#FamilyTalk #9: Kenapa Semua Ibu Harus Sama?

4 Replies

Family Talk Keluarga Pribadi

Woohoo, udah masuk seri ke 9 ajah ternyata ya #FamilyTalk saya dan Icha ini. Hihi, seneng sih karena kita berdua bisa menulis dengan topik yang sama namun pandangan yang berbeda.

#FamilyTalk 1#FamilyTalk 2 | #FamilyTalk 3 | #FamilyTalk 4
#FamilyTalk 5 | #FamilyTalk 6 | #FamilyTalk 7 | #FamilyTalk 8

#FamilyTalk #9 - Kenapa Semua Ibu Harus Sama?

Baca punya Icha di sini:
Karena Setiap Ibu itu Berbeda

Kali ini mau ngomongin sedikit mengenai ibu-ibu yang biasanya diharuskan “sama”. At least buat saya yang memperhatikan kultur kita selama ini yaa, kayaknya terkesan memaksakan semua ibu harus begini semua ibu harus begitu gitu. Ya kayak misalnya ibu terbaik itu harus jadi ibu rumah tangga, atau homeschooling pilihan paling bagus dan semua ibu harus melakukan itu, gitu gitu lah. Pada paham kan ya maksudnya apa, hee. Dan yes, lagi-lagi postingan kali ini isinya curhat aja, wihihi.

Jadi gini ya, kita semua setuju yes kalau semua anak berbeda? Mereka punya karakter unik masing-masing yang gak bisa disamakan satu dengan lainnya. Dan mereka harus percaya akan dirinya sendiri kan ya karena memang mereka berbeda. Mereka boleh deh bebass mengekspresikan diri mereka lewat apapun, karena itu bagian dari karakter mereka kaan.

Nah, karakter ini yang akan mereka bawa kan ya sampe gede? Begitu udah gede pastinya mereka pun jadi individu yang berbeda. Dan sebagian dari mereka (hampir semua yang perempuan) nantinya akan menjadi ibu juga. Dengan perbedaan yang dibawa dari lahir itu, ya mereka bisa jadi ibu yang berbeda pula donk yaa. Ada ibu-ibu yang doyan banget kerja dan berani mempercayakan anaknya diasuh kakak-kakak pengasuh di daycare kayak Icha, ada ibu-ibu yang lebih tenang anaknya diasuh sendiri dan berada dalam pengawasannya selama 24 jam kayak saya. Ada ibu-ibu yang bisa selalu menjaga acupan gizi anaknya dengan masak sendiri, ada juga ibu-ibu yang bingung walau udah melahap banyak buku gizi anak (ini sih saya). Dan masih banyak ibu-ibu dengan karakternya masing-masing lagi. Yes, we’re all different!

Jadi, saya sendiri (saya pribadi loh yaa) heran dengan orang-orang yang mengkampanyekan, “kalo udah jadi ibu lo harus ngurus anak lo sendiri”. Eh, yang itu saya setuju deng, tapi gak setuju dengan lanjutannya misalnya “dengan jadi ibu rumah tangga”. Lha ibu-ibu pekerja aja banyak kok yang tetap bisa ngurus anaknya sendiri, banyak yang anaknya bisa tetap dapet kasih sayang mereka, banyak juga yang bisa mendidik anak sepenuhnya. Gitu-gitu lah maksudnya. Piss yaw, saya termasuk tim ibu rumah tangga kok, hehehe. Tapi, bukan berarti sebagai ibu rumah tangga saya juga harus memaksakan ibu lainnya untuk jadi ibu rumah tangga juga kaaan 😀

Baca juga: Happy mom raise happy kids

Dan kepercayaan diri yang dibangun dan dimiliki sejak kecil itu seakan runtuh saat kelak jadi ibu yang bagaimana lalu dijudge karena belum termasuk ibu ideal, duuh.

Karena balik lagi, gak semua karakter ibu itu sama. Dan gak melulu semua yang terbaik yang udah kita pilih itu terbaik juga buat ibu lainnya. Oke, pilihan kita mungkin terbaik buat kita dan kondisinya mendukung itu. Tapi bukan berarti itu pilihan ideal buat yang lain juga kan. Ya pilihan ideal Icha dan ibu mertua saya misalnya, yang memilih tetap bekerja dan mempercayakan anaknya untuk diasuh oleh yang terpercaya. Bukan karena mereka gak mau ngurus anak mereka sendiri, dan bukan juga karena mereka gak sayang dengan anak mereka. Ya buktinya mah sekarang anak-anaknya mertua tetap bisa deket kok sama beliau, tetap bisa cerita apa aja ke beliau dan tetap mendapat kasih sayang yang seharusnya dari beliau. Intinya, yang mau saya bilang, karakter kita memang berbeda dari asalnya, jadi ya saat jadi ibu pun kita juga pasti berbeda, gak boleh ada yang memaksakan harus sama.

Ada lagi yang bisa banget mendidik anak-anaknya sendiri di rumah dengan homeschooling. Ada juga yang mempercayakan anaknya di lembaga sekolah yang udah tersedia aja, belum tentu di rumah anaknya bisa belajar sebanyak itu misalnya. Atau ada lagi yang sangat kreatif dan bisa bikin mainan apaaa aja buat anaknya. Atau ada lagi yang “beli mainan ajalah, gw gak bisa bikin itu, toh banyak juga mainan edukasi yang dijual”. Atau ada lagi yang bisa menjamin gizi anak dengan tangannya sendiri dan masak sendiri, tapi ada juga yang males masak kayak saya dan akhirnya beli makanan aja buat anak yang penting dia makan dan masih terpenuhi gizinya. Daaan masih banyak perbedaan-perbedaan lainnya kaan.

So, kita gak bisa menyamakan kondisi dan memaksakan semua harus sama. Karena pada awalnya kita pun berbeda.

Jadi intinya apa? Intinya saya sebel aja sih sama orang-orang yang terkesan “memaksakan” kita harus jadi ibu yang bagaimana. Padahal mungkin itu yang ideal buatnya, bukan ideal buat kita, hehehe.

Jadi, karakter ibu dalam diri kalian itu ibu yang seperti apa? Pasti unik! Karena kita semua berbeda. 🙂

See you next week 😉

4 comments

  1. efi

    Suka heran sama orang-orang yang nge-judge si ini itulah si itu begono lah dan mereka pede banget yang beda sama mereka itu… salah. Pengen jitakin deh sama yang ga bisa nerima orang lain yang beda (euh kenapa aku sewot gini ya? :D) Iya aku setuju sama benang merahnya,, latar belakang kita kan masing-masing ga sama. Ya ga bisa maksa juga sama orang lain harus menempuh cara yang sama, ya.

  2. Ummi Nadliroh

    Saya ibu pekerja yang selalu salut dg ibu rumah tangga. Salut krn mereka bs sabar seharian dg pekerjaan rumahnya. Kalau saya, mgkn tdk akan sanggup. Misal pas hari libur, saya hanya bisa fokus pd satu pekerjaan rumah tangga. Masak ya masak saja, bersih2nya nggak. Nyuci ya nyuci sj, lainnya terabaikan. Ya, gitu deh… 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: