Category Archives: Uncategorized

[Parenting] Bersepakat

Uncategorized

Untuk melatih kedisiplinan Naia saya lebih suka dengan kesepakatan, bukannya hukuman. Karena menurut saya sendiri sih, bersepakat itu komunikasi yang paling baik yang dilakukan oleh orangtua. Soalnya dengan kesepakatan, kita memikirkan perasaan anak serta menentukan dan membuat anak berusaha dengan keinginannya sendiri. Malah kalau anak sudah lebih jago lagi, dia deh yang mengajukan kesepakatan itu, hehehe.

Sudah cukup lama saya menerapkan ini ke Naia, sejak umur 1 tahunan lah *apa kurang ya, lupa*. Pokoknya, sebelum dia lancar berbicara dan berkomunikasi seperti sekarang, saya memperhatikan ekspresi mukanya saja. Kalau ia senang berarti ia setuju dengan kesepakatan yang saya ajukan. Tapi, kalau mukanya terlihat BT, ya kesepakatannya berarti tidak cukup bagus, saya harus merevisinya deh.

Seperti pelajaran kecewa yang pernah saya tulis juga, kesepakatan sebetulnya mengajarkan tentang kekecewaan, tentang tanggung jawab, dan usaha. Kekecewaan apabila “upah” akan usahanya tertunda atau terpaksa tidak diberikan karena tidak tuntas berusaha. Tanggung jawab saat ia bisa melakukan yang memang seharusnya dilakukan dan usaha saat ia betul-betul melakukan apa yang disepakati untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

yuk intip sedikit cerita saya dan Naia bersepakat ^^

Published by:

Rejeki Cantik dari JYSK di Tanggal Cantik

Uncategorized

Sebetulnya, minggu ini saya sedang tidak enak badan dan ragu untuk bepergian kemanapun. Tapi, minggu lalu saya sudah mendaftar untuk mengikuti event blogger dalam acara grand opening 2nd store JYSK di Pluit Village tepat pada tangga 11.11. Tanggal cantik sayang kalau dilewatkan dan berdiam diri saja di rumah, hihi.

Akhirnya saya ikutan aja deh. Awalnya sempat ragu karena tempatnya begitu jauh di Pluit sana, naik apa saya ke sana apalagi bawa-bawa Naia, huhu. Tapi, JYSK berbaik hati menyediakan antar jemput di FX. Malah menyediakan makanan ringan untuk sarapan juga. Naia gak berhenti makan selama perjalanan ke sana, hihihi. Sudah begitu, di sana dijanjikan akan ada kids corner agar kami-kami yang membawa anak ini bisa semakin tenang mengajak anak. Tapi, berhubung saat sampai di sana acara belum dimulai, Naia bosan kalau hanya berdiam diri. Jadilah saya mengajaknya berjalan-jalan sedikit dan bertemu “badut” a.k.a maskot JYSK. Yap, Naia sangat senang dengan badut, tiap kali melihat badut ia pasti mau mendekati bahkan berfoto.

Foto Bersama Maskot JYSK dengan Raufa

Foto Bersama Maskot JYSK dengan Raufa

Sebelum acara akhirnya dimulai Naia sudah bisa saja ajak duduk tenang. Dan, hal itu tidak disesali sih sepertinya sama dia, soalnya acara ini diawali dengan pertunjukan classical magic show. Naia sampai berdiri saking seriusnya ngeliatin itu pertunjukan sulap, hahaha.

Liat deh tampang seriusnya Naia nonton sulap itu…

Published by:

[Parenting] Jadi Kamus

Uncategorized

Pernahkah mengalami anak malah marah atau mengamuk saat kita membantunya? Padahal sebelumnya dia yang mengajukan pertanyaan atau meminta perhatian kita dalam masalah yang dihadapinya.

Bisa jadi itu artinya dia cuma mau kita jadi “kamus”. Apa tuh maksudnya jadi kamus? Kita sendiri kalau sedang membutuhkan kamus, yg diharapkan apa? Kita jadi tahu dan jadi lebih mengerti sesuatu. Namun, kamus tidak bisa serta merta ikut campur dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Nah, persis deh itu yg diinginkan anak.

Baruu aja beberapa hari yang lalu saya mengalami ini. Naia (anak saya yang berumur 2,5 tahun) sudah hampir berputus asa dengan mainan mobil yang gk pas disusun di tempatnya (padahal kalo menyusun secara benar, mobil-mobil itu bisa masuk semua ke tempatnya). Nah, dia mencolek saya dan bertanya, ‘mana tempatnya?’ katanya. Dodolnya, saya sama sekali tidak berpikir kalau cuma dilibatkan sebagai kamus, jadi saya memberitahu solusinya sambil membukakan jalan untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi Naia bukannya seneng malah ngamuk. Mobilnya jadi malah berantakan semua karena dikeluarkan lagi dari tempatnya 🙁

Saya diam saja menunggu dia tenang sendiri. Setelah tenang, tidak lama dia main lagi dan masalah yang sama kemudian muncul. Dia bertanya lagi pada saya.

Kali ini saya sadar kalau saya cuma dibutuhkan sebagai kamus, jadi ya saya hanya berkata “mobilnya gk muat karena ada 2 tempat kosong yg berjauhan, harusnya sebelahan supaya mobilnya muat”, sudah. Saya hanya memberitahu demikian tanpa ikut campur dalam penyelesaian masalahnya. Dia lalu mencoba lagi sambil mencari cara terbaik agar tempat yang tersedia bisa bersebelahan. Berhasil! Dan dia jadi seneng bangettt.

Sayanya lebih senang karena udah engeh harus gimana dan senang krn dia mau berusaha nyelesein masalahnya sendiri.

Begitu juga saat dia sedang bermain puzzle. Memang bukan puzzle yang sulit banget sih, tapi lumayan lah untuk anak seusianya, 2 tahun 6 bulan. Dia cuma mau saya jadi “kamus” lagi. Nanya ini gimana itu gimana cuma agar saya mengarahkannya saja, sisanya dia selesaikan sendiri. Lagi-lagi dia puas dan senang sekali saat berhasil menyelesaikan sekian banyak puzzle yang dia punya. Saya sendiri sampai heran dan kagum akan kegigihannya menyelesaikan ke-14 puzzle yang dia punya.

Puzzle

Dengan hanya menjadi “kamus” begini untuk anak, sedikit banyak kita telah mengajarkan kemandirian dan juga rasa percaya dirinya. Kemandirian menyelesaikan masalah tanpa bergantung pada orang lain dan rasa percaya diri karena sudah berhasil menyelesaikan masalahnya SENDIRIAN. ^^

Published by:

Kriteria Memilih Sekolah

Uncategorized

Iyes, saya setuju banget sama 25 kriteria tambahan ini untuk memilih sekolah. Justru mungkin inilah yang terpenting buat saya dan suami saat memilih sekolah untuk anak nantinya. Selain tentu saja si anak suka atau tidak dengan kondisi sekolahnya ya 😀

checklist
Photo Credit: StockMonkeys.com via Compfight cc

Biasanya orangtua memilih sekolah baik berdasarkan kriteria: nilai ujian siswa, passing grade, atau biayanya. Namun pakar pendidikan Ian Gilbert dalam bukunya, Independent Thinking, mengajukan 25 parameter yang bisa jadi panduan bagi orangtua dalam memilih sekolah yang baik untuk anaknya. Bagi pengelola sekolah, daftar ini bisa jadi panduan tambahan untuk menciptakan atmosfer pembelajaran yang kondusif.

1. Apakah para siswa menikmati belajar di sekolah itu?
2. Apakah para guru menikmati mendidik di sekolah itu?
3. Apakah para siswa merasa tertantang dengan kegiatan-kegiatan di sekolah itu?
4. Apakah para siswa juga mengembangkan kompetensi, tidak hanya mendapat nilai tinggi belaka?
5. Apakah para siswa juga mempelajari keterampilan dan tidak hanya fakta-fakta pengetahuan?
6. Apakah nilai-nilai moral juga menjadi fokus dan diteladankan oleh setiap anggota komunitas sekolah?
7. Apakah terdapat cukup atmosfer inklusif di mana semua siswa dihargai berdasar jati diri mereka dan apa yang mereka bisa?
8. Apakah isu-isu penting seperti bullying dan berbagai aspek sosial dan emosional lain dalam kehidupan sekolah didiskusikan secara terbuka dan positif?
9. Apakah kemampuan untuk berpikir sendiri didorong dan dikembangkan bagi seluruh siswa?
10. Apakah sekolah memiliki unsur kesenangan dan keriangan?
11. Apakah aspek-aspek seperti rasa ingin tahu, kekaguman, keberanian, kegigihan dan ketahanan didorong dan disambut secara aktif?
12. Apakah para guru terbuka terhadap ide-ide baru dan tertarik melakukan berbagai kegiatan bersama – bukan terhadap – para siswa?
13. Apakah sekolah mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia pendidikan dan pembelajaran?
14. Apakah sekolah mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia teknologi pendidikan?
15. Apakah harapan yang tinggi juga disematkan kepada para guru dan pengelola sekolah, seperti juga disematkan kepada para siswa?
16. Apakah kepala sekolah “terlihat” dan mudah diajak berinteraksi?
17. Apakah para siswa disadarkan bahwa mengeluarkan yang terbaik dari diri sendiri tidak harus berarti menjadi lebih baik dari orang lain?
18. Apakah sekolah terbuka terhadap hal-hal di luar dugaan (yang positif)?
19. Apakah para siswa diajak berpikir tentang, berinteraksi dengan, dan berusaha berkontribusi pada kehidupan di luar dinding sekolah?
20. Apakah sekolah sadar bahwa pembelajaran adalah sesuatu yang bisa dilakukan siswa kapan pun, di mana pun, dan hanya sebagian di antaranya saja yang perlu dilakukan di dalam dinding sekolah?
21. Apakah komunitas sekolah terbentang sampai keluar dinding sekolah (melibatkan masyarakat)?
22. Apakah proses belajar mengajar di dalam sekolah memasukkan berbagai variasi kemungkinan dan kesempatan pembelajaran?
23. Apakah para siswa diberi kesempatan untuk bertanggung jawab terhadap sesuatu dan untuk mengambil keputusan yang berdampak penting?
24. Apakah hasil pembelajaran yang didapatkan cukup sebagai bekal siswa untuk melangkah ke fase hidupnya berikutnya?
25. Apakah resepsionis, guru, petugas kebersihan, dan seluruh staf sekolah tersenyum kepada orangtua dan pengunjung sekolah?

Emang mungkin susah sih nyari sekolah yang benar-benar ideal. Dan jaman sekarang sudah banyak yang menerapkan home schooling. Tapi saya merasa saya dan suami masih akan menyekolahkan anak di lembaga sekolah yang paling tidak mendekati sekolah ideal menurut kami. Semoga kami mendapatkan yang terbaik 🙂

Daan, credits go to Kreshna Aditya. Dialah yang membuat status Facebook berisi 25 kriteria itu ^^

Published by:

Gagal ke JCC

Uncategorized

Hari ini sebenernya mau ngikut Momo ke JCC, ada acara di sana. Sebenernya gak ngerti juga sih acaranya ngapain, cuman pengen jalan-jalannya aja, wokwokwok XP. Tapi emang kayaknya kebiasaan saya deh itu. Pergi ya pergi aja, gak penting acaranya nanti ngapain dan bener2 gak berharap dari acara yang didatangi. Akhirnya ya gitu, malah jadi lupa gitu acara apaan.

Awalnya sih mau berangkat sekitar jam 11an dari rumah. Tapi, begitu nelpon Momo, dia bilang abis sholjum aja, yaudah deh saya makan siang dan bersantai dulu di rumah. Alhamdulillah Naia makan agak banyak.

Begitu adzan, saya lalu mengambil air wudhu untuk segera sholat dan abis sholat saya siap2in barang2 yang mau dikirim hari ini. Alhamdulillah tadi pagi ada pembeli yang langsung transfer untuk pembelian 2 baju. Etapi pas lagi bungkus2 baju itu Naia di sebelah saya tiduran dengan berbantalkan bantal univind sambil lemes2. Dalam hati ini membatin kalau Naia ngantuk. Jam segitu emang jamnya Naia tidur siang sih *jam 12an*. Yasudah deh, saya biarkan saja. Kalau merem, ya silakan tidur dan kita gak jadi pergii. Kalau gak merem yaudah saya lanjutkan niat ke JCCnya.

Dan ternyataaa. Naia beneran tidur sodara2, hahaha. Yasudah, jadilah saya di sini menulis ini, bukannya di jalan menuju JCC atau sudah sampai di JCC 😀

Published by:
%d bloggers like this: