Play IQ: Mainnya Mereka Bukan Sekedar Main

25 Replies

Parenting Review

Menjadi orangtua, (terlebih orangtua baru yaa, yang baru melahirkan gituu) itu gak enak tapi enak. Lhoo, kok kontradiksi sih, hahaha. Gak enaknya sih saat menghadapi anak yang rewel atau saat kita terjaga sepanjang malam demi anak, atau saat-saat membersihkan kotorannya yaa. Tapii enaknya lebih banyaaak. Salah satunya itu kita seakan-akan punya “mainan” baru. Malah, saat anaknya sudah bisa diajak bermain, kita jadi ikutan mainan deh ama mereka. Asik kaan? Udah segede gini masiih aja mainan dan terkadang melakukan hal konyol demi anak kita ketawa dan ceria lagi, hihi.

Ya habiis, dunia mereka kan memang dunia bermain yaa? Mereka bermain bukan sekedar main sih, tapi lebih dari itu. Mereka belajar dan mengembangkan keterampilannya serta mengasah kemampuan otaknya lewat bermain. Iya, anak-anak mengembangkan dan mengasah kemampuan otaknya tidak hanya saat mereka tidur, tapi juga saat mereka bermain. Karena, aktivitas paling penting dari anak itu adalah tidur, bermain, dan mengobrol. Jadi, pastikan deh anak kita maksimal dalam ketiga aktivitas tersebut.

Aktivitas Utama Anak

Aktivitas Utama Anak

sumber gambar

Fisher-Price Play IQ Workshop

Saya jadi gak heran kalau jaman sekarang makin banyak orangtua yang sanggup memberikan waktu berkualitasnya untuk bermain sama anak. Ya demi itu tadi, demi memaksimalkan perkembangan otaknya. Malah banyak juga yang bikin mainan sendiri untuk anaknya. Saya juga pernah sih beberapa kali bikin mainan sendiri dari barang bekas, ya sambil iseng juga gitu di rumah, hehehe. Alhamdulillahnya sih dimainkan sama Naia. Tapi namanya dari barang bekas, ya umurnya juga gak lama. Paling lama itu seminggu mainannya juga udah gak dimainkan lagi, hahaha.

Tapi banyak juga kok mainan yang beli. Kebanyakan sih bukan kita sendiri yang beliin, tapi hadiah dari yangti-utinya. Tau kan ya kalo nenek-nenek itu emang sayaaang banget sama cucunya, hihihi. Jadi ya gitu deh, jarang banget kita membeli mainan untuk Naia, keseringan buku, karena kami ingin merangsang Naia agar suka membaca juga. Nah, saat saya mudik ke Semarang bareng keluarga suami, ada sepupu yang membelikan anaknya story book rhymes -semacam buku tapi ada lagu-lagunya gitu deh-. Sejak itu saya kepincut banget, pengen beliin juga buat Naia. Dasar emang saya orangnya pelupa pake banget, ya ampe sekarang gak terlaksana deh niat itu, huhuhu.

Untungnya, Sabtu kemarin saya diundang untuk menghadiri acara “Fisher-Price Play IQ Workshop” di Toys City – Lotte Shopping Avenue. Acara tersebut diadakan oleh Fisher-Price yang bekerja sama dengan mommiesdaily untuk memperkenalkan konsep Play IQ lebih dari main!. Nah, isi goodie bagnya itu adalah boneka monyet tobi (yang sekarang jadi favorit Naia dan masih jadi teman tidurnya) daaan… story book rhymes, yeaay! Hihi, emaknya yang seneng. Etapi Naia juga seneng tuh, langsung dibuka dan dimainkan di rumah. Koleksi buku Naia jadi nambah satu deh 😀

Btw, setiap lewat Toys City Pejaten Village juga Naia seneng banget sama Tobi yang nangkring di depan, haha. Tapi, keseringan cuma lewat doank gak sampe masuk. Coba kalo masuk yak, sayanya bisa kalap beliin mainan buat Naia, rekening langsung surut nanti dah pulang2 xp

Play IQ

Oiya, konsep belajar saat bermain yang saya bahas sebelumnya ternyata diterapkan oleh Fisher-Price lho dalam Play IQ – lebih dari main!. Hal ini disampaikan oleh Meiyin Leong selaku Head of Marketing Mattel Asia Tenggara sebagai salah satu pengisi acara workshop kemarin. Play IQ adalah konsep dimana kita sebagai orang tua harus percaya bahwa:

Bayi belajar tentang dunia sekitar mereka dan mengembangkan keterampilan melalui bermain

Dengan mempercayai hal itu, kita bisa mengukur serta mengembangkan keterampilan anak secara maksimal. Workshop kemarin adalah penjelasan apa itu Play IQ dan bagaimana kita bisa memberi stimulus yang tepat kepada perkembangan anak kita. Kita gak bisa lho melihat sejauh mana perkembangan anak hanya melalui satu aspek saja, aspek fisik misalnya. Karena perkembangan anak kita didasarkan pada 3 aspek, yaitu Fisik, Kognitif, serta Sosial-Emosional. Aspek fisik adalah  saat anak mengembangkan kekuatan, koordinasi dan kepercayaan diri mereka. Bisa dibilang aspek fisik ini adalah kemampuan motoriknya lah yaa. Saat saya mengajak Naia untuk melempar bola, berjalan di titian, atau berlari di turunan itulah saya melatih kemampuan fisik Naia.

Play IQ

Play IQ

sumber gambar: mommiesdaily

Keterampilan kognitif adalah saat saya mendorong Naia untuk menyentuh, merasa, mendengar dan belajar melalui permainan. Dengan kata lain, saat saya merangsang dan menjaga rasa ingin tahu Naia, saat itulah saya mengembangkan aspek kognitifnya. Nah, aspek sosial-emosionalnya adalah saat Naia saya ajak bertemu dan berinteraksi dengan orang lain termasuk dengan teman sebayanya. Hal itu dimaksudkan agar Naia bisa mengembangkan keterampilan diri untuk menunjukkan dirinya, berbagi, mendengar, dan memimpin. Jujur aja sih, sampai saat ini Naia itu kalau bertemu orang baru masih sangat malu-malu. Kalau istilah saya mah “panasnya lama”, hihihi. Mungkin dia lebih ke hati-hati kali ya. Dia meyakinkan dirinya terlebih dahulu kalau lingkungan tersebut aman dan dia bisa bebas berekspresi di situ. Saat ia sudah terbiasa, dia bisa lho menjadi ceria dan bersemangat seperti di rumah. Bahkan dia cenderung mau “memamerkan” semua keahliannya di depan orang baru tersebut. Dia malah pernah memimpin teman-temannya dengan menjadi pengarah gaya saat saya foto, hahaha.

Nah, dari 3 aspek itu, Fisher-Price mengidentifikasikan ada 87 pencapaian perkembangan anak saat berumur 2 tahun. Malah ada tabel setiap tahapannya yang ditampilkan secara menarik dengan icon-icon yang eye-catchy. Malah *lagi* Play IQ juga menampilkan pencapaian-pencapaian tersebut sesuai dengan umurnya di webnya pada tab pencapaian. Btw, saya berhasil menjawab jumlah pencapaian yang diidentifikasi oleh Fisher-Price saat workshop kemarin. Akhirnya berhasil membawa pulang Soothe & Glow Seahorse™ *Horeee! 😀

Sumber gambar: mommiesdaily

7 Persona Play IQ

Oiya, kita juga percaya kalau setiap anak itu memang unik kan? Gak semua anak unggul di ketiga aspek tadi, ada yang unggul di aspek fisiknya saja, kognitifnya saja, bahkan di keduanya. Nah, dengan mengkombinasikan ketiga aspek itulah ditemukan 7 persona Play IQ. Dengan mengetahui keunggulan apa yang dimiliki anak, kita jadi terbantu dalam mengidentifikasi potensinya yang akhirnya jadi makin bisa dan makin mengerti bagaimana caranya memaksimalkan kemampuannya itu. Malah, Fisher-Price juga mengerti hal itu dan menyarankan mainan-mainan yang sesuai dengan aspek unggulannya tersebut lho.

Seperti Naia misalnya. Yang saya perhatikan, Naia berada pada persona “the crowd favorite” alias dia lebih unggul dalam aspek kognitif yang dikombinasikan dengan sosial-emosional. Dia punya rasa ingin tahu yang besar serta rasa berbagi yang tidak sedikit. Setiap anak kecil memang punya rasa ingin tahu yang besar sih, tapi Naia lebih tertarik menulis, menggambar, bahkan membaca dibanding bergerak. Walaupun setiap hari juga melakukan hal fisik. Tapi, terlihat deh bedanya kalau anak yang suka banget bergerak. Biasanya anak yang banyak bergerak itu dikatakan sangat aktif, ya itu berarti dia memang memiliki keunggulan dalam fisik yang memang selalu ingin bergerak, gak betah kalau diam. Di acara kemarin, karena judulnya “workshop”, jadi memang ada mainan peraga untuk menunjukkan kepada para orangtua mainan-mainan yang cocok menstimulasi anak-anak. Dilihat dari persona play IQ yang dimiliki Naia, gak heran kalau kemarin dia memilih Cookie Shape Surprise™ ini, hihi. Hayo, mau mengenal anak lebih jauh kan? Pelajari 7 persona play IQ yuk! 😀

1. The Little Legend

The little legend mengindikasikan kalau anak lebih banyak dan memiliki kemampuan yang unggul dalam aspek fisik. Mereka aktif sekali bergerak, mendengar, meraba, serta mengecap. Hampir menggunakan seluruh indera-nya deh untuk bermain, anak the little legend ini. Anak dengan potensi the little legend ini cocok banget memainkan permainan yang membuatnya semakin aktif bergerak, seperti sepeda atau sejenisnya.

2. The Learner Lover

Anak yang unggul di asoek kognitif bisa disebut the learner lover dan biasanya memiliki rasa ingin tahu yang besar. Permainan yang dianjurkan untuk semakin merangsang rasa ingin tahunya itu seperti permainan puzzle atau permainan-permainan mencocokkan sesuatu (bentuk atau warna) seperti Cookie Shape Surprise™.

3. The Natural Charmer

Dari 3 aspek tadi, yang belum disebut adalah sosial-emosional kan? Nah, anak yang unggul di aspek sosial emosional ini disebut the natural charmer. Iyaa, disebut charmer alias pemikat. Itu karena mereka memiliki insting alami untuk berbagi dan mendengar, nah hal itu lah yang disukai dan memikat orang yang berada di sekelilingnya. Jangan-jangan gedenya jadi playboy yah, hahaha xp

4. Small World Explorer

Tadi disebut ada 7 kan? Dan yap, sisanya adalah kombinasi ketiga aspek perkembangan tadi. Kombinasi keunggulan antara aspek fisik dan kognitif disebut small world explorer alias si penjelajah dunia cilik. Selain aktif bergerak, rasa ingin tahu mereka tinggi. Jadilah mereka melakukan percobaan-percobaan tiap kali bergerak itu. Mainan yang disarankan ada Puppy’s Crawl-Along Musical Ball™ ^^

5. The Born Leader

Nah, ini nih cikal bakal pemimpin. Mereka suka memimpin dengan bekal kemampuan sosial-emosional yang tinggi disertai kemampuan yang menonjol juga dalam aspek fisik. Mereka memiliki keterampilan dan kemauan, ditambah gairah untuk bermain dan berbagi dengan orang lain.

6. The Crowd Favorite

Sama seperti sebelumnya, yang ini juga kombinasi dari 2 aspek perkembangan yang paling menonjol. Kalau anak senang berbagi pengalaman alias suka cerita, mereka termasuk kategori play IQ ini, the crowd favorite. Tadi sudah sedikit disebut kalau Naia termasuk dalam kategori ini. Selain kalau bertemu orang ingin menunjukkan apa yang dia bisa, dia juga suka bercerita. Walaupun orang sekelilingnya juga gak ngerti dia cerita apa, jadi saya sering bertindak sebagai “translator” bahasanya dia deh, hehehe.

7. The Bigtime Player

Hayo, siapa anaknya yang sama sekali gak bisa diem, rasa ingin tahunya besar banget dengan melancarkan aksi percobaan pada semua yang ditemuinya, sampai suka show off alias selalu ingin menunjukkan dirinya? Selamat kalau begitu! haha. Dia termasuk anak the bigtime player. Yap, mereka unggul di ketiga aspek perkembangan tadi, fisik, kognitif, dan sosial-emosional. Ciri-cirinya adalah selain memang suka sekali bermain, mereka itu cepat bisa dan serba bisa. Jadi, gampang banget sebetulnya mengajarkan anak the bigtime player ini, asal kita tau harus menstimulasinya dengan permainan yang bagaimana. Mungkin mainan Musical Lion Walker ini bisa dicoba 😉

7 Persona Play IQ

7 Persona Play IQ

Sumber gambar: Edelman

So, anak kita termasuk dalam persona play IQ yang mana nih? Ingat lho, dengan bantuan dalam mengetahui potensi anak, kita jadi gak bingung lagi mau memberi mereka permainan yang mana atau stimulus yang seperti apa. Walaupun penting juga memberi mereka stimulus sebanyak-banyaknya agar terasah dari segala aspek. Tapi, kalau sudah terlihat mereka masuk dalam persona mana, jadi lebih mudah kan? Jangan bingung lho dalam melihat persona play IQ anak kita, karena Fisher-Price membantu kita melihat ini melalui website Play IQnya.

8 Cara Bermain dengan Anak

Oiya, jangan salah, penting juga lho dengan melibatkan diri kita dalam permainan mereka. Mereka bisa belajar bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain melalui kita, orangtuanya. Mereka juga bisa belajar banyak hal. Tentang kepemilikan, tentang pengendalian emosi (khususnya saat rebutan mainan, sering kaan? hihihi), juga tentang berbagi. Banyak cara untuk kita bisa memberikan waktu berkualitas kita dengan bermain bersamanya sesuai tahap perkembangannya. Kalau dibagi sih, ada 8 cara bermain dengan anak kita sesuai dengan jenjang umurnya.

8 Cara Bermain

8 Cara Bermain

Sumber gambar: mommiesdaily

Saat mereka berinteraksi dengan teman mereka baik yang sebaya atau tidak, sebaiknya sih kita cukup menjadi “penonton” saja menurut Vera Itabiliana, Psi, Psikolog anak yang kemarin mengisi acara “Fisher-Price Play IQ Workshop”. Walaupun nantinya mereka terlibat konflik dengan rebutan mainan misalnya *hihi, emang itu yang paling sering sih*, kita sih lebih baik menonton selama keadaannya masih aman alias tidak ada pukulan atau tindak kekerasan. Namanya anak kecil, masih belum tau kan kalau memukul itu menyakiti? Mereka juga belum tau konsep berbagi. Jadi, tugas kita, menonton selama masih aman dan mereka menyelesaikan permasalahannya sendiri saja. Kalau dirasa keadaan sudah tidak aman, kita bisa juga mencampuri urusan mereka dengan memberi ide pada mereka bagaimana seharusnya mereka bermain dan menyelesaikan masalah. Bisa dengan bergantian memainkan permainan yang direbutkan tadi, atau bisa dengan bermain bersama dan berbagi peran. Intinya biarkan mereka menyelesaikan permasalahan mereka terlebih dahulu 😉

Dengan membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, kita secara tidak langsung melatihnya untuk mandiri serta berpikir dan bertindak cepat lho. Semua itu bekal kesuksesan mereka kelak ^^

Quotes

Quotes

sumber gambar

Oiyaa, di acara “Fisher-Price Play IQ Workshop” kemarin juga ada Cathy Sharon loh selaku brand ambassadornya Fisher-Price. Anaknya, Jacob menurut Cathy memiliki persona IQ the bigtime player. Dia tidak bisa diam, punya rasa ingin tahu yang besar, serta suka berbagi dan mengoceh. Tuh, Cathy aja udah tau anaknya termasuk dalam persona pay IQ yang mana, hihihi. Gak lupa doonk saya foto bersama dia. *sekali-sekali norak kalo ada artis gapapa donk xp

Sumber gambar: Edelman & Koleksi Pribadi ^^

—–

Kalau mau info lebih lengkap banget lagi serta mengetahui apa kata psikolog terutama dalam perkembangan anak, bisa cek channel2 Play IQ lebih dari main! di bawah ini:

Facebook: https://www.facebook.com/FisherPriceID/
Instagram & twitter: @FisherPrice_ID
Website: http://www.fisher-price.com/PlayIQ/

25 comments

  1. Heni Puspita

    Nice info Mak. “positive involvement of parents” suka sama yang ini. Semahal apapun bukunya or mainannya memang tetep orang tua (dan orang dewasa di sekitarnya) harus banyak terlibat, karena keterlibatan orang tua itu yang paling penting & bikin bermainnya mereka jadi lebih asyik. Kasian kalau balita kebanyakan dibiarkan bermain sendiri karena kita merasa sudah kasi mainan & buku mahal untuk dia.

    1. istianasutanti

      true.. walaupun mereka tetap membutuhkan waktu sendiri sih, sekedar melatih membunuh rasa bosan mereka. tapi tetep, sebagian besar ya mereka butuh orangtua untuk bermain bersamanya ^^

  2. Pingback: Tips ini Bisa Membuat Anak Mudah Tidur Lho! | momopururu

  3. Efi Fitriyyah

    Ponakannku Azka kayaknya masuk tipe the Big time Player, nih Isti. Ga bisa diem, suka eksperimen dan doyan pamerin semua mainannya. Aku suka ketiban buntutnya,beresin sisa-sis mainannya yang ditinggalin 🙂

  4. Pingback: Mainan, Beli, Bikin, atau Sewa? – Momopururu

Leave a Reply

%d bloggers like this: