Category Archives: Keluarga

Wisata Bandung (sekaligus) Bulan Madu Penuh Kenangan

Keluarga Lomba Blog Pribadi

Saya dan suami menikah hampir 2 tahun yang lalu ~waah, udah hampir 2 tahun ternyatah, Alhamdulillaah~, lebih tepatnya tanggal 26 Juni 2011.

Nah, sebelum menikah itu kita selalu ngobrolin semua persiapan pernikahan sampai rencana bulan madu juga, hihi. Tadinya sih saya berniat bulan madu yang agak jauh, kemanaa kek gitu, gak di Jakarta atau Depok aja. Etapi untung direm sama suami, soalnya dana yang dipake buat jalan2 jauh itu lumayan banget buat kebutuhan setelah menikah nanti, dan ternyata ya emang bener.

Jadilah akhirnya kita ke Bandung saja yang murmer. Iya, murmer alias murah meriah, soalnya suami niat banget wisata Bandung sampe nyari-nyari harga hotel yang lumayan murah tapi baguss. Dapetlah salah satu hotel di Bandung yang enak.

Nah, mulai deh ngelist tempat-tempat yang mau kita kunjungi. Terpilihlah Situ Patenggang, Tangkuban Perahu, sama pemandian air panas Ciater.

Jadi, rencananya di tanggal 26 Juni itu sore harinya tepat setelah menikah kita langsung melenggang ke Bandung, minjem mobil om suami yang kebetulan memang tinggal di Bandung. Besok paginya, yaitu tanggal 27 Juni pagi, rencananya kita langsung meluncur ke Situ Patenggang terus lanjut sore hari ke Tangkuban perahu ~apa kebalik yah, Tangkuban Perahu dulu baru Situ Patenggang, lupa sayah~. Yang jelas, hari itu rencana kita adalah berhasil mengunjungi 2 tempat itu.

Nah, keesokan harinya lagi, tanggal 28 Juni 2011, kita berencana checkout hotel langsung menuju ke pemandian air panas Ciater baru pulang deh. Ngembaliin mobil dulu tapinya, terus kita naik travel ke Jakarta sekitar jam 7 malam. Kita merencanakan wisata Bandung ini muluss banget deh, dan waktu itu harapannya mudah-mudahan berjalan semulus itu juga.

Eh, di awal bulan Juni saya liat iklan TV kalau trans studio Bandung baru akan dibuka untuk umum tanggal 18 Juni 2011. Dengan semangat menggebu-gebu saya beritau (yang saat itu masih) calon suami tentang ide penggantian wisata Bandung hari pertama kita (tanggal 27 Juni) jadi ke trans studio Bandung aja. Etapi direm lagi karena itu nafsu sesaat, padahal saya pengen banget, huhu

trans-studio-bandung

Trans Studio Bandung

sumber gambar

Jadi, pemikirannya, karena saat itu trans studio Bandung baru banget dibuka untuk umum plus jaman liburan sekolah juga, pastilah trans studio Bandung bakal penuh sesak oleh pengunjung. Dan yang tadinya mau seneng-seneng yang ada nanti kita malah sebel ~karena cuma bisa menikmati sedikit permainan~ dan capek, hehe.

Yaudah, itung-itung latihan jadi istri yang nurut sama suami, gagal deh ke trans studio Bandung waktu itu. Dan masih belum terlaksana juga sampe sekarang padahal masih kepengeeen, hoee.

Tibalah hari pernikahan yang dinanti-nanti. Dan, sesuai rencana, tepat setelah menikah, langsuuung saja kita meluncur ke Bandung. Kira-kira berangkat setelah ashar dari Jakarta dan setiba di Bandung langsung check in di hotel yang dituju. Sip, okee. Malam hari itu kita kecapekan, jadi istirahat lah langsung biar besok paginya bisa fit buat jalan-jalan.

Begitu keesokan harinya setelah sarapan. Eng ing eeeng, kita masih keenakan berdua ngobrolin masa depan dan ngobrolin gimana kehidupan kita selanjutnya, ahaha. Seakan-akan kita gak punya rencana kemana-mana dah -_-. Gagal deh ke Situ Patenggang dan Tangkuban Perahu. Begitu sadar waktu cepet banget berlalu, malam harinya kita manfaatkan untuk dinner aja jadinya. Lumayaan, dinnernya romantis, hehe.

dinner-romantis

Dinner Romantis

sumber gambar

Oke, gak seromantis itu juga sih 😛

Setelah sholat maghrib, langsung keluar cari tempat makan yang kira-kira enak sambil nyari oleh-oleh. Nyari oleh-olehnya malem hari ini karena besok siang udah berniat meluncur ke Ciater. Kali ini gak boleh gagal lagi, hehehe.

Naah, besoknyaa, lagi-lagi setelah sarapan kita malah asik narsis di kamar hotel, hahaha. Foto-fotonya pernah saya upload di blog ini, judulnya newly wed, hihihi. Walhasil baru check out itu benar-benar di waktu yang mepeet banget sama limit checkout, jam 12. Nah, kita tetap doonk meluncur ke Ciater, yeay.

Tapiii…ternyataaa, jalanan macettt sodara-sodaraa, hahaha. Dengan terjebak macet begitu, akhirnya sampai sana jam 4 lewat sore hari. Yaudah, langsung ke tempat pemandian yang kita incar.

Macet

Macet

sumber gambar

Daan, ternyata lagiii, puenuuuuuh, huhuhu. Yaudah, akhirnya karena takut ketinggalan travel yang jam 7 malam, kita akhirnya cuma numpang makan berhubung belum makan siang dan numpang mandi aja di kamar mandi umum, huhuhu. Pake air dingin pulak, nasiib, nasib 😛

Belum berhenti sampai di sini. Setelah tadi langsung beranjak dari Ciater menuju tempat perjanjian dengan sepupu, ternyata tidak terkejar sampai tempat travel di jam yang telah dijadwalkan tadi. Walhasil kita berdua ketinggalan travel yang jam 7, hiks. Yaudah, mau gak mau ya naik travel selanjutnya. Jam 9 atau 10 malam kalau tidak salah, huhuhu.

Komplit dah, pertama gagal ke trans studio Bandung biar bisa ke Situ Patenggang dan Tangkuban Perahu. Kedua, gagal ke Situ Patenggang juga akhirnya. Ketiga, gagal jugaaa ke Tangkuban Perahu. Keempat, walaupun jadi ke Ciater, tapi gagal menikmati pemandian air panasnya. Kelimaa, ketinggalan travel, hiks.

Jadi, pelajarannya adalah: 1. Kalau mau bulan madu lebih baik tidak langsung berangkat di hari yang sama dengan hari pernikahan, capeeek bok. 2. Mendingan ikut tour aja deh, soalnya ada potensi gagal gitu kalau direncanakan sendiri, kecuali keduanya emang orang yang sangat-sangat menepati jadwal.

Benar-benar bulan madu penuh kenangan, haha. Bukan kenangan sedih, tapi lucu. Rencana wisata Bandung gagal karena keasikan santai berdua dan karena kecapekan 😀 Kalau ingat bulan madu itu, kita berdua pasti ketawa lagi, hehehe.

Dan untuk anniversary yang kedua nanti kita sih sudah merencanakan mau jalan-jalan lagi, mungkin ke Bandung lagi, melaksanakan wisata Bandung yang dulu tidak terlaksana, hehehe. Sukur-sukur kalau menang lomba blog ini. Kita jadi bisa merayakan ulang tahun pernikahan dengan jauh lebih spesial lagi dan akhirnya keinginan saya ke trans studio Bandung juga bisa terlaksana, Aamiin 😀

Published by:

Suami yang “Family Man”

Keluarga Pribadi

Oke, setiap kali saya merasakan sesuatu mengenai keluarga saya ~maksudnya tidak begitu bersyukur~, saya selalu langsung ditunjukkan bahwa masih banyak orang lain yang kehidupannya tidak lebih baik dari saya, bahkan mungkin keadaan saya jauh lebih baik darinya. Dan hal itu selalu berhasil membuat saya mensyukuri, bahkan lebih menghargai kembali apa yang saya punya.

Yang paling baru sih, saya itu orangnya gak sabaran kalau melihat suami tidur terus. Saya jadi orang yang memusuhi tidur kalau melihat dia begitu. Walhasil, saya kesal dan jadi kurang bersyukur punya suami seperti dia.

Nah, dalam keadaan saya yang begitu, saya langsung ditunjukkan kalau suami saya punya banyak kelebihan. Yaah, kelebihan itu juga jadi terlihat karena ditunjukkan olehNya lewat orang lain yang tidak merasakan itu. Contohnya, dia rela pulang siang demi menggantikan saya mengurus Naia ketika saya sedang sakit dan benar-benar tidak beranjak dari tempat tidur. Bahkan, keesokan harinya dia bolos kerja karena saya masih belum sembuh.

Pada waktu saya terkena baby blues, dia juga rela gak masuk kerja demi menemani saya di rumah mertua dan menenangkan diri saya. Keesokannya selama di kantor dia gak lupa menanyakan kabar, entah lewat sms, chatting, atau telpon. Dan sepulangnya dari kantor, dia memberikan kejutan yang membuat baby blues kemudian hilang. Huaah, yang ini benar-benar tidak terlupakan.

Hal lain lagi. Setiap pagi dia selalu mau memandikan Naia karena saya sedang masak untuk sarapan dan bekal makan siangnya nanti. Pokoknya itu sudah menjadi jadwal harian. Naia mandi pagi dimandikan papa, mandi sore sama mama. Nah, gak semua keluarga bisa seperti itu kan? Makanya, kalau saya rasakan lagi, itu benar-benar suatu kelebihan  yang dia punya dan saya harusnya mensyukuri banget nikmat itu.

Atau, kalau pagi hari saya sibuk mencuci, dia menggantikan saya untuk masak. Tapi gantian saya yang memandikan Naia jadinya. Hehehe 😀

Kalau malam hari saya terlalu lelah tapi Naia masih belum tidur, dia yang menggantikan saya memberi Naia makan plus mengajak bermain Naia sampai Naia tertidur.

Walaupun kita tidak memiliki “mba” untuk membantu, tapi dia sudah sangat meringankan beban saya dalam mengurus rumah dan Naia.

Alhamdulillah juga suami kerja di tempat yang agak bebas. Maksudnya bebas adalah waktunya gak terlalu ketat dan bisa ijin dengan mudah. Alhamdulillaaah banget. Lagipula tempatnya juga dekat dengan rumah kontrakan kami, 15 menit naik sepeda lah. Iya, suami juga naik sepeda kalau ke kantor, bike to work lah. Lumayan ngirit ongkos, hihihi.

See, apalagi coba yang gak bisa saya syukuri? Sangat perhatian dengan keluarga, perhatian juga sama saya, sangat menghargai komunikasi, menghargai hubungan juga, dan jarak kantornya juga dekat. Dan saya kesal hanya karena tidurnya yang lama? Tidak melihat berjuta kelebihannya dan hanya fokus kepada 1 kekurangannya? huah, durhaka sekali saya sebagai istri, ckckck.

Sekali lagi, terima kasiiih Muhammad Ilman Akbar telah menjadi suami yang “family man” banget, hehehe. Maafkan saya ya kalau saya terkadang gak mensyukuri itu, maaaaf banget 😀

Published by:

Biaya-biaya Pasca Melahirkan

Keluarga

Setelah melahirkan udah gak mikirin biaya-biaya kesehatan lagi? Salah. Justru setelah melahirkan masih banyak lagi rentetan biaya kesehatan yang perlu kita penuhi, terutama untuk si kecil atau untuk biaya Keluarga Berencana 😀

Untuk saya, setelah melahirkan, si Naia selalu imunisasi di dokter anak yang disediakan dari rs. JMC dari dia lahir. Jadi, kita dateng sesuai jadwal imunisasi, pas Naia sakit juga sih. Iya, Naia juga pernah sakit kok, dan udah 2x ke dokter untuk periksa sakitnya itu. Alhamdulillahnya gak pernah yang parah banget, Alhamdulillaaaah.

jadwal Imunisasi

jadwal Imunisasi

Buat biaya imunisasi Naia, biasanya berkisar antara 200ribu sampai 500ribu sekali imunisasi. Yang mahal itu karena sekali berkunjung, Naia bisa melakukan lebih dari 1 imunisasi. Ya kayak imunisasi polio plus imunisasi DPT. Selain itu, sekarang ada imunisasi yang emang 2in1 atau 5in1. Pernah si Naia imunisasi DPT sekaligus Hib dalam 1x imunisasi dan dalam 1 vaksin. Biasanya vaksin kaya gitu emang lebih mahal.

Eh iya, imunisasi sih di posyandu juga bisa yaa, tapi saya lupa kenapa saya gak kepikiran itu, hehe.

Saya sendiri juga gak lepas dari perawatan-perawatan. Bukan perawatan kecantikan loh ya, itu beda lagi #ups. Tapii, saya kan kemarin lahiran caesar, jadi 2 atau 3 bulan setelah melahirkan kemarin, saya langsung KB, untuk memberi jarak untuk anak. KB yang saya pakai adalah KB spiral. Kebetulan yang saya pakai ini Nova-T. Biaya KB ini sendiri sampai 700ribu, ini termasuk biaya konsultasi dokter dan pemasangan juga.

IUD

IUD

Setelah pemasangan juga harus rajin-rajin kontrol. Awalnya 1 minggu, lalu 2 minggu, setelah itu 1 bulan, terus 3 bulan, akhirnya 6 bulan sekali kontrolnya. Ini untuk ngecek kondisi si spiral aja, masih baguskah atau enggak. Alhamdulillah selama kontrol masih baik-baik saja.

Belum lagi biaya-biaya kebutuhannya Naia. Yaa nambah 1 anggota keluarga nambah kebutuhan donk yaa? Ah, tapi ini beda lagi sih, kan saya ngomonginnya dari segi kesehatannya. Oke, yang ini skip aja. Pastinya sebelum punya anak sudah berpikir ke sini: nambah 1 anggota keluarga, nambah biaya 😀

Jadi, setelah melahirkan jangan langsung berpikir kalau “sudah bereees, gak ada biaya lagiii”, Jangan!!! hahaha. Iya, saya gak bikin asik, tapi saya cuma mengingatkan kalau masih akan ada lagi biaya-biaya lainnya setelah melahirkan 😉

Published by:

Arti Tolong, Terima Kasih, dan Maaf

Keluarga Pribadi

Buat saya kata tolong, terima kasih, dan maaf itu sangat penting. Iya donk penting, gimana enggak? Itu semua menunjukkan kalau kita menghargai orang lain. Setidaknya orang yang merasa sendirian akan merasa dirinya dianggap dan bermanfaat oleh orang lain dengan kata sederhana seperti itu.

Apalagi dalam komunikasi sebagai pasangan. 3 kata itu benar-benar harus sering ada.

Kata tolong contohnya. Walaupun kita hanya butuh ~misalnya~ diambilkan minum oleh pasangan disaat kita sendiri sedang repot, kata tolong tetap harus ada. Pasangan akan merasa dibutuhkan dengan kata tolong ini. Setiap orang senang merasa dibutuhkan kan? Saya sih begitu, hehe.

Terima kasih diucapkan ketika melihat pasangan melakukan sesuatu, baik untuk diri kita, rumah, atau anak. Ah, rasanya setiap kali saya capek, dapet ucapan terima kasih dari suami tuh salah satu cara yang bisa menghilangkan rasa capeknya. Setidaknya berpikir kalau tidak capek yaa, walaupun badan tetap terasa capek. Badan capek ya dihilangkannya dengan istirahat 😛

Terima Kasih

Terima Kasih

Gak mesti hal besar ko yang dilakukan. Kemarin saya habis mencuci semua pakaian kotor kami ~hal yang memang biasa dilakukan kan?~ dan setelah semua selesai, dapat ucapan terima kasih dari suami. Enggak, gak spesial sih, tapi kata “terima kasih” itu benar-benar bisa menghangatkan hati saya, hehehe.

Untuk kata maaf, setiap ada ucapan atau tindakan ~walaupun kecil juga~ yang menyebabkan pasangan jadi sedikit “gak enak” (kalo udah kesal sih ya berarti tindakan/ ucapannya sudah keterlaluan :D) gak usah gengsi untuk bilang maaf.

Maaf

Maaf

Yaa, pasangan benar-benar merasa dihargai dan dimengerti dengan ucapan maaf itu. Walaupun belum tentu kita yang salah atau pasangan yang salah, kata maaf diucapkan untuk mengembalikan keadaan. Ketika keadaan kembali membaik, baru deh berpikir kembali atau cerita atau beri penjelasan secara baik-baik mengenai keadaan sebelumnya. Dengan cerita itu kita bisa tau tindakan atau ucapan yang mana yang membuat keadaan sebelumnya menjadi “gak enak” 😀

Tapi jangan kebanyakan minta maaf juga ya, nanti jadi kaya mpok minah deh *ada yang inget gak yaa, mpok minah di bajaj bajuri* 😛

Oh iya, keadaan “gak enak” seperti itu juga penting untuk diceritain. Karenaa, biar perasaan itu tidak terpendam, menumpuk, dan lama-lama malah jadi bom waktu. Jadi, setiap ada perasaan “gak enak” seperti itu benar-benar jangan gengsi untuk saling minta maaf dan jangan segan untuk membicarakannya kembali ~pastinya secara baik-baik~.

Dalam berkeluarga, penting banget membiasakan ketiga kata ini biar semua anggota keluarga bisa saling menghargai, merasa dibutuhkan, dan merasa dimengerti ;). InsyaAllah saya akan membangun kebiasaan ini dalam keluarga kami.

Ah, saya sama sekali bukan yang paling mengerti akan arti ucapan tolong, terima kasih, dan maaf ini. Ini benar-benar murni pengalaman sendiri saja 😀

Published by:

Mertua Idaman

Keluarga

Entah sejak kapan saya ingin sekali  menulis tentang ini. Mertua.

Jadi, seperti apa mertua idaman itu? Buat saya mertua saya adalah mertua idaman, hihi. Somehow saya kagum sekali dengan mereka, khususnya dengan ibu mertua. Oh, tentu saya mengagumi orang tua saya melebihi siapapun, dan mereka sudah menjadi orang tua juga buat saya sejak saya menikah.

Baru saja blogwalking dan membaca blog http://kakmila.wordpress.com/ tentang family value dan jadi teringat dengan mertua, khususnya ibu mertua. Beliau seorang wanita karir, seorang istri, dan seorang ibu dari 4 anak (3 laki-laki  dan 1 perempuan).

Buat saya yang melihatnya, beliau selalu punya semangat lebih untuk melakukan segala hal. Mengurus rumah tangga dengan seabreg pekerjaan rumah sehingga rumah terjaga rapi dan bersih, juga bekerja sebagai PNS yang merupakan pekerjaan yang tidak mudah.

Bangun paling pagi dan harus segera masak demi membekali anaknya yang masuk sekolah pagi dengan bekal makan siang. Setelah masak harus secepatnya siap-siap berangkat ke kantor yang membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan. Begitu pulang kantor, harus secepatnya sampai di rumah untuk masak makan malam. Dan kalau ada pekerjaan kantor yang belum selesai karena terlalu banyak, biasanya dibawa ke rumah sambil dikerjakan malam harinya ~yang memang sangat jaraaaang sekali~.

Setiap hari Sabtu adalah jadwal mencuci. Berhubung 3 sekarang 2 anaknya adalah laki-laki ditambah pakaian suami dan pakaian sendiri, jadi semua cucian ya dicuci olehnya sendiri. Biasanya dibantu menjemur oleh anak perempuannya. Belum lagi kalau weekend ada acara tertentu ~acara kantor, acara reuni, atau undangan pernikahan~, jadwal mencuci jadi sedikit terimprovisasi.

Selain itu, berhubung beliau memang akuntan, jadi memang sangat ketat terhadap urusan keuangan ~yang harus saya contoh juga~. Beliau bisa menabung sehingga bisa membeli rumah dalam waktu 3 ~atau 4 ya?~ tahun pernikahan juga semua biaya pendidikan sudah tidak perlu dipusingkan lagi, juga bisa menjadi donatur tetap sebuah yayasan, serta selalu memberi bingkisan lebaran di setiap idul fithri.

Dalam urusan rumah tangga, dulu sih memang memakai jasa pembantu tapi sejak anak-anak sudah cukup besar dan si kakak sudah bisa mengasuh adik-adiknya, sampai sekarang semua pekerjaan rumah bisa dikerjakan sendiri. Untuk urusan kebersihan rumah, sekarang dibagi ke anak-anaknya, jadi biasanya saat weekend seisi rumah berbagi tugas membersihkan rumah.

Sebelum menikah saya bertanya-tanya bagaimana hubungan saya dengan mertua kelak. Dan Alhamdulillah saya memiliki mertua yang begitu baik terhadap menantunya, tidak segan mendidik namun tetap bersahaja, bahkan rela menghabiskan cuti tahunannya demi menemani saya sehabis lahiran :P.

Ah, masih banyak hal-hal baik lainnya yang akan membuat postingan ini begitu panjang, jadi saya hentikan di sini saja. Saya sekarang cuma “wondering” bisakah saya menjadi mertua idaman buat menantu saya kelak? *mikirnya kejauhan 😛

Published by:

Family Value [Reblogged]

Keluarga

Saya juga termasuk salah satu yang ingin kuliah lagi, tapi kalau dengan begitu saya jadi mengorbankan pengasuhan anak, pendidikan untuk anak saya dan perhatian suami, pikir2 lagi deh, hee.

Sejak menikah saya telah mendedikasikan hidup ini untuk suami dan anak-anak, insyaAllah akan terus begitu. Itu jihad seorang perempuan kan? 😀

“Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan.”(HR. Ahmad nomor 1661, hadits hasan lighairihi).

Published by:
%d bloggers like this: