggu sejak mulai disapih* Naia sudah tidak nenen dan sudah tidak merengek lagi sebelum tidur.

Alhamdulillah saya sudah merasa kalau proses penyapihan ini sudah berhasil. Terima kasih atas kerjasamanya ya nak *ciuum*.

Like mother like daughter

Like mother like daughter

—–

Untuk suami tercinta, Ilman Akbar, saya juga sangat berterima kasih sekali. Kalau bukan karena dukungan dan kerjasama yang sangat baik, mungkin saya masih stress bagaimana cara menyapih dan bagaimana menenangkan Naia saat merengek2 minta nenen. Makin cintaaa *eh*

11 comments

          1. istianasutanti

            iyes, ke dokter spesialis gizi yang dirujuk oleh dokter anaknya Naia. 🙂
            biasanya konsul ke JMC yang deket rumah, sekarang mesti ke Hermina Jatinegara demi si dokter gizi ini, hehehe

  1. rizka

    Anak saya juga semenjak 8 bulan bbnya susah naik mak. Akhirnya di usia menjelang 1,5 tahun cek ADB, ternyata dibawah normal. Akhirnya terapi zat besi selama 3 bulan, plus saya kasih minyak zaitun. Alhamdulillah, selama 3 bulan beratnya naik hampir 1 kg.

  2. Pingback: Tips ini Bisa Membuat Anak Mudah Tidur Lho! | momopururu

  3. Pingback: Drama ASI dan Pelajaran Dari Menyusui – Momopururu

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: