Parenting

[Parenting] Notes from Sabtu Bersama Bapak

Berhubung saya emang suka banget banget sama novel yang satu ini, Sabtu Bersama Bapak, jadilah saya emang suka norak dan suka mengumbar kecintaan saya sama novel ini. Dari pertama kali saya baca juga udah saya bikin reviewnya di sini soalnya, hehe. Nah, begitu ada acara #TUMNgopiCantik: Sabtu Bersama Adhytia Mulya langsung deh saya diingat oleh mbak Myra Anastasya dan diajak buat ikutan *senengnyaa, hihi. Makasih ya mbaaak :D*. Eh, tapi mbak Myranya gak bisa ikutan deng, makanya mau membaginya ke sesama pecinta Sabtu Bersama Bapak ini, hehe.

Berhubung saya kenal tempatnya, Anomali Coffee *kenal brand-nya aja sih lebih tepatnya xp*, saya langsung lah mendaftarkan diri jadi peserta tanpa pikir panjang, hihihi. Tapi, berhubung saya taunya Anomali Coffee yang di daerah Kemang, saya jadi cari2 cara lagi deh buat ke sana, Anomali Coffee Menteng. Untungnya tempatnya mudah dijangkau dan ditemukan, jadi saya bisa sampai tepat waktu. Walaupun saat saya sampai belum mulai juga sih 😀

Nah, dari acara “Sabtu Bersama Adhytia Mulya” ini, saya berhasil meng-ekstrak *hihi* beberapa hal yang dibicarakan oleh kang Adhit dan saya jadikan parenting notes. Untuk saya sendiri sih khususnya. Syukur syukur kalau bermanfaat untuk yang lain juga. 😉

Parenting Notes Sabtu Bersama Bapak
Parenting Notes Sabtu Bersama Bapak

Ada 1 hal sih yang masih mengganjal dari buku itu. Di situ ditekankan banget kalau akademis yang bagus itu penting, sama pentingnya dengan softskill. Saya setuju juga sih, setuju banget malah, tapi saya sedikit tidak setuju dengan alasan mengapa itu jadi penting, yaitu sebagai tiket agar bisa “dilirik” oleh perusahaan saat melamar. Belum tentu anak-anak kita mau bekerja di perusahaan ternama kan ya? Lebih tepatnya, belum tentu anak kita maunya jadi karyawan kan ya? Malah karyawan juga ada kok yang bisa “dipanggil” oleh perusahaan tanpa mengirimkan lamaran terlebih dahulu *lirik suami*. Dia belum pernah sekalipun memasukkan lamaran pekerjaan ke perusahaan tempatnya bekerja. saya aja iri, hih! *sekaligus bangga juga sih xp

Mungkin itu sangat bisa jadi alasan, tapi bukan satu-satunya alasan. Saya sih mikirnya, gimana dengan multiple intelligence yang ada pada setiap anak? Tidak setiap anak bisa dipaksa untuk mendapatkan nilai tinggi dalam bidang eksakta kan? Sama halnya tidak setiap anak bisa menghasilkan karya seni yang bagus saat minatnya di bidang eksakta. Yang perlu kita, sebagai orangtua, lakukan adalah melatihnya agar bisa belajar sendiri dan menghasilkan yang terbaik dalam hal apapun. Saya cuma mau bakat anak-anak saya nanti berkembang sesuai minatya, dan yang mau saya ajarkan adalah gimana cara belajar itu sendiri, learning how to learn. Karena tanpa bisa memiliki metode belajar yang terbaik yang mereka temukan sendiri, mereka gak akan bisa belajar apapun kan? 😉

Oiya, di #TUMNgopiCantik itu kang Adhit juga menekankan bahwa:

Tidak ada salah dan benar dalam mendidik anak, yang ada hanyalah berjuta cara berbeda

So, kalau pemikiran kang Adhit akademis bagus digunakan untuk “tiket”, saya berpendapat, akademis bagus untuk mengasah kemampuannya belajar dan berjuang. Karena dalam hidup, kita akan terus belajar sampai akhir hayat dan kita akan terus memperjuangkan segala hal yang kita impikan 😉

#TUMNgopiCantik: Sabtu Bersama Adhytia Mulya
#TUMNgopiCantik: Sabtu Bersama Adhytia Mulya – Courtesy of theurbanmama

Happy Parenting! ^^

istianasutanti

Halo, salam kenal ya.

Aku Istiana Sutanti, seorang ibu dari 3 orang perempuan yang hobi sekali mengajak anak-anak untuk traveling bersama.

Di blog ini aku sharing pengalaman traveling kami sekeluarga plus pelajaran parenting yang aku dapatkan, baik dari pengalaman pun dari seminar parenting.

Semoga kalian suka membaca pengalaman traveling kami dan semoga membantu untuk menentukan tujuan traveling kalian berikutnya! ;)

You may also like...

20 Comments

  1. Waaah asik dibikin infografisnya lagi 🙂 Betul, selain sebagai tiket, bagaimana kita di bidang akademis itu bisa juga menggambarkan bagaimana kita menghadapi “ujian” dan work ethic lainnya.

    1. Naah, kerasa ya Naad 😀

  2. Maak, ijin simpen infografisnya ya. Aku juga salah satu penggemar buku ini

    1. Monggo maaak 😀

  3. mellyfeb0805 says:

    Kuotnya ngena banget mak “kita akan terus belajar sampai akhir hayat dan kita akan terus memperjuangkan segala hal yang kita impikan”. Salam kenal 🙂

    1. Salam kenal juga maak 😉

  4. Menarik bahasannya, Mak. makasih ya 🙂

  5. Bnyak pesannya y mak di buku ini…jd pgn punyaa bukunya…
    Te ef es ya mak ya

    1. iya mak, udah gitu pesannya disisipkan dalam bentuk cerita yang ringan. 😉

  6. Kliatannya novelnya menarik ya Mak… tapi aku juga pengen bisa bikin gambar kaya diatas, pakai aplikasi apa ya? Canva bukan?

    1. bukan mak, ini pakai power point aja, hee 😀

  7. jujur baru tahu namanya infografis, thanks mba Istiana sutanti. jgn diketawain ya. terus bukunya saya jga baru tahu, ah kemana aja ya saya selama ini. tahunya yang sekarang gen halilintar, tp belum sempat beli bukunya juga, masih di rumah terus krn baru lahiran anak kedua. kalo ini pake power point bisa dicoba juga nih. thanks ya sharing ilmunya mba Istiana.

  8. Keren banget Mba, infografis bisa memberikan solusi dengan menguraikan kronologis ya 🙂

  9. infografisnya keren! kemaren mau beli bukunya di gramed, tp belum gajian 😀 …nanti beli ahh

    1. ayook beliii, hihihi

  10. Aku juga salah satu penggemar novel ini nih… Ada sisi2 parenting di dalam novel. Enggak sabar nunggu filmnya rilis. *aaakkk… Arifin Putra*

  11. aku berniat ga akan maksa xylo belajar akademis kalau dia ga mau, asal dia yakin dan punya sesuatu yang ditekuni dengan serius. waaaa. deg-degan yah hahahaha

    1. iyaak… deg degan, akupun maunya begitu Chaa 😀

  12. wah kerennya bisa ketemu langsung sama kang Adhit.

  13. Baca beberapa rekomendasi dari temen-temen blogger kayaknya buku ini emang bagus.
    FIX harus beli!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.