[Prompt #50] Pekerjaan Ibu

8 Replies

Fiksi Flash Fiction

Ibu sedari tadi sudah berdandan dan sekarang rasanya sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Seperti biasa, ibu selalu wangi dan sangat cantik saat berangkat kerja. Dan, kami akan selalu merindukannya sampai ia pulang nanti. Selamat bekerja ya bu.

Tapi, ayah pun seperti biasa, selalu membenci ibu yang akan berangkat bekerja. Aku tidak tau alasannya apa. Sepertinya mereka akan mulai bertengkar lagi. Tadinya aku ingin memeluk ibu untuk mengantarnya pergi, tapi Nadia langsung membawaku menyingkir dari hadapannya.

Aku bersama Nadia. Sementara ayah dan ibu berada tak jauh dari kami. Tetapi kami tak melihat keduanya. Kami hanya mendengar suara-suara mereka saling berteriak. Lalu suara itu menghilang. Tak terdengar lagi.

No_More_Yelling_by_Celeosia

sumber gambar

Ah, mungkin itu tandanya ibu sudah pergi. Ya, ayah tidak pernah sekalipun mengantar ibu bekerja dengan bahagia. Selalu saja ia mengantarnya dengan kemarahan.

Aku selalu bingung, ada apa sih dengan ayah? Kenapa sih ia tidak bisa sedikitpun senang ibu bekerja? Padahal setiap pulang, ibu pasti membawakan kami makanan enak ~yang tidak pernah dimakan juga oleh ayah~ dan terkadang baju baru yang mahal-mahal. Ah, sudahlah, aku dan Nadia akhirnya memutuskan untuk tidur saja tanpa memusingkan pertengkaran itu.

Saat kami bangun, giliran ayah yang bersiap untuk bekerja. Namun, tidak lama setelah ayah rapi dan sudah akan berangkat, ibu pulang. Kali ini tampangnya tidak karuan. Bajunya compang-camping, rambut berantakan, wajah lesu dan badannya bau alkohol. Kemana kecantikan yang tadi bersamamu bu?

Ayah segera menghampirinya, kali ini ia tidak memarahinya, bahkan membopongnya hingga tempat tidur dan ia memutuskan untuk tidak bekerja hari itu demi menemani ibu. “Rupanya masih ada cinta di hatimu yah,” pikirku. Samar-samar kudengar suara ayah, “Bu, sudahlah. Aku mohon kamu berhenti dari pekerjaanmu itu.” Tapi aku segera bergegas, aku tidak akan meneruskan mendengar percakapan mereka. Takut kalau-kalau akan terjadi pertengkaran lagi. Aku dan Nadia memutuskan untuk segera berangkat ke sekolah saja, kami sudah hampir terlambat.

Sepulangnya dari sekolah, kami tidak mendapati ayah ataupun ibu di rumah. Hanya ada sepucuk surat di kamar mereka. Nadia membacanya dan ia bergegas mengajakku ke rumah sakit. “Siapa yang sakit?,” aku bertanya. “Ibu,” begitu jawab Nadia singkat.

Sesampainya di rumah sakit, kami disambut oleh ayah yang bermuka sembab. Baru kali ini kulihat ayah menangis sejadi-jadinya. Ternyata ibu terkena semacam penyakit kelamin akibat pekerjaannya.

Aku ikut menangis dan baru mengerti sekarang, pantas saja ayah tidak pernah sedikitpun menyetujui keputusan ibu untuk bekerja. Rupanya pekerjaannya mengharuskan ia bergonta-ganti pasangan setiap malam.

8 comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: