[Prompt #52] Gudang Harta

5 Replies

Fiksi Flash Fiction

“Kita laksanakan malam ini?” tanya rekanku di seberang sana.

“Oke,” jawabku.

Segera aku memutus telpon itu karena Tuan Peter sudah keluar kantor. Ini baru jam 4 sih, terlalu siang untuk mengakhiri pekerjaan. Tapi begitulah keseharian tuanku yang kaya raya ini. Seminggu sekali dia pasti pulang sekitar jam 4 sore menghabiskan waktu di gudang yang dibangun persis di sebelah rumah bersama istrinya. Entah apa saja dilakukannya di situ. Tapi, kudengar gudang itu adalah tempatnya menyimpan harta yang paling berharganya.

Setelah menjadi supirnya 3 bulan yang lalu, aku menjadi tau, kunci untuk masuk ke dalam gudang itu sungguh tidak bisa kami temukan atau kami buat sendiri. Karena, kuncinya selalu bersama Tuan dan Nyonya Peter.

Setiap akan masuk ke gudang itu mereka selalu menyanyikan lagu kenangan mereka. Lalu pintu akan terbuka sendirinya. Maka satu-satunya kesempatan adalah masuk setelah mereka membuka pintunya.

Seperti biasa, aku mengantar Tuan Peter langsung ke gudang untuk bertemu istrinya di pintu depan dan masuk meninggalkanku di luar. Tapi, rekanku yang sedari tadi sudah menunggu di dekat gudang langsung menahan pintunya sebelum tertutup rapat saat Tuan dan Nyonya Peter masuk tadi.

“Ayo,” katanya.

Aku beranjak masuk tapi terkesima dengan apa yang kulihat.

Prompt 52

Sumber Gambar

Sejak masuk dari pintu masuk, hanya terdapat jalan kecil untuk menuju ruangan yang dipenuhi buku dan terdapat sofa hijau serta kursi kayu di seberangnya. Gudang ini dibangun bergaya klasik dan semua buku tersebut mengisi rak yang tingginya mencapai langit-langit gudang. Di ujung ruangan terdapat celah sedikit untuk menuju ruang selanjutnya.

“Apa ini, hah?” tanya rekanku.

“Aku juga tidak tau, kita masuk lagi saja ke dalam, mungkin di sanalah hartanya,” kataku.

Begitu kami masuk ke ruang satunya, kami hanya mendapati Nyonya Peter sedang membuat minuman serta Tuan Peter yang berdiri di menghadapnya. Nyonya Peter sangat terkejut dengan kedatangan kami dan langsung memecahkan gelas yang ada di tangannya. Tuan Peter yang tadinya membelakangi kami seketika itu juga berbalik dan terlihat kecewa mendapati diriku sedang bersama orang yang tidak dikenalnya.

“Henry, sedang apa kamu di sini? Dan siapa dia?” tanya Tuan Peter.

“Cepat serahkan harta kalian yang tersimpan di sini,” teriak rekanku.

“Tapi inilah harta kami, semua buku yang tersimpan rapi di gudang ini.” Jawab Tuan Peter.

“Kami tidak butuh buku, kami butuh UANG,” balas rekanku.

“Uang kami ada di bank tentu saja. Di sini tempat kami menyimpan ‘harta’ kenangan kami berdua,” jawab Nyonya Peter sambil merangkul lengan suaminya.

“Aaaarrrrrggghhh….” Jerit rekanku yang seketika itu langsung berlari keluar. Takut kalau lebih lama di situ kami akan dilaporkan ke polisi oleh Tuan Peter.

***

Fyuh, akhirnya mereka pergi. Untunglah mereka tidak menyadari adanya loteng di sini. Emas-emas yang kami simpan di sana jadi masih aman. Istriku tersenyum lega.

467 kata

5 comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: