Category Archives: Lomba Blog

Pergi Kau!

Fiksi Lomba Blog

5 Februari 2013

Hari ini aku dipecat! Entah ini sudah kali keberapa aku mememecahkan beberapa piring makanan yang aku bawa. Sudah bertahun-tahun aku bekerja sebagai pelayan restoran padang dan selama itu pula aku tidak pernah membuat kesalahan. Tapi karena beberapa waktu terakhir ini aku selalu batuk-batuk, tanganku menjadi tidak kuat mengangkat itu semua.

Sedih, marah, dan geram rasanya hati ini. Hanya dari sini satu-satunya sumber nafkah untuk memenuhi kebutuhan aku dan istriku. Sekarang aku harus bagaimana?

Kutenangkan diri ini dengan merokok. Sudah bertahun-tahun pula rokok ini menjadi teman setiaku. Seperempat gajiku setiap bulan pasti kuhabiskan untuk merokok.

6 Agustus 2013

Sudah tiga bulan ini istriku pergi meninggalkanku. Dia memutuskan untuk tinggal di rumah orangtuanya. Memang sih aku tidak bisa menafkahinya lagi sehingga dia jadi terlihat sangat kurus. Tapi, hey! aku bingung harus apa lagi. Badankupun menjadi sangat kurus dan batuk yang kuderita juga semakin hari semakin parah. Aku jadi seperti zombi sekarang. Hidup setengah mati, kerja serabutan demi bisa makan dan merokok.

Tidak bisakah ia menemaniku di saat-saat sulit seperti ini? Tidak bisakah ia menjadi istri yang lebih sabar dan pengertian? Tidak bisakah ia mengerti kalau aku masih tertekan dengan ketiadaan pekerjaan ini? Huft, sungguh aku tidak habis pikir.

Aku kembali merogoh kantongku dan menemukan rokok tersisa. Benda inilah yang selalu berhasil menenangkanku.

7 Agustus 2013

Aku sudah tidak punya uang sepeser pun, bahkan untuk membeli rokok. Aku lalu mencari di antara tumpukan pakaian di lemari berharap ada beberapa batang rokok terselip.

Tapi, yang kutemukan bukanlah rokok, melainkan hasil testpack yang menunjukkan positif. Istriku hamil? Kenapa ia tidak memberitahuku? Apa ia takut aku tidak akan bisa membiayainya saat lahiran nanti?

Kalau memang itu yang ia pikirkan, baiklah

Published by:

Mimpi yang Takumi

Lomba Blog

Pagi itu aku terbangun sebelum alarm membangunkanku. Segar rasanya setelah bermimpi panjang yang menyenangkan. Mimpi menjelajahi gudang yang penuh dengan mesin cuci dan kulkas. Apakah ini sebuah pertanda? Entahlah. Hanya ada perasaan senang yang tersisa setelah bermimpi hal tersebut.

Mungkin juga mimpi itu adalah memang sebuah pertanda. Pertanda kalau aku memang harus mencuci pagi ini. Pakaian yang menumpuk di keranjang pakaian kotor itu rasanya sudah tidak sabar dan memanggil-manggil untuk segera dibersihkan. Setelah mencuci muka di kamar mandi yang kecil dalam rumah kontrakan yang aku tinggali ini, aku lalu mengambil keranjang pakaian kotor tadi untuk dipisahkan berdasarkan jenis dan warna. Dan dalam sekejap, kontrakan yang juga imut, yang memiliki luas hanya sekitar 5×5 meter persegi ini penuh dengan pakaian kotor yang sudah dipisah-pisahkan. Ada pakaian dalam menjadi satu tumpuk, pakaian putih satu tumpuk, pakaian anak satu tumpuk, dan pakaian berwarna serta yang berat-berat satu tumpuk lagi. Fyuh, pekerjaan yang tidak sebentar, pikirku.

Continue reading

Published by:

Video Mommychi

Lomba Blog

Beberapa waktu lalu saya membahas aplikasi kesehatan terbaru bernama mommychi yang berjudul “Mommychi: Demi Anak dan Waktu Yang Tidak Akan Pernah Kembali” di blog ini *bagi yang belum tau, silakan baca postingan saya tersebut ya, hehe. Aplikasi ini sangat bermanfaat untuk memantau tumbuh kembang kehidupan anak kita di 1000 hari pertamanya.

Sangat jauh lebih lengkap dari KMS (Kartu Menuju Sehat) yang biasa diberikan pada saat kita melahirkan. 

Setelah mengetahui adanya aplikasi yang bagus ini, saya jadi memindahkan catatan semua pertumbuhan dan perkembangan Naia yang ada di buku kesehatannya ke mommychi. Saya sangat dimudahkan karena terdapat grafik yang otomatis dibuat berdasarkan data yang kita berikan dan langsung dibandingkan dengan grafik pertumbuhan normal balita seusianya.

Yuk tonton videonya di sini 😀

Published by:

Mommychi: Demi Anak dan Waktu Yang Tidak Akan Pernah Kembali

Keluarga Lomba Blog

Sejak umur 12 bulanan, Naia memiliki berat badan jauh di bawah rata-rata berat badan anak seusianya. Saat itu saya dan suami masih tenang-tenang saja karena orangtua saya mengatakan saya pun dulu seperti itu. Jadi, saya dan suami menganggapnya hal genetik yang mungkin diturunkan oleh saya.

Tapi nyatanya hal tersebut salah. Kami (saya dan suami) mulai menyadari kalau Naia ‘ada apa-apa’ pada saat usianya menginjak 16 bulan. Memang sih, porsi makan Naia sangat imut dan sedikit sekali. Awalnya dokter hanya memberi vitamin penambah nafsu makan dan menyarankan untuk memberinya susu tambahan. Tapi akhirnya kamipun mulai mengikuti prosedur dari dokter untuk mencari tau ada apa sebenarnya di dalam tubuh Naia yang membuat beratnya jauh di bawah rata-rata itu, mulai dari tes urin, tes feses, sampai tes mantu (tes untuk melihat ada atau tidaknya penyakit TBC). Alhamdulillah tes mantunya ternyata negatif. Namun, dari tes feses, ternyata Naia mengalami penyerapan gizi yang kurang, karena terlihat dari banyaknya serat dan lemak baik yang keluar lagi melalui fesesnya. Akhirnya, selain diberi vitamin penambah nafsu makan, Naia juga diberi enzim tambahan untuk membantunya menyerap gizi dengan sempurna.
Pertanyaannya adalah, kenapa bisa sampai terjadi hal demikian?

Published by:

Solo di Hati Suami

Lomba Blog

Sekembalinya suami dari Solo beberapa bulan lalu, dia terlihat begitu berseri-seri tanda bahwa dia sangat senang. Salah satu alasannya sih karena tulisan untuk bukunya sudah berkembang pesat, walaupun masih menyisakan sedikit bagian yang akhirnya dikerjakan di Jakarta. Tapi ada hal lebih besar yang membuat dia sampai terlalu senang seperti itu. Dia sangat terpesona dengan kota Solo! Sampai-sampai dia mengajak saya untuk menghabiskan masa tua di sana kelak, huaah. Saat itu saya benar-benar penasaran. Ada apa ini? Kenapa dia sampai sebegitu terpesonanya dengan kota Solo?

Ketika saya tanya, suami menjawab karena Solo berbeda 180 derajat dengan jakarta. Mulai dari lalu lintasnya, suasana, makanan, sampai biaya hidupnya. Kesan tersebut didapat melalui perjalanan 3 hari 3 malamnya di sana.

Banyak makanan murah

Beberapa bulan lalu itu suami ke Solo dalam rangka menyepi dan mendapat ketenangan untuk menyelesaikan buku yang lama terbengkalai. Suami saya itu orangnya sangat mudah teralihkan pikirannya kalau mengerjakan sesuatu, jadi harus benar-benar sunyi atau sepi dan tidak melirik hal-hal lain baru deh bisa fokus menyelesaikan satu pekerjaan. Maka dari itu dia sangat bersedia saat diajak untuk mengejar deadline penulisan buku di Solo. Selama di sana, istilahnya itu dia work hard play hard.

Play hard-nya suami adalah wisata kuliner yang banyak, hahaha. Di sana suami dipandu oleh desainer grafis penerbit buku yang akan menerbitkan bukunya, Tiga Serangkai, yang secara kebetulan memang basecamp-nya di kota Solo. Dan dialah yang akhirnya menjerumuskan suami saya untuk makan buanyak selama di Solo 😛

pamer makanan

pamer makanan

Satu  hal yang membuat suami sangat puas akan makanannya selain kepuasan akan rasanya, yaitu murah! Bayangkan saja, makan nasi liwet bisa habis 3 piring saking enak dan murahnya. Seumur-umur saya belum pernah melihat suami makan sampai 3 piring begitu di satu jam makan kecuali makan makanan yang saya masak, hihi *narsis*. Tapi bisa gawat juga nih kalau kelamaan disana, suami nanti bisa gwendud karena makan melulu, hahaha. By the way, banyak makanan enak dan murah ini lah yang membuat suami akhirnya jatuh hati pada kota Solo.

Biaya hidup tidak setinggi Jakarta

Karena makanannya murah itu suami berpikir kalau biaya hidup di Solo juga lebih murah daripada di Jakarta. Yaa, di Jakarta 1 kali makan mungkin bisa menghabiskan setidaknya 30 ribu, 15 ribu kalau lauknya standard, tapi kalau di Solo 15 ribu saja sudah bisa mendapat makanan yang enak.

Lagipula, sahabatnya di Solo juga membenarkan pemikirannya tersebut. Beliau tadinya juga hidup dan menetap di Jakarta sampai akhirnya pindah ke Solo beberapa tahun lalu karena tugas pekerjaan. Nah, beliau bercerita kalau di sana segala kebutuhan hidup ya memang murah, jadi hidup bisa lebih enak karena tidak terlalu memusingkan kebutuhan yang muahal. Ini dia nih yang akhirnya membuat suami sangat bersemangat mengajak saya untuk menghabiskan masa tua di Solo.

Lalu lintas lengang

Walaupun suami diajak berwisata kuliner di setiap jam makan setiap hari, suami tetap bisa bekerja sesuai jadwal dan tidak terlambat. Itu karena lalu lintas di Solo lengang dan tidak ada kemacetan yang berarti. Coba saja di Jakarta, mau berwisata kuliner pasti mencari waktu setelah pulang bekerja atau di weekend sekalian agar waktunya tidak dihabiskan di jalan saja alias terkena macet! Iya, di Jakarta hampir setiap hari macet, sampai-sampai banyak orang bilang bisa parkir gratis di jalanan, hahaha.

Saya pernah menghabiskan total 7 jam di luar rumah dengan hanya 1 jam berada di tempat yang dimaksud. 6 jam sisanya? Saya habiskan untuk di jalan karena hampir sepanjang hari macet! Sangat membuang waktu kan?

Karena lalu lintas yang lengang ini suami sampai sempat berkunjung ke Lodji Gandrung, rumah dinas walikota Solo. Lalu lintas yang lengang ini yang membuat suami kemudian lebih jatuh hati lagi pada kota Solo.

di depan Lodji Gandrung

di depan Lodji Gandrung

Suasana tenang

Lalu lintas yang lengang tadi membuat suasana di kota ini sangat tenang, tidak terkesan diburu-buru waktu. Semua terkesan santai. Ini yang paling berbeda 180 derajat dengan Jakarta. Di Jakarta kesannya semuaa orang mau buru-buru, dikejar waktu katanya. Alasannya, kalau tidak cepat-cepat, akan terkena macet dan malah terlambat nantinya.

Suasana tenang ini juga yang menyebabkan suami sangat enjoy mengerjakan pekerjaan menulisnya di sana. Dari 300-an halaman bukunya, hampir 50%-nya berhasil dikerjakan di kota Solo selama hanya 3 hari karena berhasil mendapat ketenangan yang berarti. Walaupun sisa tulisannya dikerjakan di Jakarta, tetap saja dia tidak mendapat ketenangan seperti di Solo katanya.

Saya sendiri sih belum pernah merasakan bagaimana enaknya kota Solo ini. Seumur-umur saya juga gak pernah kepikiran untuk tinggal di kota lain selain di Jakarta dan sekitarnya. Sejak beberapa tahun lalu saya malah kepikiran untuk bisa tinggal di kota Depok yang masih berada di sekitar Jakarta. Kota Depok kan masih bisa ditempuh 1 jam saja dari Jakarta, 2 sampai 3 jam kalau terkena macet. Jadi, untuk bisa sering berkunjung ke rumah orangtua dan teman-teman saya di Jakarta ya masih bisa sering-sering laah. Kalau di Solo? Jauuuh, saya jadi tidak bisa sering-sering berkunjung ke rumah orangtua, saudara, dan kawan yang ada di Jakarta kalau begitu, huhu.

Ya mungkin saja nantinya saya akan berubah pikiran. Siapa yang tau akan masa yang akan datang kan? Sekarang saja, dari paparan suami kok ya bikin saya sedikit jatuh hati juga, walaupun saya masih harus berpikir lagi sih untuk bisa menghabiskan masa tua di sana seperti keinginan suami. Semoga saja hati saya bisa terbuka untuk akhirnya memenuhi keinginan suami itu, hehehe.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog kesan tentang Solo

Published by:

Ngeblog Membuat Notebook Tipis

Lomba Blog

Siapa yang masih ingat pengalaman pertama punya notebook? Saya masih lhoo, karena notebook yang saya punya sekarang ya notebook pertama saya, ihihi. Apapun yang pertama pasti diingat kan, seperti cinta pertama laah #eh.

first love

cinta pertama

image credit

Sama dengan saya, saya juga selalu mengingat apapun yang serba pertama. Pertama kali punya hape, pertama kali punya penghasilan sendiri, termasuk pertama kali punya notebook. Nah, notebook saya ini saya dapatkan dari tempat terakhir saya bekerja. Bukan, bukan dengan menabung lalu membelinya, bukan juga melalui doorprize. Tapi dengan metode kredit yang diberikan oleh kantor selama 6 bulan, ihihi.

Jadi, di tempat saya terakhir bekerja itu ingin agar karyawannya merasa memiliki fasilitas kantor agar selalu menjaganya dengan baik. Maka dari itu alih-alih dipinjamkan fasilitas kantor (termasuk notebook), karyawannya ya diberikan dahulu lalu kemudian menggantinya melalui uang gaji. Jadi gajinya dipotong sesuai dengan kesepakatan kantor dan si karyawan tersebut. Berapa besar yang ingin dikurangi dari gaji dan berapa lama ingin melunasinya tergantung kesepakatan tadi. Kebetulan waktu itu saya memilih waktu 6 bulan karena gak mau ngutang lama-lama sisa gaji masih mencukupi hidup saya, terlebih karena saya sudah menikah XP.

Ada perasaan yang sangat tidak tergambarkan saat akhirnya gaji saya tidak dipotong lagi, seperti baru saja terbebas dari belenggu hitam *lebay*, hehe. Itu karena artinya notebook yang saya pakai telah lunas dan telah sepenuhnya menjadi milik saya, horeee! #lompatgirang

freedom

bebaas..!!

ballheads_freedom by sheldon

Tetapi notebook saya ini setelah dipakai selama 2,5 tahun ini kok ya lama-lama bikin saya capek juga yaa. Capek selain karena tampilan fisiknya berat, juga karena tidak tahan panas. Baru dinyalakan sebentar saja tanpa diberi kipas sudah langsung panas dan jadi lemot. Yap, rasanya saya butuh notebook baru yang lebih bisa memenuhi kebutuhan saya yang aktif. Dan iya, saya selalu ngiler kalau sudah membicarakan notebook Acer seri terbaru, yaitu Acer Aspire E1 Series.

Kenapa saya bisa sengiler ini? Kalau tentang merk Acer-nya sendiri sih karena melihat pengalaman suami yang memang punya netbook Acer dan masih awet sampai sekarang. Sudah sekitar 4 tahun umur netbook yang dimiliki suami dan masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan suami yang tidak ringan setiap harinya.

Nah, kalau untuk seri E1-nya sih karena itu merupakan seri notebook yang paling terbaru yang dikeluarkan oleh Acer. Dan seperti telah saya ceritakan di sini, Acer E1 Slim Series bisa membuat saya lebih produktif dengan mudahnya dibawa kemana saja. Dengan pekerjaan freelance yang bisa dikerjakan dari mana saja, saya bisa seenaknya berganti suasana, dan pergantian suasana tersebut bisa membuat otak saya refresh sehingga saya bisa lebih produktif dan semangat saya bisa ngeboost lagi dalam ngeblog bekerja. 

Kalau di rumah, hiburan utama saya adalah tidur, selain bermain dengan anak tentunya. Jadilah berhubung saya orangnya juga cepat bosan, saya bisa lebih banyak tidur malahan daripada kerjanya #ups. Maka dari itu, dengan asiknya notebook yang bisa ditenteng kemana-mana, saya bisa sering-sering berganti suasana dan jadi tidak cepat bosan deh. *hehe, ngiler kan tuh*(¯﹃¯)

lebih tipis dan ringan

lebih tipis dan ringan lebih enak ditenteng

Terlebih lagi saya ingin bisa tampil lebih profesional. Hal-hal yang mendukung agar bisa tampil lebih profesional telah saya jelaskan pada tulisan saya sebelumnya di sini. Singkatnya, tampilan profesional tersebut bisa saya dapatkan dengan menampilkan first impression yang baik dan dengan menggunakan senjata yang elegan, yang bisa saya dapat dengan membawa Acer Aspire E1-432. First impression yang baik itu bisa saya dapatkan kalau penampilan saya bisa terjaga saat dari rumah hingga di tempat tujuan saat bertemu klien. Yang menambah lebih profesional lagi adalah dengan bisa langsung mencolokkan kabel proyektor ke notebook untuk proses presentasi yang lebih cepat. Mantap lah pokoknya si notebook tipis yang didukung performa Intel® Processor di dalamnya inih.

Selain membuat saya bisa lebih produktif dan lebih profesional lagi, saya bisa membuat keluarga lebih harmonis dengan bisa menonton film lebih tenang. Lebih tenang karena punya banyak pilihan film *psst, sudah sering saya sebut kan kalau Acer Aspire E1 Series, khususnya E1-432 dilengkapi harddisk SATA berukuran 500GB* dan lebih tenang kalau saya lupa mencolokkan charger baterai. Yap, kalau lupa mencolokkan charger baterai kita bisa lebih tenang karena baterainya bisa tahan sampai 6 jam (359 menit) untuk memutar konten multimedia (film HD). Terlebih notebook yang saya pakai sekarang itu sangat cepat panas, makanya harus selalu diberi kipas angin seperti di postingan yang ini.

kipas laptop saya

kipas laptop saya

Untung notebook gk bisa masuk angin yak, kalau bisa isinya sudah angin semua kayak gini deh, :P.

*ceritanya* notebook masuk angin

*ceritanya* notebook masuk angin

Maka dari itu, saya kok ya merasa pantas untuk memiliki notebook baru sekelas Acer Slim Aspire E1, yang didukung oleh  prosesor Intel®, mulai dari Intel® Celeron® dan Core™ i3, dan 30% lebih tipis  ya. Tapi mau minta ke suami gak enak karena beliau sedang sibuk banget memikirkan tesis yang sedang dikerjakan, terlebih karena biaya S2nya tidak sedikit sehingga harus menyelesaikan S2 secepatnya, jadi saya tidak mau menambah kepusingan suami. Tapi sekarang saya juga sudah tidak bekerja lagi di kantor, jadi ya gak bisa kredit lagi deh, huhu.

Dasar ya emak-emak, demennya kredit. Karenaa kalau kredit kan setidaknya pengeluaran kita per bulan masih bisa dikontrol, kalau ujug-ujug mengeluarkan uang yang tidak sedikit bisa kacau deh siklus keuangan keluarga, hehehe. Iya sih, notebook Acer Aspire E1 Series tergolong murah untuk ukuran notebook yang bisa memenuhi kebutuhan saya untuk bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya. Tapii dengan harga yang berkisar antara 4,7 sampai 7,6  jutaan (mengacu pada daftar harga notebook Acer E1 slim series di sini) untuk keluarga kecil kan lumayaan. Maka dari itu alangkah lebih baik enak kalau bisa mendapatkannya secara gratis, ehehe. #berdoasungguh-sungguhsambil*pastinya*ngilerr XP

Semoga saja tulisan ini bisa menghantarkan notebook Acer E1 slim series itu ke tangan saya sehingga keinginan saya memiliki notebook baru yang slim, praktis, canggih, dan bisa memenuhi segala kebutuhan saya bisa tercapai. Aamiin 😀

Note: ada yang engeh gak yaa kalau tulisan saya selau berjudul _ _ _ membuat _ _ _, hihihi. #pentingbanget 😛

Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia

Published by:
%d bloggers like this: