#FamilyTalk #11: Karena Kalah itu Belajar

13 Replies

Family Talk Parenting Pribadi
#FAMILYTALK #11 - Menerima Kekalahan

Akhir-akhir ini ya, Naia itu kompetitif banget deh, apa-apa “menang Naia”, apa-apa balapan. Terus kalo kalah sebel sendiri, kesel sendiri, baper sendiri hahaha. Tapi mah kalo udah kalah gitu, biasanya saya besarkan hatinya dengan kata-kata “Eh, Naia hebat lho tadi udah mandi sendiri walaupun kalah sama mama yang nyuci piring” *mandi aja dilombain waktunya, cepet-cepetan sama saya yang nyuci piring xp*. Pokoknya, tiap kali dia mengalami kekalahan, saya sebutkan kehebatan dia saat mengerjakan hal yang dilombakan itu tadi. Gitu-gitu deh. Karena saya mau, yang ada dalam pikiran Naia itu bukan “kalah”nya, tapi sikap “berjuang”nya. Dan ya kalah menang itu biasa, menang sukur, kalah ya gondrong (eh, emang rambut xp)

Baca juga: Cara Berjuang

#FAMILYTALK #11 - Menerima Kekalahan

Aniway, berhubung minggu kemarin juga kita ngadain Giveaway dan dari sekian banyak peserta yang menang ada 6, pasti banyak donk ya yang ngerasa “kalah”. Makanya minggu ini mau ngomongin itu deh, “menghadapi kekalahan” *benerin kacamata* 😀

Baca punya Icha di sini:
Karena Kalah itu Tidak Apa-apa

Kalau buat saya, kalah itu berarti belajar. Belajar untuk berlapang dada, belajar untuk puas dengan perjuangan yang udah dilakukan, dan belajar untuk bisa menang saat berikutnya, hahaha. Dan karena dengan kekalahan, semangat kita untuk maju jadi gak pernah luntur. Penasaran untuk mencapai puncak dan penasaran kenapa belum bisa menang.

Makanya di kejuaraan-kejuaraan suka kan pada bilang “Lebih susah mempertahankan daripada merebut kemenangan”. Dan emang bener sih. Berhubung saya dulu pernah ikut Kempo dan beberapa kali juga ikut kejuaraan, jadi bisa melihat, peserta yang sebelumnya kalah itu punya semangat juang yang jadi jauh lebih tinggi dibanding kejuaraan sebelumnya. Mereka belajar dari kekalahan mereka. Belajar untuk mempelajari keunikan mereka, belajar untuk memperindah gerakan, juga belajar untuk menjadi lebih kuat fisiknya. Jadi, saat kejuaraan berikutnya, mereka lebih percaya diri dan terlihat lebih bagus baik dari gerakan pun fisiknya.

Yang menang sebelumnya ada yang berakhir dengan kekalahan, dan ada juga yang sudah berhati-hati sehingga pada akhirnya tetap menang. Dan karena terbiasa dengan mental itu, waktu ikut berbagai lomba blog juga ya saya yang nyantaai, yang penting saya nulis dengan hati dan semaksimal mungkin, menang kalah urusan belakangan. Jadi ya kalo menang, senengnya minta ampun. Kalau kalah, kecewanya gak sampai minta ampun, gak sampe bikin baper, huehehe. Ya kecewa, tapi berarti usaha terbaik dari diri saya itu ya belum yang terbaik menurut juri, standarnya beda. Jadi, yah buat apa kecewa lama-lama kaan. Menulis dengan hati dan memberi yang terbaik itu beneran sudah menjadi suatu kepuasan kok 😀

Intinya, saya ingin mengajarkan ke anak nantinya kalau yang penting itu “usaha”, “perjuangan”, dan “memberikan yang terbaik dalam diri”. Ya memang gak gampang juga sih ya, apalagi seusia Naia baru kenal banget yang namanya kompetisi, makanya apaa aja diajak balapan. Dari makan sampai mandi itu, malah pakai baju juga. Lumayan sih sekarang jadi semangat kalau diajak mandi diiming-iming “ayo, menang siapa mama dandan atau kaka Naia mandiii” hahaha. Dan kemenangan buat kita (orangtua) itu kalau melihat anaknya betul berjuang sekuat tenaga mereka, bukan saat mereka menang. Iya gak? 😀

Tahap Naia saat ini sih baru tahap mengenal kompetisi. Masalah mental saat kalah, masih terus saya tumbuhkan agar dia bisa melampiaskan kekecewaannya dengan cara yang aman dan nyaman, bukan dengan kesel-keselan dan marah. Bener kan? Saat pertama kali tau kita kalah ya yang ada emang perasaan kecewa kan? Tapi ya selanjutnya gimana cara kita menangani rasa kecewa itu. Dengan marah-marahkah? Atau dengan melihat dengan jeli dan mempelajari bagaimana si pemenang itu bisa menang. Karena bener deh, kalah itu artinya belajar.

Makanya saya dan suami ya gak mau mengalah untuk Naia. Kalau bener kita kalah ya kita kalah, bukan mengalah. Tapi kalau kita menang ya kita bilang ke Naia, berikutnya semangat lagi aja, lebih cepet lagi, lebih hati-hati lagi, gitu-gitu laah. Kita hargai rasa kecewanya, juga kita semangati supaya kecewanya gak berlama-lama, dan supaya dia bisa belajar dari kekalahan itu. Gitu 😉

Jadi, buat kalian bagaimana cara kalian menerima kekalahan? Share juga ya!

13 comments

  1. Sandrine Tungka

    Saya suka mba dengan cara pandangnya, ketika kita mengajarkan bahwa bukan menang dan kalah lah yang menjadi faktor utama, melainkan bagaimana perjuangannya walaupun kalah. Masih banyak orang tua yang ketika anaknya kalah justru karena mengalah. Mudah-mudahan saya pun bisa menjadi ibu seperti yang mba lakukan ke Naia 🙂
    Salam sukses selalu 🙂

  2. inayah

    alhamdulillah ortuku nggak pernah komplain kalau aku kalah-kalah ikut lomba. mereka komplain kalau aku worrie nggak menang. hahhaha…mungkin mereka sepemikiran sama mbak Isti.

  3. evrinasp

    suka banget dengan pemaparannya mbak isti, ya kalah itu untuk belajar agar lebih baik, sebenarnya lebih asik prosesnya daripada kemenangannya, itu sih yang saya rasakan mbak

  4. sistalisius

    Untungnya saya termasuk orang yang tidak pernah berlama-lama menagisi kekecewan. Daripada seperti itu saya lebih baik mencari cara bagaimana untuk tidak pernah mengalami kekecewaan lagi. kemenangan memang menggembirakan, akan tetapi prosesnya yang membuat kita merasa lebih puas 😀
    makasih udah share 😀

  5. fanny fristhika nila

    bener mba, akupun ngajarin anakku, utk berani ikutan lomba2, tapi ga mndorong ato memaksa dia utk menang.. justru ngajarin dia utk selalu sportif.. kalo menang sbagai ortu kita bangga, tp kalo dia kalah, aku ama suami tetep muji krn dia udh berani, dan menang itu bukan segalanya :).. itung2 ngelatih anak2 ini spy slalu jujur jg mba dalam menggapai tujuan..

    Selama ini sih mngkin krn anakku jg msh kecil ya, jd ga begitu ngerti dia kalah menang.. walo srg kalah, tp dia kliatannya sih fun aja :D.. pdhl kitanya yg udh kuatir dia bkl nangis ato gmn..

  6. ophi ziadah

    Bisa menerima kekalahan dg sportif dan tdk down itu memang harus bgt dicatat sm anak2. Apa lg mrk yg kompetitif. Krn 3 orang usianua berdekatan sukanya menang2an dan kakak no 1 selalu gengsi klo kalah. Butuh waktu dan penjelasan pelan2 utk membuat mrk bs menerima kekalahan dg sudut pandang yg lebih nyaman.
    Tfs mak

  7. selma alan

    bagus-bagus..inspiratif mbak…noted de..insyaAllah mau ditiru. Kalah menang bukan yang terpenting. Tapi pembelajaranlah yang penting ya.
    makasi infonya ya mbak
    saya follow blog cantiknya yaa..suka…mampir ke blog saya juga ya mbak

    selmawahida.blogspot.com

    ditunggu follow dan komentarnya…makasi 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: