Category Archives: Pribadi

Menyudahi Anak Main Bersama

Naia ini kalau udah main sama temennya suka gak mau lepas. Jadi kalau mau udahan atau pisah, kadang2 dia suka jadi rewel. Gak jarang juga jadi nangis.

Apalagi sama temen sekolahnya yang satu ini. Berhubung rumahnya lagi dibenerin, dia jadi ngontrak deh sementara persis di sebelah rumah kami, eh beda 1 rumah aja deng. Jadi ya sejak dia tinggal di sebelah, hampir pasti setiap hari main bareng deh ini. Nah, giliran temennya ini mau pulang, Naia deh baper. Kadang ditahan-tahan dan ngajak main yang lain padahal muka temennya udah bosen.

Akhirnya sering banget juga Naia ikut dia pulang ke rumahnya dan lanjut main di sana. Sampai saya ajak pulang dan ajak main sendiri di rumah baru mau pisah.

Continue reading

Published by:

Manajemen Waktu Ibu Rumah Tangga

Beuh, gayaa pake ngomongin manajemen waktu. Padahal manajemen waktu saya masih kurang bener, hahaha. Saya masih sesukanya sendiri, belum disiplin. Tapi buat hal-hal dasar tentang anak, Alhamdulillah sih bisa ya, belajar melalui pengalaman laah.

Semacam jadwal harian anak itu saya mesti disiplin dulu. Kayak anak-anak sekarang harus bangun jam berapa (terutama Naia sih) supaya gak kesiangan buat sekolah. Plus mereka tidur siang jam berapa dan tidur malamnya jam berapa. Saya biasakan terpola sebetulnya.

Oiya, ngomongin manajemen waktu ini bertepatan sama #Familife bareng Noni nih sekarang. Dia ngomongin manajemen ibu bekerja. Coba cek postingannya di sini yaa:

Manajemen Waktu Ibu Bekerja Continue reading

Published by:

Puaskan Eksplorasi Anak dengan Berkata Iya Boleh

Sejak punya anak, saya belajar untuk mengurangi larangan-larangan saat mereka sedang bermain. Karena sepemahaman saya, larangan-larangan itu bisa mematikan rasa ingin tau anak dan membuat mereka tidak percaya diri serta membuat mereka takut untuk melakukan eksplorasi. Padahal eksplorasi yang dilakukan anak-anak itu mempengaruhi tumbuh kembang mereka.

Makanya, dari kecil Naia itu jarang saya larang dalam hal apapun. Sampai dia sempet selalu menangis setiap kali orang lain bilang “jangan”. Soalnya kalau di rumah ya saya selalu bilang “iya boleh” atau “yaudah” sambil ditemenin dan diawasi oleh saya atau saya beri perlindungan sebelumnya. Intinya saya hampir selalu membolehkan Naia eksplorasi hal apapun.

Pakai kata asal sih, which is jadinya boleh yang ada syaratnya. Tapi syaratnya ini juga bukan yang menyusahkan juga kok, dan bukan bermaksud membatasi eksplorasinya, melainkan untuk melindungi dia. Continue reading

Published by:

Me Time yang Kebablasan

Siapa yang setuju me-time itu penting? Pasti banyak lah yaa jaman sekarang mah. Saya pun berpikir gitu kok. Emang me-time itu sungguh sangat penting demi menjaga kewarasan dan kesehatan jiwa kita sebagai ibu, istri, terlebih wanita mandiri *ahzeg.

Baca juga: Happy me!

Soalnya me-time itu ya memang seakan me-refresh kembali kondisi emosi kita selamaaa.. (seminggu) mungkin? Pokoknya ya selama batas waktu yang kita tentukan sendiri deh. Misalnya kita memang butuh me-time tiap minggu, atau tiap bulan, atau malah 3 bulan sekali. Tergantung kebutuhan masing-masing dan kesepakatan sama suami lah ya.

Oiya, sebenernya postingan ini udah ngendon lamaaa banget di draft belum selesai-selesai. Kebetulan saya sama Noni kemarin belum ada topik untuk #Familife, jadi yaudah sekalian deh, hehehe.

Baca punya Noni di sini yaa:
Mencari Curi Me Time
Continue reading

Published by:

Fenomena Jastip yang Harus Mulai Dipikirkan Penyelenggara Event

Buat yang belum tau, jastip itu jasa titip. Jadi, biasanya saat ada event-event besar di Jakarta (atau di manapun sih), toys fair atau books fair gitu lah, ada beberapa (cukup banyak sebetulnya sekarang) pihak yang melayani jasa titip menitip ini. Jadi, orang-orang yang tinggalnya jauh bahkan di beda pulau, atau berada di wilayah yang sama dengan event tapi gak punya waktu untuk hadir, atau yang malas ikut mengantri (di mana biasanya kan di event-event besar itu bisa antri berpuluh-puluh kilometer ya *lebay*, untuk masuknya ataupun bayar di kasir), intinya yang gak punya kesempatan untuk dateng langsung lah ke eventnya, bisa juga ikut serta dalam event besar itu, ya melalui jasa titip ini.

Biasanya jastip ini meminta uang jasa (ya namanya juga jasa titipan kan ya) per item yang dititipkan. Besarnya tergantung penyedia jastip itu sendiri (apa tergantung barangnya ya? saya kurang tau karena belum pernah ikutan jastip secara langsung). Biasanya sih uang jasa ini berkisar 5.000 sampai 10.000 per item. Lumayan yah 🙂 Hitung-hitung uang capek nyari barang yang dititipkan plus capek antri berpuluh kilometernya (lebay lagi) itu lah yaa. Continue reading

Published by:

Berutang Demi Pencitraan

Bisa nebak gak kita ngomongin ini karena apa? hihihi. Beneerr, karena sekarang lagi rame kan ya perempuan yang berhutang banyak tapi gak taunya malah jalan-jalan ke luar negeri, hehe.

Tapi tenang, kita gak ngomongin dianya kok, yang mau dibahas itu berutang demi pencitraannya. Dari judulnya aja udah gak bener sih ya, berutang. Kalau terpaksa karena kebutuhan hidup gak bisa terpenuhi plus gak ada jalan lain sih ya sah-sah aja ya berutang, dengan niatan baik juga untuk dikembalikan sesegera mungkin. Dan usaha lebih keras lagi lah untuk ngembaliin utang-utang. Beberapa orang malah lebih semangat kerja katanya kalau ada utang :’D

Oiyaa, topik ini emang buat #Familife saya sama Noni di kamis ini. Baca yang punya Noni di sini yaa:
Demi Pencitraan Continue reading

Published by:
%d bloggers like this: