Teka-Teki Terakhir

4 Replies

Review

Yap, ini judul buku Teenlit karangan teman saya, Annisa Ihsani. Salah satu buku yang gak bisa ditutup sekali dibuka. Walaupun saya menyelesaikannya selama 2 hari juga sih, itu juga karena terpotong bermain sama anak. Untung esok harinya suami libur, jadi saya bisa melanjutkannya sampai habis dan menghilangkan rasa penasaran, hehehe.

teka_teki_terakhir

Image Credits

Judul: Teka-Teki Terakhir
Karangan: Annisa Ihsani
Tahun: 2014
Rating: 5/5

Sinopsis

Gosipnya, suami-istri Maxwell penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tahu tentang tetangganya tersebut.

Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik pintu rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad. Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu.

Tahun 1992, Laura berusia dua belas tahun, dan teka-teki terakhir mengubah hidupnya selamanya…

***

Saya ikut senang saat buku pertama karangan teman saya ini dicetak oleh penerbit ternama sekelas GPU (Gramedia Pustaka Utama). Dari ceritanya, dia hanya mengirim 1 kali saja ke penerbit dan langsung diterima. Wow banget kan? Begitu ada di toko buku, gak pake mikir 2 kali lagi deh untuk beli ini.

Dari kategorinya *Teenlit*, saya udah ngebayangin ini kisah cinta remaja pada umumnya, hanya saja dengan cerita dan konflik yang lebih menarik. Tapi, saat membaca sinopsisnya, saya malah berpikir ini kategori teenlit yang penuh petualangan. Tapi lagi, saat membaca langsung bukunya, dugaan saya semua salah. Ternyata buku ini tentang matematika. Yap, matematika. Saya salah satu penggemar matematika sih, walaupun tidak begitu ahli seperti Annisa si pengarang sendiri. Malah saya sebenarnya sudah kehilangan minat terhadap matematika sejak kelas 3 SMA, saat gurunya tidak bisa diandalkan, hiks.

Anyway, kalau saja buku ini ada saat saya pertama kali menginjak bangku kuliah, mungkin saya akan lebih tertarik dengan kuliah MD (Matematika Diskrit) yang memang berisi banyak logika matematik. Dan mungkin saja nilai saya jadi lebih bagus. Atau tetap sama aja yak XP Terlepas nilai yang bisa lebih bagus atau tidaknya, at least saya benar-benar bisa menjadi sangat tertarik sama pelajarannya.

Tapi jangan harap isinya melulu tentang matematika ya. Banyak pelajaran lain yang bisa diambil. Seperti bagaimana indahnya kisah persahabatan si Laura dengan teman sekolahnya. Juga bagaimana orangtua Laura sangat menghargai setiap keputusan anaknya. Saya sedikit banyak jadi belajar mengenai parenting juga. Ya, walaupun gak banyak sih, mungkin hanya 2 atau 3 percakapan dengan orangtuanya. Tapi, 2 atau 3 percakapan itu menyimpan banyak pelajaran 😉

Kualitas menulisnya sangat membuat saya iri, dalam artian yang bagus ya tapinya. Karena membaca buku ini, saya malah jadi pengen belajar menulis juga dan ingin membuat cerita dengan topik yang tidak biasa tapi dihadirkan dengan cara menyenangkan. Ya, buku ini kan menghadirkan topik yang tidak biasa kan? Matematika. Sangat jarang ada novel bertemakan matematika bisa dinikmati seringan ini.

So, it’s so worth to read. Saya memberi nilai 5 karena kekaguman akan tulisannya, juga akan ilmunya yang diberikan secara menyenangkan di buku ini. 😀

4 comments

  1. Pingback: Sabtu Bersama Bapak | momopururu

  2. Pingback: [Review] A Hole In The Head – Momopururu

Leave a Reply

%d bloggers like this: