Category Archives: Lomba Blog

Dari Atlet Sampai Web Developer

Lomba Blog Pribadi

Itulah saya, ehehe.

Iya, dulunya saya atlet. Yaa, masih atlet daerah kok, belum sampai Nasional. Kejuaraan paling besar yang saya ikuti juga hanya sampai kejuaraan antar kota se-Indonesia *itu mah gak hanya yak*. Tapi sekarang saya itu ya web developer yang mantan atlet. Hehe, saya cukup bangga kok disebut mantan atlet. Itu artinya saya pernah berkontribusi dalam suatu kegiatan, dan hal itu sama sekali gak sia-sia. Karena kebanggaan datangnya dari dalam hati kan? hihihi. Kaya kalimat terakhir yang ada di CineUs Book Trailer:

Melelahkan sekali kalau kita terus mengejar pengakuan dari orang lain. Kepuasan itu datangnya dari sini *hati* bukan dari sana *pengakuan orang lain*

Sejak kelas 1 SMA hingga lulus kuliah saya cukup aktif di kegiatan beladiri, yaitu Kempo. Keaktifan saya di beladiri tersebut hingga membawa saya beberapa kali memenangkan kejuaraan, baik tingkat dojo (tempat latihan) maupun tingkat nasional (kejuaraan antar kota se-Indonesia), sampai akhirnya saya dipanggil untuk ikut pemusatan pelatihan se-DKI Jakarta (Pelatda DKI).

Medali yang pernah saya dapatkan

Medali yang pernah saya dapatkan

Nah, tapi akhirnya saya harus mengundurkan diri dari kegiatan itu. Kenapa? Karena saya ingin fokus pada tujuan saya waktu itu, ingin menjadi freelancer web developer *yang akhirnya sekarang tercapai, Alhamdulillah yah*. Iya, saya waktu itu punya tujuan baru karena menjadi atlet itu istilahnya hanya terbawa arus dan bukan tujuan utama saya, hehe *belagu amat yak*. Yaa, yang penting saat menjadi atlet maupun sekarang saya cukup bangga akan diri saya sendiri, karena masih bisa memberi manfaat ^^.

Iya, buat saya arti kebanggaan adalah disaat kita memaksimalkan kontribusi dan peran kita *alias bermanfaat* di manapun. Iya, di manapun, termasuk di dalam rumah. Psst, sekarang saya udah menjadi istri seorang Ilman Akbar dan ibu bagi gadis cilik bernama Naia lho XP

Di dunia ini ada dua hal yang harus diperjuangkan. Impian. Dan cinta.

Sesuai dengan kalimat itu, saya memperjuangkan mimpi saya untuk menjadi freelancer dan bekerja dari rumah dengan mengorbankan kegiatan ke-atlet-an saat itu, hehehe. Nah, untuk belajar dan melatih diri menjadi web developer, saya sempat bekerja di 2 perusahaan web consultant. Dari kedua perusahaan itu, saya dipercaya untuk membuat beberapa web yang sampai sekarang akhirnya saya letakkan dalam portfolio saya. Dari situ juga saya bangga, karena beberapa web yang saya buat sampai sekarang masih di-maintain, hihi.

istianasutanti.com

portfolio

Kebanggaan dimulai dari diri sendiri sih memang. Tapi alangkah lebih bangga lagi kan kalau hasil karya kita memberikan manfaat? 😀

Postingan ini diikutsertakan dalam Lomba artikel #CineUsBookTrailer

Lomba Artikel CineUs Book Trailer

Lomba Artikel CineUs Book Trailer

Published by:

Memberi Mimpi Untuk Pemimpin Kecil

Keluarga Lomba Blog Parenting

Saya semakin tidak berhenti belajar sejak memiliki anak, terutama belajar mengenai ilmu parenting. Hal itu tidak lain tidak bukan saya lakukan hanya untuk mengetahui cara mengasuh, mendidik, dan membesarkan buah hati saya dan suami dengan ideal sesuai dengan tujuan dan gaya pengasuhan kami.

Alhamdulillah saya dan suami satu suara dalam hal mendidik anak kami. Maka dari itu, peran saya sangat besar dalam hal pengasuhan dan pendidikan anak-anak kami kelak.

Yang pasti, InsyaAllah, hal paling pertama yang harus dan akan saya berikan adalah keimanan. Tanpa keimanan yang kuat, ilmu yang mereka miliki tidak akan cukup bermanfaat. Keimanan yang kuat juga diperlukan untuk menuntun mereka tetap berada pada jalur kehidupan yang baik tanpa menyulitkan siapapun. Keimanan akan menjadikan anak-anak kami tumbuh menjadi anak yang akan selalu memikirkan kebaikan untuk orang lain, lingkungan, serta dunia.

Untuk bisa menjadikan mereka orang yang sangat bermanfaat, saya ingin sekali menanamkan mimpi pada anak-anak saya. Mimpi akan profesi, mimpi akan perubahan lingkungan, maupun mimpi akan perubahan baik yang bisa dilakukan untuk dunia. Mimpi yang ditanamkan sejak mereka kecil akan membuat mereka memiliki passion. Passion yang terus menerus dipupuk akan menjadikan mereka mudah mewujudkan mimpi mereka kelak.

Orang-orang besar yang kita tahu memulai hidupnya dengan memiliki mimpi. Wright bersaudara misalnya. Mereka bermimpi akan adanya mesin yang membuat kita bisa terbang, dan berhasil menciptakan pesawat terbang pertama di dunia pada bulan Desember tahun 1903.

Wright Bersaudara

Penerbangan pertama Wright Bersaudara

Atau seperti pemimipin di negara kita sendiri, Soekarno – Hatta, yang memimpikan kemerdekaan untuk negaranya. Mereka kemudian dapat menggerakkan pemuda-pemuda untuk tidak berhenti berjuang merebut kemerdekaan hingga akhirnya berhasil dijadikan Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia.

Soekarno - Hatta

Soekarno – Hatta

Gambar diambil dari http://uniqpost.com/52862/polemik-pemberian-gelar-pahlawan-nasional-pada-soekarno-hatta/

Saya benar-benar ingin membiasakan mereka untuk bermimpi dan berimajinasi. Dengan mimpi dan imajinasi yang mereka punya, mereka akan berusaha mewujudkannya dengan melakukan hal-hal hebat.

Logic will get you from A to Z; imagination will get you everywhere.
~ Albert Einstein

Bagaimana cara saya membuat mereka berimajinasi? Semenjak Naia masih dalam perut saya, kami (saya dan suami) sudah membelikan buku cerita untuk kami bacakan. Saya percaya, dongeng dan cerita akan membuatnya memiliki banyak sekali pengetahuan dan memicu otaknya untuk terus berimajinasi.

Dongeng juga bisa membantu kita membentuk karakter yang kuat dan pemikiran yang cerdas bagi anak, yang memang diperlukan bagi para pemimpin. Suatu channel parenting yang saya ikuti mengajarkan kami, para orangtua, cara bagaimana menjadikan dongeng sebagai salah satu sarana pembelajaran karakter. Dan hal tersebut bisa dilakukan oleh semua orangtua, tanpa terkecuali.

If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.

~ Albert Einstein

Sejak 1 bulan sebelum melahirkan saya sudah sepenuhnya bekerja dari rumahHal itu saya lakukan agar saya punya waktu penuh untuk mengasuh dan mendidik sendiri anak saya di rumah, bukan menyerahkannya ke orangtua saya atau orangtua suami, lebih-lebih menyerahkan pada pengasuh yang kami bayar. Terlebih dalam hal membentuk karakternya.

Bukan apa-apa, karena mendidik karakter itu jauh lebih penting daripada mendidiknya agar menjadi anak pintar dalam hal mata pelajaran. Dan pendidikan karakter itu sangat jauh lebih baik dilakukan oleh saya sendiri sebagai ibu, pendidik pertama bagi anak-anak. Banyak orang-orang berkuasa yang akhirnya menyalahgunakan kekuasannya untuk kepentingan pribadi ~seperti melakukan korupsi atau semacamnya~. Atau orang berpendidikan tinggi mengabaikan hal kecil yang sangat penting, seperti mengantri atau membuang sampah di tempatnya. Menurut saya, hal tersebut salah satunya dikarenakan kurang kuatnya pemahaman karakter pada diri mereka. Perlu waktu bertahun-tahun untuk membiasakan diri melakukan hal-hal baik tersebut.

Salah satu lagi karakter yang saya ingin anak-anak saya miliki adalah tekad berjuang. Mimpi dan imajinasi yang dimiliki hanya akan menjadi mimpi apabila tidak diwujudkan. Dan untuk mewujudkan itu, mereka semua perlu untuk memiliki tekad berjuang yang besar. Tekad itu akan menjadikan mereka sangat sulit untuk menyerah dan mendorong untuk selalu mencoba.

You never fail until you stop trying

~ Albert Einstein

Semoga saya sebagai ibu, yang memiliki peran sangat penting bagi perkembangan dan pendidikan pemimpin kecil kami, bisa terus konsisten dalam mendidik dan mengasuh anak-anak kami seperti yang telah kami sepakati sebelumnya. Aamiin.

Lomba Penulisan Blog “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil”

Lomba Penulisan Blog “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil”

Links:

Published by:

Hal-hal Yang Diperlukan Demi Langgengnya Pernikahan

Keluarga Lomba Blog

Beberapa bulan sebelum saya dan suami menikah, saya dikagetkan dengan berita perceraian salah satu orang yang sangat menginspirasi saya. Beliau baru saja menginjak 2 tahun pernikahan namun berpacaran sudah cukup lama, sekitar 8 tahunan. Saat ditanya mengapa akhirnya memutuskan bercerai, beliau hanya memberikan nasehat, bagusnya sebelum menikah benar-benar terdapat komunikasi satu sama lain mengenai hal-hal yang diharapkan dengan pernikahan, juga mengenai keadaan diri masing-masing, baik atau buruk.

Saya dan calon suami waktu itu akhirnya melaksanakan nasehatnya. Kami saling menceritakan sifat buruk kami dengan tidak mengharapkan apa-apa. Kalau memang cinta dan benar-benar berniat menjadikan pernikahan sebagai ibadah, insyaAllah sifat buruk kami masing-masing akan saling dikurangi.

Akhirnya kami pun menikah pada tanggal 26 Juni 2011 yang lalu.

Pernikahan

Pernikahan

Setelah saya menikah, tidak berapa lama terdapat lagi seorang sahabat yang pernikahannya berada di ujung tanduk. Di dalam hati, saya sebenarnya mengagumi keluarga beliau karena merupakan keluarga yang cukup harmonis dan sang ibu benar-benar menjadi pendidik yang asik bagi anak-anaknya. Fuah, saya jadi was-was lagi, huhu.

Akhirnya saya menjadikan umur pernikahan kedua sahabat itu menjadi patokan keberhasilan mempertahankan pernikahan saya dan suami. Patokan yang paling ringan adalah ketika memasuki usia 2 tahun pernikahan. Terbersit rasa lega yang tidak sedikit saat usia pernikahan kami menginjak umur 2 tahun 4 bulan yang lalu. Patokan selanjutnya adalah di umur pernikahan ke 10 nanti, sama dengan sahabat yang pernikahannya di ujung tanduk dan umur pernikahan mbak Uniek Kasgarwanti, seorang blogger yang saya kenal dari komunitas emak2 blogger (KEB) yang baru saja merayakan umur pernikahan ke 10 ~Semoga beliau bahagia selalu bersama suami dan pernikahannya langgeng sampai akhir hayat, aamiin~. Yang satu di ujung pernikahan, yang satu masih sangat langgeng, dari keduanya kita bisa belajar 😀

Selain menjadikan umur pernikahan kedua sahabat tersebut sebagai patokan ringan, saya juga menjadikan umur pernikahan orangtua saya dan suami sebagai patokan selanjutnya. Mereka masih tetap harmonis sejak awal menikah hingga sekarang, dan saya sangat mengagumi keduanya. Umur pernikahan mertua saya sudah mencapai 26. Dan umur pernikahan orangtua saya lebih dari itu, yaitu 38. Harapannya siih saya dan suami bisa langgeng seumur hidup. Bahkan dipersatukan kembali di surgaNya kelak, Aamiin.

Namun, dari pengalaman buruk kedua sahabat itu serta dari keharmonisan keluarga orangtua kami, saya mengambil beberapa pelajaran dalam pernikahan.

*Saya pernah bikin postingan mengenai persiapan mental sebelum menikah, nah kali ini pendapat saya untuk membuat pernikahan langgeng dengan melihat pengalaman-pengalaman pernikahan teman maupun sanak saudara.

1. Selalu komunikasi

Tanpa adanya komunikasi yang baik, hubungan juga tidak akan berjalan baik. Saya dan suami Alhamdulillah selalu berkomunikasi dengan baik. Biasanya kami menyediakan waktu 1 hari kosong untuk hanya di rumah saja dan bersantai, hihi. 1 hari bersantai itu kita gunakan untuk saling bercerita panjang lebar mengenai segala hal. Tapi jika dalam satu minggu kami tidak memiliki hari libur yang bisa digunakan untuk di rumah saja, suami kadang-kadang ijin kerja di weekdays 😛

2. Saling percaya dan menjaga kepercayaan

Huah, ini penting banget nih. Walaupun komunikasi berjalan mulus, tapi tanpa adanya rasa saling percaya tetap saja komunikasi yang berjalan hanya akan saling mencurigai dan itu tidak baik bagi sebuah hubungan. Ini yang saya pelajari dari orangtua saya dan suami. Mereka, walaupun tanpa berkomunikasi, benar-benar bisa saling percaya dan saling menjaga kepercayaan itu. Sekali saja kita mengkhianati kepercayaan pasangan, selanjutnya tidak akan pernah bisa sepenuhnya dipercaya lagi. Huhu.

3. Selalu mempelajari dan mengerti kekurangan pasangan

Iya, mempelajari, hehe. Kita biasanya akan terus menemui kekurangan pasangan yang tidak bisa kita tolerir. Nah, buat saya sih, kekurangan tersebut dipelajari untuk dimengerti. Jadi, saat kita melihat kekurangan pasangan, kita sudah tau cara mengatasinya untuk selanjutnya kita kurangi sedikit demi sedikit. Kita juga harus tau kekurangan kita untuk dikurangi sedikit demi sedikit juga.

4. Selalu belajar untuk menjadi lebih baik

Tanpa belajar, kita gak bisa mengubah diri kita untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Tentunya agar pernikahan langgeng, kita mau selalu lebih baik lagi kan? Nah, dengan selalu berkomunikasi, saya dan suami jadi tau harapan dan kekurangan masing-masing. Dengan begitu, kita bisa selalu belajar untuk bisa memenuhi harapan tersebut atau memperbaiki kekurangan agar hubungan terjaga.

5. Jangan malu untuk sering-sering berhias

Bukan cuma istri, suami juga perlu berhias untuk menyenangkan istrinya, hehe. Biasanya kan yang menuntut selalu suami agar istrinya bisa terlihat cantik di matanya. Nah, istri juga bisa donk menuntut suaminya tampil ganteng dan rapi, hihihi. Maka dari itu, jangan gengsi untuk sesekali berhias diri walaupun gak pergi keman-mana, yaa sekedar menyenangkan hati pasangan 😀

6. Samakan visi dan misi keluarga

Hihi, kaya apaan aja yak punya visi dan misi. Etapi bener lho, suami istri itu harus punya pandangan yang sama terhadap keluarga yang mereka bentuk, ya punya visi dan misi yang harus sama gitu. Kalau visi yang dipegang suami berbeda dengan istri, ya bisa wassalam deh, dan bisa selalu terangkat ketika terjadi keadaan yang tidak enak *alias emosi*. Kalau untuk hal-hal kecil sih gak masalah bisa beda, tapi visi dan misi ini adalah suatu hal yang prinsipil bentuknya.

7. Rutin memberi kejutan-kejutan kecil

Hihi, kejutan-kejutan kecil gini bisa membuat makin cinta dengan pasangan lho. Pernah suatu hari, suami ada acara di *lupa tempatnya*, karena saya orang yang penakut, jadi saya tidak membolehkan suami pulang terlalu malam ~paling malam ya jam 8 lah~. Nah, karena waktu itu suami pulang agak lebih malam, saya sudah terlanjur tidur dan sudah terlanjur *sedikit* kesal, huhu *mana saya lagi hamil pula*. Tetapi, akalnya suami pinter banget deh. Dia membawakan makanan favorit saya plus hadiah kecil. Seumur-umur saya memang menginginkan barang itu dan belum kesampean sampai dia membelikan XP *sampai saya posting di facebook juga, hihi*

hadiah kecil

8. Mesra di manapun

Asal jangan vulgar yaa, hehe. Sekedar mencuri2 cium saat berdua saja di lift atau di tempat umum atau sekedar mencolek-colek iseng suami juga bisa membuat hubungan gak datar lhoo. Malah bisa semakin harmonis, hihi

9. Jangan remehkan kata tolong, terima kasih, dan maaf

Yap, ketiga kata ini penting digunakan agar pasangan selalu merasa dihargai dan bermanfaat. Pada bagian ini, saya juga pernah membuat postingan sendiri di sini.

10. Sering-sering ucapkan “I love you”

Jangan gengsi juga untuk sering-sering mengatakan “I love you” untuk pasangan, tiap hari juga boleh XP Bener deh, kata-kata ini menjadi penyemangat hati yang sedang suntuk atau tidak bersemangat.

Rasanya baru segitu saja dari saya. No 8 sampai 10 baru ditulis setelah diingatkan oleh kakak sepupu yang komen, hehehe. Memang saya newbie sih untuk urusan pernikahan, hihi maklum baru 2,5 tahun :P. Tapi saya mau dan semangat untuk terus belajar menyenangkan suami, anak, dan juga membuat keluarga yang harmonis. Aamiin.

Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine.

Giveaway 10th Wedding Anniversary

Published by:

Giveaway Idul Adha Hijaiya

Lomba Blog

*Update 26 Oktober 2013

Bismillaah…

Jadi dalam rangka menyambut Idul Adha dan syukuran kecil karena toko kami aktif kembali, saya dan kawan saya pemilik online store hijaiya memutuskan untuk membuat giveaway ini.

Tapii, walaupun namanya GA Idul Adha, deadline lombanya sampai akhir Oktober lhoo, hehehe. *karena mulainya juga telat* XP Disimak yaa syarat dan ketentuannya serta hadiahnya. Hadiahnya gak seberapa siih, tapi lumayan 😉

SYARAT DAN KETENTUAN :

1. Peserta WNI serta pemilik blog berplatform apa saja ~wordpress, blogspot, blogdetik, dll~, sampai yang memiliki domain sendiri.

2. Like facebook dan follow twitter hijaiya.

3. Menuliskan cerita pribadi bertema “Gaya Hijab”. Bisa menceritakan gaya berjilbab sendiri, teman, saudara, sampai gaya berhijab yang disukai 😀

4. Terdapat kata “hijab gaya tanpa banyak biaya” setidaknya 1 kata dan ditautkan ke link hijaiya.

5. Pada akhir tulisan cantumkan “Give Away Idul Adha dari Hijaiya” yang dihubungkan pada postingan ini

6.  Daftarkan nama, email dan link blog kamu dengan berkomentar di postingan ini.

7. Pemenang pilihan juri dinilai berdasarkan: Kesesuaian tema, Kenyamanan cerita dan tata penulisan. Juri adalah saya pribadi dan blogger serta penulis buku “101 Young CEO“, Ilman Akbar yang secara kebetulan adalah suami saya sendiri XP

8. Periode Give Away: 04 Oktober 2013 –  25 Oktober 2013 pk. 23.59

9. Pengumuman Pemenang 31 Oktober 2013 di blog ini

HADIAH

Pemenang pertama akan mendapat gamis satu setel “miss flower”

Flower Dress

Flower Dress

Pemenang kedua akan mendapat blazer “renata blazer”

Renata Blazer

Renata Blazer

Pemenang ketiga akan mendapat baju atasan “ribbon shirt”

Ribbon Shirt

Ribbon Shirt

Hihi, hadiahnya gitu ajaa, semangat yaa yang mau ikutan 😀

*Tambahan: Semua peserta akan mendapatkan kupon diskon yang bisa digunakan untuk belanja di hijaiya hingga akhir tahun 2013.

*Deg-degan pertama kali bikin giveaway gini, ehehe.

PESERTA GIVEAWAY

  1. Oci YM. Hijab Gaya, Tanpa Banyak Biaya, dan Sesuai AturanNya
  2. Erfi Susanti/Umi Azzahra. Nyaman di Tubuh dan di Hati
  3. Laily Fitriani. Lomba Menulis
  4. Leyla Hana. Tiga Gaya Hijap tanpa Banyak Biaya
  5. Ingke. Hijab Gaya Tanpa Banyak Biaya Seperti Kata Si Mbok
  6. Melati. Kerudung, Jilbab, Hijab … (Setelah dua puluh tahun …)
  7. Yulia Rahmita. Hijab, Jilbab, gaya jilbab favorit
  8. Dian R.N. Perjalanan Berhijab Perjalanan Ikuti Perintahnya
  9. Susanti Dewi. Kewajiban Berjilbab
  10. Yuni Fawwaaz Rudy. Cantik dengan Berhijab
  11. Meitri Sulistianingtyas. Ini Gaya Hijabku,.  Kalau Kamu?
  12. Diah Dwi Arti. Jilbab Gadis vs Hijab Ibu-ibu
  13. Siti Sofiah. (Penutup Auratku) Hijab Syar’i Sederhana….
  14. Novia Erwida. Hijab Simple
  15. Intan Novriza Kamala Sari. Solusi Cantik Berhijab Tanpa Banyak Biaya
  16. Kanianingsih. 2S, Gaya Hijab Pilihanku
  17. Inna Riana. Tips Hijab Gaya Tanpa Banyak Biaya
  18. Yudiastuti. Gaya Hijabku
  19. Dian Maharani. Cantik Berhijab Tanpa Banyak Biaya
  20. Khaira Hisan. Fadia dan Hijabnya
  21. Luckty Giyan Sukarno. Membingkai Diri
  22. Orin. Gaya Hijab Anti Ribet
  23. Yusi Anita. Aku dan Hijabku
  24. Yanuarty Paresma Wahyuningsih. Berhijab Syar’i dengan Double Paris
  25. Ade Delina Putri. Hijab itu, Nggak Ribet kok!
  26. Bunda Aisykha. Jilbab itu Jati Diri
  27. Efi Fitriyyah. Gaya Hijab, Antara Segi Empat dan Pashmina
  28. Astin Astanti. Gaya Jilbab Sederhana
  29. Siti Latifah. Hijab Gaya, Gak Harus Banyak Biaya
  30. Ananda Putri Bumi. Perjalanan dalam Berhijab
  31. Nurul Fuaziah. Gaya Hijabku dari Masa ke Masa
  32. Sari Widiarti. Gaya Hijabku yang Gaya Tanpa Banyak Biaya
Published by:

Trend Mobile Internet terhadap Anak

Lomba Blog

Prolog

Jadi, tanggal 5 Juli 2013 kemarin ada talkshow mengenai ““Peran Orangtua mengatasi Trend Mobile Internet terhadap perkembangan anak” yang diadakan oleh Dari Perempuan dan Indosat Mentari. Kebetulan mengambil lokasi di 1/15 Coffee Gandaria – Jakarta dari jam 14.00 sampai 17.00.

Hari kamis, saya memutuskan untuk menginap di rumah orangtua saya di Tj. Priuk. Nah, saya menyampaikan ke suami kalau saya ingin naik transjakarta aja sekalian jalan-jalan. Tapi kan bawaan saya agak banyak dan berat, terlebih saya bawa Naia, jadi akan merepotkan kalau naik transjakarta karena harus transit 2 kali. Jadilah saya naik taksi saja.

Karena saya sedang menginap di rumah orangtua di priuk, jadi saya memutuskan untuk tidak mengajak Naia. Berhubung tempatnya jauh dari priuk dan saya naik angkutan umum, akan lebih bahaya kalau saya mengajak Naia.
(Dan bener sih, saya berhasil menghabiskan total 9 jam dengan 8 jam di jalan dan 1 jam di tempat acara *what a nice day*. Naia jadi apa ini kalau ikut, bisa bosan tidak ketulungan)

Menenangkan Naia

Karena kita terbiasa cuma berdua di rumah, jadinya setiap saya pergi ya Naia selalu diajak. Nah, kemarin Naia melihat saya sudah rapi jadi dia langsung minta gendong dan menunjuk-nunjuk keluar rumah.

Tadinya malah digendong ibu saya, tapi dia jadi nangis kejer. Yaudah saya ajak keluar rumah dulu sambil saya jelaskan pelan-pelan saya mau kemana dan kenapa dia tidak diajak. Alhamdulillah jadi tenang kembali dan jadi mau digendong ibu saya. Pintarnya kamu nak *cium*

Berangkat deh (jam 12:30).

Perjalanan

Nah, perjalanan saya dari priuk ternyata tidak seperti yang diharapkan. Saya sengaja bersiap dari 2 jam sebelum acara agar tidak terlambat. Ternyata, jam 13.30 saja saya baru sampai terminal priuk. “Jam segini baru sampai sini, mau sampai jam berapa nih ke tempatnya”, pikir saya.

Karena jalur yang saya ambil adalah ke blok m terlebih dahulu baru naik metromini 72, jadilah saya mencari bus patas jurusan blok m. Nah, patas itu baru banget sampai terminal jadi kayanya mungkin baru berangkat setengah jam lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk naik transjakarta saja, walaupun harus transit 2 kali.

Pada saat transit pertama, saya baru memperhatikan kalau sekarang transjakarta di setiap feedernya dilengkapi oleh monitor kedatangan bus. Dengan monitor itu, kita jadi tahu berapa lama lagi busnya sampai di feeder tempat kita menunggu dan tahu juga busnya sudah sampai mana.

Monitor Informasi Transjakarta

Monitor Informasi Transjakarta

Tapi sayangnya, lalu lintas juga sedang tidak bersahabat. Sampai blok m sudah jam 15.20an, hiks. Yaudah lah lanjutkan, tekad untuk datang dan (semoga) mendapat materinya sangat besar. Alhamdulillahnya metromini 72 langsung ada dan bisa langsung berangkat.  Karena saya tidak tahu letak persis 1/15 coffeenya itu dimana, saya berpesan ke kondekturnya agar saya diturunkan di Jl. Gandaria 1.

Ternyata kondekturnya lupa, dan saya kelewatan jauh, walhasil harus balik lagi, huhu. Untungnya ongkosnya diganti sama kondekturnya, ihihi. Setelah akhirnya dapet bus lagi dan turun tepat di depan tempatnya, saya langsung masuk. Lihat jam, sudah jam 16.00, hiks T_T

Si mba yang jaga absennya juga sampai senyum-senyum sendiri, acara sudah mau selesai saya baru dateng. Yaudah, kebagian pengumuman-pengumuman aja dah.

Yak, walaupun saya ketinggalan materinya, saya akhirnya minta rekamannya. Tapi, sampai saya menulis di blog ini belum dapet rekamannya, hehe. Akhirnya saya buat saja chirpstory dari pemenang livetweet kemarin, mbak Caroline Adenan.

Peran Orangtua mengatasi Trend Mobile Internet terhadap perkembangan anak

Talkshow

Talkshow

Jadi, anak-anak generasi sekarang itu termasuk ke dalam golongan generasi Z. Apa itu generasi Z? Yaitu generasi yang sudah sangat melek teknologi, termasuk internet dan gadget. Terutama remaja jaman sekarang ya, mereka sangat familiar dan terbiasa banget dengan yang namanya mobile internet. Mereka bisa mengakses internet dengan gampang melalui gadget yang mereka miliki dan sudah jarang menggunakan PC.

Jangankan usia remaja, jaman sekarang itu bayi juga sudah sangat mengenal gadget, terutama untuk bermain. Mereka mungkin sudah tidak kenal lagi yang namanya PC nantinya. Dan faktanya, belum ada juga pembuktian bahwa internet berdampak baik atau buruk terhadap anak.

Menurut saya sendiri, internet itu seperti 2 sisi mata uang, bisa berdampak baik dan bisa juga berdampak buruk terhadap anak, tergantung dari konten yang sedang mereka akses serta pengarahan dari orang terdekat terutama orangtua.

Untuk itu, sebagai orangtua selaku pendidik paling pertama para generasi masa depan, haruslah dituntut untuk mengerti apa manfaat serta kerugian yang bisa diakibatkan oleh internet itu sendiri. Dengan mengerti manfaat yang bisa didapat atau kerugiannya, orangtua bisa dengan mudah deh mengawasi penggunaan internet pada anaknya. Ya memang gak semudah membalik telapak tangan juga sih, perlu komitmen yang kuat dan komunikasi yang baik dengan anak.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengarahkan teknologi internet menjadi hal yang sangat bermanfaat bagi anak kita. Salah satunya menemani anak saat mengakses internet sedini mungkin. Bila diurutkan melalui usia mereka, bisa dijabarkan seperti berikut:

Di usia 2-4 tahun, orangtua bisa mendampingi anak saat mereka mengakses internet. Membuat pengalaman positif serta menyenangkan seperti mencari gambar atau menonton video lagu-lagu anak. Dengan pengalaman menyenangkan tersebut, anak akan mengingat kalau internet itu mengasikkan.

Usia 4-7 tahun, anak bisa diberi kebebasan untuk mulai mengakses internet sendiri namun tetap dalam pengawasan orangtua. Mereka bisa mulai mencari informasi-informasi positif dan yang terkait dengan dirinya sendiri. Dengan begitu, mereka akan merasa nyaman karena bisa mengakses internet.

Usia 7-10 tahun, anak bisa mulai didorong untuk eksplorasi internet sendiri dan orangtua bisa mulai melakukan edukasi filtering. Orangtua bisa mulai menjelaskan mana konten yang baik dan mana konten yang buruk atau tidak pantas diakses. Sebenarnya dari usia sedini mungkin sampai usia segini (10 tahunan) adalah saatnya pembentukan karakter dan kebiasaan anak. Maka, sebaiknya kebiasaan membatasi mengakses internet juga harus diajarkan sedini mungkin.

Di usia 10-14 tahun, orangtua bisa mulai mengajari pentingnya data pribadi dan bagaimana mengatur data tersebut. Orangtua juga mulai bisa berdiskusi 2 arah dengan anak mengapa situs jejaring sosial seperti facebook hanya boleh diakses orang masyarakat yang berusia lebih dari 13 tahun.

Dari semua usia itu, penggunaan internet tetap perlu diberi batasan. Jangan sampai orangtua membebaskan setiap hari dan setiap saat anak bisa mengakses internet, karena nantinya mereka bisa kecanduan internet dan tidak memiliki kontrol diri terhadap teknologi tersebut. Juga lakukan komunikasi terbuka, buat kesepakatan dengan anak mengenai peraturan pengaksesan internet dan teknologi lainnya.

Menurut pengalaman Shita Laksmi selaku pembicara talkshow kemarin, beliau melakukan kesepakatan dengan anaknya kalau mereka boleh mengakses internet apabila ada salah satu orangtua. Dan, internet dianggap sebagai suatu kemewahan bukannya sebagai hak.

Nah, dari pembicara lainnya, Elga Yulwardian, ada beberapa tips mengenai pengawasan teknologi internet terhadap anak.

  • Orangtua harus menentukan waktu kapan anak bisa menggunakan gadget. Mungkin dalam kasus mba Shita Laksmi tadi, ya saat ada salah satu orangtua yang bisa mengawasi.
  • Batasi berapa lama setiap penggunaan gadget atau buat kesepakatan seperti kapan saja bisa mengakses, berapa jam bisa diakses dan dimana saja internet tersebut bisa diakses.
  • Harus ada parenting control
  • Orangtua harus tau apa yang diakses dan dimainkan oleh anak-anak kita.
Parental Control

Parental Control

Sumber gambar

Dari semua tips tersebut, orangtua dituntut harus mengerti teknologi internet itu sendiri. Kalau sebagai orangtua tidak mengikuti perkembangan teknologi seperti itu, maka nantinya kita tidak bisa mengontrol dan mengajarkan kontrol diri terhadap anak-anak kelak.

Untuk saya pribadi, nantinya saya akan membatasi penggunaan internet. Misalnya sehari berapa jam dia bisa mengakses internet, menjelaskan apa saja situs yang boleh dan tidak boleh dibuka, serta mengawasi apa saja yang mereka mainkan. Kalau sudah dewasa dan sudah mempunyai kontrol diri, saya akan mempercayakan sepenuhnya sambil tetap saya awasi apa saja yang mereka buka secara diam-diam.

Kenapa diam-diam? Agar anak saya yakin mereka dipercaya oleh saya, dan pengawasan tersebut hanya saya lakukan jarang-jarang. Ini sih baru rencana saya, lha wong anak saya baru 15 bulan, hehe. Tapi ya seperti komitmen saya juga, saya ingin mengajarkan kemandirian dan pengendalian diri sedini mungkin terhadap anak 😀

Sumber:

Chirpstory dari pemenang livetweet, Caroline

Lomba Blog DPTalk

*Yah, dari perjalanan panjang kemarin, saya jadi jalan-jalan naik transjakarta seperti yang saya inginkan di hari sebelumnya deh, hehe.

Published by:

Wisata Bandung (sekaligus) Bulan Madu Penuh Kenangan

Keluarga Lomba Blog Pribadi

Saya dan suami menikah hampir 2 tahun yang lalu ~waah, udah hampir 2 tahun ternyatah, Alhamdulillaah~, lebih tepatnya tanggal 26 Juni 2011.

Nah, sebelum menikah itu kita selalu ngobrolin semua persiapan pernikahan sampai rencana bulan madu juga, hihi. Tadinya sih saya berniat bulan madu yang agak jauh, kemanaa kek gitu, gak di Jakarta atau Depok aja. Etapi untung direm sama suami, soalnya dana yang dipake buat jalan2 jauh itu lumayan banget buat kebutuhan setelah menikah nanti, dan ternyata ya emang bener.

Jadilah akhirnya kita ke Bandung saja yang murmer. Iya, murmer alias murah meriah, soalnya suami niat banget wisata Bandung sampe nyari-nyari harga hotel yang lumayan murah tapi baguss. Dapetlah salah satu hotel di Bandung yang enak.

Nah, mulai deh ngelist tempat-tempat yang mau kita kunjungi. Terpilihlah Situ Patenggang, Tangkuban Perahu, sama pemandian air panas Ciater.

Jadi, rencananya di tanggal 26 Juni itu sore harinya tepat setelah menikah kita langsung melenggang ke Bandung, minjem mobil om suami yang kebetulan memang tinggal di Bandung. Besok paginya, yaitu tanggal 27 Juni pagi, rencananya kita langsung meluncur ke Situ Patenggang terus lanjut sore hari ke Tangkuban perahu ~apa kebalik yah, Tangkuban Perahu dulu baru Situ Patenggang, lupa sayah~. Yang jelas, hari itu rencana kita adalah berhasil mengunjungi 2 tempat itu.

Nah, keesokan harinya lagi, tanggal 28 Juni 2011, kita berencana checkout hotel langsung menuju ke pemandian air panas Ciater baru pulang deh. Ngembaliin mobil dulu tapinya, terus kita naik travel ke Jakarta sekitar jam 7 malam. Kita merencanakan wisata Bandung ini muluss banget deh, dan waktu itu harapannya mudah-mudahan berjalan semulus itu juga.

Eh, di awal bulan Juni saya liat iklan TV kalau trans studio Bandung baru akan dibuka untuk umum tanggal 18 Juni 2011. Dengan semangat menggebu-gebu saya beritau (yang saat itu masih) calon suami tentang ide penggantian wisata Bandung hari pertama kita (tanggal 27 Juni) jadi ke trans studio Bandung aja. Etapi direm lagi karena itu nafsu sesaat, padahal saya pengen banget, huhu

trans-studio-bandung

Trans Studio Bandung

sumber gambar

Jadi, pemikirannya, karena saat itu trans studio Bandung baru banget dibuka untuk umum plus jaman liburan sekolah juga, pastilah trans studio Bandung bakal penuh sesak oleh pengunjung. Dan yang tadinya mau seneng-seneng yang ada nanti kita malah sebel ~karena cuma bisa menikmati sedikit permainan~ dan capek, hehe.

Yaudah, itung-itung latihan jadi istri yang nurut sama suami, gagal deh ke trans studio Bandung waktu itu. Dan masih belum terlaksana juga sampe sekarang padahal masih kepengeeen, hoee.

Tibalah hari pernikahan yang dinanti-nanti. Dan, sesuai rencana, tepat setelah menikah, langsuuung saja kita meluncur ke Bandung. Kira-kira berangkat setelah ashar dari Jakarta dan setiba di Bandung langsung check in di hotel yang dituju. Sip, okee. Malam hari itu kita kecapekan, jadi istirahat lah langsung biar besok paginya bisa fit buat jalan-jalan.

Begitu keesokan harinya setelah sarapan. Eng ing eeeng, kita masih keenakan berdua ngobrolin masa depan dan ngobrolin gimana kehidupan kita selanjutnya, ahaha. Seakan-akan kita gak punya rencana kemana-mana dah -_-. Gagal deh ke Situ Patenggang dan Tangkuban Perahu. Begitu sadar waktu cepet banget berlalu, malam harinya kita manfaatkan untuk dinner aja jadinya. Lumayaan, dinnernya romantis, hehe.

dinner-romantis

Dinner Romantis

sumber gambar

Oke, gak seromantis itu juga sih 😛

Setelah sholat maghrib, langsung keluar cari tempat makan yang kira-kira enak sambil nyari oleh-oleh. Nyari oleh-olehnya malem hari ini karena besok siang udah berniat meluncur ke Ciater. Kali ini gak boleh gagal lagi, hehehe.

Naah, besoknyaa, lagi-lagi setelah sarapan kita malah asik narsis di kamar hotel, hahaha. Foto-fotonya pernah saya upload di blog ini, judulnya newly wed, hihihi. Walhasil baru check out itu benar-benar di waktu yang mepeet banget sama limit checkout, jam 12. Nah, kita tetap doonk meluncur ke Ciater, yeay.

Tapiii…ternyataaa, jalanan macettt sodara-sodaraa, hahaha. Dengan terjebak macet begitu, akhirnya sampai sana jam 4 lewat sore hari. Yaudah, langsung ke tempat pemandian yang kita incar.

Macet

Macet

sumber gambar

Daan, ternyata lagiii, puenuuuuuh, huhuhu. Yaudah, akhirnya karena takut ketinggalan travel yang jam 7 malam, kita akhirnya cuma numpang makan berhubung belum makan siang dan numpang mandi aja di kamar mandi umum, huhuhu. Pake air dingin pulak, nasiib, nasib 😛

Belum berhenti sampai di sini. Setelah tadi langsung beranjak dari Ciater menuju tempat perjanjian dengan sepupu, ternyata tidak terkejar sampai tempat travel di jam yang telah dijadwalkan tadi. Walhasil kita berdua ketinggalan travel yang jam 7, hiks. Yaudah, mau gak mau ya naik travel selanjutnya. Jam 9 atau 10 malam kalau tidak salah, huhuhu.

Komplit dah, pertama gagal ke trans studio Bandung biar bisa ke Situ Patenggang dan Tangkuban Perahu. Kedua, gagal ke Situ Patenggang juga akhirnya. Ketiga, gagal jugaaa ke Tangkuban Perahu. Keempat, walaupun jadi ke Ciater, tapi gagal menikmati pemandian air panasnya. Kelimaa, ketinggalan travel, hiks.

Jadi, pelajarannya adalah: 1. Kalau mau bulan madu lebih baik tidak langsung berangkat di hari yang sama dengan hari pernikahan, capeeek bok. 2. Mendingan ikut tour aja deh, soalnya ada potensi gagal gitu kalau direncanakan sendiri, kecuali keduanya emang orang yang sangat-sangat menepati jadwal.

Benar-benar bulan madu penuh kenangan, haha. Bukan kenangan sedih, tapi lucu. Rencana wisata Bandung gagal karena keasikan santai berdua dan karena kecapekan 😀 Kalau ingat bulan madu itu, kita berdua pasti ketawa lagi, hehehe.

Dan untuk anniversary yang kedua nanti kita sih sudah merencanakan mau jalan-jalan lagi, mungkin ke Bandung lagi, melaksanakan wisata Bandung yang dulu tidak terlaksana, hehehe. Sukur-sukur kalau menang lomba blog ini. Kita jadi bisa merayakan ulang tahun pernikahan dengan jauh lebih spesial lagi dan akhirnya keinginan saya ke trans studio Bandung juga bisa terlaksana, Aamiin 😀

Published by:
%d bloggers like this: