Anak-anak & Balita Hiking? Kenapa Enggak?

4 Replies

Family Traveler Keluarga Kid's Activity Parenting Pribadi Traveling

Iya, yuk, ajak anak-anak hiking deh. Ternyata asik lho. Emang sih udah banyak juga yang nulis manfaat hiking untuk anak-anak itu apa aja. Nanti beberapanya saya tulis juga deh di bawah ya. Tapi, selain manfaat untuk anak-anak, ternyata ya bermanfaat juga untuk kita, orangtuanya. Terutama dalam melatih kesabaran, hihihi. Plus melatih fisik juga buat orangtua, biar tetap fit ya kan 😀

Kami sendiri udah beberapa kali ngajak Naia dan Nawa untuk hiking. Ya gak ngarep Nawa (3th) udah bisa jalan sendiri pas hiking pasti sih ya. Kebanyakan masih digendong lah pokoknya buat si Nawa ini. Apalagi waktu hiking, umurnya belum 3th.

Mengajak Anak dan Balita Hiking

Tapi, berhubung judulnya emang hiking, jangan dibayangin yang ekstrim-ekstrim dulu ya kayak ke gunung manaa gitu. Enggak kok, masih latihan latihan aja, yang jalurnya gak terlalu panjang dan gak terlalu lama untuk nanjaknya, jadi anak-anak gak bosen.

Manfaat Hiking untuk Anak-anak

Nah, hasil baca beberapa artikel dan hasil pengalaman sendiri, menurut saya, beberapa poin ini lah manfaat hiking untuk anak-anak:

1. Melatih Kepercayaan Diri

Sifat anak-anak tuh emang gampang dibikin percaya diri gak sih? Setiap mereka berhasil melakukan sesuatu tuh kayanya terpancaaarr banget deh bangganya. Makanya, hiking ini jadi salah satu latihan kepercayaan diri juga, karena begitu sampai tujuan, mereka akan bangga karena udah mampu sampai puncak.

Kebanggaan itu lah jadi modal kepercayaan diri mereka. Mereka percaya mereka mampu. Mereka percaya mereka bisa. Gitu-gitu deh. Apalagi kalau sepanjang perjalanan memang yang penuh rintangan (mungkin gelap atau suasananya hutan banget). Makin bikin mereka seneng banget saat mencapai tujuan hikingnya.

2. Melatih Fisik dan Penyaluran Positif Energi Anak yang Besar

Ini iya banget lah yaa, hehe. Kita aja yang gede masih suka kecapean kan kalau hiking gitu. Namanya jalan menanjak, ya pasti bikin nafas juga jadi lebih gampang habis, makanya gampang capek.

Nah, kalau anak terlatih, mereka jadi gak gampang capek deh. Sekaligus memang jadi sarana penyaluran energi anak-anak yang gak ada habisnya sih ya, hahaha.

Makanya jadi sarana latihan fisik yang tepat banget buat anak-anak. Terus manfaatnya apa kalau fisiknya kuat? Selain kuat, kan jadi sehat karena badan jadi olahraga. Nah, harapannya jadi gak gampang sakit deh mereka, daya kekebalan tubuhnya jadi meningkat juga 😉

3. Makin Mengenal dan Menyayangi Alam

Ini juga salah satu tujuan suami saya ngajak anak-anak untuk hiking, supaya mereka ngerasain sendiri gitu enaknya berada di alam. Kita juga jadi bisa bertemu berbagai tumbuhan atau binatang.

Ya jangan sampai ke tempat yang ekstrim juga sih ya. Paling binatangnya baru macam-macam burung, seperti yang kami temui waktu menanjak ke curug Cibeureum beberapa bulan lalu. Di sana ada beberapa jenis burung yang belum pernah dilihat sama anak-anak. Walaupun gak gitu terlihat juga ya, karena udah kecil, burung-burung tersebut agak ngumpet di daerah pepohonan. xp

Atau di kesempatan lainnya, anak-anak melihat ular kecil (yang gak bahaya) melintas melewati kami saat mendaki ke curug Gitgit di Bali pada akhir 2017 lalu. Dengan pengalaman ini, mereka jadi berpikir kalau ciptaan Tuhan itu sungguh sangat beragaaammm sekali, dan harapannya mereka jadi makin mencintai alam.

Baca juga: Wisata Bali Utara Bersama Balita

Kami juga mengajarkan untuk membuang sampah pada tempat sampah yang disediakan atau menyimpan sampah sampai menemukan tempat sampah. Dengan kata lain, ya lebih “ngena” gitu ya pelajaran menjaga lingkungannya buat anak-anak dengan pengalaman langsung gini.

Anak-anak juga jadi ngeliat kalau sampah-sampah gak dibuang di tempat yang sesuai akan mengotori alam dan jadi merusak pemandangan banget (selain merusak alam itu sendiri). Jadi, hiking itu bener2 hands on banget lah untuk pelajaran mencintai alam buat anak-anak. 😉

4. Mengajarkan Perjuangan

Haha. Ini intinya mengajarkan untuk punya mindset “untuk mencapai tujuan harus diperjuangkan”. Supaya tertanam gitu di diri mereka kalau mau sesuatu ya perjuangannya gak ringan, memang berat dan memang harus diusahakan serta sabar mencapai tujuan.

Dengan beberapa kali istirahat, dengan lahan yang bermacam-macam, ada kalanya landai, ada kalanya terjal. Juga ada kalanya melewati jembatan yang agak bolong-bolong. Jadi memang harus seberjuang itu kalau mau sesuatu. Gitu lah kira-kira 😀

5. Menumbuhkan Rasa Empati

Rasa empati ini biasanya lebih terasa saat hiking ramai-ramai. Seperti bulan Desember tahun lalu, kami ikut acara Hiking Bocah (IG: hikingbocah) di bukit Katulampa, Bogor. Namanya aja hiking bocah yaa, jadi ya emang hiking yang ditujukan untuk bocah alias anak-anak.

Nah, di acara itu ya bukan cuma kita donk yang hiking, banyak keluarga lain juga. Jadi, gak semua punya kemampuan yang sama dan fisik yang sama kan untuk bisa lanjut terus sepanjang perjalanan. Jadilah saat ada yang capek, kami istirahat bersama-sama walau memang masih ada yang kuat-kuat aja kalau dilanjutkan.

Di sini deh rasa empati bisa muncul. Secara gak langsung kita jadi memikirkan keluarga atau orang lain dalam perjalanan kita supaya semuanya bisa sampai pada waktu yang bersamaan dan tidak terpencar-pencar. 🙂

6. Melatih Kesabaran

Latihan kesabaran ini adalah dengan terus berjalan walau perjalanan masih jauh. Tidak semua tempat memberi petunjuk harus berjalan berapa jauh lagi untuk mencapai tujuan. Salah satu tempat yang kerap memberi kami petunjuk berapa jauh lagi harus berjalan adalah saat mendaki sampai curug Cibeureum. Di setiap jarak 200 meter, ada petunjuk di pinggir jalan kami sudah menempuh jarak berapa jauh.

Tapi sebetulnya, petunjuk jarak yang sudah ditempuh merupakan pembangkit semangat juga sih. Kami jadi semangat dan setiap melihat petunjuk tersebut jadi berpikir “wah, udah sampai km segini, ayo kita lanjut lagi, sebentar lagi sampai” gitu-gitu. Jadi perjalanan terasa lebih bersemangat.

Petunjuk jarak di pendakian curug Cibeureum

Kalau seperti di curug Gitgit Bali atau hiking Bocah, kami tidak mengetahui persis sudah berjalan berapa jauh dan berapa lama lagi sampai tujuan. Jadi kami hanya bisa menikmati perjalanan saja sambil terus bersabar. Begitu terdengar suara air terjun, atau sudah mulai keluar dari bukit Katulampa (di hiking Bocah), kita jadi semangat lagi karena tandanya sebentar lagi sudah mencapai tujuan.


Mungkin saat awal mengajak anak-anak untuk hiking, apalagi belum terbiasa, anak memang cenderung gak mau yaa. Makanya kami memilih yang jaraknya tidak terlalu jauh dan terjangkau untuk anak seumur Naia (pertama kalinya di umur 5 th kurang) dan Nawa (di umur 2th). Dengan track yang lumayan ringan tersebut, harapannya ya cepet sampai tujuan jadi anak gak bosen-bosen banget.

Yang agak jauh dari pengalaman hiking kami ini juga baru ke curug Cibeureum yang memiliki jarak 2.8km dari pintu masuk sampai curugnya. Jadi, Naia memang sedikit bosen, apalagi Nawa. Di sini Nawa ya naik turun gendongan aja. Baru jalan sedikit dia terasa capek, jadi digendong lagi, gitu-gitu deh pokoknya.

Nah, untuk orangtuanya ini nih yang memang harus punya kesabaran yang tinggi. Jadi hiking juga hitung-hitung pelajaran kesabaran untuk orangtuanya juga. Gimana menghadapi anak yang kurang begitu suka track hiking dan gimana cara menyemangati anak-anak supaya tetap kuat dan mau untuk lanjut menanjak.

Soalnya, di curug Cibeureum ya Naia sempet nyerah dan gak mau lanjut. Senjata terakhir jadinya kami mengijinkan Naia untuk nonton Youtube begitu nanti sampai tujuan (curugnya). Jadi, dengan adanya reward gitu, Naia jadi semangat lagi untuk hiking walaupun tracknya kurang begitu disuka. Oiya, track menuju curug Cibeureum ini memang hutan-hutan dan gak ada penjual pinggir jalan, jadi memang agak membosankan untuk anak-anak, hehehe.

Begitu bener sampai curug Cibeureumnya, Naia bener nonton lumayan lama. Ya kami waktuin juga sih tetep, tapi lebih lama dari dia nonton biasanya. Begitu selesai nonton, dia langsung tertidur lelap, capek banget kayaknya menanjak sejauh 2.8km, hee. Selagi menunggu dia bangun, ya kami bersantai sambil main2 aja di curugnya. Nawa juga ikut menikmati air terjunnya (dari jauh), haha. Belum berani ikut sama saya sampai lumayan tengah, jadi dia main air di aliran-aliran kecil curugnya aja 😀

Jadi, gimana? Udah pernah ngajak anak-anak untuk hiking? Kalau belum, cobain deeh! Seru! 😀

4 comments

Leave a Reply to tri wahyuningsih Cancel reply

%d bloggers like this: