Rekreasi ke Taman Mini Indonesia Indah

10 Replies

Hobi Keluarga Kid's Activity

Hari Kamis awal bulan, kira-kira tanggal 5 Juni 2014 kemarin saya berinisiatif ngajak Naia pergi ke TMII. Yaah, daripada Naia bosen ya kan main di rumah mulu. Sebenernya tadinya antara mau ke rumah teman, ke taman kota, atau ke TMII. Akhirnya pilihannya jatuh ke TMII deh. And yap, suami gak ikut karena kerja. It’s mother and daughter’s tiime, yeaa. XP

Seperti biasa, saya kalo pergi-pergi berdua sama Naia ya naik angkot. Angkot yang saya tumpangi adalah S15 A dengan rute Pasar Minggu – TMII. Tapi, masuk Taman Mini-nya bukan dari pintu Utama, melainkan pintu 2. Sama aja lah yaa, yang penting masuk TMII. Sepanjang perjalanan di angkot ini Naia tidur dengan pulas. Alhamdulillah, sesampainya di pintu 2 TMII dia bangun. Dan semoga dia segar saat kita berkeliling nanti.

Tiket masuk untuk 1 orang hanya 10.000 rupiah, gak mahal ya? Hihi, lagi-lagi rekreasi yang murmer. Oh iya, saya bayar angkot juga cuma 4.000 rupiah lho.

Jujur saja, saya belum punya rencana bakal ngapain aja di TMII ini saat berangkat tadi, pun saat sudah sampai di sana. Yaa, saya mengunjungi apa yang saya bisa temui saja deh. Tanpa peta dan tanpa rencana sepertinya lebih asik. Anjungan pertama yang terdekat dari pintu 2 ini adalah anjungan daerah Jambi. Berhubung Naia juga harus minum susu dan di anjungan biasanya ada tempat untuk beristirahat, saya masuk deh. Saat berada di anjungan itu saya melihat kereta gantung dan langsung berpikir selanjutnya naik itu saja untuk memperlihatkan TMII dari atas ke Naia. Semoga Naia gak takut yaa.

Untuk naik kereta gantung itu, kita harus pergi ke stasiunnya. Ada 2 stasiun, stasiun A dan B. Kebetulan saya nanya sama satpam dan diberi tahu stasiun terdekat dari pintu 2 itu adalah stasiun A, tepat setelah Snowbay. Yak, saatnya berjalan kaki. Naia juga sudah mau diturunkan dari gendongan karena ingin berjalan di dedaunan.

Nia Jalan di Dedaunan

Nia Jalan di Dedaunan

Sampailah saya di stasiun kereta gantung. Saya baca di loket tiket, anak umur 2 tahun ke atas sudah membayar penuh. Namun, si penjaga tiket berbaik hati mengijinkan saya hanya membayar untuk 1 orang saja, yeay. Tiket kereta gantung ini sekarang sudah 30.000 rupiah untuk satu kali bolak-balik.

show_resize_image

Credits

Setelah melihat TMII dari atas kereta gantung, saya pun bingung lagi mau kemana. Tadinya mau melihat-lihat anjungan yang lain. Kebetulan di seberang stasiun ini ada anjungan Mini Indonesia. Saat beranjak ke anjungan itu, saya melihat alun-alun TMII ramai dengan anak-anak bermain layangan. Sepertinya ada salah satu sekolahan yang berwisata ke sini deh, kebetulan. Akhirnya saya berbelok menuju alun-alun sekalian beristirahat. Naia saya belikan layangan untuk dimainkan, walaupun saya gak tau sih Naia bisa memainkannya atau tidak. Tapi, dengan bantuan angin yang lumayan banyak saat itu, Naia bisa juga bermain layangan. Hihi, anak umur 2 tahun udah main layangan aje XP

Naia Main Layangan

Naia Main Layangan

Nah, karena di alun-alun ini ramai dengan anak-anak, mulailah berdatangan badut-badut. Dan, Naia itu senang sekali dengan badut, sampai dikejar terus kemanapun badut itu pergi, huahua. Saya akhirnya berfoto deh sama badut. Oiya, setiap berfoto sama badut di sini jangan lupa kasih uang ke badutnya ya. Taruh saja di kantong bagian depan bajunya. Anak senang, si badut juga senang 😀

Naia dan Badut

Naia dan Badut

Sekiranya Naia sudah bosan main layangan, kebetulan hari sudah siang dan sudah terdengar adzan Dzuhur. Langsunglah saya mencari masjid/ mushola terdekat. Setelah sholat rencananya mau naik mobil keliling TMII yang sedari tadi saya lihat. Setelah ditanya, mobil itu bisa dinaiki dari mana saja dan bisa turun di mana saja dengan hanya membayar 5.000 rupiah. Lumayan sih buat orang-orang yang jalan kaki seperti saya, untuk mengunjungi daerah yang ditargetkan jadi lebih mudah.

Saat berjalan di lapangan parkir menuju mushola, Naia terlihat iri dengan anak2 yang keluar masuk bis besar. Dia ingin naik bis! huee. Namun seketika itu ada bis TMII yang dimaksudkan untuk mengelilingi TMII dan si supir bertindak sebagai tour guide gitu. Ternyata bukan hanya mobil kecil, TMII juga menyediakan bis agak besar untuk menampung lebih banyak orang yang bisa diajak berkeliling. Yasudah, demi melihat anak senang, saya naik itu dulu saja satu kali putaran. Alhamdulillaah Naia senang. Oiya, baik mobil ataupun bis, tarifnya sama kok, sama-sama 5.000 rupiah.

Nah, saat berkeliling ini, saya akhirnya melihat letak museum-museum dan berencana setelah sholat mengunjungi salah satunya. Setelah 1x berkeliling, saya lalu menuju mushola melewati lapangan parkir lagi. Di lapangan parkir ini ternyata ada peta TMII, yasudah saya foto sebagai panduan saya nanti.

Peta

Peta

Selesai sholat saya menjalankan rencana menuju salah satu museum yang tadi saya lewati. Pilihan saya jatuh pada Dunia Air Tawar dan Museum Serangga. Berhubung tadi rasanya tidak begitu jauh, jadinya saya memilih jalan kaki lagi untuk menuju Dunia Air Tawar itu. Dan, lagi-lagi Naia tertidur menikmati asiknya angin semilir saat saya berjalan kaki. Saat tiba di depan Dunia Air Tawar, Naia masih tertidur. Akhirnya saya mampir dulu ke anjungan di depan Dunia Air Tawar ini, yaitu anjungan Jawa Tengah.

Tidak berapa lama Naia terbangun dan langsung segar. Karena melihat anjungan ini juga indah, saya memutuskan untuk berfoto-foto sebentar.

Sesampainya di Museum Serangga, saya mencari loket penjual tiketnya. Ternyata tiketnya bisa dibeli di Dunia Air Tawar dan tiketnya pun menjadi satu dengan Museum Serangga. Harganya hanya 15.000 rupiah. Seumur-umur beberapa kali ke TMII, saya baru kali ini mengunjungi Dunia Air Tawar, jadinya yang amazed dengan tempat ini bukan cuma Naia, tapi saya juga, hahaha.

Dan, yang paling membuat saya terkagum dengan tempat ini adalah adanya tiruan alam berupa pegunungan kecil tempat berbagai jenis ikan air tawar. Ceritanya sih tiruan habitat ikan-ikan air tawar itu gituu. Tapi, hal ini justru jadi hal yang paling menarik dari Dunia Air Tawar menurut saya. Sayang hp saya keburu mati, jadi gak ada fotonya deh X(

Karena tiketnya tadi jadi satu, jadilah seusai berkeliling gedung Dunia Air Tawar ini saya menuju Museum Serangga. Di dalamnya hanya berupa pajangan serangga-serangga mati. Ya iya sih, susyeh juga ya kalo serangganya masih hidup, hehehe. Karena Naia bilang dia mau pipis, jadi saya di dalam sini tidak terlalu lama. Langsung menuju pintu keluar saja. Dan tanpa disangka ternyata di belakang Museum Serangga ini ada taman kupu-kupu dan kandang kancil. Beruntunglah Naia bisa melihat kancil juga. Nilai plus banget nih.

Sambil mengantar Naia pipis, saya sekalian sholat Ashar. Setelah itu berencana pulang deh. Dicukupkan saja jalan-jalannya, takut nanti perjalanan pulang terkena arus pulang kantor dan macet. Saya memutuskan menunggu mobil kecil lagi untuk kembali ke pintu Utama. Kata supir mobilnya, kalau sudah sore begini, hanya pintu Utama saja yang dibuka, jadilah saya keluar TMII melalui pintu itu. Dari situ saya perlu naik 1x angkot sebelum naik S15A.

Sesampainya di rumah, pikiran refresh banget. Terlebih lagi, Naia senang sekali. Sampai papanya pulang pun dia masih sangat segar dan bersemangat, tanda hari ini dia senaaang. 😀

Ayo nak, berikutnya kita ke mana yaa?

***

Total biaya yang saya habiskan:

Ongkos pulang pergi 10.000
Naik kereta gantung 30.000
Bayar badut 5.000
Naik mobil keliling 5.000×2 = 10.000
Masuk dunia air tawar + museum serangga 15.000
Makan 32.000
Beli minum 9.000

T0tal : 111.000

Kalau mau lebih hemat, sebaiknya bawa makan dan minum dari rumah sehingga tidak perlu beli di sana. Harga 1 botol Aqua di dalam TMII 6.000 rupiah yang kalau di luar hanya 3.000 rupiah saja. Sayangnya kemarin saya lupa bawa minum dan gak masak, jadilah semuanya harus beli huhuhu.

10 comments

  1. Pingback: TMII Part Two: Playdate Time | momopururu

  2. jendeladuniaku2015

    Tmii juga sering kami kunjungi, karena deket dari rumah dan murmer 🙂 dulu hampir setiap minggu kita kesana…lama-lama bosen juga. Akhir2 ini lagi suka main di taman bunga wiladatika, deket rumah juga. Mba rmhnya dimana, pasar minggu ya….

  3. Pingback: #KisahTanggalTuaku: Trik Membahagiakan Anak di Tanggal Tua – Momopururu

Leave a Reply to istianasutanti Cancel reply

%d bloggers like this: