Category Archives: Parenting

37 Kebiasaan

Parenting Review

Oke, jadi beberapa waktu lalu saya dan suami sepakat untuk memberikan bacaan ringan ke tetangga sebelah tentang pengasuhan anak. Heheh, bukan berarti kita udah paham, ya sama-sama belajar sih, cuman pengen aja ilmunya gak cuma kita yang punya, tapi semua orang tua juga punya, dimulai dari yang terdekat 😀

Nah, nemu buku bagus deh waktu jalan sambil kondangan ~heheh~ karangan ayah Edy, judulnya sih “Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur?” tapi sub judulnya “37 Kebiasaan Orangtua yang Menghasilkan Perilaku Buruk Pada Anak”, hihi. Jadi, kalau sekilas sih ini kaya di pihak orangtua yang menyetujui anaknya susah diatur, padahal di balik itu buku ini menjelaskan kesalahan yang sering dibuat oleh para orangtua secara tidak sadar. Bagus kan? 😀

Buku 37 Kebiasaan

Buku 37 Kebiasaan

Ah iya, maksud saya nulis ini adalah mau membagi apa saja 37 kebiasaan itu. Eh, tapi gak saya jelaskan satu-satu yaa, kalau mau lebih jelas mungkin beli bukunya aja, gak mahal juga kook, hehehe.

37 Kebiasaan yang salah dan dapat menghasilkan perilaku buruk pada anak itu antara lain: *di bukunya, 1 kebiasaan 1 bab*

  1. Selalu menyalahkan orang lain atau hal lain. Di buku sih judulnya “Raja yang Tak Pernah Salah”
  2. Berbohong kecil dan sering. Contohnya: kalau kita mau pergi, sering berbohong “Mama/papa hanya pergi ke depan sebentar, gak lama”, padahal perginya bisa seharian penuh 😛
  3. Banyak mengancam.
  4. Bicara tidak tepat sasaran. Kaya apa tuh? Misalnya, padahal kita marah karena barang kesayangan kita dipecahkan oleh anak, tapi kita jadi mengungkit-ungkit kesalahannya yang lama2 bukannya menjelaskan apa yang harus diperbuat lain kali.
  5. Menekankan pada hal-hal yang salah. Mirip dengan yang nomer 4 sih 😀
  6. Merendahkan diri sendiri. Misalnya dengan menekankan kalau main PS terus nanti papa marah *yang ngomong mamanya*.
  7. Papa dan mama tidak kompak. Yang satu membela, yang satu menghukum. Harusnya dalam mengasuh anak, orangtua sudah sepakat dan satu suara.
  8. Campur tangan kakek, nenek, tante, atau pihak lain. Di sini kita jadi harus memastikan kepada siapapun untuk tidak ikut campur atau justru mendukung pola pengasuhan kita.
  9. Menakuti anak. Contohnya itu saat mendiamkan anak nangis, “Hayo, kalo nangis terus nanti disuntik lho”.
  10. Ucapan dan tindakan tidak sesuai. Misalnya kita udah berjanji mau memberikan hadiah, tapi ternyata tidak. Atau akan menghukum anak tapi karena tempat dan waktunya belum pas, jadi terundur dan lupa. Anak akan jadi sulit percaya kepada orangtua nantinya.
  11. Hadiah untuk perilaku buruk anak. Misalnya anak merengek untuk membeli jajanan tidak sehat dan kita gak mengabulkannya. Tapi dia terus merengek sampai kita tidak tahan dan akhirnya mengalah. Jajanan itu termasuk hadiah untuk perilaku rengekan tersebut.
  12. Merasa salah karena tidak memberikan yang terbaik. Mungkin karena kedua orangtua bekerja, jadi merasa bersalah jarang bertemu akhirnya memaklumi perilaku buruk anak.
  13. Mudah menyerah dan pasrah.
  14. Marah yang berlebihan.
  15. Gengsi untuk menyapa.
  16. Memaklumi yang tidak pada tempatnya. Misalnya anak kita bertengkar dengan temannya dan anak kita memukul. Terkadang dimaklumi dan bicara “Maklumlah, namanya juga anak2”.
  17. Penggunaan istilah yang tidak jelas maksudnya. Misalnya, “Awas, jangan macam-macam ya”. Definisikan “macam-macam” itu.
  18. Mengharap perubahan instan.
  19. Pendengar yang buruk. Sebelum anak menjelaskan panjang lebar dan baru 1 kalimat keluar, kita sudah memarahi dan menasehatinya panjang lebar. Nantinya anak jadi enggan bercerita dan enggan terbuka.
  20. Selalu menuruti permintaan anak.
  21. Terlalu banyak larangan.
  22. Terlalu cepat menyimpulkan. Mirip dengan no. 19 sih. Anak baru menjelaskan, kita seolah2 sudah mengerti dan membuat kesimpulan yang salah, jadi langsung memarahi panjang lebar.
  23. Mengungkit kesalahan masa lalu.
  24. Suka membandingkan. Ingat selalu bahwa setiap manusia itu unik, termasuk anak kita dengan anak-anak lainnya.
  25. Paling benar dan paling tahu segalanya.
  26. Saling melempar tanggung jawab.
  27. Kakak harus selalu mengalah. Kita harus selalu bertindak adil. Walaupun si adik masih kecil, tetap harus diberitahukan mana yang benar dan mana yang salah.
  28. Menghukum secara fisik. Sudah pasti tau ya, memukul.
  29. Menunda atau membatalkan hukuman.
  30. Terpancing emosi. Agak mirip dengan nomor 11 nih sepertinya. Jadi, kita harus bersabar dan tahan dengan rengekan anak dan tetap konsisten dengan yang kita katakan.
  31. Menghukum anak saat kita marah. Sebaiknya jika sudah tidak bisa tertahan lagi, segera menjauh dari anak dan pilih cara terbaik untuk menenangkan diri.
  32. Mengejek.
  33. Menyindir.
  34. Memberi julukan yang buruk. Julukan ini seperti “cengeng”. Jika anak terus-menerus diberi julukan cengeng sejak kecil, maka akan tertanam di otak kalau dia adalah pribadi yang cengeng.
  35. Mengumpan anak yang rewel.
  36. Televisi sebagai agen pendidik anak.
  37. Mengajari anak untuk membalas.

Yah, kira-kira begitulah isi buku itu, walaupun bukan penjelasan lengkap dan cuma daftar kebiasaannya saja, tapi lumayan kan? 😛

Dan yang terakhir, pengasuhan dan pendidikan itu dilakukan oleh kedua orangtua. Jadi, jangan ragu-ragu menghabiskan banyak waktu untuk mengkomunikasikan pengasuhan dan pendidikan anak kita kelak seperti yang diinginkan. Komunikasi antar orang tua itu sangat penting untuk menjaga kekompakan dan menghasilkan kesepakatan pola pengasuhan. 🙂

Published by:

Ternyata Bener Loh, Gak Cuma Teori

Hobi Keluarga Parenting

Apa tuh?

Hum, apa ya bilangnya. Saya sih nyebutnya teori-teori tentang pengasuhan anak, beberapanya antara lain:

  1. Tidak men-judge atau tidak mencap yang jelek-jelek terlebih dahulu. Intinya gak boleh berpikiran negatif terhadap anak.
  2. Bicara baik-baik untuk memberi tahu atau memberi perintah. Yang jelas jangan pake teriakan, bilang baik-baik aja ke anak.
  3. Hindari kata jangan. Yup, hindari penggunaan kata jangan ke anak, beri saja kalimat positif pengganti kata jangan itu.
  4. Percaya dengan kemampuan anak.

Sebenernya sih teorinya lebih banyak dari itu yaa, tapi berhubung saya baru mempraktekkan sendiri keempat hal di atas, ya yang saya inget itu deh 😀

Alhamdulillah saya dapet kesempatan mempraktekkan teori-teori itu di rumah saya sendiri dengan anak tetangga kontrakan saya, hehe

Jadi, ceritanya kontrakan sebelah baru ganti penghuni dan si penghuni baru ini punya 3 anak yang berumur 9, 3 dan 1 tahun. Nah, orangtua mereka keduanya kerja, jadilah mereka butuh pengasuh. Karena baru banget pindahan dan belum beberes rumah juga, jadi mereka belum dapet pengasuh juga.

Si ibu kontrakan sih diberi kepercayaan untuk ngasuh yang paling kecil ~ya dikasih gaji juga tentunya 😛 Tapi 2 anaknya lagi gak ada yang ngasuh, jadi kasian kan.

Mereka udah pindah 4 hari sampai hari ini sih, tapi 2 hari pertama saya belum sempet berhubungan langsung dalam waktu lama sama anak2nya. Agak kasian juga 2 hari itu cuma dengerin anak2 itu diasuh sama tetangga-tetangga sekitar yang mereka gak merhatiin seharian, cuma sekedarnya aja dan dengan teriakan2 jadi saya bisa denger dari dalem rumah.

Akhirnya kemarin pagi saya berniat mau mempraktekkan teori-teori yang sering saya baca itu, hehehe. Dengan bermodalkan ilmu itu dan Bismillah, saya memulainya dengan memberi perintah mandi pagi si anak pertama ~sebut saja A1~.

Hari kemarinnya, tetangga-tetangga yang lain menyuruh mandi juga tapi dengan cara teriak-teriak dan mengatai jorok dsb. Walhasil, dia mandinya siaaang banget. Dan kemarin pagi ~sekitar jam 8~ saya menyuruhnya secara baik-baik dengan mengatakan kalau habis mandi badan jadi bersih, segar, dan cantik ~kebetulan A1 cewe~ dia langsung mau tuh, gak nunggu2 lagi, langsung bergerak untuk mandi. *teori no. 2.

Terus habis mandi, saya liat pakaian yang dicuci ibunya belum dijemurin. Akhirnya saya minta tolonglah ke A1 untuk menjemur pakaian. Dia mau dan pekerjaannya selesai dengan rapi.

Setelah itu dia saya mintai tolong lagi untuk membereskan rumahnya ~rumahnya kuotooornyaa minta ampun deh~. Eh, ternyata dia mau lagi dan dengan senang hati ngerjainnya. Bahkan sebelum saya minta tolong nyuci piring aja dia nyuci piring sendiri dan bersih. *yang ini teori no. 4.

Nah, selagi si A1 beberes rumah, A2 ~anak kedua yaa yang berumur 3 tahun~ minta pulpen dan mau corat-coret. Kemarinnya lagi si A2 nyoret-nyoret di tembok pake pulpen itu, jadi si A1 takut ngasih pulpen lagi. Lagipula tetangga-tetangga yang lain ngasi tau A2 lagi2 dengan teriak dan men-judge bandel.

Akhirnya saya kasih aja bukunya A1 ~yang sudah tidak terpakai pastinya~ sambil ngasi tau ke A2, coret-coretnya hanya boleh di situ dan menghindari kata “jangan coret-coret di tembok”. Dan, Alhamdulillah si A2 ngerti banget dan anteng coret-coret di buku itu. *nah, yang ini langsung 2 teori deh, teori no.1 dan no.3 😀

Nah terus sesiangan akhirnya mereka mainan di rumah saya deh. Sore-sore si A2 asik nontonin kereta api di youtube sambil saya tinggal masak. Saya pilih yang playlist kereta api, jadi saya gak perlu repot2 nyariin lagi video lain kalau video yang ditonton sudah habis. Eh, sambil nonton itu si A2 ketiduran, kecapean dia gak tidur siang.

Sebenernya hampir pake semua teori ya di setiap kegiatan. Kayanya sih emang 4 itu dasarnya pengasuhan anak ya? hehe

Published by:
%d bloggers like this: