Momopururu » Blog Archives

Tag Archives: inspirasi

Hobi Kid's Activity

10 Barang Bermanfaat dari Kardus Bekas

Berhubung Naia setiap bulan beli susu yang kardusan, setelah susunya habis kita jadi punya limbah lumayan banyak kardus bekas deh. Saya sih membuangnya di plastik khusus barang2 yang bisa didaur ulang biar bisa langsung dikasih ke pemulung. Tapi, banyak kardus gitu kok ya bikin saya pengen bikin sesuatu yah dari kardus2 itu. Entah mainan Naia atau sesuatu yang berguna lah.

Akhirnya niat membuat sesuatu itu gak cuma niat tapi sedikit sedikit dilaksanakan, hihi. Sampai sekarang barang-barang ini lah yang berhasil saya bikin dari memanfaatkan kardus bekas tadi. Oiya, gak cuma kardus besar sih, karton bekas susu atau biskuit juga saya manfaatkan kalau sedang iseng, hehe 😀

Here goes the list:

1. Mainan Warna

6 Warna

6 Warna

Yang ini pernah saya ceritakan di sini sih. Saya pakai karton bekas bungkus pasta instan (baca: spageti La Fonte xp). Naia jadi bisa belajar mengenal lebih jauh tentang warna dari sini. Saat saya bikin inipun sebetulnya dia sudah lumayan mengenal warna sih, dia sudah hafal warna hitam dan merah. Tapi, berkat ini, dia jadi hafal semua warna yang saya bikin itu deh. Sekarang malah berlanjut ke warna-warna yang bukan warna primer seperti pink, ungu, dan coklat. Dia malah sekarang sudah bisa membedakan dan menyebutkan mana hijau tua mana hijau muda, hihi. Alhamdulillah ya nak, mainan kamu gak mahal 😛

Barang apa lagi yang bisa dibikin dari kardus?

Published by:
Lomba Blog

Anies Baswedan: Ki Hajar Dewantara Masa Kini

Sejak saya menyaksikan Anies Baswedan memberikan speech di TEDxJakarta ke 4 (Sabtu, 15 Mei 2010), saya seketika mengidolakannya. Kenapa begitu? Yang awalnya saya malah belum tahu beliau itu siapa ~heheh, kurang gaul :P~ dan baru saja tahu di sana, kenapa tiba2 bisa mengidolakannya begitu saja?

Alasannya cukup sederhana, karena pada saat itu beliau menyampaikan program di universitasnya yang membuat orang tidak mampu bisa melanjutkan kuliah di kampus yang dipimpinnya, Paramadina. Ya, Paramadina, kampus dengan biaya mahal bisa menampung belasan orang tidak mampu setiap tahunnya untuk berkuliah secara cuma-cuma.

Terus biayanya dari mana? Dari bayaran mahasiswa-mahasiswa reguler lainnya yang mampu, sangat mampu. Mantap kan?

Pemikirannya adalah future middle class people from current middle class people (kelas menengah selanjutnya berasal dari kelas menengah yang ada sekarang). Jadi, kita sebagai kelas menengah di Indonesia bisa menciptakan kelas menengah selanjutnya melalui bantuan kita. Hal ini bisa meningkatkan taraf hidup dan perekonomian di Indonesia bukan?

Beliau merupakan salah satu pendidik berkualitas di Indonesia. Memang saya tidak kenal secara personal dengan beliau, tapi saya bisa merasakan semangat yang begitu besar untuk memajukan pendidikan Indonesia dari beliau.

Satu lagi program yang beliau bentuk dan membuat saya semakin kagum adalah “Indonesia Mengajar“. Beliau dapat mengubah hal yang biasa menjadi hal yang sangat luar biasa, bahkan keren.

Mari saya ceritakan kenapa saya bisa bilang keren 😀

Kita semua tau, persebaran guru di Indonesia sangat tidak merata. Ya, seperti yang disampaikan oleh Anies Baswedan sendiri di TEDxJakarta ke 6.

Yap, Anies Baswedan diundang sampai 2x ke acara TEDxJakarta (4th event & 6th event) dan saya hadir di kedua event tersebut *hehe, yang terakhir ga penting* :P. Video speechnya beliau di TEDxJakarta ke 6 bisa ditonton di sini:

Nah, sudah banyak program yang mengirim guru ke tempat-tempat pedalaman dan terpencil di Indonesia demi mengatasi persebaran yang tidak merata tersebut sehingga program semacam ini sudah menjadi hal yang biasa.

Namun, beliau mengemas “Indonesia Mengajar” dengan sangat menarik dan keren dengan mengirimkan anak-anak muda terbaik ke SD di pelosok-pelosok Indonesia selama 1 tahun.

Yang perlu dicatat: Anak-anak muda terbaik dan hanya 1 tahun!

Anak-anak muda terbaik: anak-anak muda yang lulus dengan nilai tinggi dari universitas-universitas ternama, memiliki sifat kepemimpinan, punya pengalaman organisasi, dan tangguh sehingga yang menjadi guru di pelosok-pelosok merupakan guru yang benar-benar memiliki kualitas terbaik.

Hanya 1 tahun. Kenapa 1 tahun?

Karena tujuannya membuat program ini bukan hanya memenuhi kebutuhan akan guru tetapi juga mempersiapkan pemimpin masa depan. Dengan mengirim anak-anak muda berkompeten ke pelosok-pelosok Indonesia selama 1 tahun, mereka bisa merasakan bagaimana hidup tanpa listrik, tanpa sinyal telpon, dan belum tentu mendapatkan sumber air.

Tapi tenang, begitu 1 tahun tadi terselesaikan, akan datang guru-guru ~yang disebut pengajar muda~ berkualitas baru yang akan mengajar di pelosok-pelosok yang sama selama 1 tahun dan begitu seterusnya.

Ya, beliau berharap dengan menempatkan anak-anak muda terbaik ke pelosok-pelosok Indonesia bisa menghasilkan pemimpin-pemimpin Indonesia masa depan yang memiliki kompetensi tingkat dunia namun juga memiliki pemahaman masyarakat ‘grass root‘.

Harapannya, ketika kelak mereka menjadi pemimpin di kemudian hari, mereka adalah anak-anak muda Indonesia yang memiliki World Class Competence tetapi memiliki Grass Root Understanding

Anies Baswedan

Sudah mengerti kan kenapa beliau membuatnya keren dan kenapa saya tambah kagum? Belum?

Oke, sekali lagi saya tekankan, beliau bukan hanya mengirim guru-guru yang sangat berkompeten ke pelosok-pelosok Indonesia demi mengatasi persebaran guru yang tidak merata tadi, tetapi juga menciptakan pemimpin-pemimpin baru yang sangat berkualitas.

Kebetulan salah satu teman dekat saya, Agung Firmansyah namanya, berpartisipasi di program Indonesia Mengajar dan terpilih menjadi pengajar muda angkatan I serta mengajar di daerah Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Dan dia pernah diundang juga ke acara TEDx Makassar, ini dia videonya:

~PS: suami saya bantuin bikin slidenya, hihi *gapenting* XP

Anyway, bagi saya beliaulah Ki Hajar Dewantara masa kini.

Pahlawan Pendidikan yang begitu mencintai negerinya. Beliau mampu mengembangkan konsep mengajarnya sendiri sehingga mendirikan Perguruan Tamansiswa serta mampu menciptakan semboyan pendidikan yang masih dipakai hingga saat ini.

ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

“di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”

~Semboyan dari Ki Hajar Dewantara

Anies Baswedan sendiri?

Beliau mampu menciptakan pahlawan-pahlawan baru dan menyebarkannya ke seluruh Indonesia. Guru yang dikirim ke daerah pelosok merupakan pahlawan-pahlawan pendidikan dan dijadikan inspirasi oleh murid-murid didikannya.

Dan beliau juga mampu mendidik pahlawan-pahlawan baru tersebut menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yang sangat berkompeten. Hal tersebut dilakukan demi menciptakan Indonesia yang lebih baik.

Mendidik adalah tugas setiap orang terdidik.

~ Anies Baswedan

Sayapun memiliki tugas mendidik dan InsyaAllah akan saya mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Ya, keluarga, karena sayalah guru pertama bagi anak-anak saya kelak.

Karena saya dan jutaan wanita Indonesia masih bisa melahirkan pejuang yang akan dididik sebaik mungkin sehingga menjadi pemimpin Indonesia di masa yang akan datang :).

Tambahan: lagi googling nama Anies Baswedan, dapet link ini: Mahasiswa Inginkan Anies Baswedan jadi Rektor UI, Bagaimana Gumilar?. Bahkan mahasiswa UI sampe mau dia jadi rektor UI, hihi. Setujulah saya, selaku alumni UI jadi ikutan bangga kalo bener dia jadi rektor UI 😛

Published by:
Keluarga

Nina

Hehe, akhir-akhir ini saya nontonin video-video Nina lagi. Lumayan, buat acuan belajar pengasuhan anak. Apalagi, anak saya cewe juga, kaya Nina 😀

Awalnya sih waktu itu entah kenapa saya saangat bosan, jadinya saya liat-liat hal yang mungkin bisa bikin suasana hati saya berubah. Dan, saya ingat dengan video-video Nina ini, jadilah saya nonton-nontonin ulang hehe

Nina itu siapa?

Kalo ada yang sering nonton Nina di youtube sih tau yaa, hehe. Buat yang ga tau, ini video terakhirnya Nina dari channel http://www.youtube.com/user/geofg

Selama 6 tahun, papanya Nina selalu meng-upload video aktifitas Nina sehari-hari. Mulai dari nina belajar ngomong, baca, sampai akhirnya bisa merekam dirinya sendiri.

Nah, videonya sekarang sudah gak ada karena Nina sudah besar dan butuh privasi. Kalau mau tau alasannya sih, nonton video terakhirnya aja.

Saya bisa belajar banyak dari pola pengasuhan orang tuanya. Kapan-kapan saya ceritain apa aja yang bisa saya pelajari dari video-video itu ya tentang pengasuhan orang tuanya yaa 😀

The point is I am so admire her parents and so glad to get the lesson for raising up a child.

Published by:
%d bloggers like this: