Practice Doesn’t Make Perfect

3 Replies

Parenting Pribadi

“Doesn’t always” sih lebih tepatnya 🙂

Pernah gak ngerasa atau mengalami deh 1 kelas, misal kelas bahasa inggris. Ada 1 orang yang jagonya bukan main, padahal waktu yang kita habiskan di kelas sama, soal-soal yang dikerjakan pun sama, gurunya juga, tapi dia bisa jauh lebih baik dari kita. Terus kita kurang apa donk? Kurang latihankah? Iya sih kita gak tau dia gimana kalau di luar kelas, tapi setidaknya kita sudah punya waktu belajar serta tingkat latihan yang sama kan ya sama dia. Nah, ternyata waktu dan tingkat latihan itu semua gak cukup untuk bikin kita ahli di bidang yang satu itu.

Lalu kemarin saya baca artikel dengan judul menarik seperti itu, Practice doesn’t always make perfect. Penasaran, saya baca donk, berhubung judulnya itu bertentangan dengan yang selama ini saya yakini dan imani kalau practice makes prefect.

Practice doesn't always makes perfect

Photo Credit: cardsfan4ever via Compfight cc

Akhirnya setelah membaca dan memahami, gak ada yang salah dengan banyaknya latihan (practice), tapi ada hal-hal lain yang lebih utama yang juga ikut mempengaruhi ahli atau tidaknya kita setelah menjalani beberapa banyak latihan tersebut. Iyes, saya juga akhirnya setuju kalau bukan latihan lah satu-satunya yang bikin kita expert atau ahli di bidang kita masing-masing. Tapi ada hal yang dinamakan bakat dan ketertarikan, serta pengalaman kita sebelumnya akan hal tersebut.

Di artikel tersebut dijelaskan kalau kecenderungan kita akan sesuatu lah yang paling mempengaruhi berhasil atau tidaknya latihan yang dikerjakan. Maksudnya apa? Kita pasti punya kecenderungan akan sesuatu kan? Maksudnya, kita pasti punya ketertarikan terhadap hal yang berbeda setiap orang. Misalnya, saya waktu sekolah dulu sangat tertarik dengan Matematika, makanya saya bisa mendapat nilai yang *ehem* bagus dalam bidang itu (UAN SD dapet nilai 10 euy :D), bahkan beberapa kali ikut olimpiadenya (tingkat SD, SMP, dan SMA). Padahal waktu yang saya dapatkan di kelas dan soal-soal yang saya kerjakan ya sama seperti yang lainnya, di rumah juga saya biasanya main aja sama teman, jarang deh buka2 buku pelajaran lagi kalau sudah sampai rumah karena saya termasuk anak yang malas, wihihi. Nah, yang membuat berbeda ya keterkarikan itu sendiri. Saya sungguh sangat-sangat tertarik dengan matematika sejak kecil. Walaupun harus diakui kalau saat kuliah sepertinya ketertarikan itu hilang karena satu dan lain hal, makanya kuliahnya jadi angot-angotan x(

Selain ketertarikan, bakat juga mempengaruhi sih, malah kalau punya bakat akan sesuatu dan memang antusias dalam bidang itu, bisa dengan mudah deh menjadi ahli, pastinya disempurnakan oleh latihan ya.

Makanya, sebelum ngajarin anak kita ini itu, kita juga harus memperhatikan juga mereka punya kecenderungan dan bakat terhadap bidang apa. Dan, yap, kita gak bisa maksa anak untuk bisa semua mata pelajaran, karena ya pasti mereka punya 1 atau 2 kecenderungan saja. Kalau sudah antusias, dijamin mereka akan belajar dan mencari tau sendiri sampai mendalam satu bidang tersebut.

Ini nih salah satu keahlian yang harus dimiliki lagi oleh orangtua, yaitu melihat dan menganalisis apa bakat anak serta mereka punya kecenderungan dalam bidang apa. Sehingga kita bisa membantu serta mengarahkan anak-anak kita untuk memaksimalkan kemampuannya tersebut. Sambil tetap mengingatkan kalau semua itu disempurnakan oleh banyaknya latihan (persistent). Semoga saya dan suami tidak salah dalam melihat dan menganalisis bakat dan kecenderungan anak-anak kami nanti sih. Jadi, kami bisa mengarahkan itu semua serta bisa memberi mereka tujuan dengan bakat yang mereka masing-masing miliki nantinya. 🙂

Jadi, iyes, practice doesn’t always make perfect 🙂

Buat yang mau tau lebih lanjut tentang ini, monggo baca link-link ini ya:
http://www.washingtonpost.com/blogs/answer-sheet/wp/2014/07/25/actually-practice-doesnt-always-make-perfect-new-study/
http://www.sciencealert.com/why-practice-doesn-t-always-make-perfect-according-to-science

3 comments

  1. Yati Rachmat

    Mau ke TKP ah, tapi sebelumnya mau koreksi dikit nih, mestinya: Practice Doesn’t (always) make Perfect (w/out S). Belajar bahasa Inggris itu memang gak bisa diprediksi berapa lama. Tapi betul banget dan Bunda setuju banget tuh ada pribahasa yang mengatakan “Practice Makes Perfect” yang kalo di Indonesiakan menjadi: Alah Bisa Karena Biasa. Ini inspirasi Bunda untuk bikin postingan hari ini. Makasih ya Istiana.

Leave a Reply

%d bloggers like this: