Category Archives: Lomba Blog

Magic [Mister] Potato

Lomba Blog

Salah satu kebiasaan saya sampai saat ini adalah ngemil. Kebetulan cemilan yang paling saya suka itu adalah kripik kentang berbumbu. Kalian tau apa? Yap, persis, cemilan favorit saya adalah mister potato.

Nah, sambil ngemil itu saya suka membayangkan tempat-tempat indah yang sangat ingin saya kunjungi. Seperti sore itu saat ngemil, saya membayangkan mengelilingi kota London. Iya, London. Tempat Ratu Elizabeth tinggal dan memerintah serta salah satu negara wajib dikunjungi kalau ke Eropa.

Tapi rasanya seperti ada yang berbeda kali ini. Semuanya terasa sangat nyata.

Keping pertama yang saya gigit langsung membuat saya membayangkan berada di tempat dimana saya bisa melihat seluruh kota London. Seakan-akan saya berada di titik tertinggi London Eye yang memungkinkan untuk melihat keseluruhan inggris sejauh 40km. Saya bisa melihat dengan jelas menara jam yang sangat terkenal di seluruh dunia, Big Ben. Salah satu tempat yang saya ingin kunjungi juga.

london eye

Credits

Tapi, bayangan itu tidak bertahan lama, begitu keping pertama habis, bayangan itu berakhir. Saya langsung melahap keping kedua, berharap kalau saya bisa membayangkan tempat indah lagi di London.

Ternyata, saya sekarang membayangkan berada tepat di bawah menara jam yang sebelumnya saya lihat dari atas London Eye, Big Ben. “Waah, impian saya langsung jadi nyata,” pikir saya. Langsung secepat itu pula saya mengelilingi tempat yang dijadikan istana parlemen itu. Kapan lagi kan? Sebelum bayangan ini berakhir, hehehe.

bigben

Credits

Tapi, saking bersemangatnya, saya pun mengunyah dengan sangat cepat. Dan, tanpa menunggu waktu lama, seketika itu juga bayangan saya habis mengiringi kepingan kedua yang habis saya makan.

Cepat-cepat saya mengambil keping selanjutnya untuk dimakan dan seketika itu saya berada di

Published by:

Pergi Kau!

Fiksi Lomba Blog

5 Februari 2013

Hari ini aku dipecat! Entah ini sudah kali keberapa aku mememecahkan beberapa piring makanan yang aku bawa. Sudah bertahun-tahun aku bekerja sebagai pelayan restoran padang dan selama itu pula aku tidak pernah membuat kesalahan. Tapi karena beberapa waktu terakhir ini aku selalu batuk-batuk, tanganku menjadi tidak kuat mengangkat itu semua.

Sedih, marah, dan geram rasanya hati ini. Hanya dari sini satu-satunya sumber nafkah untuk memenuhi kebutuhan aku dan istriku. Sekarang aku harus bagaimana?

Kutenangkan diri ini dengan merokok. Sudah bertahun-tahun pula rokok ini menjadi teman setiaku. Seperempat gajiku setiap bulan pasti kuhabiskan untuk merokok.

6 Agustus 2013

Sudah tiga bulan ini istriku pergi meninggalkanku. Dia memutuskan untuk tinggal di rumah orangtuanya. Memang sih aku tidak bisa menafkahinya lagi sehingga dia jadi terlihat sangat kurus. Tapi, hey! aku bingung harus apa lagi. Badankupun menjadi sangat kurus dan batuk yang kuderita juga semakin hari semakin parah. Aku jadi seperti zombi sekarang. Hidup setengah mati, kerja serabutan demi bisa makan dan merokok.

Tidak bisakah ia menemaniku di saat-saat sulit seperti ini? Tidak bisakah ia menjadi istri yang lebih sabar dan pengertian? Tidak bisakah ia mengerti kalau aku masih tertekan dengan ketiadaan pekerjaan ini? Huft, sungguh aku tidak habis pikir.

Aku kembali merogoh kantongku dan menemukan rokok tersisa. Benda inilah yang selalu berhasil menenangkanku.

7 Agustus 2013

Aku sudah tidak punya uang sepeser pun, bahkan untuk membeli rokok. Aku lalu mencari di antara tumpukan pakaian di lemari berharap ada beberapa batang rokok terselip.

Tapi, yang kutemukan bukanlah rokok, melainkan hasil testpack yang menunjukkan positif. Istriku hamil? Kenapa ia tidak memberitahuku? Apa ia takut aku tidak akan bisa membiayainya saat lahiran nanti?

Kalau memang itu yang ia pikirkan, baiklah

Published by:

Mimpi yang Takumi

Lomba Blog

Pagi itu aku terbangun sebelum alarm membangunkanku. Segar rasanya setelah bermimpi panjang yang menyenangkan. Mimpi menjelajahi gudang yang penuh dengan mesin cuci dan kulkas. Apakah ini sebuah pertanda? Entahlah. Hanya ada perasaan senang yang tersisa setelah bermimpi hal tersebut.

Mungkin juga mimpi itu adalah memang sebuah pertanda. Pertanda kalau aku memang harus mencuci pagi ini. Pakaian yang menumpuk di keranjang pakaian kotor itu rasanya sudah tidak sabar dan memanggil-manggil untuk segera dibersihkan. Setelah mencuci muka di kamar mandi yang kecil dalam rumah kontrakan yang aku tinggali ini, aku lalu mengambil keranjang pakaian kotor tadi untuk dipisahkan berdasarkan jenis dan warna. Dan dalam sekejap, kontrakan yang juga imut, yang memiliki luas hanya sekitar 5×5 meter persegi ini penuh dengan pakaian kotor yang sudah dipisah-pisahkan. Ada pakaian dalam menjadi satu tumpuk, pakaian putih satu tumpuk, pakaian anak satu tumpuk, dan pakaian berwarna serta yang berat-berat satu tumpuk lagi. Fyuh, pekerjaan yang tidak sebentar, pikirku.

Continue reading

Published by:

Video Mommychi

Lomba Blog

Beberapa waktu lalu saya membahas aplikasi kesehatan terbaru bernama mommychi yang berjudul “Mommychi: Demi Anak dan Waktu Yang Tidak Akan Pernah Kembali” di blog ini *bagi yang belum tau, silakan baca postingan saya tersebut ya, hehe. Aplikasi ini sangat bermanfaat untuk memantau tumbuh kembang kehidupan anak kita di 1000 hari pertamanya.

Sangat jauh lebih lengkap dari KMS (Kartu Menuju Sehat) yang biasa diberikan pada saat kita melahirkan. 

Setelah mengetahui adanya aplikasi yang bagus ini, saya jadi memindahkan catatan semua pertumbuhan dan perkembangan Naia yang ada di buku kesehatannya ke mommychi. Saya sangat dimudahkan karena terdapat grafik yang otomatis dibuat berdasarkan data yang kita berikan dan langsung dibandingkan dengan grafik pertumbuhan normal balita seusianya.

Yuk tonton videonya di sini 😀

Published by:

Mommychi: Demi Anak dan Waktu Yang Tidak Akan Pernah Kembali

Keluarga Lomba Blog

Sejak umur 12 bulanan, Naia memiliki berat badan jauh di bawah rata-rata berat badan anak seusianya. Saat itu saya dan suami masih tenang-tenang saja karena orangtua saya mengatakan saya pun dulu seperti itu. Jadi, saya dan suami menganggapnya hal genetik yang mungkin diturunkan oleh saya.

Tapi nyatanya hal tersebut salah. Kami (saya dan suami) mulai menyadari kalau Naia ‘ada apa-apa’ pada saat usianya menginjak 16 bulan. Memang sih, porsi makan Naia sangat imut dan sedikit sekali. Awalnya dokter hanya memberi vitamin penambah nafsu makan dan menyarankan untuk memberinya susu tambahan. Tapi akhirnya kamipun mulai mengikuti prosedur dari dokter untuk mencari tau ada apa sebenarnya di dalam tubuh Naia yang membuat beratnya jauh di bawah rata-rata itu, mulai dari tes urin, tes feses, sampai tes mantu (tes untuk melihat ada atau tidaknya penyakit TBC). Alhamdulillah tes mantunya ternyata negatif. Namun, dari tes feses, ternyata Naia mengalami penyerapan gizi yang kurang, karena terlihat dari banyaknya serat dan lemak baik yang keluar lagi melalui fesesnya. Akhirnya, selain diberi vitamin penambah nafsu makan, Naia juga diberi enzim tambahan untuk membantunya menyerap gizi dengan sempurna.
Pertanyaannya adalah, kenapa bisa sampai terjadi hal demikian?

Published by:

Solo di Hati Suami

Lomba Blog

Sekembalinya suami dari Solo beberapa bulan lalu, dia terlihat begitu berseri-seri tanda bahwa dia sangat senang. Salah satu alasannya sih karena tulisan untuk bukunya sudah berkembang pesat, walaupun masih menyisakan sedikit bagian yang akhirnya dikerjakan di Jakarta. Tapi ada hal lebih besar yang membuat dia sampai terlalu senang seperti itu. Dia sangat terpesona dengan kota Solo! Sampai-sampai dia mengajak saya untuk menghabiskan masa tua di sana kelak, huaah. Saat itu saya benar-benar penasaran. Ada apa ini? Kenapa dia sampai sebegitu terpesonanya dengan kota Solo?

Ketika saya tanya, suami menjawab karena Solo berbeda 180 derajat dengan jakarta. Mulai dari lalu lintasnya, suasana, makanan, sampai biaya hidupnya. Kesan tersebut didapat melalui perjalanan 3 hari 3 malamnya di sana.

Banyak makanan murah

Beberapa bulan lalu itu suami ke Solo dalam rangka menyepi dan mendapat ketenangan untuk menyelesaikan buku yang lama terbengkalai. Suami saya itu orangnya sangat mudah teralihkan pikirannya kalau mengerjakan sesuatu, jadi harus benar-benar sunyi atau sepi dan tidak melirik hal-hal lain baru deh bisa fokus menyelesaikan satu pekerjaan. Maka dari itu dia sangat bersedia saat diajak untuk mengejar deadline penulisan buku di Solo. Selama di sana, istilahnya itu dia work hard play hard.

Play hard-nya suami adalah wisata kuliner yang banyak, hahaha. Di sana suami dipandu oleh desainer grafis penerbit buku yang akan menerbitkan bukunya, Tiga Serangkai, yang secara kebetulan memang basecamp-nya di kota Solo. Dan dialah yang akhirnya menjerumuskan suami saya untuk makan buanyak selama di Solo 😛

pamer makanan

pamer makanan

Satu  hal yang membuat suami sangat puas akan makanannya selain kepuasan akan rasanya, yaitu murah! Bayangkan saja, makan nasi liwet bisa habis 3 piring saking enak dan murahnya. Seumur-umur saya belum pernah melihat suami makan sampai 3 piring begitu di satu jam makan kecuali makan makanan yang saya masak, hihi *narsis*. Tapi bisa gawat juga nih kalau kelamaan disana, suami nanti bisa gwendud karena makan melulu, hahaha. By the way, banyak makanan enak dan murah ini lah yang membuat suami akhirnya jatuh hati pada kota Solo.

Biaya hidup tidak setinggi Jakarta

Karena makanannya murah itu suami berpikir kalau biaya hidup di Solo juga lebih murah daripada di Jakarta. Yaa, di Jakarta 1 kali makan mungkin bisa menghabiskan setidaknya 30 ribu, 15 ribu kalau lauknya standard, tapi kalau di Solo 15 ribu saja sudah bisa mendapat makanan yang enak.

Lagipula, sahabatnya di Solo juga membenarkan pemikirannya tersebut. Beliau tadinya juga hidup dan menetap di Jakarta sampai akhirnya pindah ke Solo beberapa tahun lalu karena tugas pekerjaan. Nah, beliau bercerita kalau di sana segala kebutuhan hidup ya memang murah, jadi hidup bisa lebih enak karena tidak terlalu memusingkan kebutuhan yang muahal. Ini dia nih yang akhirnya membuat suami sangat bersemangat mengajak saya untuk menghabiskan masa tua di Solo.

Lalu lintas lengang

Walaupun suami diajak berwisata kuliner di setiap jam makan setiap hari, suami tetap bisa bekerja sesuai jadwal dan tidak terlambat. Itu karena lalu lintas di Solo lengang dan tidak ada kemacetan yang berarti. Coba saja di Jakarta, mau berwisata kuliner pasti mencari waktu setelah pulang bekerja atau di weekend sekalian agar waktunya tidak dihabiskan di jalan saja alias terkena macet! Iya, di Jakarta hampir setiap hari macet, sampai-sampai banyak orang bilang bisa parkir gratis di jalanan, hahaha.

Saya pernah menghabiskan total 7 jam di luar rumah dengan hanya 1 jam berada di tempat yang dimaksud. 6 jam sisanya? Saya habiskan untuk di jalan karena hampir sepanjang hari macet! Sangat membuang waktu kan?

Karena lalu lintas yang lengang ini suami sampai sempat berkunjung ke Lodji Gandrung, rumah dinas walikota Solo. Lalu lintas yang lengang ini yang membuat suami kemudian lebih jatuh hati lagi pada kota Solo.

di depan Lodji Gandrung

di depan Lodji Gandrung

Suasana tenang

Lalu lintas yang lengang tadi membuat suasana di kota ini sangat tenang, tidak terkesan diburu-buru waktu. Semua terkesan santai. Ini yang paling berbeda 180 derajat dengan Jakarta. Di Jakarta kesannya semuaa orang mau buru-buru, dikejar waktu katanya. Alasannya, kalau tidak cepat-cepat, akan terkena macet dan malah terlambat nantinya.

Suasana tenang ini juga yang menyebabkan suami sangat enjoy mengerjakan pekerjaan menulisnya di sana. Dari 300-an halaman bukunya, hampir 50%-nya berhasil dikerjakan di kota Solo selama hanya 3 hari karena berhasil mendapat ketenangan yang berarti. Walaupun sisa tulisannya dikerjakan di Jakarta, tetap saja dia tidak mendapat ketenangan seperti di Solo katanya.

Saya sendiri sih belum pernah merasakan bagaimana enaknya kota Solo ini. Seumur-umur saya juga gak pernah kepikiran untuk tinggal di kota lain selain di Jakarta dan sekitarnya. Sejak beberapa tahun lalu saya malah kepikiran untuk bisa tinggal di kota Depok yang masih berada di sekitar Jakarta. Kota Depok kan masih bisa ditempuh 1 jam saja dari Jakarta, 2 sampai 3 jam kalau terkena macet. Jadi, untuk bisa sering berkunjung ke rumah orangtua dan teman-teman saya di Jakarta ya masih bisa sering-sering laah. Kalau di Solo? Jauuuh, saya jadi tidak bisa sering-sering berkunjung ke rumah orangtua, saudara, dan kawan yang ada di Jakarta kalau begitu, huhu.

Ya mungkin saja nantinya saya akan berubah pikiran. Siapa yang tau akan masa yang akan datang kan? Sekarang saja, dari paparan suami kok ya bikin saya sedikit jatuh hati juga, walaupun saya masih harus berpikir lagi sih untuk bisa menghabiskan masa tua di sana seperti keinginan suami. Semoga saja hati saya bisa terbuka untuk akhirnya memenuhi keinginan suami itu, hehehe.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog kesan tentang Solo

Published by:
%d bloggers like this: