#Familife: Menikah Itu

6 Replies

Family Life Pribadi

Tentang komitmen dan kerja sama seumur hidup. Juga tentang menghargai perbedaan dan menyelaraskannya. *tsaaah

Yap yap, kali ini saya sama Noni mau sharing arti pernikahan buat kita. Sebenernya karena baca #Sassythursday 2 minggu lalu yang pernikahan dalam satu kata, saya juga jadi pengen nulis ini juga. Tapi kita jatohnya bukan 1 kata, wehehe.

Anw, sebenernya sih tadinya saya mau ngajuin topik tentang pendidikan seksualitas ya, berhubung lagi rame banget juga kan akhir-akhir ini, huehehe. Tapi kelupaan jadi Noni udah keburu nulis ini, jadi yaudah lah lanjut lah dengan topik ini lah 😀

family-life-3

Baca punya Noni di sini ya:
Marriage is the Art of Compromise

Nah, buat saya menikah itu ya paling pertama komitmen. Pasti lah ya, kalau udah memutuskan mau menikah ya artinya kita mau berkomitmen. Karena pernikahan itu ikatan seumur hidup loh, gak bisa main-main. Kita menikah bukan untuk berpisah, bukan untuk sementara, dan bukan untuk bercanda. Makanya buat saya komitmennya gede banget, harus bener-bener siap lahir bathin untuk menikah.

Baca juga: Menikah Harus Siap Mental

Udah sering denger lah kan, mempertahankan itu lebih sulit daripada mendapatkan. Dan emang bener. Mempertahankan pernikahan itu gak gampang, bukan berarti sulit juga ya. Tergantung kondisi keluarga masing-masing, sekuat apa keimanan mereka dan sekuat apa komitmen mereka akan kehidupan pernikahan.

Kehidupan pernikahan juga gak semulus dan gak sebahagia yang dibayangkan. Eh ini tergantung juga deng, tergantung bayangan tentang pernikahan itu gimana. Tapi kan seringnyaa pernikahan itu digambarkan dengan hal yang bahagiaaa aja dan romantiiis terus, padahal mah ya enggak. Sama kayak semua hal, ada naik dan turunnya, tinggal kitanya aja yang mesti kuat-kuat untuk mempertahankannya. Karena gak satu atau dua kali lah pernikahan itu diuji, tinggal seberapa besar kekuatan kita (suami-istri) yang saling kerja sama supaya pernikahannya tetap bertahan.

Yap, harus kerja sama. Because it takes two tango, yes? Jadi emang harus selalu kerja sama. Gak bisa enggak! Karena capek kalau hanya salah satu yang berusaha, capek kalau cuma salah satu saja yang kerja. Capek kalau hanya satu yang mempertahankan pernikahan. Makanya pernikahan itu tentang kerja sama. Kerja sama berbagi peran, kerja sama menjaga kebahagiaan, kerja sama mengatur keuangan, dan kerja sama dalam hal apapun. Bersepakat ada pada bagian kerja sama ini. Karena gak akan bisa kerja sama tanpa bersepakat 🙂

Gimana tentang menghargai perbedaan? Apa iya antara 2 orang itu bisa sama semua dalam hal karakter, kebiasaan, watak, dan pemikiran? Enggak kan? Makanya menikah itu tentang menghargai perbedaan. Gak jarang lah 1 atau 2 perbedaan kita jadi bahan pertengkaran di awal pernikahan, hehe. Lama kelamaan, kita jadi belajar untuk bisa saling ngerti dan menghargai perbedaan itu. Ya sambil pelan-pelan belajar juga untuk menyesuaikan ya, supaya perbedaannya gak jadi hal yang dipertengkarkan lagi. Supaya pernikahan tetap harmonis. Gak gampang loh beneran.

Ya soalnya perbedaan, apalagi dalam hal kebiasaan, emang suka menguji emosi banget. Ya kayak topik #Familife sebelum ini tentang kebiasaan pasangan yang menyebalkan. Ampe sekarang aja saya masih ngerasa itu nyebelin kan, huehehe. Tapi hal itu udah jarang jadi bahan sebel-sebelan lagi, karena udah sama-sama tau kebiasaan nyebelin dia apa, kebiasaan nyebelin saya apa, jadi udah tau gimana menyikapinya. Gituu lah 😀

Jadi, yah itulah arti pernikahan buat saya, buat Ilman juga, karena saya nanya dia juga apa arti pernikahan buat dia, hehehe. Yang paling pertama terpikir ya itu, Komitmen! Kalau udah komitmen dalam 1 hal, ya kita gak bisa balik lagi dan harus dijalani sampai akhir 🙂

6 comments

  1. newhildaikka

    Betul betul.. aku setuju. Meskipun kita bisa bercerai, tapi aku sama sekali nggak pernah berpikir ‘cerai’ adalah solusi dari intrik rumah tangga. Sebisa mungkin cari jalan keluar yang bukan cerai lah, karena ya maunya menikah sekali seumur hidup 🙂

  2. triyono saitama

    wah menarik sekali, membuat saya berkeinginan untuk menikah.
    ngomong-ngomong mbak saya mohon solusinya. saya kan setahun lagi ada rencana untuk kuliah dan saya masih mengandalkan uang dari orang tua. Di luar sana tuh kan banyak godaan dari akhwat-akhwat. gimana menurut anda apakah saya harus menikah dulu sambil kuliah atau selesaikan kuliah baru nikah dulu? Masalah pendapatan nantinya sih saya sudah berencana untuk membuka warung makan atau kafe gitu

Leave a Reply

%d bloggers like this: