Momopururu » November 2014

Monthly Archives: November 2014

Kid's Activity Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 15: Gengsi untuk Menyapa

Waktu remaja pernah gak sih berselisih faham sama orang tua? Terus kalau sudah begitu, hubungan kalian gimana?

Saya sih Alhamdulillah gak pernah dulu, tapi lumayan sering ngeliat yang kayak gini, kakak saya kayanya pernah deh. Nah, keadaan begitu harusnya sih gak boleh lama-lama ya. Ya tau sendiri kan kalo sebel-sebelan sama orang itu jadi gimana? Hubungannya akan renggang. Gak heran kalau lihat banyak yang sudah dewasa pun agak gimana-gimana gitu sama orangtuanya. ūüôĀ

Ternyata sebagai orang tua, kita jangan gengsi untuk menyapa duluan. Malah, kita bisa jadi contoh buat mereka kelak kalau bisa jadi orang yang mau memperbaiki hubungan serta gak segan untuk minta maaf kalau salah.

Eh, tapi gak harus nunggu remaja kok, simak deh cerita saya sama Naia ini

Published by:
Parenting Pribadi

Project Sunlight Demi Masa Depan yang Sehat

“Ma, atel ma”, kata Naia suatu petang.
“Gatel apanya?”
“Inii” *sambil nungging nunjuk daerah anus.
“Coba sini mama cek”
Setelah ngecek gak ada apa-apa. “Coba mama kasih bedak ya supaya gak gatel lagi”
“Yaa”

—Malam harinya—

“Atiiitt”, kata Naia sebelum beranjak tidur. Kali ini dia menunjuk2 bagian anus ke depan mendekati vagina dan terlihat sangat kesakitan.
“Coba sini buka celananya, mama cek”

Dan, jeng jeeeng…¬†Begitu kagetnya saya saat mendapati ada 2 cacing kecil sedang berjalan menuju vagina. Salah satunya malah sudah berada di mulut vagina, itulah yang membuat Naia sangat kesakitan. Setelah browsing sebentar baru saya ketahui itu adalah cacing kremi, hiiy. Pantas saja saat petang hari dia merasa gatal di sekitar anus, mungkin saat itu cacing-cacingnya menetas dan siap melancarkan aksinya yang lain.

Saat itu saya betul-betul shock, panik, dan speachless mengetahui kenyataan kalau Naia cacingan! huaaa. Malu pada suami, malu pada diri sendiri, terlebih lagi malu pada Allah karena tidak bisa menjaga amanahNya ini. Seketika itu juga saya berpikir kenapa Naia bisa cacingan.

Kenapa Naia bisa cacingan?

Published by:
Hobi Parenting

Pilih-pilih Pujian ke Anak

Kemarin saya dikagetkan dengan salah satu¬†tulisan di mommiesdaily yang berjudul “Jangan Memuji Anak”¬†dan ditulis oleh mbak Lita. Dibuat penasaran dengan judulnya yang cukup anti mainstream, dimana semua orangtua ramai-ramai justru ingin banyak-banyak memuji anak, saya akhirnya membacanya sampai akhir.

Setelah membaca dan paham akan alasannya, saya jadi teringat dengan artikel “Why I’ll never tell my son he’s smart”¬†dan video TEDx yang pernah saya tonton mengenai¬†growth vs fixed mindset. Video TEDx berdurasi 11 menit itu cukup membuka mata saya akan adanya perbedaan yang menonjol tentang seorang yang sukses dengan yang tidak. Perbedaan tersebut ada pada pikiran bawah sadar mereka. Orang-orang sukses kebanyakan cenderung memiliki¬†growth mindset. Sebaliknya, orang-orang yang biasa saja sepintar apapun dia cenderung memiliki fixed mindset.

Lalu apa itu growth dan fixed mindset?

Published by:
Uncategorized

[Parenting] Bersepakat

Untuk melatih kedisiplinan Naia saya lebih suka dengan kesepakatan, bukannya hukuman. Karena menurut saya sendiri sih, bersepakat itu komunikasi yang paling baik yang dilakukan oleh orangtua. Soalnya dengan kesepakatan, kita memikirkan perasaan anak serta menentukan dan membuat anak berusaha dengan keinginannya sendiri. Malah kalau anak sudah lebih jago lagi, dia deh yang mengajukan kesepakatan itu, hehehe.

Sudah cukup lama saya menerapkan ini ke Naia, sejak umur 1 tahunan lah *apa kurang ya, lupa*. Pokoknya, sebelum dia lancar berbicara dan berkomunikasi seperti sekarang, saya memperhatikan ekspresi mukanya saja. Kalau ia senang berarti ia setuju dengan kesepakatan yang saya ajukan. Tapi, kalau mukanya terlihat BT, ya kesepakatannya berarti tidak cukup bagus, saya harus merevisinya deh.

Seperti pelajaran kecewa yang pernah saya tulis juga, kesepakatan sebetulnya mengajarkan tentang kekecewaan,¬†tentang tanggung jawab, dan usaha. Kekecewaan apabila “upah” akan usahanya tertunda atau terpaksa tidak diberikan karena tidak tuntas berusaha. Tanggung jawab saat ia bisa melakukan yang memang seharusnya dilakukan dan usaha saat ia betul-betul melakukan apa yang disepakati untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

yuk intip sedikit cerita saya dan Naia bersepakat ^^

Published by:
Uncategorized

Rejeki Cantik dari JYSK di Tanggal Cantik

Sebetulnya, minggu ini saya sedang tidak enak badan dan ragu untuk bepergian kemanapun. Tapi, minggu lalu saya sudah mendaftar untuk mengikuti event blogger dalam acara grand opening 2nd store JYSK di Pluit Village tepat pada tangga 11.11. Tanggal cantik sayang kalau dilewatkan dan berdiam diri saja di rumah, hihi.

Akhirnya saya ikutan aja deh. Awalnya sempat ragu karena tempatnya begitu jauh di Pluit sana, naik apa saya ke sana apalagi bawa-bawa Naia, huhu. Tapi, JYSK berbaik hati menyediakan antar jemput di FX. Malah menyediakan makanan ringan untuk sarapan juga. Naia gak berhenti makan selama perjalanan ke sana, hihihi. Sudah begitu, di sana dijanjikan akan ada¬†kids corner¬†agar kami-kami yang membawa anak ini bisa semakin tenang mengajak anak.¬†Tapi, berhubung saat sampai di sana acara belum dimulai, Naia bosan kalau hanya berdiam diri. Jadilah saya mengajaknya berjalan-jalan sedikit dan bertemu “badut” a.k.a maskot JYSK. Yap, Naia sangat senang dengan badut, tiap kali melihat badut ia pasti mau mendekati bahkan berfoto.

Foto Bersama Maskot JYSK dengan Raufa

Foto Bersama Maskot JYSK dengan Raufa

Sebelum acara akhirnya dimulai Naia sudah bisa saja ajak duduk tenang. Dan, hal itu tidak disesali sih sepertinya sama dia, soalnya acara ini diawali dengan pertunjukan classical magic show. Naia sampai berdiri saking seriusnya ngeliatin itu pertunjukan sulap, hahaha.

Liat deh tampang seriusnya Naia nonton sulap itu…

Published by:
Uncategorized

[Parenting] Jadi Kamus

Pernahkah mengalami anak malah marah atau mengamuk saat kita membantunya? Padahal sebelumnya dia yang mengajukan pertanyaan atau meminta perhatian kita dalam masalah yang dihadapinya.

Bisa jadi itu artinya dia cuma mau kita jadi “kamus”. Apa tuh maksudnya jadi kamus? Kita sendiri kalau sedang membutuhkan kamus, yg diharapkan apa? Kita jadi tahu dan jadi lebih mengerti sesuatu. Namun, kamus tidak bisa serta merta ikut campur dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi.¬†Nah, persis deh itu yg diinginkan anak.

Baruu aja beberapa hari yang lalu saya mengalami¬†ini. Naia (anak saya yang berumur 2,5 tahun)¬†sudah hampir berputus asa dengan mainan¬†mobil yang gk pas disusun di tempatnya (padahal kalo menyusun secara benar, mobil-mobil itu¬†bisa masuk semua ke tempatnya). Nah, dia mencolek saya dan bertanya,¬†‘mana tempatnya?’ katanya. Dodolnya, saya sama sekali tidak berpikir¬†kalau cuma dilibatkan sebagai kamus, jadi saya memberitahu solusinya¬†sambil membukakan jalan untuk menyelesaikan¬†masalahnya. Tapi Naia bukannya seneng malah ngamuk. Mobilnya jadi malah berantakan semua karena dikeluarkan lagi dari tempatnya ūüôĀ

Saya diam saja menunggu dia tenang sendiri. Setelah tenang, tidak lama dia main lagi dan masalah yang sama kemudian muncul. Dia bertanya lagi pada saya.

Kali ini saya sadar kalau saya cuma dibutuhkan sebagai kamus, jadi ya saya hanya berkata¬†“mobilnya gk muat karena ada 2 tempat kosong yg berjauhan, harusnya sebelahan supaya mobilnya muat”, sudah. Saya hanya memberitahu demikian tanpa ikut campur dalam penyelesaian masalahnya. Dia lalu mencoba¬†lagi sambil mencari cara terbaik agar¬†tempat yang tersedia bisa bersebelahan. Berhasil! Dan dia jadi seneng bangettt.

Sayanya lebih senang karena udah engeh harus gimana dan senang krn dia mau berusaha nyelesein masalahnya sendiri.

Begitu juga saat dia sedang bermain puzzle. Memang bukan puzzle yang sulit banget sih, tapi lumayan lah untuk anak seusianya, 2 tahun 6 bulan. Dia cuma mau saya jadi “kamus” lagi. Nanya ini gimana itu gimana cuma agar saya mengarahkannya saja, sisanya dia selesaikan sendiri. Lagi-lagi dia puas dan senang sekali saat berhasil menyelesaikan sekian banyak puzzle yang dia punya. Saya sendiri sampai heran dan kagum akan kegigihannya menyelesaikan ke-14 puzzle yang dia punya.

Puzzle

Dengan hanya menjadi “kamus” begini untuk anak, sedikit banyak kita telah mengajarkan kemandirian dan juga rasa percaya dirinya. Kemandirian menyelesaikan masalah tanpa bergantung pada orang lain dan rasa percaya diri karena sudah berhasil menyelesaikan masalahnya SENDIRIAN. ^^

Published by:
%d bloggers like this: