Sekolah Orangtua Mommee: Kuliah Tematik 6 Bulan untuk Orangtua

6 Replies

Keluarga Parenting Pribadi

Impian saya sejak jadi orangtua itu adalah buat bikin “sekolah orangtua”. Karena begitu jadi orangtua, kita bakal bingung dan jadi belajar banyak hal lagi. Udah gitu selama ini sering banget denger jadi orangtua itu gak ada sekolahnya, padahal justru jadi hal yang paling berat dan praktek yang paling panjang. Ini belajarnya cuma waktu sebelum nikah aja di KUA, itu juga sauprit. Begitu ke medan perang sesungguhnya kebingungan sendiri lagi.

Okeh, banyak juga yang gak bingung, tapi seberapa banyak? Jauh lebih banyak orangtua yang masih belum siap untuk punya anak saya rasa. Bukan secara fisik lho ya, tapi secara mental. Kayak belum berhasil jadi “dewasa” padahal umurnya udah dewasa. Terus ya gitu, dengan sering denger kata-kata “jadi orangtua itu gak ada sekolahnya” itu, saya jadi kepikiran “why don’t we make one?”. Jadi, sejak Naia lahir, saya udah berkali-kali ngomong ke suami, mau banget bikin “sekolah orangtua”.

Tapi jelas bukan saat itu. Karena, siapa saya? Emang ada gitu yang mau dengerin orang baru banget jadi orangtua? Anak juga belum gede, bahkan belum 2 tahun, mana ada yang mau percaya. Ilmu juga gak banyak. Pengalaman? Apalagi. Makanya, saya simpan dalam-dalam impian saya itu sampai tiba waktunya. Kapannya saya pun gak tau ya, yang jelas setelah saya bisa “selesai” sama anak-anak saya sendiri dulu.

Terus 2 bulan lalu ada poster “Sekolah Mommee“, kuliah tematik gitu selama 6 bulan untuk memperkaya ilmu pengasuhan. Intinya ini semacam “sekolah orangtua” kayak bayangan saya. Untuk melatih para orangtua agar memperbaiki gaya asuh atau menyatukan visi kembali gimana mereka mengasuh anak mereka. Atau untuk para calon orangtua agar punya bayangan gimana mengasuh anak-anaknya kelak saat menikah nanti. Intinya sih ya suami istri harus satu visi dan selalu bisa kerja sama dalam pengasuhan anak. Gak bisa enggak.

whatsapp-image-2016-09-27-at-03-14-08

Nah, saya langsung speechless, langsung ngerasa jleb, “impian gw udah ada yang merealisasikan, gw terlambat!”. Tapi ya saya gak langsung kecil hati dan jadi benci lah. Malah seneng banget kalo udah ada “sekolah orangtua” sekarang. Seenggaknya saya bisa lihat sebanyak apa orangtua-orangtua yang masih merasa perlu belajar dalam mengasuh anak-anaknya. Selain itu, saya juga mau tau gimana kurikulumnya. Hahaha, ya namanya sekolah gak jauh lah ya dari kata kurikulum, hehehe. Seenggaknya ada contohnya, jadi makin kebayang lagi di saya gimana mewujudkan mimpi saya kelak.

Akhirnya ya saya ikut serta donk. Iya, ikut jadi peserta, bukan terlibat di pelaksanaannya. Karena saya dan ilman pun masih butuh ilmu-ilmu ini, butuh belajar banyak lagi, butuh pendalaman lagi (((pendalamaaannn))). Tujuannya ya untuk memperkuat dan memperkokoh visi dan misi pengasuhan kami. Sebelum kuliah dimulai, sebetulnya bulan lalu ada materi pembuka sih, Stadium Generale, dengan tema “Sekeluarga Menjemput Surga”.

Oh anw, pengasuhan ini berbasis islami. Berhubung saya beragama islam, dan saya pun berpikiran gak akan bisa memisahkan gaya pengasuhan dengan agama ya. Sebenernya gak ada bedanya sih. Namanya parenting ya parenting. Berbasis islami karena menyebutkan ayat-ayat Al-Quran yang mendukung ilmu parentingnya itu. Yang kesemuanya, keseluruhan ilmu parenting ituu, sebenernya ada panduannya di Al-Quran 🙂

Sayangnya waktu kami daftar, SGnya udah penuh, jadi gak bisa ikutan lah “kuliah pembuka”nya. Untungnya sih kuliah tematiknya belum penuh ya, jadi masih bisa ikutan insyaAllah sampai 6 bulan ke depan. Hari minggu kemarin kuliah pertamanya.

Sebenernya sih tadinya mau nulis ringkasan materi kuliah kemarin ya, tapi malah jadi ngomongin sekolah orangtuanya, hahaha. Okeh lah, saya pisah aja. Materi kuliah kemarin besok lagi ya. Jadi insyaAllah nanti tiap bulan ringkasan kuliah tematik itu ada di blog saya. Ada yang mau nungguin? hahaha

Karena saya percayaaaa banget. BANGET. Untuk memperbaiki negara, perilaku remaja, bahkan mental, bisa kita mulai dari KELUARGA.

Begini deh, sekarang banyak yang mengeluhkan dan takut karena ada artis-artis sosmed yang buat kebanyakan orangtua gak patut dicontoh kan? Tapi nyatanya mereka ada, pergaulan kayak mereka pun banyak. Kalau gak mau anak kita kayak mereka ya bukan dengan cuma ngeluh kan? Bukan cuma punya perasaan takut kan? Tapi kita bisa mengusahakannya!

Yang bisa kita perbuat apa? Perkuat anak-anak kita. Perkuat masa depan keluarga kita dulu. Supaya gak gampang “terbawa arus”. Ajarkan (dengan baik) ke anak-anak kita mana yang baik dan mana yang buruk, latih mereka untuk bisa memikirkan konsekuensi dari apapun yang nantinya mereka lakukan. Secara BAHAGIA. Catet ya, secara BAHAGIA. Karena dengan otak yang bahagia, segala konsep yang diberikan akan diterima dengan baik dan tertanam dengan baik dalam diri siapapun.

Itu. Itu yang bisa kita usahakan.

kids1

Jadiii, doakan saya ya, supaya saya juga bisa bikin “Sekolah Orangtua” di kemudian hari 🙂

6 comments

    1. istianasutanti Post author

      oh, ini udah ada dari tahun lalu juga mbak, hehe. saya juga pernah ikutan, tapi gak kekejar buat baca2innya, huhuhu. saya tipenya lebih ke ketemu langsung sih bukan lewat WA gitu 🙁

Leave a Reply

%d bloggers like this: