Momopururu » May 2014

Monthly Archives: May 2014

Lomba Blog

Magic [Mister] Potato

Salah satu kebiasaan saya sampai saat ini adalah ngemil. Kebetulan cemilan yang paling saya suka itu adalah kripik kentang berbumbu. Kalian tau apa? Yap, persis, cemilan favorit saya adalahĀ mister potato.

Nah, sambil ngemil itu saya suka membayangkan tempat-tempat indah yang sangat ingin saya kunjungi. Seperti sore itu saat ngemil, saya membayangkan mengelilingi kota London. Iya, London. Tempat Ratu Elizabeth tinggal dan memerintah serta salah satu negara wajib dikunjungi kalau ke Eropa.

Tapi rasanya seperti ada yang berbeda kali ini. Semuanya terasa sangat nyata.

Keping pertama yang saya gigit langsung membuat saya membayangkan berada di tempat dimana saya bisa melihat seluruh kota London. Seakan-akan saya berada di titik tertinggi London Eye yang memungkinkan untuk melihat keseluruhan inggris sejauh 40km. Saya bisa melihat dengan jelas menara jam yang sangat terkenal di seluruh dunia, Big Ben. Salah satu tempat yang saya ingin kunjungi juga.

london eye

Credits

Tapi, bayangan itu tidak bertahan lama, begitu keping pertama habis, bayangan itu berakhir. Saya langsung melahap keping kedua, berharap kalau saya bisa membayangkan tempat indah lagi di London.

Ternyata, saya sekarang membayangkan berada tepat di bawah menara jam yang sebelumnya saya lihat dari atas London Eye, Big Ben. “Waah, impian saya langsung jadi nyata,” pikir saya. Langsung secepat itu pula saya mengelilingi tempat yang dijadikan istana parlemen itu. Kapan lagi kan? Sebelum bayangan ini berakhir, hehehe.

bigben

Credits

Tapi, saking bersemangatnya, saya pun mengunyah dengan sangat cepat. Dan, tanpa menunggu waktu lama, seketika itu juga bayangan saya habis mengiringi kepingan kedua yang habis saya makan.

Cepat-cepat saya mengambil keping selanjutnya untuk dimakan dan seketika itu saya berada di

Published by:
Fiksi Flash Fiction

[Prompt #51] Kembang Api Pernikahan

*Edisi revisi* XP

Selama ini aku dilatih keras oleh ayah untuk mengabulkan permohonan manusia-manusia bumi yang hampir tak hingga banyaknya itu. Tugas yang kulakukan juga sebenarnya tugas yang ayah dapatkan saat menikah dengan ibu dulu. Namun, agar meringankan ayah dan ibu, aku membantu mereka sekaligus latihan kalau-kalau mendapat tugas yang sama banyak dan sama beratnya.

Konon, banyaknya kembang api saat pernikahan akan menentukan kuat dan langgengnya pernikahan tersebut. Aku ingin pernikahanku nanti bisa mendapat berjuta-juta kembang api yang menghiasi langit. Walaupun itu artinya tugasku nantinya akan sangat berat. Tapi toh, kekuatanku juga akan bertambah dengan pesat. Ya, setiap kembang api yang muncul di langit memberiku tambahan kekuatan. Aku bisa mengabulkan permohonan jauh lebih cepat dibanding saat membantu ayah dulu.

***

Hari pernikahan pun tiba. Aku dan wanita cantik di sebelahku ini tidak sabar dan menunggu-nunggu akan ada berapa banyak kembang api nantinya. Inilah saat penentuan banyak sedikitnya tugas yang akan kami emban. Kami melemparkan buket bunga yang sangat indah ke bawah langit dengan kecepatan yang luar biasa. Kecepatan seperti itu mampu menghasilkan bintang bercahaya dalam sekejap. Perpaduan cahaya dan kecepatan itulah yang menghasilkan bintang jatuh dalam pandangan manusia bumi.

Prompt 51

Sumber gambar

Seketika itu juga berjuta manusia di bumi mengucapkan permohonan. Permohonan-permohonan yang terucap itu meluncur ke atas langit seperti kembang api yang menghiasi hari pernikahan kami. Ah, indahnya. Aku yakin, dengannya aku bisa mewujudkan semua permohonan manusia yang datang itu satu persatu. Ya, kami akan bekerja sangat keras. Kuharap manusia yang mengucapkan permohonan itu akan tetap hidup sampai permohonannya kami wujudkan nanti.

Published by:
Uncategorized

Kriteria Memilih Sekolah

Iyes, saya setuju banget sama 25 kriteria tambahan ini untuk memilih sekolah. Justru mungkin inilah yang terpenting buat saya dan suami saat memilih sekolah untuk anak nantinya. Selain tentu saja si anak suka atau tidak dengan kondisi sekolahnya ya šŸ˜€

checklist
Photo Credit: StockMonkeys.com via Compfight cc

Biasanya orangtua memilih sekolah baik berdasarkan kriteria: nilai ujian siswa, passing grade, atau biayanya. Namun pakar pendidikan Ian Gilbert dalam bukunya, Independent Thinking, mengajukan 25 parameter yang bisa jadi panduan bagi orangtua dalam memilih sekolah yang baik untuk anaknya. Bagi pengelola sekolah, daftar ini bisa jadi panduan tambahan untuk menciptakan atmosfer pembelajaran yang kondusif.

1. Apakah para siswa menikmati belajar di sekolah itu?
2. Apakah para guru menikmati mendidik di sekolah itu?
3. Apakah para siswa merasa tertantang dengan kegiatan-kegiatan di sekolah itu?
4. Apakah para siswa juga mengembangkan kompetensi, tidak hanya mendapat nilai tinggi belaka?
5. Apakah para siswa juga mempelajari keterampilan dan tidak hanya fakta-fakta pengetahuan?
6. Apakah nilai-nilai moral juga menjadi fokus dan diteladankan oleh setiap anggota komunitas sekolah?
7. Apakah terdapat cukup atmosfer inklusif di mana semua siswa dihargai berdasar jati diri mereka dan apa yang mereka bisa?
8. Apakah isu-isu penting seperti bullying dan berbagai aspek sosial dan emosional lain dalam kehidupan sekolah didiskusikan secara terbuka dan positif?
9. Apakah kemampuan untuk berpikir sendiri didorong dan dikembangkan bagi seluruh siswa?
10. Apakah sekolah memiliki unsur kesenangan dan keriangan?
11. Apakah aspek-aspek seperti rasa ingin tahu, kekaguman, keberanian, kegigihan dan ketahanan didorong dan disambut secara aktif?
12. Apakah para guru terbuka terhadap ide-ide baru dan tertarik melakukan berbagai kegiatan bersama – bukan terhadap – para siswa?
13. Apakah sekolah mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia pendidikan dan pembelajaran?
14. Apakah sekolah mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia teknologi pendidikan?
15. Apakah harapan yang tinggi juga disematkan kepada para guru dan pengelola sekolah, seperti juga disematkan kepada para siswa?
16. Apakah kepala sekolah “terlihat” dan mudah diajak berinteraksi?
17. Apakah para siswa disadarkan bahwa mengeluarkan yang terbaik dari diri sendiri tidak harus berarti menjadi lebih baik dari orang lain?
18. Apakah sekolah terbuka terhadap hal-hal di luar dugaan (yang positif)?
19. Apakah para siswa diajak berpikir tentang, berinteraksi dengan, dan berusaha berkontribusi pada kehidupan di luar dinding sekolah?
20. Apakah sekolah sadar bahwa pembelajaran adalah sesuatu yang bisa dilakukan siswa kapan pun, di mana pun, dan hanya sebagian di antaranya saja yang perlu dilakukan di dalam dinding sekolah?
21. Apakah komunitas sekolah terbentang sampai keluar dinding sekolah (melibatkan masyarakat)?
22. Apakah proses belajar mengajar di dalam sekolah memasukkan berbagai variasi kemungkinan dan kesempatan pembelajaran?
23. Apakah para siswa diberi kesempatan untuk bertanggung jawab terhadap sesuatu dan untuk mengambil keputusan yang berdampak penting?
24. Apakah hasil pembelajaran yang didapatkan cukup sebagai bekal siswa untuk melangkah ke fase hidupnya berikutnya?
25. Apakah resepsionis, guru, petugas kebersihan, dan seluruh staf sekolah tersenyum kepada orangtua dan pengunjung sekolah?

Emang mungkin susah sih nyari sekolah yang benar-benar ideal. Dan jaman sekarang sudah banyak yang menerapkanĀ home schooling. Tapi saya merasa saya dan suami masih akan menyekolahkan anak di lembaga sekolah yang paling tidak mendekati sekolah ideal menurut kami. Semoga kami mendapatkan yang terbaik šŸ™‚

Daan, credits go to Kreshna Aditya. Dialah yang membuat status Facebook berisi 25 kriteria itu ^^

Published by:
Parenting Pribadi

[Parenting] Kebiasaan Buruk 12 & 13, Merasa Salah dan Pasrah

Keputusan saya untuk bekerja di rumah setelah punya anak sangat saya syukuri. Pasalnya, saya bisa menyediakan waktu seharian penuh untuk anak saya. Tapi terkadang, waktu seharian itu bukan waktu yang benar-benar berkualitas sih karena pikiran saya dipenuhi oleh hal lain #ups. Ya misalnya saja pekerjaan yang belum selesai, atau sekedar masih ingin ngobrol atau berinteraksi di dunia maya. Terkadang walaupun saya bersama Naia, tangan saya tidak lepas dari gadget *huhu*. Iya, saya jadi merasa bersalah kalau sadar telah begitu.

Yang membuat saya sadar dan merasa bersalah terkadang karena Naia yang mulai melempar-lempar mainannya atau merengek-rengek gak jelas minta perhatian. Alih-alih kesalĀ *awalnya sebel juga sih padahal XP*Ā dengan rengekan dan tindakannya melempar barang itu, saya yang jadi mikir ke dalam diri sendiri, ini berarti saya sudah mengambil waktu berharga kami. Ya seketika itu juga saya berusaha biar bisa asik lagi dan main berdua lagi deh. Dengan begitu, waktunya dihabiskan dengan berkualitas lagi, hehe.

Namun, biasanya orangtua yang keduanya bekerja memaklumi kenakalan anaknya

Published by:
Fiksi Flash Fiction

[Prompt #50] Pekerjaan Ibu

Ibu sedari tadi sudah berdandan dan sekarang rasanya sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Seperti biasa, ibu selalu wangi dan sangat cantik saat berangkat kerja. Dan, kami akan selalu merindukannya sampai ia pulang nanti. Selamat bekerja ya bu.

Tapi, ayah pun seperti biasa, selalu membenci ibu yang akan berangkat bekerja. Aku tidak tau alasannya apa. Sepertinya mereka akan mulai bertengkar lagi. Tadinya aku ingin memeluk ibu untuk mengantarnya pergi, tapi Nadia langsung membawaku menyingkir dari hadapannya.

Aku bersama Nadia. Sementara ayah dan ibu berada tak jauh dari kami. Tetapi kami tak melihat keduanya. Kami hanya mendengar suara-suara mereka saling berteriak. Lalu suara itu menghilang. Tak terdengar lagi.

No_More_Yelling_by_Celeosia

sumber gambar

Ah, mungkin itu tandanya…

Published by:
Review

Teka-Teki Terakhir

Yap, ini judul buku Teenlit karangan teman saya, Annisa Ihsani. Salah satu buku yang gak bisa ditutup sekali dibuka. Walaupun saya menyelesaikannya selama 2 hari juga sih, itu juga karena terpotong bermain sama anak. Untung esok harinya suami libur, jadi saya bisa melanjutkannya sampai habis dan menghilangkan rasa penasaran, hehehe.

teka_teki_terakhir

Image Credits

Judul: Teka-Teki Terakhir
Karangan: Annisa Ihsani
Tahun: 2014
Rating: 5/5

Sinopsis

Gosipnya, suami-istri Maxwell penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tahu tentang tetangganya tersebut.

Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik pintu rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad. Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu.

Tahun 1992, Laura berusia dua belas tahun, dan teka-teki terakhir mengubah hidupnya selamanya…

***

Saya ikut senang saat buku pertama karangan teman saya ini dicetak oleh penerbit ternama sekelas GPU (Gramedia Pustaka Utama). Dari ceritanya, dia hanya mengirim 1 kali saja ke penerbit dan langsung diterima. Wow banget kan? Begitu ada di toko buku, gak pake mikir 2 kali lagi deh untuk beli ini.

Dari kategorinya *Teenlit*, saya udah ngebayangin

Published by:
%d bloggers like this: