Pilih-pilih Pujian ke Anak

22 Replies

Hobi Parenting

Kemarin saya dikagetkan dengan salah satu tulisan di mommiesdaily yang berjudul “Jangan Memuji Anak” dan ditulis oleh mbak Lita. Dibuat penasaran dengan judulnya yang cukup anti mainstream, dimana semua orangtua ramai-ramai justru ingin banyak-banyak memuji anak, saya akhirnya membacanya sampai akhir.

Setelah membaca dan paham akan alasannya, saya jadi teringat dengan artikel “Why I’ll never tell my son he’s smart” dan video TEDx yang pernah saya tonton mengenai growth vs fixed mindset. Video TEDx berdurasi 11 menit itu cukup membuka mata saya akan adanya perbedaan yang menonjol tentang seorang yang sukses dengan yang tidak. Perbedaan tersebut ada pada pikiran bawah sadar mereka. Orang-orang sukses kebanyakan cenderung memiliki growth mindset. Sebaliknya, orang-orang yang biasa saja sepintar apapun dia cenderung memiliki fixed mindset.

Lalu apa itu growth dan fixed mindset? 

Fixed Mindset

Adalah seorang Carol Dweck, seorang professor bidang psikologi di Stanford University yang mengenalkan konsep growth vs fixed mindset ini. Dalam penelitiannya, beliau menemukan kalau kita sebetulnya memiliki 2 tipe mindset. Mindset pertama adalah yang kita kenal sebagai fixed mindset. Disaat seseorang yang memiliki bakat namun terbatas pada pikiran “saya pintar, saya punya bakat, saya bisa sukses tanpa harus bekerja keras”, orang tersebut berarti memiliki fixed mindset, pikiran yang cenderung tetap dan tidak bisa berkembang. Mereka percaya bahwa orang sukses karena kepintaran dan bakat semata, dan cenderung memilih zona aman dalam hidupnya. Yap, mereka berpikir bahwa kepintaran dan bakat yang mereka miliki itu diturunkan dan memang sudah ada sejak lahir, bukan sesuatu hal yang mungkin bisa dikembangkan 🙂

Growth Mindset

Nah, namanya juga versus ya, jadi growth mindset ini ya pasti lawannya fixed mindset. Yap, kalau fixed mindset percaya sekali dirinya pintar dan berbakat sejak lahir, growth mindset percaya kalau kepintaran dan kemampuan bisa dikembangkan. Mereka percaya otak kita bisa berkembang asal dilatih. Mereka percaya bahwa kepintaran dan kemampuan tidak datang begitu saja. Mereka juga percaya kalau kemampuan akan berkembang melalui kerja keras, perjuangan, serta kegagalan. Practice makes perfect, right? Yap, kegagalan juga menjadi pelajaran buat mereka untuk berkembang.

Fixed vs Growth Mindset

Fixed vs Growth Mindset

gambar diambil dari sini

Pada video TEDx yang saya tonton itu, salah seorang yang dianggap memiliki growth mindset, seorang Chessmaster yang juga seorang Martial artist yang telah memenangkan 2 kejuaraan tingkat dunia, mengatakan ia belajar dari kegagalan pertamanya menjadi Chessmaster untuk mengembangkan kemampuannya sehingga saat mengikuti turnamen tahun berikutnya ia malah menjadi pemenang. Kalian harus nonton video TEDx ini untuk tau orangnya siapa 😉

Mengubah Mindset

Tapi gak mungkin donk kita sebagai orang yang sudah “cukup umur” ini masih bisa punya mimpi dan mengubah jalan hidup kita? Eits, siapa bilang. Pernah nonton Masterchef Australia season 6 dan tau yang namanya Byron? Dia sudah berumur 27 tahun lho dan baru saja mengubah jalan hidupnya. Di umur segitu baru nemu passion rasanya terlambat ya? Itu buat orang-orang yang punya pikiran fixed mindset. Untungnya dia mengesampingkan semua hal *kecuali keluarga ya xp* dan betul-betul fokus di passionnya dalam masak-memasak itu, sehingga dia bisa lolos masuk Masterchef dan “dilatih” langsung oleh chef  kenamaan dunia, Marco Pierre White. Cool isn’t it? And he is definitely has a growth mindset, what about you?

Lalu kalau kita merasa memiliki fixed mindset, apakah bisa diubah? yes, ofcourse! Begini caranya:

  1. Pahami kalau otak bisa berkembang. Tekankan pada diri kita kalau growth mindset ini gak cuma “diperlukan” tapi juga “didukung” oleh neuroscience yang menyatakan otak bisa berkembang.
  2. Belajar cara mengembangkan diri kita. Bisa melalui sesuatu yang baru atau bisa dengan mengembangkan kemampuan kita ke tingkat lebih tinggi lagi.
  3. Dengarkan suara kita. Maksudnya adalah dengan mendengarkan suara pikiran kita sendiri. Saat pikiran fixed mindset kita berkata “saya tidak bisa”, ubah atau balas kalimat tersebut dengan pikiran growth mindset kita “saya belum bisa”. Dua kalimat tersebut memiliki arti yang berbeda kan? 😀

Pujian Mempengaruhi Mindset

Nah, apa hubungannya pujian tadi sama 2 tipe mindset ini? Ada! Nyambung banget. Carol Dweck melakukan penelitian dengan mengadakan tes IQ yang melibatkan sekitar 400an anak kelas 5 SD. Setelah mengetahui hasilnya, ia lalu memberikan pujian kepada anak-anak tersebut dengan 2 cara berbeda. Beberapa anak dipuji dengan memfokuskan pada “kepintaran”nya ~ “waw, great job! You must be really smart at this” ~ (kelompok 1) dan beberapanya lagi dipuji dengan memfokuskan pada “kerja keras”nya ~”waw, great job! You must have worked really really hard at this“~ (kelompok 2). Setelah itu, dia mengajukan pertanyaan kepada mereka, ingin melanjutkan ke tes yang sama mudahnya atau yang lebih susah?

Hasilnya? Sebagian besar anak yang dipuji dengan memfokuskan pada kepintaran, memilih untuk menyelesaikan tes yang sama mudahnya karena mereka yakin pasti akan bisa menyelesaikannya secara baik juga. Dan sebagian besar anak yang dipuji akan kerja kerasnya memilih untuk mengerjakan tes  yang lebih susah karena lebih menantang. Hebatnya lagi, anak-anak pada kelompok 1 yang memilih tes lebih sulit cenderung memiliki tingkat stress yang lebih besar sehingga menurunkan minat mereka akan tes itu. Sedangkan kelompok 2 justru semakin berkembang karena berpikir harus berusaha lebih keras lagi agar bisa menyelesaikan tes yang lebih sulit tersebut. Ini video yang menunjukkan pengaruh pujian tersebut pada penelitian yang dimaksud:

Pengaruh jangka panjangnya apa? Bisa dilihat dari pengaruh langsung saat tes tersebut dilakukan sih. Anak yang dipuji kerja kerasnya lebih berkembang dan mencari sesuatu yang lebih menantang bagi mereka karena dengan begitulah mereka belajar dan sukses. Nah, paham kan pengaruh jangka panjangnya apa? Mereka jadi tidak takut akan keluar dari zona nyaman atau mencoba sesuatu yang baru dan tidak takut gagal. Karena dengan begitulah mereka bisa mengembangkan dirinya. Akan tertanam pada diri mereka kalau kecerdasan dan kemampuan bisa dan sangat mungkin dilatih dengan kerja keras. Hal ini sesuai banget sama hasil penelitian NeuroscientistDaniel Wolpert yang menyatakan kalau otak manusia sama seperti otot yang bisa dilatih dan di”besar”kan. Dengan kata lain kita bisa berusaha mengembangkan dan memperbesar otak kita dengan melatihnya. Kalian bisa cek video dan keterangannya di sini.

Kalau Ade Rai sibuk memperbesar otot, kita sibuk memperbesar otak anak kita yuk! 😀

Puji kerja keras dan usahanya ya!

Heheh, makin ribet yah jadi orangtua? Memuji anak saja harus pilih-pilih supaya tujuan pujian tersebut bisa membuat anak semakin sukses, bukannya besar kepala 😀

Intinya sih cuma satu:

Puji kerja kerasnya dan bukan hasil atau kepintarannya! 

Dengan begitu mereka akan semakin berdaya untuk selalu bekerja keras, cerdas, dan benar, bukannya mementingkan hasil dengan berbagai cara yang salah.

Semangat menjadi ortu hebat ya guys! Happy Parenting 😉

Terakhir, ini dia video TEDx yang saya maksud di atas. Enjoy!

22 comments

  1. Oline

    Iyaa betul. Kemarin juga aku agak sedikit tergelitik dengan artikelnya si Lita tentang Jangan Memuji Anak. Terlalu memuji anak juga ternyata tidak baik ya. Jadi haus pujian. Emang ya jadi orgtua itu ribet dan butuh pengalaman dan banyak belajar 🙂

  2. myra anastasia

    kalau saya sih prinsipnya yang serba terlalu memang gak baik hehe. Trus buat saya antara pujian dan kritikan itu harus seimbang. Selalu kasih alasan kenapa kita memuji dan mengkritik supaya anak mengerti kenapa orang tuanya melakukan itu. Gitu aja, sih, kalau buat saya 🙂

  3. Maya Siswadi

    Tulisannya bagus sekali mak, lengkap! Sangat mencerahkan. Memang kalau kita bicara musti tepat redaksi kalimatnya, beda redaksi dikit aja bisa beda efeknya yaa. Sama2 memuji tapi pemilihan kata2nya sangat mempengaruhi

  4. diba

    Aku aja baru ngerasa punya ‘growth mindset’ pas umur 28 tahun, saat harus resign dan memulai semuanya lagi dari awal.

    Tapi dengan begini aku jadi bisa lebih baik mendidik anak.

  5. Pingback: Apa itu Neuropsikologi? – Momopururu

  6. Pingback: No Sibling Rivalry – Momopururu

Leave a Reply

%d bloggers like this: