Category Archives: Keluarga

Nina

Keluarga

Hehe, akhir-akhir ini saya nontonin video-video Nina lagi. Lumayan, buat acuan belajar pengasuhan anak. Apalagi, anak saya cewe juga, kaya Nina 😀

Awalnya sih waktu itu entah kenapa saya saangat bosan, jadinya saya liat-liat hal yang mungkin bisa bikin suasana hati saya berubah. Dan, saya ingat dengan video-video Nina ini, jadilah saya nonton-nontonin ulang hehe

Nina itu siapa?

Kalo ada yang sering nonton Nina di youtube sih tau yaa, hehe. Buat yang ga tau, ini video terakhirnya Nina dari channel http://www.youtube.com/user/geofg

Selama 6 tahun, papanya Nina selalu meng-upload video aktifitas Nina sehari-hari. Mulai dari nina belajar ngomong, baca, sampai akhirnya bisa merekam dirinya sendiri.

Nah, videonya sekarang sudah gak ada karena Nina sudah besar dan butuh privasi. Kalau mau tau alasannya sih, nonton video terakhirnya aja.

Saya bisa belajar banyak dari pola pengasuhan orang tuanya. Kapan-kapan saya ceritain apa aja yang bisa saya pelajari dari video-video itu ya tentang pengasuhan orang tuanya yaa 😀

The point is I am so admire her parents and so glad to get the lesson for raising up a child.

Published by:

Rumah Impian – Berbagi Cerita bersama BCA

Keluarga Lomba Blog

Begitu saya menikah, saya dan suami ingin tinggal terpisah dari kedua orang tua kami. Bukan apa-apa, hanya saja kami ingin mandiri.

Maunya sih, tinggal terpisah itu benar-benar tinggal di tempat tinggal sendiri, rumah milik kami sendiri. Tapi, karena dana kami belum mencukupi, jadilah kami mengontrak sementara 😛

Rencana untuk mewujudkan hunian ideal itu tentu ada, pasti. Hal ini sudah termasuk ke dalam rencana masa depan kami. Ya, kami ingin memiliki rumah impian kami sendiri.

Rumah Minimalis

Rumah Impian

Maunya siih, kita bisa mencapai kebebasan finansial biar bisa langsung membeli rumah tanpa kredit. Tapi, saya pernah denger kalimat kaya gini:

Beli rumah itu memang harus dipaksa, kalau enggak, ya gak punya-punya akhirnya

Maksain sih emang, tapi saya pikir ya emang bener juga. Kalo gak dipaksain, gimana mau punya rumah?

Nah, dengan mikir kaya gitu, kenapa kita tidak memutuskan untuk menggunakan layanan  perbankan berupa KPR saja? Akan lebih mudah dan meringankan keuangan kita kan jadinya 😛

Mulailah saya mencari informasi mengenai KPR. Ternyata BCA menawarkan KPR sebagai salah satu produk perbankan yang dimiliki. Begitu saya cari tahu melalui situs baru BCA di http://www.bca.co.id dan menuju halaman hunian ideal, ternyata KPR BCA tidak hanya memberikan layanan berupa pembelian hunian baru tetapi juga renovasi dan dalam melengkapi hunian.

Saya jadi ingin tau dan mencoba-coba simulasi yang ada. Oiya, simulasi yang diberikan berupa perhitungan kredit jika harga rumah telah diketahui (Simulasi KPR) dan perhitungan harga rumah untuk kredit yang kita inginkan (Simulasi Budget).

Rasanya lengkap deh, simulasi KPR jika kita sudah menentukan harga rumah yang kita inginkan, tinggal cari tau berapa kredit yang kita keluarkan.

Simulasi KPR BCA

Simulasi KPR BCA

Atau simulasi budget jika kita ingin menentukan berapa kredit yang dikeluarkan setiap bulannya, tinggal cari tau berapa harga rumah yang kita dapatkan dengan kredit sebesar itu 😀

Simulasi Budget KPR BCA

Simulasi Budget KPR BCA

Iseng-iseng saya nyoba simulasi KPRnya dengan harga rumah sebesar Rp. 350.000.000 dengan luas tanah 100m2 dan luas bangunan 75m2. Yap, yap, harus lengkap dengan luas tanah dan bangunan untuk simulasi. Begitu saya klik hitung, voila, langsung muncul di kolom sebelah kanan rincian semua hal yang diperlukan. Hum, ini dia hasil simulasi saya.

Simulasi KPR

Simulasi KPR

Kalau mau cicilan per bulannya lebih ringan lagi, bisa memilih jangka waktu yang lebih panjang lagi sih sebenernya. KPR BCA menyediakan jangka waktu sampai dengan 240 bulan (20 tahun). Tapi, di sini saya milih yang cepet (5 tahun) biar cepet2 beres gak mikirin hutang terus 😛

Hasil simulasi ini cuma perkiraan lho, kan nantinya tergantung suku bunga per tahunnya. Tapi setidaknya kita punya gambaran harus menyiapkan dana berapa untuk punya rumah 😉

Nah, karena saya dan suami adalah nasabah BCA dan kami sudah mengalami sendiri kemudahan transaksi yang diberikan, kenapa tidak kita pergunakan solusi perbankan yang menarik ini?

Mudah-mudahan saja rencana KPR ini bisa segera kami wujudkan, Amiiin ^_^

Published by:

Naia Dimandiin Papa

Keluarga

Jadi, karena kita (saya, suami, dan Naia) tinggal bertiga saja di rumah kontrakan, setiap pagi saya sedikit kerepotan dengan pekerjaan rumah.

Setiap hari pastinya saya harus memasak untuk sarapan dan untuk bekal suami, dan hampir setiap hari saya harus mencuci (pakaian Naia atau pakaian saya dan suami), daan setiap hari saya juga harus memandikan Naia.

Jadi, setiap bangun pagi, saya harus cepat-cepat mandi dulu dan mengurus pakaian untuk dicuci dan menjemurnya. Begitu selesai mencuci, saya langsung masak. Daan disela-sela masak itu saya juga harus memandikan Naia.

Alhamdulillahnya, suami selalu saja membantu pekerjaan-pekerjaan itu. Dia hampir selalu menjemur pakaian yang selesai dicuci agar saya bisa lanjut masak. Terkadang dia yang harus masak ketika cuciannya sangat banyak, dan terkadang dia yang harus memandikan Naia.

Yap, memandikan Naia 😀

Waktu pertama kali saya munculkan ide ini, dia sedikit takut. Tapi karena kita punya baby bather pemberian sahabat saya, dia jadi ingin mencobanya.  Ini dia baby bather yang saya maksud:

Baby Bather

Baby Bather

Heheh, beginilah perlengkapannya kalo papanya yang mandiin 😀 Jadi, Naia diletakkan di baby bather lalu diguyur air hangat sambil disabunin deh. Memudahkan banget untuk yang takut mandiin bayi secara langsung 😀

Sekarang sih Alhamdulillah papanya udah jago mandiin pake baby bather ini, hehe. Akhirnya tadi pagi terciptalah kesepakatan *halah*. Setiap hari, kalau pagi Naia dimandiin papanya, kalau sore giliran mamanya yang mandiin. Dengan begitu Naia bisa ngerasain dimandiin oleh papa dan mamanya deh, dan pekerjaan pagi saya jadi lebih ringan 😀

Naia Habis Mandi

Naia Habis Mandi

Terima kasih yaa Ilman Akbar :*

Published by:

Selesai Sudah Masa “Kursus”

Keluarga

Hehe, setelah 2 bulan “kursus” di rumah orang tua masing-masing (rumah mertua dan orang tua saya di Priuk), akhirnya mulai Senin, 4 Juni 2012 kemarin kita (saya, suami, dan Naia) pindah juga ke kontrakan mungil kita.

Yup, kita memang ingin belajar mandiri. Sejak awal menikah pun kita sudah tinggal terpisah. Begitu punya bayi, saya dan suami yang masih canggung (karena belum terbiasa ngurus bayi) memutuskan untuk “kursus” di rumah orang tua.

Naia Mandi

Naia Mandi

3 minggu pertama Naia lahir, kita tinggal di rumah orang tua suami saya di Kebagusan. Mamah (mertua) sampai rela menghabiskan cuti tahunannya untuk bantuin saya ngurus Naia ~huhu, terharu~

Begitu selesai di rumah Kebagusan, kita “kursus” ke rumah orang tua saya di Priuk (sekaligus menghilangkan baby blues saya sih ini sebenernya :D).

Kita kira-kira menghabiskan waktu 3 minggu juga di Priuk. Setelah dari Priuk, sebenernya kita berniat untuk pulang ke kontrakan. Jadi, waktu ada libur hari Kamis, tanggal 17 Mei 2012, kita sempatkan untuk pulang.

Nah, dari Priuk, kita mampir dulu ke rumah di Kebagusan untuk mengambil beberapa barang ~banyak barang sih~ yang masih ada di sana. Tapi karena hari Jum’atnya suami masih kerja, akhirnya kita menginap dulu di rumah Kebagusan dan memutuskan hari Minggu, 20 Mei 2012 untuk pindahan ke kontrakan.

Kebetulan, saya dari Priuk sedang terkena flu dan begitu sampai di rumah Kebagusan ternyata papah dan tantenya Naia (adik suami) juga terkena flu. Walhasil Naia ikut-ikutan sakit flu waktu itu. Jadilah pindahannya tertunda.

Minggu berikutnya kita harus mengurungkan niat untuk pindahan lagi dikarenakan sepupu suami saya menikah. Jadilah seharian hari Minggu, 27 Mei 2012 itu kita kondangan + jalan2 ke Depok 😀

Nah, minggu berikutnya lagi kita udah kekeuh banget untuk pindah ~akhirnyaa~. Jadilah kita rencanakan skenarionya ~halah~ 😛

Jadi, setelah melihat keadaan rumah kontrakan yang 2  bulan ditinggalkan, kita akhirnya memutuskan untuk meluangkan waktu 1 hari untuk beberes dan bersih-bersih dan keesokannya untuk pindahan.

Berhubung suami saya punya jatah libur 1 hari/bulan, dia gunakan lah jatah libur itu di hari Senin, 4 Juni 2012 kemarin untuk pindahan. Jadi, hari Minggunya kita bersih-bersih, hari Seninnya kita resmi pindah ~yeay~

Awalnya sih agak takut juga karena merasa sendirian. Tapi, bermodalkan hasil “kursus” di rumah orang tua, jadi PD aja untuk tinggal pisah gini.

Daan sampai sekarang Alhamdulillah berjalan lancaar (^_^)/

Semogaa kehidupan keluarga kecil kita semakin diberkahi oleh Allah SWT. Amiiin ya Rabb.

Published by:

Gunting Kuku

Keluarga

Hehe, waktu pertama kali saya motongin kukunya Naia saya gugup ~halah~. Soalnya takut daging jarinya ikut kepotong. Jadi, waktu pertama kali itu motonginnya gak sampe abis, kukunya masih nyisa dikit  hihi

Nah, kalo ini waktu motongin kedua kalinya. Nunggu beberapa lama sampe saya pede, jadi kukunya panjang bener 😛 Begitu saya lebih pede, kukunya bisa saya potong sampe bersih. hehe

Ini dia foto kukunya sebelum dipotong ~panjang yak~ dan kuku yang udah dipotong. Sayang gak ada tampilan tangan dengan kuku yang udah bersih, huehuehue.

Kuku Naia

Kuku Panjang Naia

Kuku yang udah dipotong

Potongan Kuku

Sekarang udah keberapa kali ya Naia potong kuku, saya gak ngitungin 😛

Published by:

Naia Pake Kerudung

Keluarga

Ini Naia waktu di nikahan sepupu papanya, iseng-iseng dipakein jilbab sama saya 😛

Jilbab kecil yang dikasih sama mbahnya dari Semarang, hehehe

Maemi Naia Syadza

Maemi Naia Syadza

Maemi Naia Syadza

Maemi Naia Syadza

Maemi Naia Syadza

Naia & mama

Maemi Naia Syadza

Naia & Mama

Ilman Naia Isti

Muhammad Ilman Akbar + Maemi Naia Syadza + Istiana Sutanti

Published by:
%d bloggers like this: