Category Archives: Keluarga

Mudik

Keluarga

Berbeda dengan keluarga besar saya yang sudah banyak berada di Jakarta, keluarga besar Suami masih banyak yang berada di Semarang, jadi sudah menjadi tradisi di keluarga suami untuk mudik ke Semarang di setiap Lebaran. Nah, sejak saya menikah, saya jadi harus juga mengikuti tradisi itu.

mudik

mudik

Tahun lalu sih kita gak mudik pas Lebaran. Itu karena sebulan setelah Lebaran ada sepupu suami di Semarang yang menikah, jadilah sekalian mudiknya.

Nah, tahun inii insyaAllah kita mudik ke Semarang di hari Lebaran. Awalnya sih ingin naik mobil aja biar di Semarang kalo ke mana2 juga gampang. Tapi setelah dipikir-pikir lagi ~mertua sih yang mikir2 lagi :P~ mobil yang dipake untuk mudik cuma ada 1 dan kita semua gak akan muat (muat-muat aja sih, tapi bener2 sumpel2an, hehe), jadi kita akan naik Kereta InsyaAllah.

Akhirnya, insyaAllah hari kedua Lebaran kita akan berangkat ke Semarang selama seminggu. Nah, sebelum itu, kita mudik ke rumah ortu saya di Priuk ~jyah, mudiknya deket benerr, ke Priuk :P~

Hehe, jadi karena mau menghabiskan banyak waktu di Semarang, sebelum Lebaran dan sampai hari Lebaran nanti, kita berdua ~bertiga sama Naia~ menghabiskan waktu di Priuk 😀

Oiya, ngomong-ngomong mudik naik kereta, ada cerita yang sedikit gimanaa gitu, hee.

Jadi, ceritanya kemarin kita beli tiket kereta api di alfamart ~yap, di alfamart atau di indomaret bisa beli tiket kereta api~. Harganya sama tapi enaknya ya kita gak perlu repot-repot antri atau resiko ketipu calo 😀

Nah, kita beli tiket itu malem2 banget, jaga-jaga takut kereta yang kita ingin gak penuh dan kalo mesen besok2 malah penuh. Btw, kita mau naik kereta eksekutif dan kebetulan kemarin dapet tiket pulang pergi pake kereta Argo Sindoro.

Photo by Johanes Christian

Pertama kita ngecek harga online dulu. Suami dan mertua akhirnya sepakat buat naik kereta Argo Sindoro berangkatnya dengan tarif Rp. 400.000,- dan naik Argo Bromo yang bertarif Rp. 560.000,-. Mereka milih kedua kereta itu karena waktunya yang pas. Jadwal pergi jam 16:45-23:10 dan jadwal pulang jam 11:52-17:41.

Tapii, begitu kita mau beli tiket pulang, sayangnya Argo Bromo sudah penuh. Akhirnya pilih kereta lain dan dapet Argo Sindoro yang jadwalnya lebih pagi yaitu jam 05:30-11:36 dengan tarif  yang lebih murah Rp.500.000,-. Nah, sayangnya lagi, kalau beli di alfamart ini kita gak bisa milih kursi. Jadi, begitu pesen langsung muncul nomer kursinya dan gak bisa diganti, hiks.

Nah, udah gitu, pembelian tiketnya itu maksimal 4 tiket dengan 1 KTP. Karena kita bertujuh, jadilah kita pake 2 KTP dan walhasil kursi yang tampil juga beda. Di kereta berangkat sih lumayan masih deketan, tapi pas kereta pulang kita terpisah beberapa gerbong, hiks hiks.

Besok paginya, saya baru ngecek email dan baca email dari tiket.com ~saya berlangganan newsletternya~ ternyata disitu jual tiket kereta api juga. Daaaan, bisa milih tempat duduk juga. Dan lagi, harganya sama, huaaa. Pas ngecek kereta yang kita akan naikin pas pulang, ternyata masih banyak kursi berjumlah 7 yang deketan. Telat, telat, telat taunya, huhuhu.

Tapi, yasudahlah, mau diapain lagi. Lain kali langsung beli online aja deh. Walaupun sama dengan beli tiket di alfamart yang gak perlu antri, gak pake calo, dan harganya sama, tapi ada 1 keuntungan yang dipunya tiket.com, yaitu gak pake keluar rumah 😛 *eini bukan promosi ya*

Published by:

Tarif Melahirkan

Keluarga

Baca yang terbaru: Tarif Melahirkan 2016

Total Biaya Melahirkan

Total Biaya Melahirkan

Sebelum melahirkan, mungkin 3 atau 4 bulan sebelum melahirkan, saya sempat galau akan pilihan rumah sakit tempat saya nantinya melahirkan. Sempat periksa ke rumah sakit Harapan Bunda ~di pasar rebo~, ke rumah sakit Bunda Margonda, dan pilihan akhirnya jatuh pada rumah sakit JMC.

Sewaktu saya mendengar saudara sepupu melahirkan di rumah sakit JMC ~awal masa kehamilan~, saya pikir “wah, mahal tuh pasti biayanya” soalnya saya lihat dari penampakan luar rumah sakitnya terkesan mewah. Maka dari itu dari awal periksa kehamilan, saya ~dan suami sih~ gak berani periksa di situ 😛

Tapi, begitu dikasih tau sama sepupu kalo ternyata murah, kita berniat juga di situ dan setelah survey ternyata bener murah, akhirnya milih di JMC deh 😀

~tentang galaunya saya memilih rumah sakit pernah saya ceritakan di sini dan sini, hehe

Nah, pas ke sana, kita dikasih daftar tarif melahirkan di sana. Lumayan lengkap informasinya, soalnya ada daftar dari lahiran normal sampai lahiran caesar dari kelas III sampai kelas suite room.

Saya tadinya mau normal, jadi saya benar2 mengacu pada daftar tarif yang ini:

Daftar Tarif Melahirkan Normal

Daftar Tarif Melahirkan Normal

Ini daftar tarif normal dengan tindakan ~maksudnya induksi~:

Daftar Tarif Melahirkan dengan Induksi

Daftar Tarif Melahirkan dengan Induksi

Nah, terus ada lagi untuk meminimalisir kesakitan, pake ILA (dibius), tarifnya segini:

Daftar Tarif Melahirkan dengan ILA

Daftar Tarif Melahirkan dengan ILA

Yang gak saya liat itu tarif caesar, padahal akhirnya saya harus caesar. Daftar tarifnya itu:

Daftar Tarif Melahirkan Caesar

Daftar Tarif Melahirkan Caesar

Dengan tarif yang lumayan itu, saya memutuskan pengen di kelas utama ~karena saya gak punya indikasi gimana2, jadi saya PD banget bisa normal~. Tapi, dengan kelahiran yang lebih awal, pas suami mau pesen kelas utama, udah gak ada, penuh semua, akhirnya ada yang kosong di kelas II. Dan, ternyata saya juga harus caesar, jadi sedikit lega juga adanya yang kelas II bukan yang kelas utama 😛

Daftar tarif itu belum termasuk Alkes n obat-obatan, jadi begitu pulang, pasti nanti ada  biaya tambahan lagi, mungkin sekitar 1-2 juta biaya tambahan untuk obat2an dsb.

Dibandingkan tarif Bunda Margonda, tarif JMC ini jauuh lebih murah. Waktu itu pernah minta ke rs. Bunda Margonda dan dikasih lembaran daftar tarifnya.

Daftar Tarif Melahirkan Bunda Margonda

Daftar Tarif Melahirkan Bunda Margonda

Dan, dengan tarif yang murah itu, kualitas dan fasilitas rumah sakit JMC hampir sama dengan rs. Bunda Margonda. Bahkan, dengan fasilitas yang lebih bagus, JMC masih lebih murah dari rs. Harapan Bunda.

Bukti JMC lebih murah dari Harapan Bunda adalah, saya melahirkan dengan caesar dan di kelas II dengan biaya akhir 10jutaan. Nah, teman saya cerita dia lahiran secara caesar dan di kelas II juga di rs. Harapan Bunda dengan biaya akhir 15 jutaan, lumayan kan bedanya? hehe

Jadi, saya bener2 gak nyesel akhirnya melahirkan di rs JMC 😀

~jadi kaya iklan rumah sakit JMC dah 😛

Published by:

Menikah Harus Siap Mental

Keluarga

Sebenernya banyak sih yang harus dipersiapkan sebelum menikah, siap fisik pastinya, siap hati harus, siap finansial apalagi. Tapi di sini saya mau ngomongin tentang persiapan mental menghadapi kehidupan setelah pernikahan. Karena di situlah yang paling penting -> kehidupan setelah pernikahan.

Gimana gak jadi yang paling penting, kehidupan setelah pernikahan kan akan dijalani insyaAllah seumur hidup. Maka dari itu, mentalnya bener2 harus siap sesiap-siapnya karena pernikahan benar2 menjadi perubahan terbesar dalam hidup.

Kalo dari pengalaman saya sih (pengalaman saya baru sedikit yak, maklum, baru juga 1 tahun menikah :P), yang bener2 perlu diperhatikan dan berhubungan dengan kesiapan mental itu ada beberapa. Saya list aja deh 😀

1. Sampaikan harapan sebelum menikah.

Yap, penting nih. Harapan-harapan kita terhadap pasangan harus disampaikan kepada yang bersangkutan sebelum menikah. Biar sang pasangan bisa sedikitnya berusaha untuk memenuhi harapan tersebut. Atau, kalaupun si pasangan sudah memenuhi harapan2 itu, bisa jadi semakin yakin kalau ia memang pasangan yang tepat ~PD banget yak~

2. Buang jauh harapan yang tinggi-tinggi.

Kenapa? Karena biar hati kita tenang dan jadi gak kecewa kalau pasangan ternyata jauh dari harapan.

Kalau misalkan ia bisa memenuhi harapan kita sih Alhamdulillah bangeet, tapi kalau enggak kan kita bakal kecewa berat, betul?

Contoh nih, misalkan kita berharap suami kita ~karena saya perempuan, jadi saya nyontohinnya ya harapan perempuan, hehe~ bakal rajiin banget ngurusin rumah dan gak segan-segan buat bantu2 istri. Nah, kalau misalkan ternyata setelah tinggal serumah dan ketauan aslinya kalau si suami itu malesss banget dan gak mau sama sekali buat bantuin istri kan jadinya kita ngedumel mulu tiap hari karena capek semua-muanya dikerjain sendiri 😛

Tapi harapan2 terhadap pasangan itu jangan dilupain juga ya. Bisa diusahakan sedikit demi sedikit kok untuk menjadikan pasangan kita sesuai harapan.

Tapi satu lagi, jangan dipaksain juga, let it go with the flow aja, hehe. Buatlah ia berubah dengan kebaikan dan kesungguhan kita ~jyaah~ 😉

3. Siap berusaha mewujudkan harapan pasangan.

Yap, selain kita tadi menyampaikan harapan-harapan kita, dia juga harus menyampaikan harapan-harapannya biar kita bisa bersiap dan berusaha untuk mewujudkan harapan itu demi kelangsungan pernikahan *jyah, bahasanyaa*

Dengan kita bersungguh hati ~lagi2 bahasanyaaa~ berusaha mewujudkan harapan pasangan, bukan gak mungkin kan dia pun jadi berusaha mewujudkan harapan kita, hehe.

Intinya dimulai dari diri sendiri. Susaaah banget ngubah orang tanpa diawali dari kita 😉

4. Bersiap untuk hidup berdua saja

Kita harus siap kalau nantinya harus hidup bener-bener terpisah dengan kedua orang tua. Kaya saya dan suami sih. Walaupun masih deket sama ortu suami, intinya kita tinggal terpisah.

Yang tadinya ~mungkin~ enak di rumah yang lega bin nyaman, sekarang harus membiasakan diri hidup dengan suami di rumah yang sempit.

Kalau udah mampu beli rumah yang lega dan nyaman sih enak, tinggal membiasakan diri hidup berduanya 😛

Nah, tapi yang jadi permasalahan itu ngurus rumahnya nih, hihi. Tadinya bisa kerja bakti seisi rumah, sekarang kerja bakti berdua saja 😛 ~kalau punya pembantu sih ya bertiga, hehe~

Kalau akhirnya bukan tinggal terpisah dari ortu, katakanlah di ortu kita atau mertua, kita tetap harus membiasakan diri.

Kalau tinggal di rumah ortu kita, ya berarti kita harus membiasakan diri ada tambahan orang di rumah. Selain itu, harus pinter2 meng-klop-kan ~bahasanya apa ya yang pass~ pasangan dengan ortu kita dan saudara2 kita yang tinggal serumah.

Kalau di rumah mertua, ya kita harus berusaha biar klop dengan mertua dan saudara2 ipar yang tinggal serumah.

5. Bersiap untuk kebiasaan baru pasangan

Sebenernya bukan kebiasaan baru, tapi kebiasaan yang baru kita tau setelah menikah. Kita mungkin akan terkaget2 banget dengan kebiasaan yang belum kita tau itu, jadi bener2 harus siap dengan segala kemungkinan 😛

Yang ini emang abstrak banget, karena kita bener2 gak bisa ngira2 kebiasaan apa yang bakal muncul dari pasangan.

Bukan hal yang gak mungkin juga kalau kebiasaannya itu kebiasaan yang bertolak belakang banget dengan kebiasaan kita.

Contohnya, saya dan suami 😛

Saya tidur dengan lampu menyala, suami tidur dengan lampu yang harus mati. Saya gak bisa tidur kalau sunyi senyap, suami gak bisa tidur kalau ada suara2. ~ini sih cuma kebiasaan kecil~ hehe

6. Jadi orang yang lebih komunikatif

Setidaknya sama pasangan ya.

Kenapa? Karena yang saya dapet dari pengalaman-pengalaman rumah tangga yang pernikahannya langgeng2 itu dan dari pengalaman-pengalaman ortu kita, komunikasi itu hal yang paling pentiing banget..

Karena, dalam berumah tangga, kepala kita bukan cuma satu. Kita gak bisa ngurus rumah tangga sendirian. Harus berdua, dan segala sesuatu harus disampaikan, komunikasii.

Jadi, kalau kita orang yang malu-malu untuk menyampaikan sesuatu. Atau selalu memendam sesuatu, segeralah berubah..!!

Latihan aja sama sahabat terdekat atau saudara (kakak / adik) kita untuk selalu cerita, biar terbiasa menyampaikan apapun yang kita alami atau kita pikirkan.

Saya dan suami yang sama-sama komunikatif aja kadang2 masih suka misskomunikasi, hehe.

Jadi, segeralah jadi orang yang komunikatif 😉

Heheh, baru segitu aja kayanya yang ada di pikiran saya saat ini untuk persiapan mental menuju pernikahannya, semoga bermanfaat untuk yang mau dan sedang merencanakan pernikahan yak 😀

Daaan semoga rumah tangga saya dan suami bisa langgeng seumur hidup serta dipertemukan di akhirat kelak. Amiiiin ^^

Terakhir, I looove this picture soo much 😛

~Ada artikel menarik mengenai komunikasi nih: http://littlerosetrove.blogspot.com/2012/03/relationships-always-show-love.html *dapet waktu gugling gambar terakhir 😛

Published by:

Nina

Keluarga

Hehe, akhir-akhir ini saya nontonin video-video Nina lagi. Lumayan, buat acuan belajar pengasuhan anak. Apalagi, anak saya cewe juga, kaya Nina 😀

Awalnya sih waktu itu entah kenapa saya saangat bosan, jadinya saya liat-liat hal yang mungkin bisa bikin suasana hati saya berubah. Dan, saya ingat dengan video-video Nina ini, jadilah saya nonton-nontonin ulang hehe

Nina itu siapa?

Kalo ada yang sering nonton Nina di youtube sih tau yaa, hehe. Buat yang ga tau, ini video terakhirnya Nina dari channel http://www.youtube.com/user/geofg

Selama 6 tahun, papanya Nina selalu meng-upload video aktifitas Nina sehari-hari. Mulai dari nina belajar ngomong, baca, sampai akhirnya bisa merekam dirinya sendiri.

Nah, videonya sekarang sudah gak ada karena Nina sudah besar dan butuh privasi. Kalau mau tau alasannya sih, nonton video terakhirnya aja.

Saya bisa belajar banyak dari pola pengasuhan orang tuanya. Kapan-kapan saya ceritain apa aja yang bisa saya pelajari dari video-video itu ya tentang pengasuhan orang tuanya yaa 😀

The point is I am so admire her parents and so glad to get the lesson for raising up a child.

Published by:

Rumah Impian – Berbagi Cerita bersama BCA

Keluarga Lomba Blog

Begitu saya menikah, saya dan suami ingin tinggal terpisah dari kedua orang tua kami. Bukan apa-apa, hanya saja kami ingin mandiri.

Maunya sih, tinggal terpisah itu benar-benar tinggal di tempat tinggal sendiri, rumah milik kami sendiri. Tapi, karena dana kami belum mencukupi, jadilah kami mengontrak sementara 😛

Rencana untuk mewujudkan hunian ideal itu tentu ada, pasti. Hal ini sudah termasuk ke dalam rencana masa depan kami. Ya, kami ingin memiliki rumah impian kami sendiri.

Rumah Minimalis

Rumah Impian

Maunya siih, kita bisa mencapai kebebasan finansial biar bisa langsung membeli rumah tanpa kredit. Tapi, saya pernah denger kalimat kaya gini:

Beli rumah itu memang harus dipaksa, kalau enggak, ya gak punya-punya akhirnya

Maksain sih emang, tapi saya pikir ya emang bener juga. Kalo gak dipaksain, gimana mau punya rumah?

Nah, dengan mikir kaya gitu, kenapa kita tidak memutuskan untuk menggunakan layanan  perbankan berupa KPR saja? Akan lebih mudah dan meringankan keuangan kita kan jadinya 😛

Mulailah saya mencari informasi mengenai KPR. Ternyata BCA menawarkan KPR sebagai salah satu produk perbankan yang dimiliki. Begitu saya cari tahu melalui situs baru BCA di http://www.bca.co.id dan menuju halaman hunian ideal, ternyata KPR BCA tidak hanya memberikan layanan berupa pembelian hunian baru tetapi juga renovasi dan dalam melengkapi hunian.

Saya jadi ingin tau dan mencoba-coba simulasi yang ada. Oiya, simulasi yang diberikan berupa perhitungan kredit jika harga rumah telah diketahui (Simulasi KPR) dan perhitungan harga rumah untuk kredit yang kita inginkan (Simulasi Budget).

Rasanya lengkap deh, simulasi KPR jika kita sudah menentukan harga rumah yang kita inginkan, tinggal cari tau berapa kredit yang kita keluarkan.

Simulasi KPR BCA

Simulasi KPR BCA

Atau simulasi budget jika kita ingin menentukan berapa kredit yang dikeluarkan setiap bulannya, tinggal cari tau berapa harga rumah yang kita dapatkan dengan kredit sebesar itu 😀

Simulasi Budget KPR BCA

Simulasi Budget KPR BCA

Iseng-iseng saya nyoba simulasi KPRnya dengan harga rumah sebesar Rp. 350.000.000 dengan luas tanah 100m2 dan luas bangunan 75m2. Yap, yap, harus lengkap dengan luas tanah dan bangunan untuk simulasi. Begitu saya klik hitung, voila, langsung muncul di kolom sebelah kanan rincian semua hal yang diperlukan. Hum, ini dia hasil simulasi saya.

Simulasi KPR

Simulasi KPR

Kalau mau cicilan per bulannya lebih ringan lagi, bisa memilih jangka waktu yang lebih panjang lagi sih sebenernya. KPR BCA menyediakan jangka waktu sampai dengan 240 bulan (20 tahun). Tapi, di sini saya milih yang cepet (5 tahun) biar cepet2 beres gak mikirin hutang terus 😛

Hasil simulasi ini cuma perkiraan lho, kan nantinya tergantung suku bunga per tahunnya. Tapi setidaknya kita punya gambaran harus menyiapkan dana berapa untuk punya rumah 😉

Nah, karena saya dan suami adalah nasabah BCA dan kami sudah mengalami sendiri kemudahan transaksi yang diberikan, kenapa tidak kita pergunakan solusi perbankan yang menarik ini?

Mudah-mudahan saja rencana KPR ini bisa segera kami wujudkan, Amiiin ^_^

Published by:

Naia Dimandiin Papa

Keluarga

Jadi, karena kita (saya, suami, dan Naia) tinggal bertiga saja di rumah kontrakan, setiap pagi saya sedikit kerepotan dengan pekerjaan rumah.

Setiap hari pastinya saya harus memasak untuk sarapan dan untuk bekal suami, dan hampir setiap hari saya harus mencuci (pakaian Naia atau pakaian saya dan suami), daan setiap hari saya juga harus memandikan Naia.

Jadi, setiap bangun pagi, saya harus cepat-cepat mandi dulu dan mengurus pakaian untuk dicuci dan menjemurnya. Begitu selesai mencuci, saya langsung masak. Daan disela-sela masak itu saya juga harus memandikan Naia.

Alhamdulillahnya, suami selalu saja membantu pekerjaan-pekerjaan itu. Dia hampir selalu menjemur pakaian yang selesai dicuci agar saya bisa lanjut masak. Terkadang dia yang harus masak ketika cuciannya sangat banyak, dan terkadang dia yang harus memandikan Naia.

Yap, memandikan Naia 😀

Waktu pertama kali saya munculkan ide ini, dia sedikit takut. Tapi karena kita punya baby bather pemberian sahabat saya, dia jadi ingin mencobanya.  Ini dia baby bather yang saya maksud:

Baby Bather

Baby Bather

Heheh, beginilah perlengkapannya kalo papanya yang mandiin 😀 Jadi, Naia diletakkan di baby bather lalu diguyur air hangat sambil disabunin deh. Memudahkan banget untuk yang takut mandiin bayi secara langsung 😀

Sekarang sih Alhamdulillah papanya udah jago mandiin pake baby bather ini, hehe. Akhirnya tadi pagi terciptalah kesepakatan *halah*. Setiap hari, kalau pagi Naia dimandiin papanya, kalau sore giliran mamanya yang mandiin. Dengan begitu Naia bisa ngerasain dimandiin oleh papa dan mamanya deh, dan pekerjaan pagi saya jadi lebih ringan 😀

Naia Habis Mandi

Naia Habis Mandi

Terima kasih yaa Ilman Akbar :*

Published by:
%d bloggers like this: