[Review] A Hole In The Head

Comment

Pribadi Review

Waah, ini udah buku ketiga Annisa Ihsani looh, temen kuliah sayaa (penting amat mesti nyebut2 temen kuliah, wkwkwk). Buku pertamanya, Teka Teki Terakhir saya review juga di blog tapi buku keduanya, A untuk Amanda belum sempet saya review, uhuhu. Atau memang gak ada keinginan untuk review ya? Mengingat cerita di buku kedua itu tentang Amanda yang depresi? hee. Buku kedua terkesan lebih gloomy & dark soalnya, jadi bacanya aja udah bikin saya jadi tertekan sendirian dan jadi mempertanyakan semua hal dalam hidup ini, hahahahah. Iya, jadi mungkin karena “A untuk Amanda” itu bukan tentang petualangan atau teka teki(?), bikin saya gak jadi ngereview. Padahal awal beli buku “A untuk Amanda” saya semangat banget mau review itu, hee. Maaf yak Nis, kelewat 1 buku untuk direview 😀

Okeh, langsung aja lah.

Judul: A Hole in The Head
Karangan: Annisa Ihsani
Tahun: 2017
Rating: 4.5/5

Sinopsis

Musim panas telah tiba dan Ann bersemangat menyambut liburannya di Mönchblick Inn, penginapan paling populer di Lauterbrunnen.

Atau setidaknya, pernah populer.

Penginapan tua itu kini sepi pengunjung, bahkan saat puncak liburan begini. Para tamu mengeluh tentang bunyi derap langkah tanpa sosok di koridor dan kengerian yang menyelimuti kamar 303. Bahkan Ann sendiri harus mengakui memang ada yang meresahkan di dalam kamar tersebut.

Dengan bantuan Jo, cucu sang koki penginapan, Ann mulai mencari petunjuk untuk memecahkan misteri di Mönchblick Inn. Dua anak berusia tiga belas tahun itu menemukan fakta tentang persaingan lama, rumor liar yang berseliweran, dan kejanggalan paranormal misterius yang tiba-tiba muncul.

Akankah rahasia yang menyelubungi penginapan tersebut berhasil mereka bongkar?

***

Awalnya udah ketakutan duluan baca sinopsisnya, takut ini cerita hantu2an gitu yang bakal muncul dengan tampang menyeramkan dan suasana mendebarkan. Berhubung pas banget ya kan munculnya setelah film Pengabdi Setan booming, hee. Pokoknya sempet ketakutan sih untuk baca, tapi berhubung ini Nisa yang nulis, saya 100% yakin kalau ini bukan buku cerita horor yang mistis gitu, tapi lebih ke pemecahan misteri, mirip-mirip Teka Teki Terakhir gitu laah. Malah ini lebih seru sih (sekaligus) lebih sesuai ekspektasi karena ini memang pemecahan misteri oleh semacam detektif cilik gitu.

Dari sinopsisnya sebenernya saya setengah yakin setengah enggak sih kalau ini bukan buku horor. Malah di sepanjang cerita juga kita bener-bener dibikin penasaran dan dibikin makin goyah, bener gak sih ini buku pemecahan misteri doank dan bukan horor? Dibikin gak yakin sendiri kalau ini bukan buku horor yang menyeramkan gitu. Penulisnya pinter memainkan perasaan pembaca nih.

Sebenernya karakternya Nisa memang gitu sih ya dari buku pertama, pinter memainkan perasaan pembaca. Apalagi di buku kedua, yang saat saya baca, saya udah sok-sok (atau dibuat bisa dengan mudah) menebak jalan ceritanya. Nyatanya tebakan saya salah semua dan gak kecewa dengan salahnya nebak itu, malah jadi senyum-senyum sendiri sambil ngebatin “sial, kok dia tau sih gw pengen mikir gitu”. Pokoknya Nisa seakan bisa membaca pikiran pembaca dan mempermainkannya, jadi siap-siap aja ya. Jangan sampai kecewa kalau ternyata bener terkecoh ya, haha.

Nah tapi di buku ketiga ini saya antara kecewa dan tidak. Kecewa karena ternyata apa yang saya tebak itu bener. Gak kecewa karena apa yang saya tebak ternyata bener, haha. Iya, berhasil menebak itu ternyata bikin punya 2 sisi perasaan kayak gitu ya. Kecewa karena kok si penulis ternyata gak mengecoh? Eh, tapi kalau dilihat dari sudut pandang lain, buku ini cukup mengecoh sih. Tapi ya tetep aja seneng karena tebakan saya bener, hehehe.

Buat yang suka baca buku misteri, terutama petualangan detektif gitu, mesti deh udah mulai menebak-nebak ada kejadian apa sebenarnya di penginapan Mönchblick Inn itu. Udah mulai terlihat dari sinopsisnya sih sebenernya.

Saya mulai menebak apa yang membuat adanya misteri di penginapan itu di chapter-chapter awal. Nisa memang memberi banyak petunjuk juga di buku ini untuk kita ikut memecahkan misteri yang ada. Nah, di pertengahan muncul petunjuk lagi tentang bagaimana misteri kamar itu dibuat, tentang caranya ya lebih tepatnya. Lalu di chapter hampir akhir, sebelum kedatangan paranormal sih, Nisa ngasih petunjuk lain lagi yang membuat makin jelas ada apa di balik misteri kamar 303 itu. Yang memang dibuat samaaar sekali, bahkan si tokoh utama Ann juga (dibuat) melewatkan detil ini sih. That’s why it’s called “The Hole in the Head”. Karena kok ya ada lubang di kepala yang membuat Ann melewatkan 1 fakta penting untuk misteri itu, yet it’s true that:

“There is a distinct difference between having an open mind and having a hole in your head from which your brain leaks out.”
― James Randi

Oiya, lagi-lagi kalau baca buku karangan Nisa itu bukan kayak baca buku karangan orang Indonesia, malah lebih kayak baca buku terjemahan. Karena bahasanya ya gitu, gaya-gaya buku terjemahan banget. Mungkin karena Nisa memang lebih banyak baca buku terjemahan kali ya, terlebih karya-karyanya Enid Blyton 😀

Tapi, saya bacanya agak-agak bosan di sepertiga buku awal. Soalnya kok kayaknya intronya panjang banget ya, saya yang awalnya excited banget kalau mereka (si tokoh utama, Ann & Jo) akan memulai petualangan pemecahan misterinya dari awal jadi agak kecewa karena pemecahan misterinya gak dimulai mulai.

Memang dibuat natural sih, kayak kehidupan sehari-hari aja, bukan kayak buku pemecahan misteri yang menegangkan gitu. Tapi balik lagi ke karakter penulisan Nisa. Di 2 buku sebelumnya juga penceritaannya natural banget, ya ringan karena kita bisa mengaitkan cerita itu dengan kehidupan nyata. Justru itu bikin buku ini makin realistis sih ya, kayak mendukung pemikiran “gak mungkin banget ya di dunia nyata anak-anak segitu bisa memecahkan misteri tanpa bantuan orang dewasa”. Mungkin karena itu juga peran orang dewasa di sini dibuat cukup penting. Penting banget sih malah, karena sebagian besar petunjuknya ya memang diberikan oleh mereka. Tanpa terkesan aneh juga kemunculan tokoh-tokoh orang dewasanya.

Ah, ada 1 adegan yang related sih sama ibu-ibu kayak saya gini, yaitu adegan saat ibu Ann video call sama ibu tiri Ann. Oiya, saya belum bilang ya kalau di sini Ann itu ceritanya lagi liburan sama Ayahnya (yang sudah menikah lagi) yang menjalani bisnis penginapan, ya penginapan Mönchblick Inn itu. Ibu tirinya kebetulan bukan ibu tiri jahat yang suka ada di cerita-cerita gitu ya, hahaha. Namanya mama Nina. Mama Nina ini baru punya bayi, jadi pas Ann video call sama ibunya, ibunya ngobrol deh sama mama Nina. Ibunya Ann ini mengingat waktu saat dia mengurus Ann bayi, jadi dia concern ke keadaan si mama Nina ini dan cukup menenangkan mama Nina saat mama Nina cerita kalau dia punya perasaan bersalah sama bayi saat berpikir bayinya menyebalkan.

Anw, saya tadi bilang ya kalau ini intronya kelamaan. Nah, karena hal itu, jadinya penyelesaiannya terkesan terburu-buru. Sempet mau kecewa juga saat melihat halaman buku mulai tipis tapi misterinya belum ada tanda-tanda terpecahkan. Baru salah satunya aja yang bisa dipecahkan sama Ann. Sampai sini, udah mulai nebak kalau akhirannya akan jadi antiklimaks, dan terburu-buru. Terburu-buru nya terbukti sih, tapi gak antiklimaks. Dan buat yang udah sok sok nebak kayak saya, jadi semangat & seneng karena mulai ada titik terang dan mulai ada kejelasan kalau tebakannya bener (atau salah), hehehe.

Overall, bukunya seruu! Detil pelengkap kayak kebiasaan Ann (yang suka sulap), pekerjaan ibunya Ann, kebiasaan Jo, dan karakter tokoh-tokohnya gak ada yang gak penting dan gak bermakna! Semuanya mendukung isi cerita tanpa ada yang bisa dikesampingkan. Pokoknya jangan lewatkan hal sekecil apapun deh ya bacanya 🙂

Oiya, bukunya bakal launching resmi tanggal 30 Oktober nanti. Jangan sampai dilewatkan yaaa! Selamat membaca dan selamat menikmati petualangan Ann dan Jo 😉

PS: Thanks ya Niiis udah mau mengizinkan baca sebelum bukunya resmi beredar 😀

Leave a Reply

%d bloggers like this: