Menyudahi Anak Main Bersama

Comment

Keluarga Parenting Pribadi

Naia ini kalau udah main sama temennya suka gak mau lepas. Jadi kalau mau udahan atau pisah, kadang2 dia suka jadi rewel. Gak jarang juga jadi nangis.

Apalagi sama temen sekolahnya yang satu ini. Berhubung rumahnya lagi dibenerin, dia jadi ngontrak deh sementara persis di sebelah rumah kami, eh beda 1 rumah aja deng. Jadi ya sejak dia tinggal di sebelah, hampir pasti setiap hari main bareng deh ini. Nah, giliran temennya ini mau pulang, Naia deh baper. Kadang ditahan-tahan dan ngajak main yang lain padahal muka temennya udah bosen.

Akhirnya sering banget juga Naia ikut dia pulang ke rumahnya dan lanjut main di sana. Sampai saya ajak pulang dan ajak main sendiri di rumah baru mau pisah.

Nah, ceritanya kemarin saya mau mengubah kebiasaan Naia yang ikut temennya ini ke rumahnya saat dia pulang main. Saya ajak Naia ngobrol tentang ini. Pertama-tama saya cari dulu waktu yang pas. Tentunya saat dia perasaannya lagi happy atau lagi netral aja. Saat lagi happy lebih enak sih.

Begitu waktunya udah pas, saya ngomong deh ke dia. Sambil nginget2 dan berusaha supaya cara ngomong saya enak. Pakai bahasa yang baik & ngomong lebih tenang dengan suara yang lembut.

 Saya: kak, besok2 kalau (nama temen) mau pulang, kakak Naia gak usah ikut ya ke rumahnya. Soalnya kalau dia mau pulang, dia pastinya udah bosen main dan mungkin juga ngantuk. Jadi emang mau udahan mainnya gitu. Kakak. Naia kan bisa main di rumah sama mama sama Nawa. Kalaupun kakak Naia mau ikut, coba minta ijin dulu ke mama supaya mama gak nyariin & bingung kakak Naia ke mana yaa.
 Naia: cuma ngangguk2, wekekek
 Saya: oke, coba tadi mama ngomong apa?
 Naia: gak tau, kepanjangan 😅🤦

1 hal yang saya lupa. Saya gak bikin pesan yang saya sampaikan itu pendek dan sederhana a.k.a KISS (Keep It Short & Simple). Untuk anak seumur Naia, omongan saya di atas tentu terasa sangat panjang. Dan buat dia jadinya malah gak ada yang diingat. Makanya begitu saya tanya lagi ke dia, dia gak bisa jawab sambil bilang “kepanjangan” hahahaha..

Oke, saya ulang deh jadinya, saya buat lebih simpel dengan berfokus di inti yang saya ingin sampaikan, yaitu saya mau Naia tetap di rumah saat temennya itu pulang.

Saya: jadi, kalau (nama temen) pulang, kakak Naia tetap di rumah aja
 Naia: kalau (nama temen) pulang, kakak Naia di rumah aja
 Saya: kalau mau ke rumahnya, kakak Naia ijin dulu ya ke mama
 Naia: kalau mau ke rumahnya, ijin dulu sama mama

Okesip. Begitu dia engeh maksudnya, dia lalu ngomong panjang lebar di rumah bisa main sama saya, main sama Nawa, juga nonton youtube, bahkan bisa “hai teman2” (bahasa Naia untuk shooting dirinya sendiri. Karena di awal video selalu menggunakan “hai teman2” untuk menyapa “penontonnya” ((ceritanyaa))  xp) .

Keesokan harinya saya coba buktikan. Sesiangan mereka asiik aja main di rumah saya. Begitu tiba waktunya temennya ini pulang (dan udah dijemput juga sih), Naia berlari ke saya untuk minta ijin. Karena saya lihat Naia dan temennya itu sebenernya sudah ngantuk, jadi gak saya ijinkan deh. Tapi ternyata dia tetap ke rumahnya. Huhuhu, saya sedih Naia gak ngikutin kata saya untuk tetap di rumah 🙁

Karena dia terlanjur ikut ke rumah temennya itu, saya langsung jemput deh. Tapi belum sempat saya keluar rumah, Naia udah pulang lagi sambil membawa pisang. Ternyata dia ke rumahnya hanya untuk mengambil pisang itu karena memang sudah ditawarkan saat temennya ini dijemput. Dan ternyata dia benar mengikuti kata saya untuk tidak lanjut main di rumah temannya itu. Huahua.. Makasih ya ka udah mau dengerin kata mama… 🙂

Dari pengalaman itu, saya jadi belajar dan jadi melihat buktinya. Kalau penyampaian kita benar, informasi yang disampaikan sesuai kemampuan anak (singkat dan padat), anak akan mendengar. Komunikasi jadi produktif.

Saya masih butuh latihan terus untuk melakukan hal ini agar konsisten. Karena sesungguhnya konsisten itulah yang menjadi tantangannya kan. Kalau pernah berhasil, pasti kita akan jadiebih PeDe untuk melakukannya lagi dan lagi.

Harapannya, dengan banyak banyak latihan berkomunikasi produktif begitu, akhirnya bicara yang enak untuk menyampaikan sesuatu ke anak jadi kebiasaan dan spontanitas deh.  🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: