[Parenting] Bukan “Mengharamkan”, Hanya “Mengurangi”

5 Replies

Parenting Pribadi

Sejak mengenal ilmu pengasuhan alias parenting, saya menyadari dan memahami kenapa kata ‘jangan’ tidak bisa sering-sering kita gunakan. Saya bahkan pernah membuktikannya sendiri. Dengan tidak menggunakan kata ‘jangan’, si anak malah lebih mengerti apa yang seharusnya dia lakukan.

Namun, beberapa waktu lalu saya sempat kaget dengan salah satu artikel di salah satu situs islami yang berjudul “Untukmu yang Mengharamkan Kata “Jangan”, Adakah Engkau Telah Melupakan Kitabmu?

Sesungguhnya artikel tersebut sangat bermanfaat sebagai pengingat bagi kita-kita yang sangat anti dengan kata ‘jangan’. Namun, yang saya tangkap, dengan adanya artikel itu, kata ‘jangan’ jadi sangat diperbolehkan dan dipersilakan untuk sering-sering menggunakannya, termasuk untuk hal yang remeh temeh sekalipun. Dan yang saya pahami, artikel tersebut tidaklah menampilkan perbandingan yang setara. Artikel tersebut malah membuat para orangtua menjadi bingung mengenai cara pengasuhan mereka yang telah mengurangi kata ‘jangan’ ini.

Mengutip status suami saya saat dia membagi artikel tersebut:

“dalam mendidik anak, saya tidak membuang kata “JANGAN” kok.
tapi kata jangan itu disimpan benar2 HANYA keluar untuk hal2 yang memang bersifat prinsip, berkaitan dengan keselamatan, baik itu keselamatan fisik (jangan megang colokan listrik), maupun keselamatan dirinya di dunia & akhirat (akidah & syariah).

kalo dibandingkan ya bakal nggak setara, kaya gini misalnya:
jangan naik-naik! vs jangan menyekutukan Allah!
jangan pegang2 itu, kotor! vs jangan durhaka pada orang tua!
jangan berisik! vs jangan berzina!”

Iya, saya sering mengutip kata-kata suami saya, karena tidak hanya sekali dua kali, namun sering sekali saya memang memiliki perasaan yang sama dengannya namun dialah yang bisa mengungkapkannya lebih baik dari saya dalam tulisan.

Dan sesungguhnya yang saya tangkap dari pelajaran-pelajaran parentingpun, kata ‘jangan’ bukannya ‘diharamkan’ hanya saja dikurangi demi menciptakan pikiran dan suasana yang lebih positif kepada anak kita, terlebih lagi yang menyangkut dengan rasa ingin tahunya.

Lalu, seakan-akan mengerti akan kebingungan para orangtua mengenai hal ini, Yayasan Kita dan Buah Hati menuliskan pandangannya melalui notesnya di Page Facebook dengan judul “Jangan sampai ‘jangan’ di salah kaprahkan..“.

Artikel tersebut membuat saya tersenyum dan lalu berkata dalam hati ‘nah, ini jawaban yang lebih benar dan lebih lengkap dari apa yang saya bicarakan mengenai perbandingan yang tidak setara’.

Berikut ini saya tampilkan isi dari kedua artikel tersebut: *maaf kalau postingan saya jadi terlalu panjang.

*****

Untukmu yang Mengharamkan Kata “Jangan”, Adakah Engkau Telah Melupakan Kitabmu?
“Al-Qur’an itu kuno, Bu, konservatif, out of dated!. Kita telah lama hidup dalam nuansa humanis, tetapi Al-Qur’an masih menggunakan pemaksaan atas aturan tertentu yang diinginkan Tuhan dengan rupa perintah dan larangan di saat riset membuktikan kalau pemberian motivasi dan pilihan itu lebih baik. Al-Qur’an masih memakai ratusan kata ‘jangan’ di saat para psikolog dan pakar parenting telah lama meninggalkannya. Apakah Tuhan tidak paham kalau penggunaan negasi yang kasar itu dapat memicu agresifitas anak-anak, perasaan divonis, dan tertutupnya jalur dialog?“ Katanya sambil duduk di atas sofa dan kakinya diangkat ke atas meja.
Pernahkan Bapak dan Ibu sekalian membayangkan kalau pernyataan dan sikap itu terjadi pada anak kita, suatu saat nanti?
Itu mungkin saja terjadi jika kita terus menerus mendidiknya dengan pola didikan Barat yang tidak memberi batasan tegas soal aturan dan hukum. Mungkin saja anak kita menjadi demikian hanya gara-gara sejak dini ia tidak pernah dilarang atau mengenal negasi ‘jangan’.
Saat ini, sejak bergesernya teori psikoanalisa (Freud dan kawan-kawan) kemudian disusul behaviorisme (Pavlov dan kawan-kawan), isu humanism dalam mendidik anak terus disuarakan. Mereka membuang kata “Jangan” dalam proses mendidik anak-anak kita dengan alasan itu melukai rasa kemanusiaan, menjatuhkan harga diri anak pada posisi bersalah, dan menutup pintu dialog. Ini tidak menjadi masalah karena norma apapun menghargai nilai humanisme.
Tidak perlu ditutupi bahwa parenting telah menjadi barang dagangan yang laris dijual. Ada begitu banyak lembaga psikologi terapan, dari yang professional sampai yang amatiran dengan trainer yang baru lulus pelatihan kemarin sore. Promosi begitu gencar, rayuan begitu indah dan penampilan mereka begitu memukau. Mereka selalu menyarankan, salah satunya agar kita membuang kata “jangan” ketika berinteraksi dengan anak-anak. Para orang tua muda terkagum-kagum member applausa. Sebagian tampak berjilbab, bahkan jilbab besar. Sampai di sini [mungkin] juga sepertinya tidak ada yang salah.
Tetapi pertanyaan besar layak dilontarkan kepada para pendidik muslim, apalagi mereka yang terlibat dalam dakwah dan perjuangan syariat Islam. Pertanyaan itu adalah “Adakah Engkau telah melupakan Kitabmu yang di dalamnya berisi aturan-aturan tegas? Adakah engkau lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan”?
Salah satu contoh terbaik adalah catatan Kitabullah tentang Luqman Al-Hakim, Surah Luqman ayat 12 sampai 19. Kisah ini dibuka dengan penekanan Allah bahwa Luqman itu orang yang Dia beri hikmah, orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah..” dst)
Apa bunyi ayat yang kemudian muncul? Ayat 13 lebih tegas menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya “Wahai anakku, JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.
Sampai pada ayat 19, ada 4 kata “laa” (jangan) yang dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu “laa tusyrik billah”, “fa laa tuthi’humaa”, “Wa laa tusha’ir khaddaka linnaasi”, dan “wa laa tamsyi fil ardli maraha”
Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) “esakanlah Allah”. Pun demikian dengan “Laa” yang lain, tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.
Adakah pribadi psikolog atau pakar patenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman? Tidak ada. Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allah dalam Kitab suci karena ketinggian ilmunya. Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.
Membuang kata “jangan” justru menjadikan anak hanya dimanja oleh pilihan yang serba benar. Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang, tetapi karena lebih memilih berdamai. Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya. Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut dosa, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.
Anak-anak hasil didikan tanpa “jangan” berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiyatan bertebaran karena dalam hatinya berkata “itu pilihan mereka, saya tidak demikian”. Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi “mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”.
Itulah sebenar-benar paham liberal, yang ‘humanis’, toleran, dan menghargai pilihan-pilihan.
Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal. Simpan saja Al-Qur’an di lemari paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.

*****

Jangan sampai ‘jangan’ disalahkaprahkan..
Menarik sekali bagaimana akhir2 ini tiba-tiba banyak orgtua menanyakan pada saya tentang ‘pelarangan’ kata JANGAN dalam pengasuhan anak.
Tampaknya ada artikel yg sedang beredar yg mengatakan bahwa para pakar parenting dan psikolog mengajarkan cara pengasuhan yg ‘kebarat-baratan’ dengan mengesampingkan ajaran quran.
Saya, tanpa mengatasnamakan psikolog dan pakar parenting manapun, merasa tergelitik utk meluruskan, BUKAN utk merespon artikel tersebut, hanya utk membantu teman-teman yg jadi bingung dalam mengasuh anaknya.
Sebagai yayasan parenting yg berbasis islam, kami tdk merasa pernah mengajarkan utk melarang menggunakan kata jangan dalam pengasuhan anak sehari-hari. tapi sebagai yayasan parenting yang juga berbasis science, kami juga memberikan pandangan lain yg lebih logis, karena tdk semua hrs dilihat dari satu sisi saja. lagipula pesan-pesan yang kami syiarkan berlaku utk semua orangtua, tanpa mengenal suku, ras, agama atau status sosial ekonomi.
Tapi, mari kita lihat fakta akan kata kontroversial ‘jangan’ ini dalam al-quran.
Ada 6.236 ayat dalam alquran. (tdk percaya, hitung sendiri:))
dan kata ‘jangan’ tersebar di 368 ayat. lagi2, kl tdk percaya, silahkan hitung sendiri.
itu berarti ada sekitar 5.868 ayat yang TIDAK memiliki kata jangan.
utk itu, berarti…kata ‘jangan’ bahkan tidak sampai 6% dalam ayat-ayat alquran
lalu apa di ayat-ayat sisanya???
dirikanlah shalat… bukan JANGAN tinggalkan shalat
tunaikalah zakat…bukan JANGAN lupa berzakat
rukuklah bersama orang-orang yg rukuk
ingatlah…..bukan JANGAN lupa
sembahlah…
peliharalah …
sujudlah….
penuhilah janji..bukan JANGAN ingkar janji
berimanlah..
makanlah makanan yg baik2…
peganglah teguh2..
dan masih banyak ‘lah-lah’ lain tersebar di lebih dari 368 ayat.
Lagipula, siapa sih yg mengharamkan kata jangan?
kami (mengatasnamakan pakar parenting dan psikolog) hanya menyarankan utk tdk menggunakannya terlalu banyak. bukankah itu pula yg allah sarankan ketika hanya meletakkan kata jangan di 368 ayatnya?
Teori ‘kebarat-barat’an biasanya di dasari pada penelitian keilmuan yg biasanya jg di dasarkan pada temuan otak, yang juga ciptaan allah.
Jadi, JANGAN salah kaprah.
Janganlah ‘menunjuk-nunjuk, menuding-menuding, menyebut-nyebut’ profesi.
Jangan liat segala sesuatu dari sisi ‘jangan’nya saja. karena jika demikian, anda berarti hanya memahami 6% dr alquran.
imbang sajalah. bukankah alquran menyebutkan kata hidup dan mati dalam jumlah yang sama? begitu pula kata keuntungan dan kerugian, panas dan dingin, kebajikan dan keburukan, kelapangan dan kesempitan, kufur dan iman semuaaa dalam jumlah yg sama (yg gk percaya lagi, itung lg sendiri :D)
Jadi saya himbau,..
asuhlah anak anda sesuai dengan kitab suci anda.
bagi yg muslim (krn sy tdk menguasai kitab suci lainnya), gunakanlah ‘metode’ allah…yg hanya 6% menggunakan kata JANGAN dalam buku pedomanNya bagi hambaNya.
Yang wajib jangan, HARUS tetap JANGAN.
Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, (2:11)
Janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil (2:60)
Janganlah kamu menyembah selain Allah,(2: 83)
Janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam (2:132)
Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan (2:168)
dan 363 ayat ‘jangan’ lainnya.
Jika anda mengasuh anak anda sesuai dengan metodeNya, tentunya akan tumbuh anak2 positif, shalih/shalihah dan menjadikan kitabNya jg sebagai pedoman.
Dan betul, dalam surat Luqman di sebutkan 7 kata jangan. Tapi Luqman juga mengatakan pada anaknya: bersyukurlah (bukan Jangan kufur nikmat), berbuat baiklah kepada kedua orang tua (bukan Jangan durhaka), dirikanlah shalat (bukan Jangan lupa shalat), suruhlah manusia mengerjakan yg baik (bukan Jangan mengajak dlm keburukan), bersabarlah terhadap apa yg menimpamu, sederhanakanlah dalam berjalan, dan lunakkanlah suara.
Benar, tdk ada psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman dan di sebutkan dalam kitab suci itu
Namun, menggunakan kata lain selain jangan akan membuat anak kreatif, pny pilihan, dan melihat semua hal dalam sisi positifnya, termasuk memaknai ayat-ayat allah.
Dengan meminimalisir kata jangan, anak akan tidak memukul teman karena dalam quran dikatakan bahwa allah menyukai orang2 yg berbuat baik (2:195).
Dengan meminimalisir kata jangan, anak akan tidak sombong, karena allah mengatakan “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” (25:63)
Dan, kelak, ia tidak akan berzina BUKAN hanya karena quran mengatakan janganlah mendekati zina, tapi karena sesungguhnya beruntunglah orang2…. yang menjaga kemaluannya (23:1-5)
Mengasuh anak harus seimbang. ajarkan sukses dan happy di dunia, dengan kunci kuat atas dasar akhirat.Jika demikian, tidak mungkin anak positif tidak menebarkan energy positif kelingkungan mereka. mereka PASTI akan ammar ma’ruf nahi mungkar. jamin.
Jadi.. gunakan jangan dengan bijak. Wajib jangan. tapi 90% boleh. apalagi dlm pengasuhan anak sehari2.. manjat? boleehh.. asal mama pegangin, idupin korek api? bolleeeh… jika mau memasak atau menghidupkan api unggun, main air? BOLLEEEH..di kolam renang, pegang pisau? boleh, jika mau memasak. ‘boleh’ yg bersyarat akan di terima otak dengan lebih baik dari pada jangan.
jadi kesimpulannya: masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhannya.pahami quran secara total. jangan setengah-setengah, jangan dipotong-potong, jangan se-surat saja.
Semoga tulisan ini membantu para orangtua yg perlu peneguhan, bahwa BOLEH bilang jangan. tapi JANGAN banyak-banyak:)

*****

**Yayasan Kita dan Buah Hati merupakan yayasan parenting berbasis perkembangan otak & berlandaskan Islam bertujuan utk membangun Indonesia melalui pengasuhan yg baik, benar dan menyenangkan.

5 comments

  1. Herbanisa Bogor

    Subhanallah… Allah SWT sangat tegas dengan menggunakan kata JANGAN untuk setiap larangan kepada hamba Nya seperti contoh ayat ayat yang disebutkan diatas. kata sembahlah.., sujudlah.., berimanlah.. dll dalam banyak ayat dalam Alquran adalah sebuah perintah kepada hambaNya bukan maksud larangan seperti yang dipahami penulis artikel. wallahu ‘alam.

  2. Fanny f nila

    akupun sejak baca kalo kata JANGAN bukannya ga boleh, tp sebisa mungkin ga terlalu sering diumbar kalo menasehati anak, juga jd lebih tenang mba :D.. soalnya anakku sndiri lbh ngerti kalo diksh tau pake kata2 ‘jangan’ ini.. iya dia pasti nanya alasannya kenapa… dan disitu aku ksh alasan kenapa dia ga boleh ngelakuin itu.. lebih efektif sih mnrtku

Leave a Reply

%d bloggers like this: