Persiapan yang Dilakukan Sebelum Umroh Dalam Kondisi Hamil

27 Replies

Pribadi Review sponsored Traveling

Alhamdulillaah Alhamdulillaaah, gak berenti berentinya ini saya bersyukur sama Allah. Gimana enggak, awal tahun 2019 kemarin, tepatnya di bulan Februari, saya akhirnya berhasil menunaikan ibadah Umroh. Padahal kondisi waktu itu saya sedang hamil anak ketiga. Awal hamil mah gak kepikiran bakal bisa dan dikabulkan untuk menunaikan ibadah Umroh sebelum anak ketiga lahir.

Cerita bagaimana Allah mengabulkan doa saya untuk bisa umroh sebelum anak ketiga dan perjuangan nabung untuk umroh ini udah pernah saya ceritakan di postingan lainnya sih, baca juga ya Umroh: Antara Doa, Tawakal, dan Usaha.

Kebetulan, eh gak ada yang kebetulan sih ya, semuanya memang sudah diatur sedemikian rupa sama Allah. Qadarullah ya, saya bisa terima informasi umroh ini di awal kehamilan untuk jadwal keberangkatan di kehamilan saya yang memasuki trimester kedua. Seketika langsung mau daftar karena ngerasa kok waktunya pas banget. Rasanya trimester kedua itu kondisi kehamilan paling kuat buat saya bepergian.

Ternyata emang bener sih, di trimester pertama tuh saya masih yang morning sick (apa afternoon sick ya kalo saya ya, soalnya lemes dan pusingnya justru di sore hari, bukan di pagi hari, hehee). Jadi ya emang segitu lemesnya kalau udah lewat jam 5 sore aja.

Terus, kalau berangkat umrohnya 2 atau 3 minggu dari saya berangkat kemarin juga udah terlalu besar dan saya udah mulai gapang kelelahan banget. Lha wong waktu kondisi terkuat aja saya masih gak sanggup menyelesaikan Sa’i ya, apalagi di kondisi yang lebih lemah lagi (saya emang ngerasa pas berangkat umroh itu adalah kondisi kehamilan terkuat saya). Pokoknya emang rencana Allah ituu indaaahh banget.

Persiapan yang Dilakukan Sebelum Umroh saat Hamil

Anw, sebelum memutuskan “yuk jadiin umroh” itu, saya banyak diskusi sama suami sih enaknya gimana. Soalnya, waktu itu ada 2 pilihan waktu di 2 agen umroh berbeda (Well yang 1 bukan agen resmi sih, tapi murni kebersamaan). Nah, itu menimbang mana rasanya yang paling pas untuk kami (saya dan suami) bisa menjalankan umroh dengan tenang. Akhirnya diputuskanlah di awal Februari, di umur kehamilan sekitar 20 minggu, awal trimester 2.

Sebenernya gak begitu banyak juga ya persiapan yang saya lakukan. Tapi mungkin bisa menjawab rasa penasaran yang ingin melakukan umroh saat hamil juga ya. Begini persiapan persiapan yang saya lakukan kemarin:

1. Fisik

Mengingat ibadah Umroh dan Haji adalah ibadah yang “fisik banget” ya istilahnya, jadi saya menjaga makanan dan selalu inget untuk minum vitamin yang diberikan oleh dokter. Untuk memastikan aja badan kita tetap sehat selama hamil dan gak gampang kecapean.

Untuk lebih amannya, perbanyak latihan jalan. Bisa jalan pagi atau ke mana lah yang memungkinkan untuk jalan banyak. Tapi kalau belum terbiasa olahraga, sebaiknya ya mulai dari yang mudah dulu. Yang penting fisik dirasa sudah siap dan cukup kuat untuk melakukan ibadah Umroh tadi.

Soalnya, salah 2 rukun umroh itu kan ada Thawaf dan Sa’i ya. Nah, 2 rukun ini yang butuh fisik yang cukup kuat. Thawaf 7x mengelilingi ka’bah dengan segitu banyaknya manusia sampai berdesak-desakan itu cukup melelahkan. Begitu pun Sa’i. Sa’i juga 7x bolak bali Shafa Marwah itu gak gampang. Qadarullah waktu itu saya gak kuat Sa’i, hanya kuat 1x bolak balik saja (sudah terhitung 2), setelah 2x jalan tersebut perut saya sudah terasa kencang tanda bayi minta istirahat, haha. Jadi sisanya saya memakai kursi roda yang bisa disewa di sana.

Pokoknya ingat saja agar jangan pernah memaksakan kondisi kita ya, alias jangan sok kuat ehehe. Namanya ibu hamil, memang lebih mudah lelah kan yaa. Tapi insyaAllah akan selalu dimudahkan kok untuk yang memang ingin menunaikan ibadah Umroh dan sudah dipanggil oleh Allah ke tanah sucinya 🙂

2.  Administrasi

Bagian persiapan administrasi ini gak terlalu banyak beda sih ya. Intinya persiapkan semua dokumen yang dibutuhkan saja. Seperti paspor, KTP, serta keterangan suntuk meningitis atau keterangan hamil untuk pembuatan visa. Kebetulan, Visa umroh kami kemarin diurus oleh travel umroh kami. Jadi, kami hanya perlu suntik meningitis ataupun bagi saya, perlu menunjukkan surat keterangan hamil.

Perbedaan yang cukup signifikan itu hanya di bagian saya gak pakai suntik meningitis. Walaupun udah browsing-browsing, gimana kalau kondisi hamil tetap suntik meningitis untuk jadi pertimbangan boleh atau tidaknya saya suntik, saya tetap ragu untuk suntik meningitis ini. Padahal ada sih beberapa yang bilang tetap boleh-boleh saja, namun dilakukan di trimester ketiga.

Akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukan suntik meningitis ini karena tidak disarankan oleh dokter obgyn saya. Tapi untuk memenuhi persyaratan pembuatan visa umroh, dokter Obgyn mengeluarkan surat keterangan hamil dan menyatakan siap melakukan perjalanan lama menggunakan pesawat, untuk menggantikan kartu kuning tanda vaksin meningitis.

Setelah surat keterangan tersebut dibuat, kita tinggal berikan kepada travel umroh untuk segera diurus visanya. Nantinya akan dikembalikan lagi sih ke kita bersama paspor. Surat keterangan ini juga harus selalu dibawa agar bisa selalu ditunjukkan kepada petugas bandara.

Oiya, yang perlu diingaat, setiap sebelum berangkat, saat di bandara keberangkatan, baik bandara Soekarno Hatta, King Abdul Aziz, ataupun bandara transit, ibu hamil harus melaporkan kondisinya terlebih dahulu dan menunjukkan surat keterangan dokter Obgyn yang sebelumnya dibuat itu kepada petugas bandara.

Karena, melalui laporan kita ke petugas bandara, nantinya kita akan diberikan surat keterangan lain dari bandara setempat yang menyatakan kita hamil dan surat tersebut nantinya akan diberikan ke petugas yang berada di pesawat. Jadi, memang prosedurnya begitu untuk menginformasikan kalau dalam pesawat yang akan berangkat terdapat ibu hamilnya. Makanya, jangan lupa untuk selalu memberitahukan kondisi kita ya 😉

3.  Perlengkapan

Untuk perlengkapan, saya tidak membawa terlalu banyak barang sih. Cukup beberapa pasang pakaian untuk seminggu di sana, peralatan beribadah, botol minum, plus toiletries. Yang harus selalu ada adalah Vaseline atau pelembab, karena di sana itu udara sungguh kering, sehingga bisa menyebabkan kulit kita bisa terkelupas, bahkan gatal. Gatalnya ini bisa menyebabkan kita sampai gak berhenti menggaruk soalnya, gak berhenti sampai terkadang kita gak sadar kalau kulitnya jadi berdarah. Ada beberapa jamaah dalam rombongan saya yang kulitnya sampai berdarah karena menggaruk bagian kulit yang gatal ini. Jadi, pelembab ini benar2 harus selalu dibawa dan jangan sampai terlupa ya! Kalau lupa, bisa sih dibeli di sana langsung, tapi saya gak terlalu tau, harganya akan lebih mahal atau lebih murah dibanding dipersiapkan dari sini J

Pakaian sendiri harus memerhatikan cuaca di Jeddah dan Madinah saat kita akan berangkat umroh ya. Maksudnya, apakah sedang musim dingin atau musim panas. Karena akan mempengaruhi apa yang akan dibawa kan.

Kebetulan, waktu itu saya berangkat saat musim dingin sudah akan selesai, tapi ya tetap saja dingin, makanya membawa banyak pakaian panjang dan jaket. Suhu rata-rata waktu saya umroh kemarin itu berkisar di 16-29 derajat celcius, jadi memang akan terasa dingin. Siang memang cukup panas tapi tidak terlalu menyengat.

Kalau bulan-bulan seperti sekarang (Oktober-November), rasanya di sana akan lumayan panas, jadi sebaiknya pilih pakaian yang menyerap keringat, tipis namun tidak tembus pandang, juga yang nyaman agar ibadah kita maksimal. Bener lho, pakaian lumayan mempengaruhi. Pakaian yang gak nyaman akan mengganggu ibadah kita 🙁

4.  Keluarga

Berhubung saya dan suami berangkat umroh dalam kondisi saya hamil, jadi kami memutuskan untuk gak membawa anak-anak bersama kami. Mau sih umroh bersama anak-anak, tapi mengingat kondisi saya yang mudah lelah, rasanya akan lebih khidmat dan lebih baik tidak membawa anak serta.

Jadi, kami mempercayakan anak-anak untuk dititip di rumah neneknya dan untuk dipercayakan kepada keponakan dan kakak saya yang Alhamdulillah sudah cukup dekat juga sama anak-anak. Jadi gak ada hambatan berarti.

Selama anak-anak dititipkan juga Alhamdulillah mau mengikuti aturan yang ada dari kakak dan keponakan, jadi selama seminggu lebih kami tinggal untuk Umroh, mereka terbilang cukup bisa diatur 🙂

5.  Komunikasi

Karena ini pertama kalinya banget kami pergi berdua tanpa anak-anak dalam waktu lama, sampai seminggu lebih ya kan. Biasanya pergi tanpa anak ya belum pernah banget yang pakai menginap dan ya paling lama hanya beberapa jam. Kalau umroh ini kan beda, seminggu lebih kami nanti gak akan bertemu anak-anak, jadinya sebelum berangkat kami memikirkan banget gimana persiapan meninggalkan 2 anak gitu.

Mulai dari memberi penjelasan lengkap kepada orang yang dititipi gimana jadwal anak sehari- hari sampai gimana cara kami nantinya berhubungan dengan mereka. Alhamdulillah banget ya jaman sekarang udah tinggal video call kalau kangen, kirim gambar untuk update, dan terkoneksi bisa 24 jam sehari. Walau terdapat perbedaan waktu, asalkan koneksinya lancar, insyaAllah gak akan jadi masalah

Nah, mikirin koneksi ini nih. Gimana caranya biar bisa terus lancar selama umroh? Ya supaya itu tadi ya, supaya kami jadi bisa lancar berhubungan dengan anak dan keluarga lainnya di Indonesia. Berhubung saya dan suami sesama pengguna XL, ya langsung lah cari-cari Paket Umroh & Haji XL yang sesuai dengan kebutuhan kami.

Walaupun di hotel nantinya selalu tersedia wifi, tapi kan gak 24 jam juga kita di hotel. Ya masa udah sampai Mekkah kita hanya berdiam di hotel, kan enggak. Makanya bener-bener langsung kepikiran untuk membeli Paket Umroh & Haji XL yang paling pas aja. Mulai 149ribu aja kita sudah bisa mendapatkan paket yang sesuai dengan kebutuhan kita nanti soalnya.

Sebenernya yang lebih gencar dalam mempersiapkan masalah komunikasi ini sih suami, jadi dia deh yang lebih dulu membeli Paket Umroh & Haji XL lewat Traveloka. Begitu berhasil dibeli, baru merekomendasikan saya untuk pakai yang sama. Bukan hanya merekomendasikan sih, suami justru yang membelikan sampai mengaktifkannya di hp saya juga, ahaha. Saya jadi tinggal terima beres xp

Pembelian Paket Umroh & Haji XL ini gak yang besok diaktivasi hari ini baru beli ya. Tapi, bisa banget beli sejak beberapa hari sebelumnya, untuk penggunaan di tanggal yang sudah ditetapkan. Asal, harus diaktivasi sebelum pengunaan di tanggal yang diinginkan tadi.

Setelah diaktivasi, cuma nunggu beberapa menit juga kok untuk akhirnya Paket Umroh & Haji XL kami betul-betul aktif dan bisa digunakan. Alhamdulillaah, begitu sampai tanah suci, kami bisa langsung menggunakan internet tanpa kendala berarti karena sudah diaktifkan sebelumnya. Bahkan, kami juga merekomendasikan kepada jemaah lainnya untuk membeli Paket Umroh & Haji XL yang kami pakai, hehe.

Pembelian Paket Umroh& Haji XL sendiri juga bukan hanya bisa melalui 1 channel saja ya. Karena, paket ini bisa dibeli langsung ataupun melalui pihak ketiga seperti Traveloka, Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Blibli, Kaskus, JD.ID, Sepulsa, dan Ayopop Apps.

Untuk pembelian langsung, bisa dengan hanya menekan *123*747# atau melalui aplikasi myXL. Lebih lengkapnya, kira2 begini cara daftar Paket Umroh & Haji XL

1. Sebelum berangkat: Aktifkan paket Umroh & Haji dengan menekan *123*747# atau buka aplikasi myXL di ponselmu kemudian pilih paket yang sesuai dengan kebutuhanmu.
2. Saat kedatangan: Saat tiba di negara tujuan, kamu cukup memastikan layanan data roaming di ponsel dalam keadaan aktif.
3. Cek penggunaan paket: Tekan *123*747# atau buka aplikasi myXL di ponselmu untuk mendapatkan informasi terkait penggunaan data roaming selama di luar negeri.

Paket Umroh & Haji XL yang kami pilih aktif selama 10 hari, cocok untuk kami yang waktu itu umroh dengan total waktu 9 hari. Tapi walau begitu, Paket Umroh & Haji XL yang seharusnya bisa digunakan untuk 10 hari, batas pemakaian wajar kami habis selama sekitar 8 hari saja, ahaha. Soalnya lumayan sering berhubungan dengan anak, juga lumayan sering berhubungan selama di sana juga dengan suami serta rombongan umroh kami.

Saat batas pemakaian kuota wajar ini habis, sebenarnya kami tetap bisa menggunakan internet tanpa tambahan biaya, hanya saja jadi jauuuuhhh lebih lambat ya, hehe. Makanya bisa membeli tambahan kuota lagi, atau Paket Umroh & Haji XL yang baru lagi, tinggal pilih enaknya yang mana. Kalau memutuskan untuk membeli yang baru lagi, nantinya masa berlaku juga akan jadi lebih lama. Hal ini sudah tertera lho di Syarat dan Ketentuan sebelum memutuskan membeli Paket Umroh & Haji XL.

Syarat & Ketentuan Paket Umroh & Haji XL

  1. Layanan Internet & Blackberry harian dapat langsung digunakan tanpa melakukan aktivasi terlebih dahulu
  2. Pelanggan HARUS melakukan aktivasi Paket Umroh & Haji terlebih dahulu sebelum menggunakannya
  3. Harga Paket Umroh & Haji sudah termasuk PPN 10%
  4. Pelanggan dapat membeli lebih dari satu Paket Umroh & Haji, adapun kuota akan diakumulasi dari masa berlaku dihitung yang paling lama
  5. Tekan *123*747# atau buka aplikasi myXL untuk melakukan aktivasi, cek paket, dan cek kuota Paket Umroh & Haji
  6. Saldo akan dipotong langsung setelah aktivasi berhasil dan masa aktif paket akan dihitung setelah pelanggan tiba di Arab Saudi (Loc-up)
  7. Pelanggan akan kembali ke tarif dasar ketika bonus kuota telepon dan SMS atau masa berlaku paket telah habis
  8. Setelah kuota batas pemakaian wajar habis, maka pelanggan tetap dapat menggunakan internet sampai dengan masa aktif kuota berakhir tanpa biaya tambahan.

So far, kami cukup puas dengan Paket Umroh & Haji XL yang kami gunakan selama di sana. Bisa dikatakan karena XL, semua #JADIBISA ibadah dan komunikasi lancar, Alhamdulillaah. Ya hanya saja, ternyata kami seharusnya membeli Paket Umroh & Haji XL yang lebih besar batas kuotanya agar bisa lebih bebas dan tidak terjadi penurunan kecepatan internet saat pemakaian batas kuota wajarnya habis ya, hehe.

Jadi, untuk bisa memutuskan mau membeli Paket Umroh & Haji XL yang mana saat akan umroh atau naik haji, sesuaikan lagi dengan kebutuhan kita apa nantinya. Kalau tidak begitu banyak berhubungan dengan keluarga di Indonesia alias hanya sesekali, mungkin bisa pakai di paket seharga 149ribu tadi ya. Tapi kalau mau sampai puaaasss pemakaiannya, ya pilih Paket Umroh & Haji XL dengan harga di atas itu. Beberapa paketnya bisa dilihat langsung di sini ya. Untuk cara aktivasi paketnya bisa dilihat di halaman penjelasan ini.

Aahh, kembali menceritakan persiapan umroh begini bikin kangeeenn banget mau ke sana lagi. Ternyata memang betul ya yang dibilang sebagian besar orang. Kalau sudah pernah merasakan menginjak tanah suci Mekkah, pasti akan selalu rindu dan rasanya ingin sering mengunjunginya.

Semogaa saya dan yang membaca ini bisa dimudahkan dan disegerakan untuk melaksanakan ibadah haji ya. 😉 Aamiin-kan hayuk 😀

27 comments

  1. omnduut

    Aku cowok, yang lagi gak hamil (walau perut maju errr) aja butuh banget fisik yang oke buat umroh. Gak kebayang di posisi mbak 🙂 salut. Alhamdulillah ibadahnya lancar ya.

  2. CREAMENO

    Detail sekali infonya mba 😀 alhamdulillah juga dengan persiapan yang matang, ibadah umroh mba bisa berjalan lancar. Semoga one day bisa kembali ke tanah suci bersama anak-anak tercinta ya mba 🙂

  3. Movierall Official

    Wah, saya jadi pengen juga nih kesana kalo dipamerin umroh kayak begini, semoga bisa segera nyusul juga ke Tanah Suci, Aamiin

  4. dianisekaring

    Subhanallah, hebat banget Mbak bisa umrah dalam keadaan hamil. Dulu waktu aku hamil, jalan kaki di mall saja sudah pusing, apalagi menjalankan ritual ibadah umroh. Semoga bisa segera kembali ke sana.

    1. istianasutanti Post author

      Makanya itu akhirnya sewa kursi roda juga mbak, ahaha. perut udah kenceng2 jadi gak bisa lanjut 😀

      Aamiiin, semoga bisa kembali ke sana untuk Hajiii ya Allaaahh 😀

      1. Hani

        Alhamdulillah, ikut seneng bacanya. Ibadah lancar, debaynya pun sehat saja. Memang kalau Allah swt udh berkehendak, semua terkabul yah…
        Artikelnya lengkap smp sa’ komunikasinya ada. Sip…

  5. Vicky Laurentina

    Jadi begini ya rasanya umroh dalam keadaan hamil. Cukup riskan karena tidak bisa suntik meningitis. Tapi sepertinya Mbak Istiana dan janinnya sehat-sehat saja, kan? Semoga nanti saya bisa umroh seperti Mbak Istiana juga ya 🙂

  6. Fery Arifian

    alhamdulillah ya mbak kalau berangkat dan sampai pulang masih dalam keadaan sehat apalagi posisi lagi hamil. kira-kira kalau misalkan perjalanan selama ke sana apakah ada privileges tertentu di tempat umum khususnya buat ibu hamil?

    1. istianasutanti Post author

      Hmm.. apa ya, waktu itu gak ngerasa dibedain banget sih mas. karena perut juga belum terlalu terlihat kalau hamil, jadi ya kalau gak dikasih tau, orang juga gak akan tau saya hamil. Masih takut ngirain emang gendut aja gitu, hahaha.

      Soalnya emang baru banget masuk trimester kedua, jadi belum terlalu kelihatan 🙂

  7. Dedew

    Aku sedang hamil anak kedua pas umrah, dan ajaibnya aku nggak tahu sedang hamil pas daftar umrah, jadi disuntik meningitis. Alhamdulillah, tadinya ada sesuatu yang dicurigai dokter pas kontrol setelah pulang umrah, ternyata sehat semuanya kalau ingat takuut..

  8. Nailah

    Iya kalau sedang hamil dan umrah memang persiapannya kudu lebih ekstra ya, pakai kursi roda biar nggak kelelahan dan siapkan obat serta ransum yang cukup

  9. dgoreinnamah

    Saya juga orang yang tidak percaya dengan kebetulan. Semuanya sudah digariskan. Pun saya tidak percaya dengan istialh dimudahkan, tapi lebih ke dimampukan atau dikuatkan.
    Senang bisa dengar mbak menjalankan ibadah di sana dan kembali dengan selamat. Semoga bisa jadi insporasi buat wanita lain yang sedang hamil tapi ingin berangkat umroh juga 😊

  10. Nunung Yuni Anggraeni

    Waah Mbak hebat banget bisa umroh dalam keadaan hamil. Pasti persiapan fisiknya prima banget ya Meski akhirnya harus di terusin pakai kursi roda. Aku salut sama Mbak dan suami bisa umroh dan mengkondisikan meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Cara kasih pengertian ke mereka itu loh.

Leave a Reply

%d bloggers like this: