Category Archives: Parenting

[Parenting] Kunci Utama Sebagai Orangtua

Parenting

Hum, sebenarnya lanjutan dari tujuan pengasuhan itu adalah gaya pengasuhan. Dengan adanya kesepakatan tujuan pengasuhan antar suami istri, selanjutnya ya menerapkan gaya pengasuhan seperti apa yang cocok. Sebelumnya saya memang pernah menuliskan 4 gaya pengasuhan menurut Diana Baumrind. Namun, saya berniat untuk menuliskannya lagi, mungkin lain waktu 😀

Sekarang saya ingin berbagi kunci utama yang harus dimiliki oleh orangtua menurut pengalaman dan pengamatan saya sendiri. Kuncinya itu ada dari dalam hati, cieeeh. Maksudnya, kuncinya adalah sifat yang harus ~banget kayanya~ dimiliki oleh orangtua.

Menurut saya ya, kunci itu adalah ikhlas, sabar, dan percaya saja. Dengan tiga hal itu, perjalanan mengasuh buah hati (termasuk mendidiknya menjadi orang yang bertanggung jawab) menjadi ringan dan mudah.

Sabar

Saya sendiri merasa masih kurang bisa sabar dalam menghadapi buah hati. Memang pelajaran sabar dan ikhlas itu adalah pelajaran hidup yang paling sulit kan? hehe. Tapii, kurang sabar saya masih bisa saya kendalikan, Alhamdulillaah *semoga semakin bisa sabar*. Jadi kalau terasa sedikit kehilangan kesabaran ~belum sampai tahap emosi~ saya biasanya berdiam diri dulu sedangkan anak bermain bersama papanya. Atau, kalaupun di rumah sedang hanya berdua saja, ya saya berdiam diri dengan anak bermain sendiri. Kalau dia tidak bisa bermain sendiri dan terus merengek ke saya, biasanya saya tetap diam namun melakukan apa yang diinginkan oleh anak sambil memberinya pengertian “mama sedang butuh waktu sendiri, sebentar saja, sampai mama ajak Naia main lagi”. Ya, kalau yang baru saja menerapkan pengertian begitu mimpi sih kalau anaknya bisa langsung mengerti dan langsung anteng main sendiri lagi. Tapi, kalau kita memang terbiasa berdialog begitu, biasanya anak bisa langsung mengerti dan bermain sendiri lagi.

Sabar Menunggu Naia Baca Buku

Sabar Menunggu Naia Baca Buku

Sabar itu benar-benar sangat diperlukan ketika kita mengajarkan anak mandiri. Ya misalkan saja mengajarkan anak untuk bisa makan sendiri, atau dia sudah ingin melakukannya sendiri walau kita masih ingin menyuapinya. Nah, nungguin anak makan itu gak sebentar. Walaupun kita juga ikutan makan, anak ya selesai makannya jauh lebih lama ketimbang kita. Belum lagi kalau berantakan *ini sih pasti ya, hehehe*. Berhubung koordinasi tangannya belum sempurna, ya ada lah nasi atau lauk yang terlempar kesana kemari 😛

Hal yang sama juga berlaku ketika menemani anak bermain. Harus sabar mengikuti kemana anak pergi dan mau main apa, asal yang aman-aman saja. Pokoknya bagi saya dan suami, selama hal itu aman ya kita tidak pernah akan melarang agar hasrat keingintahuannya tidak dibatasi. Tapi, memang kita gak pernah melarang sih, paling-paling kalau sudah tidak aman, ya anaknya kita amankan/ jauhkan dari tempat itu lalu diberi pengertian kenapa gak boleh kesitu.

Benar! Orangtua juga harus sabar dalam memberi pengertian dan menjawab segala pertanyaan anak. Apalagi kalau anak sudah tahap “cerewet-cerewetnya”, ya kita harus sabar selalu mendengarkan ceritanya berulang kali, juga harus sabar menjawab pertanyaannya yang berulang kali. Dari situlah anak belajar, melalui pengulangan. Tapi, kalau kita capek menjawab gimana? Coba saja ajak anak mencari tau jawabannya sendiri, mungkin dengan begitu akan langsung tertanam di otaknya mengenai jawaban pertanyaannya itu hehehe.

Ikhlas

Nah, ini nih salah satu yang mudah dibicarakan tetapi paling suliit dilakukan. Hum, maksudnya ikhlas dalam mengasuh anak itu ya kita gak perlu memikirkan apa yang nanti akan diberikan ke kita. Ikhlas menjalani dan menjaga amanah yang dimiliki. Dengan terus adanya rasa ikhlas ini, rasanya sabar akan selalu mengiringi.

Ikhlas juga maksudnya menerima hasil yang diberikan oleh anak. Seperti dalam hal belajar makan sendiri, kita ya ikhlas saja dengan hasil nasi yang tercecer dan berantakan di lantai, toh bisa kita bereskan. Yang penting kita sudah meningkatkan kepercayaan dirinya untuk makan sendiri. Selanjutnya kemampuan makan sendirinya pasti meningkat, jadi sedikit yang tercecer dan lama-lama ya sepenuhnya bisa makan sendiri tanpa ada yang tercecer.

Keikhlasan tetap diperlukan juga lho dalam mengajari tanggung jawab. Misalnya saja, dia harus membereskan mainannya setelah bermain atau sebelum tidur. Nah, kita cukup memberi tahu kalau dia harus membereskan mainan (kalau perlu ya kita bantu sedikit). Ikhlas dengan hasil yang diperoleh anak. Mungkin kita tidak puas dengan penyusunan mainannya, tapi toh dia sudah belajar bertanggung jawab, jadi ya ikhlas saja dengan hasilnya 😀

Dengan keikhlasan ini juga keinginan untuk bisa menjadi orangtua yang lebih baik lagi semakin berkembang. Dengan begitu, kita jadi terus menerus menambah ilmu kita mengenai pengasuhan yang baik sesuai dengan gaya pengasuhan yang telah disepakati sebelumnya.

Percaya saja

Ini sebenarnya pelajaran dari ruasdito* sih, hehe. Jadi, maksudnya dalam mengajarkan anak kemandirian, kita cukup perlu percaya saja dengan kemampuannya. Dia bisa loh melakukan sesuai dengan harapan kita, bahkan terkadang melebihinya.

Seperti dalam hal membereskan mainan. Kita gak perlu capek-capek teriak dan sekuat tenaga membuatnya membereskan mainannya sendiri. Ya dijelaskan saja kenapa dia harus membereskan mainannya dan itu merupakan tanggung jawabnya dia. Nah, kalau kita percaya saja dia  bisa melakukan itu, insyaAllah dia memang bisa. Namun, balik lagi ke sabar. Kita harus sabar karena membereskan mainan tidak semudah yang kita bayangkan 😀

Dia bahkan bisa merapikan sandal yang habis dipakainya untuk bermain di luar. Iya, terkadang saya sendiri jadi malu sama Naia. Sehabis bermain, saat sandalnya saya copot, dia langsung mengambil sandal itu dan meletakkannya di rak sepatu yang ada di depan rumah kita. Sedangkan saya, saya biasa membiarkan sandal ngejogrok *apa bahasa bagusnya yak* di depan pintu karena merasa nanti akan dipakai lagi, huhu. Akhirnya sekarang-sekarang saya pun langsung meletakkan sandal di rak sepatu. Kalau mau dipake lagi ya tinggal ambil lagi, hehe. Agar kebiasaan baik Naia tidak berubah, saya harus selalu mencontohkannya. Anak belajar dari contoh kan? 😀

*Ruasdito (rute-asuh-didik-toge) ini diperkenalkan oleh Toge Aprilianto, penulis buku “Saatnya Melatih Anakku Berpikir”, buku ringan dan tipis namun isi yang terkandung merupakan pelajaran dan petunjuk pengasuhan anak secara rinci.

Itulah 3 hal paling mendasar yang benar-benar diperlukan oleh orangtua *menurut saya loh*. Kalau merasa ada lagi yang lain, silakan berkomentar yaa. Selamat menikmati menjadi orangtua!

Published by:

[Parenting] Tujuan Pengasuhan

Parenting

Pertama-tama saya mau mendeklarasikan kalau saya pengen secara aktif memposting hal yang berhubungan dengan parenting. Tujuannya, selain lahan saya belajar ~jadi kalo baca-baca hal parenting dari artikel-artikel mana aja langsung aja saya simpen linknya dan saya reblog dengan bahasa saya sendiri biar lebih paham~ bisa juga lahan buat pengunjung blog saya untuk belajar ilmu parenting juga. Mudah-mudahan dengan bertambahnya konten parenting gini makin banyak orangtua-orangtua muda yang aware akan pentingnya pengasuhan anak.

Kenapa sih pengasuhan anak penting banget? Iya donk, anak itu masa depan kita, masa depan bangsa juga. Mau dibawa kemana bangsa kita kalau kita mengasuh anak dengan sembarangan?

Saya punya tujuan untuk membentuk Indonesia yang lebih baik lagi dari sekarang dengan pelan-pelan menghilangkan KKN dan segala hal buruk yang terjadi di Indonesia. Nah, saya gak bisa sendirian, jadi saya ingin generasi setelah saya juga seperti itu, saya ingin melatih mereka menjadi orang yang lebih bertanggung jawab, peduli, serta mementingkan kebenaran BUKAN mementingkan diri sendiri. Jadi di tangan generasi peneruslah bisa kita serahkan Indonesia dengan tenang. Dengan membentuk generasi masa depan yang baik, yang benar, yang bertanggung jawab, mungkin insyaAllah ke depannya kita bisa jadi negara yang bebas korupsi. “Indonesia strong from home”, begitu kira-kira kata ayah Edi 😀

Nah, mengenai judul, beberapa waktu lalu suami saya nge-share note facebook seseorang yang menuliskan summary dari seminar parenting ibu Elly Risman. Intinya adalah mengenai tujuan pengasuhan anak.

Kenapa tujuan pengasuhan itu diperlukan? Kalau kita bepergian, kita juga pasti punya tujuan, kalau tidak, kita akan berjalan entah kemana yang akhirnya nyasar dan ketika balik lagi ke rumah, kita tidak mendapat hasil apa-apa, nihil, nol, tidak bermanfaat. Begitulah kalau pengasuhan tidak memiliki tujuan 😀

direction

Karena itu, sebagai orangtua, kita, ibu dan ayah harus terlebih dahulu menyelaraskan tujuan pengasuhan dalam keluarga kita. Seminar tersebut menjelaskan pentingnya tujuan pengasuhan dan menyebutkan beberapa tujuan pengasuhan yang bisa diterapkan. Nah, di bawah ini saya menjelaskan mengenai tujuan-tujuan pengasuhan yang didapat dari seminar itu.

  1. Hamba Allah yang taqwa. Pada anak, yang pertama matang adalah systemlimbic di belakang kepala, system limbic ini berkaitan erat dengan PERASAAN. Jadi ajarkan pada anak rasa beragama dan rasa memiliki Allah. Sama halnya dengan mengajarkan padanya kecerdasan emosi terlebih dahulu. Anak yang dari kecil dikenalkan dengan berbagai macam emosi akan tumbuh menjadi anak yang memiliki empati serta rasa kepedulian tinggi terhadap sesama. Maka, untuk mereka tidaklah penting mengajarkan sebanyak-banyaknya pengetahuan ini-itu, tapi lebih penting mengajarkan PERASAAN. “Indonesia Neuroscience Society merekomendasikan, anak di bawah 4 tahun, salah satu ibu atau bapaknya HARUS dirumah, mendidik anak. Tanggung jawab mendidik agama berada ditangan AYAHNYA, ayah harus ‘alim, dialah penentu GBHK ( Garis Besar Haluan Keluarga), ibu hanya unit pelaksana teknis.”[1]
  2. Calon suami/ istri yang baik. Hal ini berkaitan dengan ketaqwaan tadi, dengan bertaqwa, kita juga mengajarkan bagaimana membentuk rumah tangga yang harmonis dengan menjadi suami/ istri yang baik.
  3. Calon ayah dan ibu yang baik. Nah, hal ini untuk membentuk generasi berikut-dan berikutnya untuk lebih baik lagi. Mereka harus diajarkan dan ditunjukkan peran ibu dan tanggung jawab ayah. Perlu juga untuk mengajarkan fungsi laki-laki dan perempuan atau ibu dan ayah itu berbeda. Yang sangat penting untuk diperhatikan lagi adalah “jangan berantem depan anak”.
  4. Membantu mereka mempunyai ilmu dan keahlian. Inilah yang menjadi fokus perhatian kita selama ini. Banyak rumah tangga yang menjadikan poin inilah satu-satunya tujuan pengasuhan mereka, padahal ini harusnya hanya salah-satu tujuan saja.
  5. Pendidik istri dan anak. Banyak hal buruk yang menjadi akibat dari kurangnya perhatian ayah kepada anak-anaknya. Contohnya saja terjadi pada artikel ini: http://nelotte.wordpress.com/2013/08/22/saya-sudah-ga-perawan-di-usia-sekolah. Hasil studi di harvard: “anak yang ayahnya involved dalam pengasuhan akan tumbuh menjadi anak yg dewasa dan suka menghibur orang, punya harga diri yang tinggi, prestasi akademis di atas rata-rata dan lebih pandai bergaul.” Setidaknya luangkan waktu minimal 30 menit untuk anak tanpa gangguan apapun termasuk gadget, quality time istilah kerennya. Dengan begitu ayah bisa menjalin kedekatan emosi secara langsung dengan anaknya.
  6. Pengayom keluarga. Didik anak laki-laki kita untuk menjadi pengayom orangtua, istri, serta anak-anak mereka. Di pundak laki-laki ada tanggung jawab terhadap 4 wanita yang harus mereka lindungi. 4 wanita tersebut adalah ibu, istri, anak perempuan, dan adik perempuannya, maka penting untuk menekankan hal ini kepada mereka.
  7. Manusia bermanfaat bagi orang lain atau sebagai pendakwah ( penyampai kebenaran). Sama halnya dengan tujuan hidup saya pribadi untuk menjadi manusia yang bermanfaat, saya ingin juga anak-anak saya kelak menjadi orang yang kebermanfaatannya dapat dirasakan banyak orang.

Tulisan lebih lengkap mengenai seminarnya bisa dibaca di sini.

Dari situ, kita bisa belajar kalau tujuan pengasuhan itu penting, biar kita sebagai orangtua punya bayangan akan bagaimana anak kita ke depannya. Dan dengan punya tujuan pengasuhan itu juga, kita jadi bisa merumuskan bagaimana cara pengasuhan yang harus diterapkan ke anak nantinya.

Jadi sebelum melakukan apa-apa, kita memang perlu merumuskan tujuan kita melakukan itu.

So, punya anak emang gak gampang, harus punya ilmunya biar anak gak terbengkalai terabaikan, hehe. Dan anak juga merupakan amanah langsung dari pencipta kita, jadi makin gak bisa sembarangan kita menjaga dan mendidiknya.

Sudahkah kalian menentukan tujuan pengasuhan bagi anak-anak? 😀

Published by:

8 Cara Membuat Anak Mandiri

Parenting

Sore-sore iseng browsing pengasuhan anak nemu artikel lama tapi bagus, saya copy aja deh ke sini 😀

Mempunyai anak mandiri, siapa yang tak ingin? Anak yang mandiri, artinya dia bisa melayani kebutuhan sendiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Untuk membentuk anak menjadi mandiri, bukanlah hal sulit, asal Anda telaten dn konsisten. Berikut ini kiat membentuk anak mandiri:

  1. Awali dengan keterampilan mengurus diri sendiri. Mulai dari makan, menggosok gigi, dan memakai baju sendiri.
  2. Berilah waktu untuk bermain bebas di mana mereka bisa mengembangkan idenya sendiri, sekaligus belajar menghibur dan menyibukkan diri sendiri.
  3. Bertambah besar, mereka bisa membantu tugas rumah tangga seperti menyiram tanaman atau membuang sampah.
  4. Bila semua berlangsung dengan baik, mereka sebaiknya dibiarkan mengatur waktunya sendiri dalam urusan sekolah dan pergaulannya. Orangtua hanya ikut campur bila mereka merasa sang anak melen ceng dari jalurnya.
  5. Anak-anak harus diberi tanggung jawab dan dimintai pertanggungjawabannya bila mereka tak memenuhi tugasnya. Ini akan memberi perasaan penting dan mereka akan merasa bahwa orang tua mereka memercayai mereka melakukan tugas itu.
  6. Kondisi badan yang fit dan kuat adalah bagian penting dari perasaan kompeten dan mandiri. Anak harus didorong melakukan olahraga dan kegiatan di alam terbuka.
  7. Izinkan anak menentukan tujuannya sendiri, kecuali bila Anda merasa mereka memilih jalan mudah sementara Anda tahu benar kemampuan mereka jauh lebih tinggi.
  8. Ingatlah selalu, Anda tak akan selalu berada di samping mereka, melindungi mereka saat meng hadapi cobaan dalam hidup mereka. Yang terbaik bantulah mereka menjadi orang yang mandiri.

Sumber artikel: http://kolom.abatasa.com/kolom/detail/parenting/608/ini-lo-8-cara-agar-anak-mandiri.html

Published by:

Parenting Style by Diana Baumrind

Parenting

Jadi, beberapa waktu lalu, kawan saya ikhma menyarankan untuk follow twitter @SuperbMother, berhubung saya udah emak2 yak 😛

Yaudah saya follow deh, lumayan, tiap hari ada kultwit berguna sekitar parenting dan pernikahan, hehe. Nah, ini ringkasan kultwit parenting style dari @SuperbMother itu. Saya posting di blog ini sih sebenernya buat saya sendiri, kalo lagi pengen baca2 tentang parenting lagi tinggal baca di blog deh, gak usah bingung2 nyarinya, hehe.

Jadi kultwitnya itu ngomongin tentang tipe-tipe pengasuhan menurut Diana Baumrind, psikologis ternama. Setelah saya googling, ternyata banyak referensi tentang ini, yaudah deh, semakin lengkap yang bisa ditulis :D.

Nah, menurut Diana Baumrind ada 4 tipe pengaasuhan yang sering dilakukan oleh orangtua. Kalo digambarin pake skema sih kaya gini gambarnya:

four-basic-parenting-styles-model-diana-baumrind

4 Parenting Styles

Yang pertama itu tipe pengasuhan AUTHORITARIAN (Pengasuhan Restriktif). Tipe pengasuhan ini sering juga disebut tipe pemaksa. Orangtua tipe ini punya aturan yang sangat ketat dan HARUS diikuti oleh anak-anaknya tanpa ada diskusi. Mereka juga cenderung memaksakan kehendaknya serta tidak mentoleransi adanya kesalahan kecil.

Authoritarian Parenting

Authoritarian Parenting

Nah, sisi positif dari tipe ini adalah adanya aturan-aturan dan orangtua jadi punya kontrol penuh terhadap anak-anaknya. Tapii, kelemahannya justru di tidak adanya toleransi sikap tadi. Bisa-bisa anak jadi tidak terkontrol kalau di luar rumah, berhubung di rumah banyak sekali aturan yang mengikat. Anak juga bisa terlalu agresif atau terlalu malu di lingkungan sosialnya. Singkatnya, orangtua kurang responsiflah terhadap keinginan dan kepentingan anak, hiks.

Tipe kedua itu tipe AUTHORITATIVE. Tipe ini yang banyak disarankan dan yang dirasa paling pas dalam mendidik dan mengasuh. Kenapa begitu? Karena tipe ini memungkinkan adanya diskusi dan keterbukaan dengan anak tapi tidak meninggalkan aturan-aturan dan batasan-batasan. Malah aturan-aturan yang berlaku bisa jadi adalah hasil kesepakatan orangtua dan anak.

Authoritative Parenting

Authoritative Parenting

Jadi, dengan pengasuhan seperti ini, di dalam rumah selalu tercipta suasana demokrasi, selalu tercipta keterbukaan antar anggota keluarga. Sudah terbayang kan kalau tipe ini adalah tipe pengasuhan terbaik. Pengasuhan authoritative ini bisa membuat anak tumbuh jadi anak yang bertanggung jawab, percaya diri, dan bahagia.

Yang ketiga, tipe NEGLECTFUL (Uninvolved Parenting). Yang ini tipenya itu cueeek banget, gak peduli anaknya mau ngapain. Biasanya buat orangtua yang super sibuk, jadi sama sekali gak ada waktu buat anaknya. Atau bisa juga orangtua yang emang males 😛 Jadi, terkadang nonton TV lebih baik daripada ngurus anak, huhu.

Neglectful Parenting

Neglectful Parenting

Tipe yang kaya gini bisa mengakibatkan anak tidak punya kontrol akan dirinya. Jadi kebayang kan kalau di masyarakat akan seperti apa anak yang diasuh oleh orang tua tipe neglectful ini?

Terakhir, tipe INDULGENT (Permissive Parenting). Nah, kalo ini justru sangat-sangat terlibat dalam kehidupan anak. Tapii, kuraang banget aturan dan selalu mengikuti apa maunya anak. Tipe ini yang bisa mengakibatkan anak itu menganggap dirinya Raja dan harus selalu dituruti juga kurang menghargai orang tuanya dan orang sekitar.

Permissive Parenting

Permissive Parenting

Jadi kalau disimpulkan:

  1. Authoritarian -> Tinggi akan aturan tapi sangat kurang responsif
  2. Authoritative -> Tinggi akan aturan, tinggi juga responsifitas orangtua terhadap anak.
  3. Neglectful -> Rendah atau tidak punya aturan juga tidak responsif terhadap anak.
  4. Indulgent -> Rendah atau tidak punya aturan tapi sangat responsif terhadap anak.

Sebenernya sih udah dibikin chirpstory-nya sama @SuperbMother sendiri di: http://chirpstory.com/li/46110

Nah, chirpstory-nya saya bikin ulang, soalnya yang asli urutannya tebalik, jadi bacanya mesti dari bawah. Jadi, saya bikin biar bisa dibaca dari atas, nih dia: http://chirpstory.com/li/46704. 😀

Oiya, postingan ini juga tidak sepenuhnya mengacu ke kultwitnya @superbMother sih, ada yang dari All About Motherhood dan Positive Parenting.

Published by:

37 Kebiasaan

Parenting Review

Oke, jadi beberapa waktu lalu saya dan suami sepakat untuk memberikan bacaan ringan ke tetangga sebelah tentang pengasuhan anak. Heheh, bukan berarti kita udah paham, ya sama-sama belajar sih, cuman pengen aja ilmunya gak cuma kita yang punya, tapi semua orang tua juga punya, dimulai dari yang terdekat 😀

Nah, nemu buku bagus deh waktu jalan sambil kondangan ~heheh~ karangan ayah Edy, judulnya sih “Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur?” tapi sub judulnya “37 Kebiasaan Orangtua yang Menghasilkan Perilaku Buruk Pada Anak”, hihi. Jadi, kalau sekilas sih ini kaya di pihak orangtua yang menyetujui anaknya susah diatur, padahal di balik itu buku ini menjelaskan kesalahan yang sering dibuat oleh para orangtua secara tidak sadar. Bagus kan? 😀

Buku 37 Kebiasaan

Buku 37 Kebiasaan

Ah iya, maksud saya nulis ini adalah mau membagi apa saja 37 kebiasaan itu. Eh, tapi gak saya jelaskan satu-satu yaa, kalau mau lebih jelas mungkin beli bukunya aja, gak mahal juga kook, hehehe.

37 Kebiasaan yang salah dan dapat menghasilkan perilaku buruk pada anak itu antara lain: *di bukunya, 1 kebiasaan 1 bab*

  1. Selalu menyalahkan orang lain atau hal lain. Di buku sih judulnya “Raja yang Tak Pernah Salah”
  2. Berbohong kecil dan sering. Contohnya: kalau kita mau pergi, sering berbohong “Mama/papa hanya pergi ke depan sebentar, gak lama”, padahal perginya bisa seharian penuh 😛
  3. Banyak mengancam.
  4. Bicara tidak tepat sasaran. Kaya apa tuh? Misalnya, padahal kita marah karena barang kesayangan kita dipecahkan oleh anak, tapi kita jadi mengungkit-ungkit kesalahannya yang lama2 bukannya menjelaskan apa yang harus diperbuat lain kali.
  5. Menekankan pada hal-hal yang salah. Mirip dengan yang nomer 4 sih 😀
  6. Merendahkan diri sendiri. Misalnya dengan menekankan kalau main PS terus nanti papa marah *yang ngomong mamanya*.
  7. Papa dan mama tidak kompak. Yang satu membela, yang satu menghukum. Harusnya dalam mengasuh anak, orangtua sudah sepakat dan satu suara.
  8. Campur tangan kakek, nenek, tante, atau pihak lain. Di sini kita jadi harus memastikan kepada siapapun untuk tidak ikut campur atau justru mendukung pola pengasuhan kita.
  9. Menakuti anak. Contohnya itu saat mendiamkan anak nangis, “Hayo, kalo nangis terus nanti disuntik lho”.
  10. Ucapan dan tindakan tidak sesuai. Misalnya kita udah berjanji mau memberikan hadiah, tapi ternyata tidak. Atau akan menghukum anak tapi karena tempat dan waktunya belum pas, jadi terundur dan lupa. Anak akan jadi sulit percaya kepada orangtua nantinya.
  11. Hadiah untuk perilaku buruk anak. Misalnya anak merengek untuk membeli jajanan tidak sehat dan kita gak mengabulkannya. Tapi dia terus merengek sampai kita tidak tahan dan akhirnya mengalah. Jajanan itu termasuk hadiah untuk perilaku rengekan tersebut.
  12. Merasa salah karena tidak memberikan yang terbaik. Mungkin karena kedua orangtua bekerja, jadi merasa bersalah jarang bertemu akhirnya memaklumi perilaku buruk anak.
  13. Mudah menyerah dan pasrah.
  14. Marah yang berlebihan.
  15. Gengsi untuk menyapa.
  16. Memaklumi yang tidak pada tempatnya. Misalnya anak kita bertengkar dengan temannya dan anak kita memukul. Terkadang dimaklumi dan bicara “Maklumlah, namanya juga anak2”.
  17. Penggunaan istilah yang tidak jelas maksudnya. Misalnya, “Awas, jangan macam-macam ya”. Definisikan “macam-macam” itu.
  18. Mengharap perubahan instan.
  19. Pendengar yang buruk. Sebelum anak menjelaskan panjang lebar dan baru 1 kalimat keluar, kita sudah memarahi dan menasehatinya panjang lebar. Nantinya anak jadi enggan bercerita dan enggan terbuka.
  20. Selalu menuruti permintaan anak.
  21. Terlalu banyak larangan.
  22. Terlalu cepat menyimpulkan. Mirip dengan no. 19 sih. Anak baru menjelaskan, kita seolah2 sudah mengerti dan membuat kesimpulan yang salah, jadi langsung memarahi panjang lebar.
  23. Mengungkit kesalahan masa lalu.
  24. Suka membandingkan. Ingat selalu bahwa setiap manusia itu unik, termasuk anak kita dengan anak-anak lainnya.
  25. Paling benar dan paling tahu segalanya.
  26. Saling melempar tanggung jawab.
  27. Kakak harus selalu mengalah. Kita harus selalu bertindak adil. Walaupun si adik masih kecil, tetap harus diberitahukan mana yang benar dan mana yang salah.
  28. Menghukum secara fisik. Sudah pasti tau ya, memukul.
  29. Menunda atau membatalkan hukuman.
  30. Terpancing emosi. Agak mirip dengan nomor 11 nih sepertinya. Jadi, kita harus bersabar dan tahan dengan rengekan anak dan tetap konsisten dengan yang kita katakan.
  31. Menghukum anak saat kita marah. Sebaiknya jika sudah tidak bisa tertahan lagi, segera menjauh dari anak dan pilih cara terbaik untuk menenangkan diri.
  32. Mengejek.
  33. Menyindir.
  34. Memberi julukan yang buruk. Julukan ini seperti “cengeng”. Jika anak terus-menerus diberi julukan cengeng sejak kecil, maka akan tertanam di otak kalau dia adalah pribadi yang cengeng.
  35. Mengumpan anak yang rewel.
  36. Televisi sebagai agen pendidik anak.
  37. Mengajari anak untuk membalas.

Yah, kira-kira begitulah isi buku itu, walaupun bukan penjelasan lengkap dan cuma daftar kebiasaannya saja, tapi lumayan kan? 😛

Dan yang terakhir, pengasuhan dan pendidikan itu dilakukan oleh kedua orangtua. Jadi, jangan ragu-ragu menghabiskan banyak waktu untuk mengkomunikasikan pengasuhan dan pendidikan anak kita kelak seperti yang diinginkan. Komunikasi antar orang tua itu sangat penting untuk menjaga kekompakan dan menghasilkan kesepakatan pola pengasuhan. 🙂

Published by:

Ternyata Bener Loh, Gak Cuma Teori

Hobi Keluarga Parenting

Apa tuh?

Hum, apa ya bilangnya. Saya sih nyebutnya teori-teori tentang pengasuhan anak, beberapanya antara lain:

  1. Tidak men-judge atau tidak mencap yang jelek-jelek terlebih dahulu. Intinya gak boleh berpikiran negatif terhadap anak.
  2. Bicara baik-baik untuk memberi tahu atau memberi perintah. Yang jelas jangan pake teriakan, bilang baik-baik aja ke anak.
  3. Hindari kata jangan. Yup, hindari penggunaan kata jangan ke anak, beri saja kalimat positif pengganti kata jangan itu.
  4. Percaya dengan kemampuan anak.

Sebenernya sih teorinya lebih banyak dari itu yaa, tapi berhubung saya baru mempraktekkan sendiri keempat hal di atas, ya yang saya inget itu deh 😀

Alhamdulillah saya dapet kesempatan mempraktekkan teori-teori itu di rumah saya sendiri dengan anak tetangga kontrakan saya, hehe

Jadi, ceritanya kontrakan sebelah baru ganti penghuni dan si penghuni baru ini punya 3 anak yang berumur 9, 3 dan 1 tahun. Nah, orangtua mereka keduanya kerja, jadilah mereka butuh pengasuh. Karena baru banget pindahan dan belum beberes rumah juga, jadi mereka belum dapet pengasuh juga.

Si ibu kontrakan sih diberi kepercayaan untuk ngasuh yang paling kecil ~ya dikasih gaji juga tentunya 😛 Tapi 2 anaknya lagi gak ada yang ngasuh, jadi kasian kan.

Mereka udah pindah 4 hari sampai hari ini sih, tapi 2 hari pertama saya belum sempet berhubungan langsung dalam waktu lama sama anak2nya. Agak kasian juga 2 hari itu cuma dengerin anak2 itu diasuh sama tetangga-tetangga sekitar yang mereka gak merhatiin seharian, cuma sekedarnya aja dan dengan teriakan2 jadi saya bisa denger dari dalem rumah.

Akhirnya kemarin pagi saya berniat mau mempraktekkan teori-teori yang sering saya baca itu, hehehe. Dengan bermodalkan ilmu itu dan Bismillah, saya memulainya dengan memberi perintah mandi pagi si anak pertama ~sebut saja A1~.

Hari kemarinnya, tetangga-tetangga yang lain menyuruh mandi juga tapi dengan cara teriak-teriak dan mengatai jorok dsb. Walhasil, dia mandinya siaaang banget. Dan kemarin pagi ~sekitar jam 8~ saya menyuruhnya secara baik-baik dengan mengatakan kalau habis mandi badan jadi bersih, segar, dan cantik ~kebetulan A1 cewe~ dia langsung mau tuh, gak nunggu2 lagi, langsung bergerak untuk mandi. *teori no. 2.

Terus habis mandi, saya liat pakaian yang dicuci ibunya belum dijemurin. Akhirnya saya minta tolonglah ke A1 untuk menjemur pakaian. Dia mau dan pekerjaannya selesai dengan rapi.

Setelah itu dia saya mintai tolong lagi untuk membereskan rumahnya ~rumahnya kuotooornyaa minta ampun deh~. Eh, ternyata dia mau lagi dan dengan senang hati ngerjainnya. Bahkan sebelum saya minta tolong nyuci piring aja dia nyuci piring sendiri dan bersih. *yang ini teori no. 4.

Nah, selagi si A1 beberes rumah, A2 ~anak kedua yaa yang berumur 3 tahun~ minta pulpen dan mau corat-coret. Kemarinnya lagi si A2 nyoret-nyoret di tembok pake pulpen itu, jadi si A1 takut ngasih pulpen lagi. Lagipula tetangga-tetangga yang lain ngasi tau A2 lagi2 dengan teriak dan men-judge bandel.

Akhirnya saya kasih aja bukunya A1 ~yang sudah tidak terpakai pastinya~ sambil ngasi tau ke A2, coret-coretnya hanya boleh di situ dan menghindari kata “jangan coret-coret di tembok”. Dan, Alhamdulillah si A2 ngerti banget dan anteng coret-coret di buku itu. *nah, yang ini langsung 2 teori deh, teori no.1 dan no.3 😀

Nah terus sesiangan akhirnya mereka mainan di rumah saya deh. Sore-sore si A2 asik nontonin kereta api di youtube sambil saya tinggal masak. Saya pilih yang playlist kereta api, jadi saya gak perlu repot2 nyariin lagi video lain kalau video yang ditonton sudah habis. Eh, sambil nonton itu si A2 ketiduran, kecapean dia gak tidur siang.

Sebenernya hampir pake semua teori ya di setiap kegiatan. Kayanya sih emang 4 itu dasarnya pengasuhan anak ya? hehe

Published by:
%d bloggers like this: