Saat Pasangan Berubah

2 Replies

Keluarga Pribadi

Jadi baja hitam? Enggaak, bukan berubah yang kayak gitu lah pasti yaa. Eaduh maap garing, huhuhu, padahal pengen nulis postingan yang agak agak serius. Postingan ini juga tertriggered oleh Gesi yang kemarin sempet nanya pendapat aku mengenai permasalahan orang yang curhat ke dia. Siapa tau gitu aku punya pandangan dari segi agama gimana baiknya (padahal mah weeeh, siapa aku bisa jawab dari segi agama, hee). Setelah diceritain aku malah speechless, huhuhu. Sampe gak tau mesti respon apa T_T Walaupun gak tau juga dia siapa karena Gesi menjaga banget kerahasiaan identitas pencurhat. Tapi ya gitu, sesedih itu diceritain Gesi. Ngebayangin ada di posisi si pencurhat lah jadinya.

Untuk yang mau tau kisah lengkap curhatan itu, ada di postingan Gesi terbaru ya di  “30 PERTANYAAN TENTANG BERCERAI ATAU BERTAHAN”. Begini potongan kisahnya:

Setelah suami hijrah, banyak hal yang jadi berubah dan sama sekali berbeda. Sudah nggak pernah nyanyi-ukulele’an bareng sebelum tidur. Nggak bisa lagi ngobrolin aneka topik karena Pak A selalu memotong dengan, “Udah, jangan ngomongin orang.” Nggak bisa juga bahas film dan buku karena Pak A sudah nggak mau lagi diajak nonton film dan hanya mau baca buku Islami.

Sekarang, Pak A membatalkan rencananya S2 di Australia. Justru dengan tegas bilang ke istrinya, “Kita kalau mau belajar atau liburan, ke negara Islam saja. Jangan pernah ke negara kafir.” Itu yang bikin Bu A speechless.

Untuk Ibu A, kondisi ini dilematis sekali. Dia bilang ke saya, “This is not the man I married into. Aku kaya menikahi orang yang berbeda. Aku menikah sama dia bukan untuk punya suami yang begini.”

Akhirnya yaudahlah coba bikin postingan ini aja. Siapa tau beneran bermanfaat.

Curhatan tersebut makin membuka lebar mata saya (lagi) kalau permasalahan rumah tangga itu bener-bener bisa macem-macem banget, kompleks banget, dan gak bisa digeneralisir. Karena dulu sebelum menikah, saya menganggap masalah terberat dalam rumah tangga itu kalau gak suami yang selingkuh, biasanya masalah finansial. Ternyata yah, itu cuma 2 dari ribuan masalah rumah tangga yang mungkin terjadi.

Setiap Orang Berubah

Curhatan itu juga menunjukkan kalau semua orang bisa berubah, dan PASTI berubah. Entah perubahannya ke arah positif atau ke arah negatif. Maka bener banget yang mbak Nuniek Tirta bilang, suami istri itu harus berkembang bersama. Supaya kita tetap ada pada level yang sama, ilmu yang sama. Karena kan menikah sudah pada level yang sama, tapi dalam pernikahan itu tetap akan terjadi proses perubahan individu, makanya memang betul harus berkembang bersama agar tetap harmonis dan sekufu.

Istilahnya startnya itu sama-sama dalam kondisi kuncup bunga. Seiring lamanya usia pernikahan, kuncup bunga bisa berkembang, bisa juga malah menjadi layu dan gagal menjadi bunga. Bentar, ini gw mau ngomong apa sih ya. Wait. Intinya gitu lah ya, ngerti ya, memang setiap orang akan pasti berubah. Gak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri kan? #ahzeegg

Jadi kalau ada yang merasakan seseorang itu berubah dan tidak bisa menerima perubahan itu ya pasti kaget lah ya. Apalagi kalau perubahannya sungguh drastis. Sama kayak si mbak A tadi. Dia tidak bisa menerima karena perubahan suami terlampau ekstrim. Maaf, aku bukan menyudutkan mbak A karena gak bisa menerima perubahan suaminya ya. Siapa coba yang gak kaget, aku aja ampe speechless baca kisah ini. Aku memposisikan diri sebagai si A juga pasti lagi bingung-bingungnya dan galau. Dan ya gak tau harus gimana? Karena dulu suaminya pernah asik, dulu suaminya seiya sekata, tapi sekarang?

Bukan gak mensyukuri ‘hijrah’nya suami juga, tapi mbok ya ini istri di rumah tolong dipikirkan perasaannya gimana? Tolong jangan hanya terfokus memperbaiki diri sendiri saja, tapi coba fokus membentuk keluarga harmonis. Tolong ingat-ingat kembali dulu seperti apa, kenapa bisa seasik itu sama istri dan ingat kembali apa yang membuat diri berubah sedrastis itu. Gong-nya kapan? Dan kenapa istri gak tau? Kenapa istri jadi terkesan “left out” dengan perkembangan suami?

Boleh banget mencoba untuk mendidik istri, boleh banget mengajak istri menuju kebaikan, boleh banget mengingatkan istri kalau ada salah. Boleh, boleeehhh banget. Tapi gak begitu juga caranya. Tolong tetap hargai mereka, tetap dengarkan cerita-cerita mereka, walau cerita itu hanya gosip semata. Bukan membolehkan Ghibah, tapi pelan-pelan, pelan-pelan banget lah mengurangi gosip2 atau ngomongin orang. Coba deh suami cari obrolan lain aja dibanding obrolan yang menurut suami gak ada manfaatnya. Intinya tetap ada komunikasi sama istri yang nyambung, yang asik lagi. Kan istri jadi gak ngerasa ‘left out’

Karena istri itu tulang rusuk suami.

Dekat ke lengan untuk dilindungi, dekat ke hati untuk dicintai

(ihiiy, ini kalimatnya Salim A. Fillah btw :D)

Juga harus diperlakukan secara hati-hati dan baik. Karena kalau terlalu keras, justru malah akan mematahkan rusuk itu sendiri. Jadi yah, tolong perlakukan istri lebih baik lagi ya, fokuslah pada keharmonisan rumah tangga dulu ya 🙂

Ah, bentar, rasanya aku juga mulai mengerti pemikiran kedua belah pihak nih (sotoy emang aku sotoy). Si A terlalu kaget dengan ‘hijrahnya’ suami, tapi suami juga mungkin ngerasa ‘duh, kok istri gw gini amat ya, gak bisa diajak baik apa ya?’ gitu-gitu. Perasaan orang-orang yang “baru” hijrah itu mungkin gini ya, masih belum menerima perbedaan yang ternyata ada di dalam rumah. Belum bisa mentolerir apa-apa yang masih jadi kebiasaan walaupun menurutnya tidak baik.

Sedikit Saran

Buat mbak A, saya cuma mau bilang (mungkin ini juga bukan solusi ya tapi cuma mau menyabarkan aja). Kalau pilihannya ingin bertahan, sabar ya mbak, jangan putus berdoa sama yang Maha Kuasa, jangan putus mendoakan suami agar bisa jadi asik lagi, mungkin ini ujian berat buat mbaknya. Dan mungkin juga suami pun berpikir ini ujian berat buat dia karena mbak gak segampang itu “diajak” hijrah dengannya. Jadi apa ya, bener-bener selalu berdoa, berdoa, dan berdoaaa terus agar rumah tangga kembali harmonis, suami lebih asik, dan rumah tangga makin sakinah mawaddah wa rahmah.

Karena doa istri itu emang beneran dahsyat lho mbak, bener deh. Saya udah berkali-kali banget ngalamin. Emang mengubah orang itu sangat suliiitt sekali kecuali memang ada inner motivation dalam diri orang itu. Nah, keyakinan saya, hanya Tuhanlah yang mampu dengan mudah membolak-balikkan hati manusia, yang mampu dengan mudah mengubah hambaNya, yang mampu memunculkan inner motivation itu. Jadi saat frustrasi dengan sikap suami, coba bawa ke sujud, masukkan dalam doa agar Allah yang “mengatur” jalannya supaya suami bisa berubah 🙂

Buat suami mbak A (kalau baca). Tolong, toloongg banget, kasih peringatan ke istri tentang perubahan itu. Dan kasih kesempatan istri juga untuk menerima perubahan itu. Serta, tolong banget pelan-pelan banget aja meninggalkan apa-apa yang dulu dirasa kurang baik. Jadilah suami yang lebih mengerti lagi kondisi istri ya, jadilah suami yang tidak meninggalkan istri dan berkembang sendirian. 🙂

Sepenggal Pengalaman

Dulu ya, awal-awal nikah, Ilman, suamiku, gak mau yang namanya sedekah atau nraktir orang sekedar untuk bikin mereka seneng aja dan ya itung2 sedekah juga kan? Dia begitu karena berpikir kami itu siapa? Kondisi masih begini kok mau sedekah? yang ada ntar kita makin susah, gimana? Saat itu kami memang belum punya apa-apa, gaji ya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar aja. Boro-boro jalan-jalan, biaya lahiran aja masih bingung dari mana.

Serius aku kaget banget banget banget kok pemikiran dia begitu sih? Bukannya sedekah mah ya sedekah aja, mau berlebih kek mau ngepas kek. Karena aku yakinnya sedekah itu memang mengundang rejeki dan keberkahan yang lebih baik lagi. Inget ya, rejeki gak cuma masalah harta 🙂

Aku sering ingetin ke dia, dibahas terus dan sering bilangin. Rasanya kok percuma banget, orangnya lebih ngeyelan dari aku. Makanya akhirnya ya selalu aku bawa aja dalam doa-doa. Selalu always ya, tidak pernah never. Terus gak tau kenapa, ya tiba-tiba aja Ilman kayak dapet semacam ilham gitu (ilman sering dipanggil ilham btw sama yang baru kenalan *gagpenting*). Kebetulan banget di Facebooknya muncul artikel yang bikin dia ‘klik’ sadar kalau sedekah itu penting dan perlu. Bukan kebetulan ya jadinya, karena emang Allah yang mengatur jalannya seperti itu. Dan sedekah paling utama itu ke orangtua kok, setelah itu ke keluarga sendiri (selain keluarga utama maksudnya), gak usah jauh-jauh. Sedekah ke bukan keluarga cuma dapet 1 pahala (ya pahala sedekah), tapi sedekah ke keluarga itu mendapat 2 pahala (pahala sedekah dan pahala silaturahmi) *benerinkacamata* #mamahdedehinAction

Mulai sejak itu lah ada inner motivation dalam dirinya untuk akhirnya bisa berubah seperti yang aku harapkan. Simple, gak perlu capek mulut berbusa-busa mengingatkan suami dan gak perlu sebel-sebelan melulu sama suami. Mulut berbusa-busa sih, dalam berdoa tapinya, bukan berbusa-busa marah dan maksa suami berubah 😀


Jadii, balik lagi, sabar ya mbak A, coba doakan suami selalu ya mbaknya. Jangan sampai putus berdoa ke Maha pembolak-balik hati ya mbak. Peluuukkkk eraaattt 😀

2 comments

  1. ismyama

    Y ampun makasih ya jadi diingatkan kembali untuk mendoakan suami. Sering nih ngalamin soalnya, udah berbusa-busa tetep enggak ngaruh. Ternyata kurang dibawa berdoa. Soal hijrah, semestinya memang hijrahnya enggak sendirian. Kalau perlu ya istrinya diajak “ngaji” bareng ke tempat suaminya ngaji. Jadi biar pandangannya sama. Karena memang tugas suami juga lah untuk mendidik istri. Terus juga ngaji enggak hanya di satu tempat sih menurutku, biar pandangannya juga dari banyak sudut. Tentunya dengan memilih dan memilah ustad mana yang kredibel

  2. Rosa

    baca kisah di atas aku jadi ingat kisahnya Ari Untung dan Fenita mbak… tadinya kan Fenita-nya sempet kaget juga gitu melihat perubahan Ari. Tapi karna Ari-nya pelan-pelan dan lembut ngasih pengertian ke Fenita, akhirnya Fenita tersentuh hidayah juga. Alhamdulillah.

Leave a Reply

%d bloggers like this: