No Sibling Rivalry

5 Replies

Keluarga Parenting

Sebenernya mendidik anak-anak supaya gak punya kecenderungan untuk yang disebut-sebut sebagai “sibling rivalry” itu susah susah gampang ya.Susahnya, apa bener kita udah bertindak adil sama anak-anak kita? Saya yang anaknya baru 2 (dan mau 3) ini tuh juga sering mempertanyakan hal itu. Takut sebenernya, takut kalau saya dianggap gak adil sama anak-anak. Gak adil dalam memberi kasih sayang, gak adil dalam setiap sikap, bahkan gak adil dalam ngasih perhatian. Beneran takuut.

Waktu anak kedua akan lahir, saya mempertanyakan, apa saya akan sesayang anak kedua seperti ke anak pertama? Karena ngerasain anak pertama itu masyaAllah kalem dan manis gitu sebagai perempuan. Dan saya jadi yang gimana kalau sikap anak kedua beda banget sama yang pertama? Apa saya bisa menerima itu juga?

Ternyata, setelah dijalani selama 3 tahun ini dan ternyata adiknya memang sebeda itu sama kakaknya, ya bisa-bisa aja. Sekarang malah takutnya saya gak adil sama kakaknya. Takut malah lebih sayang ke adiknya. Jadi setiap hari selalu inget untuk mau bersikap adil sama kakaknya. Adilnya gimana? Nanti ya di bawah saya bikin poin-poinnya πŸ˜€

Nah, bagian gampangnya menjauhkan sibling rivalry saat sudah punya anak lebih dari 1 itu di mana? Di bagian, adiknya memang akan selalu ngeliat kakaknya. Iya, bagian ini krusial banget, karena bisa jadi 2 hal. Kakaknya sebel diikutin terus sama adiknya, atau kakaknya jadi semangat untuk berbuat lebih banyak kebaikan dan hal-hal menyenangkan yang bisa diikuti adiknya, hehe.

Gampang, karena saat anak punya saudara kandung, mereka cenderung bisa bermain sendiri. Emang nalurinya aja gitu untuk main bersama. Jadi, terkadang, saya malah bisa santai tiduran sambil ngeliatin aja mereka main berduaan tanpa teriakan atau rebutan mainan. Tapi hal-hal gini emang gak bisa dicapai dalam 1-2x memberi pengertian ke setiap anak sih. Gak bisa dicapai dalam 1-2x percobaan istilahnya. Emang harus selalu diupayakan. mungkin bisa seumur hidup kali ya, mengupayakan supaya gak terjadi sibling rivalry.

View this post on Instagram

Salah satu momen yang bikin capek yang numpuk jadi hilang. ❀️ Paling seneng emang deh kalo ngeliat anak2 akur ya, makanya gk heran kalo dulu orangtua juga do'anya semoga anak2 akur terus, soalnya ya emang nyenengin ngeliat mereka main bareng, apalagi kalau misalnya udah dewasa nanti bisa saling mendukung & jadi kayak sahabat deket ya. Saling curhat & saling memberi nasihat. Impian orangtua banget, apalagi emaknya juga bisa ikut dicurhatin 😍😍 Pernah berantem gk? Pernah bangeettt!! Apalagi kalo keduanya udah pada ngantukk. πŸ™„πŸ™„ Tapi yaudah, dinikmati aja. Langsung ajak tiduuurrr. Walaupun gk gampang, tapi begitu sampe kasur & dimerem2in mah, gk nyampe 5 menit ya udah pules πŸ˜ͺ Jadi koentji anak gk cranky apa buibu? Salah satunya, perhatiin jam tidur mereka! Kalo kira2 mereka udah akan ngantuk, langsung ajalah ajak ke kamar, ajak tidur, bacain buku, baca doa, terus udah deh tidur tanpa bete2an. πŸ‘πŸ» Memang tidak semudah teori, tapi YAKINkan hati PASTI bisa mengajak tidur tanpa anak cranky duluan πŸ’ͺ🏻πŸ’ͺ🏻πŸ’ͺ🏻 — #kids #kidsactivity #instakids #kidsoninstagram #siblings #sister #noSiblingRivalry

A post shared by Istiana Sutanti (@momopururu) on

Kenapa saya bilang seumur hidup? Karena gak sedikit kok orang dewasa yang memang punya kecemburuan terhadap saudaranya. Memang punya kecenderungan untuk berpikir, “kok dia lebih disayang sih?” atau “kenapa setiap dia yang mau selalu dituruti, sedangkan gw enggak”. Ngerasa orangtua tuh gak adiil aja. Mana suaranya yang punya saudara kandung… Bener pernah punya pikiran gini gak hayo? hehehe.

Nah, karena takut, eh lebih ke bertekad untuk menghindari sibling rivalry ini, saya dan suami selalu diskusi (inget yaa, pengasuhan itu tugas suami dan istri,Β bukan hanya tugas istri. Jadi, sebisa mungkin harus kompak dulu sama suami. Beneran harus banyak-banyakin diskusi! Dan emang gak cukup sekali dua kali juga diskusinya. Selalu harus diupgrade dan beneran harus selalu diskusi terus supaya tetap kompak sama suami dalam mendidik anak) dan ya sebisa mungkin selalu berupaya terus untuk bersikap adil, baik dari pikiran maupun tindakan. Adilnya ini kalau mau dipecah-pecah lagi menjadi:

Tidak Ada yang Selalu Benar

Jadi, kami bertindak adil dengan gak menjadikan adiknya selalu benar atau kakak harus selalu mengalah. Pokoknya ya gak ada lah kamusnya jadi kakak harus ngalah. Karena mereka sama-sama manusia, sama-sama individu yang harus disamakan hak dan kewajibannya.

Begitupun sebaliknya, bukan karena kakak yang lahir duluan, jadi bisa mentang-mentang dan bisa selalu menang, adiknya selalu mengalah, enggak. Tapi kami berusaha selalu bersikap seadil mungkin. Berusaha bisa melihat siapa yang benar siapa yang salah, bukan siapa yang seharusnya mengalah. Jadi kami berusaha untuk bersikap selalu membela yang benar dan memberi pengertian kepada yang salah.

Buat dan Jalankan Peraturan dengan Tegas

Misalnya aja dalam hal mainan, dan biasanya memang dalam hal mainan sih. Kami tidak membiasakan membeli 2 mainan yang sama agar mereka bisa bermain masing-masing. Tapi mainan yang ada boleh dimainkan bersama.

Peraturannya… yang memegang mainan itu terlebih dulu yang berhak memainkannya. Kalaupun mau main bareng, ya salah satunya harus minta ijin dengan yang sedang memainkan. Ini juga yang ditekankan di Montessori. Tujuannya agar anak yang sudah memainkan duluan merasa dihargai dan merasa punya hak untuk memilih bermain bersama atau bermain sendiri.

Kalau ternyata anaknya mau bermain bersama sih beres ya. Tapi kalau ternyata gak mau bermain bareng dan sedang ingin bermain sendiri, yang mau ikutan tadi boleh kecewa tapi tetap gak bisa memaksa untuk bisa bermain bareng. Biasanya sih saya kasih pengertian untuk menunggu yang bermain. Latihan kesabaran juga kan jadinya untuk anak yang satu. Sambil menunggu mainannya selesai dimainkan, diarahkan juga untuk bermain yang lain agar tidak bosan menunggu.

Biasanya, kalau dengan penyampaian yang tepat dan baik-baik, ya anak-anak Alhamdulillah bisa mengikuti peraturan ini πŸ™‚

Kalau Kondisi Menjadi Kacau?

Tapi kondisi begini juga pernah banget bisa kacau. Anak yang satu (misal kakaknya lagi main) gak mau diganggu dan memang inginnya bermain sendirian sampai puas dengan mainan itu. Tapi ternyata adiknya mau ikutan dan malah jadi memaksa si kakak untuk mau bermain bareng. Biasanya memaksanya jatuh ke tindakan merebut mainan yang dimainkan yaa. Nah kalau udah begini ya jelas kacau donk? Kakaknya ngerasa hak untuk bermain sendirinya gak dihargai terus ya jadi marah deh.

Biasanya sih kondisi kacau tersebut kalau dilihat lebih jauh lagi, dipengaruhi oleh kebutuhan fisik yang belum cukup terpenuhi. Maksudnya itu, kalau misal mereka sudah lapar atau sudah mengantuk. Jadi ya defaultnya sih, mereka mau saling menghargai. Karena saat si adik mau nimbrung dan gak dibolehin sama kakaknya, biasanya saya minta nunggu sambil ditawarkan untuk bermain yang lain dulu. Dan biasanya ya mau. Asal pokoknya itu, kita (orangtuanya) juga meluangkan waktu untuk ngasih pengertian serta waktu untuk main kalau-kalau adiknya justru mengajak kita untuk bermain karena kecewa gak bisa main bareng kakaknya.

Nah, kondisi mereka lapar atau mengantuk ini yang bisa mengacaukan. Karena ya jadi gak bisa diberi tindakan seperti biasa ya kan. Si adik gak bisa diminta menunggu, si kakak udah marah karena “direcokin”. Gitu gitu lah. Mungkin kejadian gini gini ya yang jadi salah satu hal yang disebut dengan “sibling rivalry”, iya gak sih? hee. Ternyata hal itu terjadi ya karena kebutuhannya belum terpenuhi. Jadi, kalau sudah terjadi hal begini, biasanya ya saya lihat, kebutuhan apa yang belum terpenuhi pada diri mereka. Saya tawarkan hal itu deh. Tawarin makan, ngemil, atau tidur.

Mendengarkan Semua Anak

Nah ini yang agak sulit. Karena terkadang keduanya sedang ingin didengar. Jadi, biasanya kalau anak 1 sedang bicara, anak lainnya mau bicara, saya minta tunggu sampai anak 1nya selesai bicara.

Tapi karena kondisi di rumah kakaknya sekolah sampai siang, jadi Nawa puas didengar sesiangan. Begitu kakaknya pulang, biasanya dia langsung bercerita tentang apapun yang dia pikirkan. Bisa kegiatan yang paling diingat di sekolah tadi, bisa juga menceritakan teman-temannya. Apapun yang mau dia ceritakan deh pokoknya kita dengarkan.

Nah adiknya juga diajak untuk ikut mendengarkan saat kakaknya bercerita deh. So far sih adiknya juga seneng-seneng aja, karena sebelumnya dia mungkin sudah puas didengar oleh saya πŸ™‚

Ke depannya, kami sih ingin membuat waktu tersendiri untuk mereka. Jadi kayak private time gitu sih untuk setiap anak. Bergiliran bisa setiap minggu saya dan kakaknya saja minggu berikutnya saya sama adiknya, dan seterusnya.

Kalau anak masih 2 sih masih bisa satu satu sama papanya ya. Kalau lebih dari 2, ya jadinya saat 1 anak punya private time sama ibunya, yang lain ya bermain bersama dengan ayahnya. Atau sebaliknya. Untuk waktunya, bisalah nanti didiskusikan lagi πŸ˜€

Tidak Membicarakan Keburukan Saudara di Depan Saudaranya

Ini yang harus dijaga juga. Apalagi anak-anak masih kecil, kita sebagai orangtua emang harus “menjaga image” anak tersebut di hadapan saudaranya.

Jadi bukan yang, “iya tuh kakak Naia gak bisa rapi tuh” saat bicara sama Nawa. Kalau misal Nawa mengingatkan kakaknya untuk merapikan mainan, ya gak masalah untk saling mengingatkan. Asal tidak kita timpali dengan “iya nih kakak Naia gak rapi banget jadi anak”, tapi kita ajak baik-baik untuk segera merapikan mainannya. Kalau memang butuh bantuan merapikan, ya saya ajak adiknya untuk ikut membantu, memberi penjelasan kalau adik sedang berbuat baik. Ini berlaku sebaliknya pokoknya ya, hehe.

Intinya ya gitu, menahan lidah untuk tidak membicarakan hal buruk kakak atau adik di hadapan saudaranya. Kalau ada kekurangan, bicarakan bersama dan jadikan pelajaran bersama πŸ™‚

Memberi Perlakuan yang Sama Saat Berada di Ruang Publik

Maksudnya, kalau kita memeluk adik, jangan lupa untuk peluk kakaknya juga. Begitupun kalau memuji adik, jangan lupa untuk memuji kakaknya juga (tanpa dibuat-buat). Pasti ada lah ya kebaikan masing-masing anak untuk dipuji tanpa dipaksakan πŸ˜€

Baca juga: Pilih-pilih Pujian ke Anak

Begitupun kalau orang lain yang memuji anak yang 1. Kami usahakan anak 1 lagi juga mendapat pujian setidaknya dari kami, orangtuanya. Dengan begitu mereka gak merasa hanya saudaranya saja yang dibanggakan πŸ˜‰


Rasanya segitu deh. Kalau ada yang mau menambahkan, share di komentar yaa!

Oh iya, kalau dengan masing-masing anak, kami juga membiasakan bilang kalau mereka disayang dan pantas kami banggakan. Hal ini untuk membangun kepercayaan diri mereka. Pastinya gak berlebihan juga yaa, dan berhati-hati agar mereka juga gak jadi sering membanggakan diri sendiri juga. Intinya ya kami sama-sama sayang sama semua. Jadi lagu sayang semua deh kalau lagi bilang sayang-sayangan gini, hihihi.

5 comments

  1. Dian Farida

    masalahku adalah, si kanak dari kecil sering banget kebutuhan primernya belum terpenuhi, terutama soal tidur . dia susar tidur hiks. Nah, semarang si adik juga mengalami hal yg sama yaitu lagi GTM. Nah lho, tiap hari ada aja berantemnya

  2. Enny Law

    ini anakku jg 2, insyaAllah jd 3. Kdg mikir aku pilih kasih gak ya, lbh sayang sm adeknya gak ya, krn pas anak pertama lahir bnyk drama bgt yg bikin aku kyk “ah udahlah” sdngkn pas adeknya aku handle smw sendiri meski repot tp bondingnya jd lbh kuat, rasanya lbh sayang. Tp ttp berusaha kalau bwt bikin mereka merasa disayang misalkan mereka berantem gk lgsg judge si kakak. Tny kondisi dulu, semuanya jg ttp kena marah, ya biar tau walau adik, dia jg bs salah gak selalu dibela.

    1. istianasutanti Post author

      kadang pemikiran “lebih sayang sama adeknya gak ya, atau lebih sayang ama kakaknya gak ya” emang perlu ya mbak. biar kita tetap aware untuk ngasih kasih sayang yang sama ke keduanya πŸ˜€

Leave a Reply to istianasutanti Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: