Mencontoh Rasulullah Dalam Berkomunikasi

1 Reply

Family Life Keluarga

Tau gak sih kalau Allah itu emang sesempurna itu dalam memberi arahan hidup kepada kita. Gak cuma tuntunan secara tertulis berupa Al Qur’an, tapi juga tuntunan dalam bentuk sosok, yaitu Rasulullah.

Biasanya kalau berkomunikasi sama pasangan (atau anak malah) kita itu nyari ilmu ke mana-mana, padahal gak usah jauh-jauh pun bisa ketemu, dengan mencari tau cara komunikasinya Rasulullah. Memang gimana cara komunikasinya Rasulullah?

Bicara perlahan

"Rasulullah tidaklah berbicara seperti yang biasa kamu lakukan (yaitu berbicara dengan nada cepat).  Namun, beliau berbicara dengan nada perlahan dan perkataan yang jelas dan terang lagi mudah dihafal oleh orang yang mendengarnya.” (HR Abu Dawud)

Sering denger juga donk kalau sebagai orangtua, ngomong sama anak tuh emang gak bisa buru-buru atau dengan teriakan, gak akan nyampe pesannya apalagi didengar oleh anak (atau pasangan). Jadi ya memang HARUS bicara perlahan dengan orang yang kita ajak komunikasi. 

Hal ini memang easy to say hard to do kok, apalagi kalau anak-anak udah bergerak dan bicaraaa terus menerus juga. Atau anak sedang tantrum (ini sih belum bisa diajak komunikasi ya, hee. Tapi ditenangkan dulu tantrumnya, diselesaikan dulu emosinya). Kadang kita emang gak bisa bicara perlahan saat lagi marah atau sebel. Atau saat lagi terburu-buru, susah lah emang.

Susah bukan berarti tidak bisa donk. PASTI bisa, hanya perlu kesabaran ekstra dan latihan yang ekstra juga. 

Iya, latihan. Semua hal tuh emang BUTUH latihan kok, termasuk bicara perlahan ini. Kalau belum terbiasa, awalnya mungkin agak kagok, tapi lama kelamaan, kita BISA bicara perlahan bahkan saat kita marah sekalipun. Saat latihan terus menerus dan sering mengalami kondisi emosi yang sama, kita bisa SELALU menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

Kuncinya tuh ya, beri jeda sebelum merespon. Jadi, kita bisa merespon dengan tepat dan bisa membiasakan bicara perlahan agar pesan yang kita sampaikan bisa diterima. Kalau sambil teriak, gak akan pernah bisa nyampe ke anak atau pasangan. Yang ada, kita hanya mengaktifkan defense mechanism nya mereka saja. Yang ada, anak atau pasangan akan langsung menutup pendengaran dan fokus di pembelaan diri. 5

Bicara terstruktur.

"Tutur kata Rasulullah terstruktur, untaian demi untaian kalimat tersusun dengan rapi, sehingga mudah dipahami oleh orang yang mendengarkannya" (HR Abu Dawud). 

Nah, bicaranya Rasulullah itu terstruktur, jadi mudah dipahami. Dan lagi-lagi ini butuh latihan. Gak gampang kan untuk bisa ngomong secara terstruktur tuh?

Jangankan ngomong, nulis aja suka susah yaa, padahal bisa dihapus dan diperbaiki. Kalau ngomong, lebih susah untuk diperbaiki, karena sekali sudah keluar ya gak akan bisa kembali kan omongan itu?

Jadi, memang HARUS belajar terus untuk bisa bicara secara lebih terstruktur. Diasah terus, latihan terus. Kalau perlu ya rajin-rajin ditulis dulu apa yang mau dibicarakan.

Makanya kalau marah, aku biasanya nulis aja di note bersama biar suami juga bisa baca. Soalnya kalau lewat omongan, ya gitu, omongannya jadi bleber ke mana-mana, gak bisa terstruktur lagi, pesan yang ingin disampaikan malah gak nyampe.

Mengulang perkataannya

Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu mengatakan: "Rasulullah sering mengulangi perkataannya tiga kali agar dapat dipahami" (HR Al. Bukhari). 

Jangan suka sebel kalau pasangan mengingatkan berkali-kali yaa, Rasulullah aja memang suka mengulang perkataannya kok itu. Minimal tiga kali agar dipahami. Tiga kali cuy! Gak cukup sekali emang menyampaikan pesan tuh.

Jadi ya jangan baper kalau baru sekali ngasih tau anak, anaknya belum mau mengikuti. Ya karena anak memang BUTUH PENGULANGAN! Anak juga butuh diberi tau berulang kali secara baik-baik.

Jangankan anak, pasangan (bahkan diri kita sendiri) juga butuh pengulangan kok. Inget gk kalau belajar? Pasti kita ulang ulang terus supaya nempel kan itu pelajarannya? Nah, sama deh sama komunikasi. Emang harus diulang supaya nempel di lawan bicara.

Jadi, ya memang gak boleh capek untuk mengulang pesan supaya pesannya nyampek. Memang mesti sabar agar kita bisa didengar yaa. 🙂 

1 comment

  1. ikhwanalim

    Sip, deh. Secara kecepatan, jangan terlampau cepat. Secara volume, asal kedengaran aja, jangan kelewat keras. Lalu bicara harus terstruktur (standard kali ya, sama orang dewasa lain juga kudu gitu). Sama mengulang-ulangi mesej dari maksud perkataan kita.

Leave a Reply

%d bloggers like this: