Category Archives: Keluarga

Jadwal Menu Masakan

Hobi Keluarga

Bikin jadwal menu masakan harian bikin rajin masak lho, khususnya sih untuk saya ya 😛

Jadwal Menu

Jadwal Menu

Sebelum nikah saya jaraaang sekali masak, bahkan hampir gak pernah. Makanya waktu mau nikah juga saya wanti-wanti ke calon suami kalo saya gak bisa masak, eheheh. Biar suami gak berharap banyak dengan makanan yang saya masak. 😛 Alhamdulillahnya suami mengerti dan mauuu banget bantuin saya masak, meng-encourage setiap masakan yang saya masak, mengkritik atau ngasih saran akan masakan saya, dsb yang dilakukan agar masakan saya lebih baik.

Awal-awal nikah sih cukup rajin masak, itu juga yang simple-simple banget. Tapi seiring perkembangan waktu saya jadi jarang masak lagi, rajin masaknya bertahan 1 atau 2 bulan kali yak 😛 Karena malas dan bingung mau masak apa sih setiap harinya. Ya walaupun ada buku resep masakan yang segede gaban itu, tetep aja saya bingung. Apalagi kalo bahan makanan yang ada itu-itu aja, jadinya ya gak variasi deh makanannya.

Kitab Resep Masakan

Kitab Resep Masakan

Begitu punya anak, tetep aja begitu keadaannya. Kalau niat saya lagi timbul dan semangat banget ya saya masak, tapi kalo enggak ya gak masak 😛 Atau kalo niat ada tapi gak semangat, saya paling masak yang simple (sesimple mie goreng, nasi goreng atau sekedar telor ceplok, heheheh)

Akhir tahun lalu, saya dan suami ikut seminar parenting dan pembawanya membahas mensiasati anak  biar mau makan adalah dengan cara membuat jadwal menu harian, dan yang memutuskan menunya ya anak-anak sendiri. Saya dan suami setuju dengan ide itu dan ingin diterapkan nanti ketika anak-anak sudah mengerti.

Tapii, saya mikir lagi, kenapa gak dibiasain dari sekarang aja, dimulai dari saya dan suami yang menentukan. Mungkin saja dengan begitu saya bisa jadi rajin masak dan gak kebingungan lagi pengen masak apa 😛

Akhirnya baru deh minggu ini kita bikin jadwal menu harian di kertas beserta bahan belanjaan yang mau dibeli selama seminggu itu. Alhamdulillah udah 3 hari ini kita berhasil mengikuti jadwal itu, hehe. Dan, dari masakan yang biasanya cuma 1 lauk 1 sayur, sekarang jadi bisa 2 lauk dan 1 sayur deh.

Menu Seminggu

Menu Seminggu

Dengan bikin jadwal kaya gini, gizi kita makin banyak dan seimbang, makanan makin variatif, dan saya juga jadi gak males masak 😀

Mudah-mudahan cara ini bisa kita lakukan seterusnya sama anak2 nanti. Aamiin…

Published by:

Babies

Hobi Keluarga

Last Sunday, my husband and I was watching this movie. It is a documentary movie that shows you the life of four babies around the world. There are Ponijao from Namibia (which in my opinion living the wild life, hihihi), Bayar from Mongolia, Mari from Japan, and Hattie from California.

Babies

Babies

For me, it’s an interesting movie considering we already have a baby too. We were so into it because we ~sort of~ could feel their parents feelings, how happy we were when she/he was born and how happy we are watching them growing everyday 😛

Published by:

Teruntuk Perempuan

Keluarga

Jadi, yang saya ingat dari workshop kemarin adalah kata-kata penutup ~penutup atau jawaban pertanyaan audience yah, lupa saya~ tentang perempuan atau yang nantinya jadi ibu. Kata-katanya gak inget banget-banget, seinget saya sajah lah ini 😀

Perempuan yang lebih tinggi tingkat pendidikannya harus bersedia menjadi ibu rumah tangga dan mengasuh sendiri anak-anak mereka karena merekalah penentu masa depan anak-anak mereka dan bangsa.

Jadi, teruntuk para perempuan:

Intinya, perempuan itu harus memang sudah siap untuk jadi orangtua begitu mereka memutuskan untuk menikah. Jadi waktu untuk dirinya sendiri cukup dari sejak mereka single sampai mereka hamil. Begitu melahirkan, waktunya mereka untuk mendidik anak-anak mereka sendiri di rumah.

Yaa, gak dengan nganggur juga sih, sekarang kan banyak banget ibu-ibu yang bekerja dari rumah, entah bisnis online, part time, atau pekerja freelance seperti saya. Pastinya bukan yang bekerja full time yang sudah tentu waktu untuk mengasuh sangatlah kurang, bahkan mungkin tidak ada. Pasti ada jalannya deh kalau sudah berniat untuk mengurus anak sendiri tanpa diserahkan ke pengasuh atau orang tua.

Untuk apa sekolah dan berpendidikan tinggi jika anak kita diasuh oleh yang pendidikannya lebih rendah bukan? ~maaf, saya bukan mengecilkan pengasuh atau orang tua ya, hanya saja akan sayang sekali jika perkembangan anak kita sendiri bukanlah kita sendiri yang pertama mengetahuinya. Lagipula, dengan kita mengasuh dan mendidiknya sendiri dengan tangan kita sendiri, kita jadi memiliki hubungan yang lebih dekat dan lebih mengerti diri anak-anak kita kan? Setidaknya inilah yang saya yakini. 😀

MengasuhAnak

Mengasuh Anak

Nah, setelah anak terakhir, anak terakhir loh ya sudah terbentuk pribadinya dan sudah bisa mandiri, barulah kita bisa sibuk dengan diri kita lagi. Entah dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau menjajaki dunia pekerjaan demi mengejar karir lagi. Ini sih yang dikatakan oleh bunda Elly, tapi saya sangat-sangat setuju.

Saya pun punya rencana untuk itu. Saya sangat ingin sekolah kuliah lagi dan sibuk dengan diri saya lagi. Tapi nanti, saya yakin pasti akan ada waktunya untuk itu. Sekarang saatnya saya memberikan seluruh waktu untuk mengasuh anak 😀 ~yah, pekerjaan freelance ini kan biar gak bosen aja di rumah, ya gak? hehehe.

Alhamdulillah saya merasa telah mengambil keputusan yang tepat dengan keluar dari pekerjaan dan menjadi freelancer demi mengasuh anak. Semoga saya bisa mendidik dan mengasuhnya hingga ia dewasa dan menjadi orang yang berguna nantinya, baik bagi dirinya sendiri, lingkungannya, bangsanya, bahkan agamanya, Amiiin.

Published by:

Kesalahan dalam Berkomunikasi dengan Anak

Keluarga

Sungguh tidak menyesal kemarin ikut workshop parenting bunda Elly Risman mengenai komunikasi pengasuhan anak yang efektif.

Jadi ceritanya hari Rabu atau Kamis kemarin suami nemu iklan workshop parenting yang diadain hari Sabtu mengenai komunikasi pengasuhan anak yang efektif. Nah, awalnya kita cuma mau menginformasikan kaka saya yang sudah punya anak 3 untuk ikutan itu. Lumayan kan, toh bayarnya gak mahal-mahal amat, cukup 50ribu.

Workshop Parenting

Workshop Parenting

Begitu kaka saya daftar, kita pikir kenapa kita juga gak ikutan aja, gak ada salahnya tuh. Oke, jadi kita bertiga deh yang ikutan. Dan kebetulan saya dan suami juga belum pernah hadir di workshop atau seminar parenting kaya gini.

Jangan remehkan workshop2 atau seminar2 parenting loh. Karena, gak ada kan sekolah untuk jadi orangtua? Jadi darimana lagi kita bisa dapet ilmu parenting kaya gini. Dari orang tua, oke. Tapi ada beberapa hal yang perlu diubah sih dari pengasuhan orangtua. Karena, orangtua mengasuh kita pada zamannya, sedangkan kita mengasuh anak-anak kita untuk zaman mereka nantinya, yang kita sendiri belum tau akan seperti apa. Dari internet juga banyak sih. Tapi menurut saya seminar2 parenting kaya gini lebih melengkapi lagi.

Sebetulnya saya cuma mau sharing tentang apa yang paling saya inget kemarin, tapi sekalian aja ah, summarize materi workshopnya kemarin 😀

Jadi, intinya kemarin itu membicarakan mengenai 10 kekeliruan dalam berkomunikasi dengan anak dan cara mengatasinya. Ini dia 10 hal itu:

1. Bicara tergesa-gesa. Gaya seperti ini menyebabkan anak tidak mengerti dan menangkap maksud dari pembicaraan kita sehingga mereka akan mengacuhkan apa yang kita bicarakan. Nah, untuk mengatasinya ya pastinya bicara pelan-pelan dan di waktu yang tepat.

2. Tidak kenal diri sendiri. Nah, kalau tidak kenal diri sendiri bagaimana kita mau mengenal anak kita kan? hehe. Intinya kita harus mengenal diri kita sendiri dulu. Tau siapa kita, apa kelebihan dan kekurangan kita, serta hal-hal kecil yang membentuk pribadi kita. Dengan begitu, kita bisa mengenal dan bisa mengerti anak kita nantinya.

3. Lupa: Setiap individu unik. Yap, kadang-kadang sebagai orangtua kita lupa kalau setiap individu itu unik jadi sering membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lainnya. Padahal ya gak bisa dibandingkan, karena setiap anak ya pasti berbeda karena mereka unik. Jadi, selalu tanamkan dalam otak kita bahwa setiap individu itu unik.

4. Perbedaan: “Needs & Wants!” Terkadang kita juga gak bisa membedakan mana yang menjadi kebutuhan mereka dan mana  yang menjadi keinginan kita sehingga kita sering memaksakan apa yang kita mau terhadap anak. Ada baiknya kita harus lebih memahami bahwa keinginan dan kebutuhan itu sebenarnya berbeda.

5. Tidak membaca bahasa tubuh. Yap, bahasa tubuh adalah salah satu cara untuk menyampaikan perasaan. Jadi, kalau kita mengacuhkan bahasa tubuh anak, bagaimana kita bisa mengerti dan anak itu bisa berkomunikasi dengan kita? Pelajarilah bahasa tubuh orang lain untuk bisa memahami perasaannya.

6. Tidak mendengar perasaan. Nah, yang ini agak berhubungan dengan no. 5. Kalau kita sudah tidak membaca bahasa tubuh, kita jadi tidak bisa mendengar apa yang mereka rasakan. Maka, jika bahasa tubuh sudah bisa kita kenali, kita bisa mengetahui apa yang mereka rasakan sehingga bisa membuka jalur komunikasi. Tanya dan tebak perasaan yang sedang mereka rasakan. Contoh: “Capek ya?” “Kesal?” “Wah, tega ya?”

7. Kurang mendengar aktif. Biasanya sebelum anak menyampaikan atau cerita mengenai dirinya, kita sudah memotong pembicaraannya dengan aturan2 kita. Inilah yang membuat mereka jadi tidak membuka komunikasi dengan kita, kita duluan yang menutupnya. So, jadilah pendengar yang lebih aktif, sabarlah mendengarkan cerita-cerita dan keluhan-keluhan anak.

8. Menggunakan 12 gaya populer. Yang termasuk dalam 12 gaya populer itu adalah: a.) memerintah, b.) menyalahkan, c.) meremehkan, d.) membandingkan, e.) mencap / label, f.) mengancam, g.) menasehati, h.) membohongi, i.) menghibur, j.) mengkritik, k.) menyindir, l.) menganalisa. Nah, kalau kita menerapkan itu semua, akibatnya anak jadi tidak percaya diri. Jadi, hindari 12 gaya populer ini ya 😀

9. Tidak memisahkan masalah siapa. Seringkali kita ikut campur masalah anak dan menyelesaikannya. Padahal dalam masalah itulah mereka bisa belajar bertanggung jawab dan memutuskan yang terbaik. Anak perlu dilatih untuk BMM (Berfikir – Memilih – Mengambil keputusan). Jadi kitapun harus belajar memisahkan masalah anak dan masalah kita sendiri.

10. Selalu menyampaikan pesan “Kamu”. Hal itu mengesankan dia akan selalu salah. Walaupun maksud kita benar, tapi yang ditangkap oleh mereka adalah mereka salah. Belajarlah menyampaikan pesan “Saya”. Contohnya: “Saya (mama/papa) marah kalau kamu pulang larut malam karena mama khawatir ada apa-apa dengan kamu.”

Heheh, itu semua kira-kira yang kemarin disampaikan, sedikit sih. Emang paling enak ikutan workshopnya, jadi semuanya bisa lebih jelas 😀

Nah, yang paling saya ingat dari workshop kemarin saya pisah aja ah, kepanjangan dijadiin satu postingan 😛

Published by:

Buku Perencanaan Keuangan

Hobi Keluarga Review

2 buku ini sangant-sangat direkomendasikan buat yang baru belajar perencanaan keuangan.

Yang pertama, buku karya Ligwina Hananto yang berjudul “Untuk Indonesia yang Kuat, 100 Langkah untuk Tidak Miskin”

Untuk Indonesia yang Kuat

Untuk Indonesia yang Kuat

Sebulan kemarin saya dan suami belajar bagaimana merencanakan keuangan keluarga. Kebetulan tahun lalu suami saya punya buku yang berisi mengenai betapa pentingnya kita merencanakan keuangan kita itu. Sudah selesai dibaca dari kapan tau sih, tapi akhirnya bulan lalu kita baca ulang lagi karena kita berniat perencanaan keuangan keluarga kita HARUS lebih baik mulai dari sekarang.

Bukan, manfaatnya bukan cuma untuk diri kita sendiri, bukan untuk memperkaya diri sendiri, tapi dengan merencanakan keuangan kita hingga bisa mencapai kebebasan finansial, kita bisa membantu orang lain dan bisa menguatkan perekonomian negara tercinta kita ini, Indonesia. Kalau ingin “dikomporin” mengenai betapa pentingnya kita merencanakan keuangan, baca deh. Dan, bisa jadi buku ini benar-benar mengubah cara kita mengatur keuangan setiap bulannya.

Saya dan suami baru bener-bener engeh langkah-langkah yang harus secepatnya dilakukan untuk memperbaiki pengaturan keuangan keluarga kita setelah kita baca ulang buku ini lagi.

Yang kedua, buku karya Andreas Hartono yang berjudul “Nasibmu di Dompetmu”

Nasibmu DI Dompetmu

Nasibmu DI Dompetmu

~buat saya judul dan covernya agak norak sih~ 😛

Tapii, buku ini berisi teknis perencanaan keuangan, dan gak kalah pentingnya dengan buku yang pertama tadi. Di sini menjelaskan lebih ke teknis atau perhitungan kasar perencanaan keuangannya. Apa instrumen investasi yang pas serta perhitungan ke depannya. Yap, buku ini mengupas tuntas cara memperhitungkan nilai di masa depan dan cara investasinya.

Nah, perbedaan buku pertama sama buku kedua menurut saya.

Buku pertama lebih ke “why” > mengapa kita harus melakukan perencanaan keuangan dan mengapa hal itu sangat penting. Cara pemaparan buku ini adalah maju ke depan. Jadi dimulai dari penjelasan mengapa kita harus melakukan perencanaan keuangan, menentukan tujuan finansial, menghitung besarnya nilai uang pada tujuan finansial tersebut, lalu menentukan instrumen investasi yang tepat.

Buku kedua lebih ke “how” > bagaimana langkah konkrit kita dalam merealisasikan perencanaan keuangan  yang telah kita bikin dan bagaimana menentukan instrumen investasi yang tepat sesuai tujuan keuangan yang direncanakan. Dan cara pemaparannya adalah mundur ke belakang. Pembaca dibuat tergiur terlebih dahulu dari betapa besarnya yang kita bisa dapatkan dari investasi, menentukan investasi yang tepat baru diakhiri dengan tujuan finansial yang dicocokkan dengan instrumen investasi  yang tepat tadi.

Begitulah, setelah membaca kedua buku tersebut, kita mulai merealisasikan dan melakukan perencanaan keuangan keluarga sendiri. Pusing juga ngurusin perencanaan keuangan ternyatah sodara-sodara, hahaha. *pusing demi hidup yang lebih baik* 😛

Published by:

Beberapa Kebiasaan Naia

Keluarga

Heheheh, saya pengen ngelist beberapa kebiasaan Naia yang selalu berubah tiap bulan dari bulan pertama sampai bulan ke tujuh ini 😛

Ini dia kebiasaan-kebiasaan Naia yang hilang begitu kebiasaan baru muncul.

Bulan Pertama. Kayanya sih bulan pertama belum keliatan apa kebiasaannya, paling baru senyum2 dikit aja, hehehe

Bulan Kedua. Di umur 2 bulan dia seneng banget melet-melet.

Bulan Ketiga. Nah, di bulan ini seneng banget monyong-monyongin bibirnya. Gak tau karena apa ya, saya sih nebaknya gusinya gatel, tapi ampe sekarang giginya belum tumbuh tuh, hehe

Bulan Keempat. Dia lagi seneng-senengnya gigitin jari plus nengok sambil miring2in kepala. Gigit-gigitin jari karena udah mulai kerasa laper kali yaa 😛 *sotoy*

Bulan Kelima. Hihihi, ini nih yang paling absurd. Dia lagi seneng-senengnya senyum kebalik :p Temen kuliah saya dulu ada juga yang suka senyum begini, namanya Kemal. Jadilah pas ketemu sama temen-temen kuliah dan dia senyum kaya gini, mereka pada bilang itu senyum kemal, wekeke.

Bulan Keenam. Di bulan keenam Naia udah bisa nggangsur dan jadi gak bisa banget diem di satu tempat. Dan, kebiasaannya itu adalah menjelajah rumah. Semuaaa yang bisa disamperin dia samperin deh. Yang paling lucu itu kalo dia udah ke kolong, entah kolong boxnya dia atau kolong sofa yangtinya, hihi. Kalo foto di kolong boxnya pernah saya taruh di postingan saya yang ini.

Bulan Ketujuh. Baru banget tujuh bulan sih emang, tapi udah keliatan kebiasaan barunya, yaitu nungging-nungging, hahaha. Mungkin sebentar lagi mau duduk dan mberangkang kali ya 😀 *yang ini belum ada fotonya, hehehe*

Oh, ada 1 lagi deng kebiasaan barunya di bulan ketujuh ini. Dia kalo nguap sekarang selalu pake suara. “Huaaahmmm” atau menggumam abis nguap 😛 *lucunyaaa

Published by:
%d bloggers like this: