Category Archives: Parenting

Naia Belajar Tanggung Jawab

Parenting

Akhir-akhir ini saya mulai mengajarkan ke Naia kalau sedang main ingin beranjak ke permainan selanjutnya, dia harus merapikan mainannya saat ini terlebih dahulu. Bukan obsesi supaya rumah rapi ya, tapi ya biar dia belajar bertanggung jawab. Pun saat dia ingin membawa sesuatu saat saya pergi. Saya memberinya tanggung jawab penuh akan apa yang dibawanya itu.

Saat weekend kemarin misalnya, dia lagi seneng-senengnya banget tidur sama Soothe & Glow Seahorse™ (sekarang dinamakan kula oleh kami, hihi) yang didapet dari Fisher-Price waktu itu, jadilah saat ingin menginap di rumah eyang atau utinya dia selalu ingin membawanya. Yasudah, saya ijinkan asal dia ingat untuk membawa pulang kembali. Di rumah utinya si Kula jadi ketemu sama saudaranya deh, hahaha. Alhamdulillah sebelum pulang dia ingat sekali apa yang dibawanya saat itu. Dia mencari2 dimana si kula berada. Sebelumnya saat dia lagi seneng banget main puzzle juga gitu. Puzzle-nya dibawaa terus sampai kemanapun. Sampai sekarang juga masih sih. Kalau saya sedang ingin mengajaknya ke acara yang saya nikmati ya dia membawa puzzle-nya untuk dimainkan agar tidak bosan.

Kula dan Saudara di rumah Uti

Kula dan Saudara di rumah Uti

Nah, tapi di rumah masih belum bisa merapikan mainannya, gimana donk?

Published by:

[Parenting] Kebiasaan Buruk 15: Gengsi untuk Menyapa

Kid's Activity Parenting

Waktu remaja pernah gak sih berselisih faham sama orang tua? Terus kalau sudah begitu, hubungan kalian gimana?

Saya sih Alhamdulillah gak pernah dulu, tapi lumayan sering ngeliat yang kayak gini, kakak saya kayanya pernah deh. Nah, keadaan begitu harusnya sih gak boleh lama-lama ya. Ya tau sendiri kan kalo sebel-sebelan sama orang itu jadi gimana? Hubungannya akan renggang. Gak heran kalau lihat banyak yang sudah dewasa pun agak gimana-gimana gitu sama orangtuanya. 🙁

Ternyata sebagai orang tua, kita jangan gengsi untuk menyapa duluan. Malah, kita bisa jadi contoh buat mereka kelak kalau bisa jadi orang yang mau memperbaiki hubungan serta gak segan untuk minta maaf kalau salah.

Eh, tapi gak harus nunggu remaja kok, simak deh cerita saya sama Naia ini

Published by:

Project Sunlight Demi Masa Depan yang Sehat

Parenting Pribadi

“Ma, atel ma”, kata Naia suatu petang.
“Gatel apanya?”
“Inii” *sambil nungging nunjuk daerah anus.
“Coba sini mama cek”
Setelah ngecek gak ada apa-apa. “Coba mama kasih bedak ya supaya gak gatel lagi”
“Yaa”

—Malam harinya—

“Atiiitt”, kata Naia sebelum beranjak tidur. Kali ini dia menunjuk2 bagian anus ke depan mendekati vagina dan terlihat sangat kesakitan.
“Coba sini buka celananya, mama cek”

Dan, jeng jeeeng… Begitu kagetnya saya saat mendapati ada 2 cacing kecil sedang berjalan menuju vagina. Salah satunya malah sudah berada di mulut vagina, itulah yang membuat Naia sangat kesakitan. Setelah browsing sebentar baru saya ketahui itu adalah cacing kremi, hiiy. Pantas saja saat petang hari dia merasa gatal di sekitar anus, mungkin saat itu cacing-cacingnya menetas dan siap melancarkan aksinya yang lain.

Saat itu saya betul-betul shock, panik, dan speachless mengetahui kenyataan kalau Naia cacingan! huaaa. Malu pada suami, malu pada diri sendiri, terlebih lagi malu pada Allah karena tidak bisa menjaga amanahNya ini. Seketika itu juga saya berpikir kenapa Naia bisa cacingan.

Kenapa Naia bisa cacingan?

Published by:

Pilih-pilih Pujian ke Anak

Hobi Parenting

Kemarin saya dikagetkan dengan salah satu tulisan di mommiesdaily yang berjudul “Jangan Memuji Anak” dan ditulis oleh mbak Lita. Dibuat penasaran dengan judulnya yang cukup anti mainstream, dimana semua orangtua ramai-ramai justru ingin banyak-banyak memuji anak, saya akhirnya membacanya sampai akhir.

Setelah membaca dan paham akan alasannya, saya jadi teringat dengan artikel “Why I’ll never tell my son he’s smart” dan video TEDx yang pernah saya tonton mengenai growth vs fixed mindset. Video TEDx berdurasi 11 menit itu cukup membuka mata saya akan adanya perbedaan yang menonjol tentang seorang yang sukses dengan yang tidak. Perbedaan tersebut ada pada pikiran bawah sadar mereka. Orang-orang sukses kebanyakan cenderung memiliki growth mindset. Sebaliknya, orang-orang yang biasa saja sepintar apapun dia cenderung memiliki fixed mindset.

Lalu apa itu growth dan fixed mindset?

Published by:

Play IQ: Mainnya Mereka Bukan Sekedar Main

Parenting Review

Menjadi orangtua, (terlebih orangtua baru yaa, yang baru melahirkan gituu) itu gak enak tapi enak. Lhoo, kok kontradiksi sih, hahaha. Gak enaknya sih saat menghadapi anak yang rewel atau saat kita terjaga sepanjang malam demi anak, atau saat-saat membersihkan kotorannya yaa. Tapii enaknya lebih banyaaak. Salah satunya itu kita seakan-akan punya “mainan” baru. Malah, saat anaknya sudah bisa diajak bermain, kita jadi ikutan mainan deh ama mereka. Asik kaan? Udah segede gini masiih aja mainan dan terkadang melakukan hal konyol demi anak kita ketawa dan ceria lagi, hihi.

Ya habiis, dunia mereka kan memang dunia bermain yaa? Mereka bermain bukan sekedar main sih, tapi lebih dari itu. Mereka belajar dan mengembangkan keterampilannya serta mengasah kemampuan otaknya lewat bermain. Iya, anak-anak mengembangkan dan mengasah kemampuan otaknya tidak hanya saat mereka tidur, tapi juga saat mereka bermain. Karena, aktivitas paling penting dari anak itu adalah tidur, bermain, dan mengobrol. Jadi, pastikan deh anak kita maksimal dalam ketiga aktivitas tersebut.

Aktivitas Utama Anak

Aktivitas Utama Anak

sumber gambar

Fisher-Price Play IQ Workshop

Saya jadi gak heran kalau jaman sekarang makin banyak orangtua yang sanggup memberikan waktu berkualitasnya untuk bermain sama anak. Ya demi itu tadi, demi memaksimalkan perkembangan otaknya. Malah banyak juga yang bikin mainan sendiri untuk anaknya. Saya juga pernah sih beberapa kali bikin mainan sendiri dari barang bekas, ya sambil iseng juga gitu di rumah, hehehe. Alhamdulillahnya sih dimainkan sama Naia. Tapi namanya dari barang bekas, ya umurnya juga gak lama. Paling lama itu seminggu mainannya juga udah gak dimainkan lagi, hahaha.

Tapi banyak juga kok mainan yang beli. Kebanyakan sih bukan kita sendiri yang beliin, tapi hadiah dari yangti-utinya. Tau kan ya kalo nenek-nenek itu emang sayaaang banget sama cucunya, hihihi. Jadi ya gitu deh, jarang banget kita membeli mainan untuk Naia, keseringan buku, karena kami ingin merangsang Naia agar suka membaca juga. Nah, saat saya mudik ke Semarang bareng keluarga suami, ada sepupu yang membelikan anaknya story book rhymes -semacam buku tapi ada lagu-lagunya gitu deh-. Sejak itu saya kepincut banget, pengen beliin juga buat Naia. Dasar emang saya orangnya pelupa pake banget, ya ampe sekarang gak terlaksana deh niat itu, huhuhu.

Continue reading

Published by:

[Parenting] “Time Out” Bukan Pendisiplinan

Parenting

Pernah menghukum anak yang “berulah” atau tantrum dengan memberinya time out? Sepertinya memang itu salah satu *salah satu lho ya* metode yang kita tau ya untuk menghukum anak. Maksudnya baik, agar dalam kesendiriannya, si anak bisa menenangkan diri, menyadari kesalahannya, serta introspeksi untuk bisa lebih baik lagi. Sebelum punya anak saya juga kepikiran sih mau menerapkan metode time out ini.

Tapi, beberapa waktu lalu suami saya memberi saya artikel yang cukup bagus dan cukup membuat saya berpikir ulang untuk menerapkan metode ini. Artikel tersebut berjudul “‘Time-Outs’ Are Hurting Your Child” dan berisi mengenai apa sebenarnya yang diterima oleh anak saat menghadapi hukuman time out ini.

Time out

Time out

Image credits

Maksud kita sebenarnya baik sih, agar si anak bisa introspeksi dan menyadari kesalahannya. Malah metode ini memang sudah banyak diterapkan baik di budaya Barat sana maupun di budaya Timur sini. Tidak sedikit juga ahli parenting yang merekomendasikan metode ini, malah di Nanny 911 juga menerapkan hal ini kan? hehe. Namun apa metode ini bagus buat perkembangan anak? Efektif gak sih sebetulnya?

Ternyata, dengan memberikan hukuman berupa time out ini si anak malah menangkap maksud yang berbeda

Published by:
%d bloggers like this: