Naia dan Inside Out

7 Replies

Keluarga Parenting Pribadi
Inside Out

Jadi ceritanya saya norak karena baru awal tahun ini bisa nonton inside out sama Naia. Ya jelas bukan di bioskop lah, di rumah aja kok, di laptop, screening tiime, wehehe. Dan baru engeh ceritanya bagus, dan baru engeh juga kenapa banyak yang ngereview bagus buat orangtua.

Bagusnya karena apa? Karena inside out memperlihatkan kalau emosi itu gak cuma satu, gak cuma bahagia doank. Eh, anyway, berhubung ini agak-agak review juga, saya selipkan sedikit ah sinopsisnya 😀

Inside Out

Sinopsis Inside Out

Film ini berkisah mengenai macam-macam emosi yang berada dalam kepala setiap kita. Adalah “Joy” yang berperan sebagai emosi bahagia seorang Riley. Walau ada emosi lainnya (Sadness, Anger, Fear, dan Disgust), tapi dialah yang seakan memimpin headquarter dalam kepala Riley, yang menentukan segala tindakan Riley. Maka, dia mau memastikan kalau Riley harus selalu bahagia karena memang dia dibesarkan dalam lingkungan yang menyenangkan dan keluarga yang positif.

Nah, keadaan berubah saat keluarga Riley memutuskan untuk pindah ke San Fransisco. Riley harus dihadapkan pada kondisi yang sama sekali jauh dari ideal. Rumah kecil, barang-barang belum sampai, dan sekolah yang baru. Jadi, emosi dalam diri Riley mulai berubah. Sadness tiba-tiba merasa harus muncul untuk berusaha mengendalikan apa yang harus dilakukan Riley. Muncullah konflik antara Sadness dan Joy sampai akhirnya membawa mereka pergi jauh dari headquarter dalam kepala Riley. Akibat kepergian Joy dari headquarter, Anger, Fear, dan Disgust bingung harus melakukan apa karena mereka tidak terbiasa untuk mengendalikan apa yang harus dilakukan Riley. Jadi gimana donk ya selanjutnya? 😀

Oiya, semua karakter Riley yang terbentuk adalah karena adanya core memory. Sampai Riley berumur 11 itu, core memory yang terbentuk merupakan hasil dari ingatan yang senang alias Joy yang paling utama berperan.

Naia dan Semua Emosinya

Oiya, penyebutan emosi dalam film “Inside Out” udah terlihat jelas lah yaa dari penamaannya, hehehe. Joy untuk emosi senang, Sadness untuk emosi sedih, Fear untuk takut, Anger untuk marah, dan Disgust untuk jijik. Nah, dari dulu tujuan pengasuhan saya dan suami itu agar anak2 bisa mengenal emosinya. Jadi, dari kecil Naia sedikit sedikit sudah kami kasih tau kalau dia sedang senang, kami menyebutkan kalau itu namanya senang. Kalau sedih kami bilang dia sedih, dan seterusnya lah yaa.

Nah, kemarin, saat kami sedang pergi ke toko buku, ada poster “Inside Out” ini. Terus Naia menyebutkan deh satu-satu nama si emosi yang ada dalam poster itu. Eh, tetiba ceritanya Ilman mau “menguji” Naia. Naia bisa menyebutkan emosinya, tapi dia bisa gak ya kalau ditanya senang karena apa sedih karena apa dan sebagainya.

Papa: “Kak, kakak itu seneng kalau apa sih?”
Naia: “Kalau dibeliin buku” (bisa aja yaa, karena lagi di toko buku syiich xp)
Papa: “Terus sedih kalau apa?”
Naia: “Kalau mainan kakak Naia direbut”
Papa: “Terus, kakak Naia marah kalau apa?”
Naia: “Papa gak ikutin kata-kata Naia”
Papa: “Nah, kalo takut. Takut sama apa?”
Naia: “Takut sama gelaap”
Papa: “Yang terakhir. Kakak Naia jijik sama apa?”
Naia: “Sama kacang”

Dan sampai sekarang kami sedang berpikir kenapa dia jijik sama kacang, hahaha.

Semua Emosi itu Penting!

Anyway, pelajaran dari film “Inside Out” yang bisa saya simpulkan adalah semua emosi itu penting. Jadi, gak ada deh cuma bisa seneng doank atau sedih doank. Di film itu sih Joy akhirnya sadar yaa kalau yang diperlukan oleh Riley ya gak cuma dia doank. Ternyata Sadness pun berperan dalam hidup Riley. Gak masalah kalau sedih yang sesekali menguasai kita, gak masalah untuk menunjukkan rasa sedih itu. Intinya dalam film ini sih cuma menceritakan 2 emosi itu sama pentingnya ya. Tapi di akhir, core memory yang terbentuk akhirnya perpaduan dari 2 emosi atau lebih, bukan hanya Joy saja. Di sinilah saya mengartikan semua emosi itu penting 😀

7 comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: