Momopururu » Blog Archives

Tag Archives: parenting

Parenting

[Parenting] Kalimat Positif

Buat para orangtua, pasti udah pada engeh kan kalo kita sebaiknya menghindari kalimat negatif ke anak kita. Yaa, kalau anak dilarang melakukan sesuatu, dia bingung sebaiknya bagaimana, maka dari itu sebaiknya justru berilah kalimat saran atau kalimat positif yang baik. Ya simple banget kok, cuman mengganti kata ‘Jangan …’ menjadi lawan katanya.

Kenapa sebisa mungkin harus menghindari penggunaan kata ‘jangan’? Karenaa, anak-anak itu cenderung akan mengabaikan kata jangan dan malah melakukan hal negatif yang kita bilang tadi. Atau, karena dilarang melakukan ini itu, anak malah bingung sebaiknya ia harus ngapain. Untuk itulah perlunya penggunaan kalimat positif. Kalimat positif ini bisa berfungsi juga sebagai ‘saran’ kepada anak apa yang sebaiknya ia harus lakukan, instead of melarangnya, hehehe.

Barusan banget dapet dari status sepupu saya di Facebook mengenai daftar kalimat negatif yang diubah menjadi kalimat positif. Bisa digunakan sebagai panduan nih, para ibu-ibu dan ayah-ayah, dalam membiasakan menggunakan kalimat positif dalam berkomunikasi šŸ˜‰

kalimatpositif

Semudah ini kok, bener deh. Asal mau mencoba dan membiasakannya. Yang bener-bener perlu dilatih itu adalah kebiasaan. Ingat lho, kebiasaan..!! Jadi sering-seringlah berlatih mengganti kata jangan dengan kalimat Ā yang lebih positif yaa.

Happy Parenting ^^

Published by:
Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 2, Sering Berbohong

Pernah gak sih kita sebagai ibu melakukan kebohongan-kebohongan. Misalnya saja saat ada telpon yang tidak ingin diterima oleh Ibu lalu kita bilang ke anakĀ “Nak,bilang ibu sedang pergi ya”. Nah lhoo, berbohongnya memang bukan termasuk kebohongan besar sih, tapi tetap saja anak akan belajar kalau berbohong itu hal yang wajar dan diperbolehkan. Toh, itu dicontohkan oleh si Ibu sendiri. Jadi wajar saja kalau suatu saat si anak bisa menjadi pembohong yang baik, ya karena itu hasil didikan orangtua.

Nah, di buku Ayah Edi yang pernah saya baca, ini termasuk kebiasaan buruk yang sering tidak disadari oleh orangtua. Berbohong kecil dan sering. Iya, gak cuma sekali dua kali kan berbohong seperti itu? Bahkan sering demi menenangkan anak yang melarang ibu atau ayah untuk pergi kerja, kita bilang “Nak, ayah/ibu perginya cuma sebentar kok, gak lama, jadi kamu tenang ya”. Lah, kalo ternyata ibu atau ayahnya kerja sampai larut malam gimana? Atau sampai waktu normal aja deh, jam 5 sore misalnya. Apakah itu waktu yang sebentar? Nanti akan tertanam juga deh di benak anak kalau pergi seharian termasuk waktu yang sebentar.

Kata sebentar atau lama sebenarnya juga kurang dianjurkan sih, karena itu termasuk waktu yang relatif. Ada yang menganggap 1 jam itu lama, ada yang menganggap 1 jam itu sebentar.Ā Maka, untuk mengajarkan anak mengenai waktu, disaat anak belum bisa mengenal jam atau menit, sebaiknya pakai batas waktu yang pasti. Misalnya, “Kamu ditemani ibu setelah ibu selesai menggosok”. Nah, jelas batas waktunya, yaitu selesai menggosok! Anak akan belajar sabar dan akan mengenal batas waktu. Tapi disaat anak sudah mulai mengenal waktu, jam, menit, dsb, penting untuk selalu menggunakan batas waktu yang pasti tersebut. 15 menit lah, 30 menit lah, bahkan 8 jam kalau akan pergi bekerja.Ā 

Balik lagi ke bohong. Sebagai orangtua, selalu lah usahakan untuk tidak berbohong, baik kebohongannya hanya kebohongan kecil seperti yang telah disampaikan. Mulailah selalu bicara jujur dan selalu membiasakan hal tersebut ke anak sejak anak lahir. Lebih baik bicara jujur mau ke mana, bersama siapa, dan akan pulang jam berapa nantinya ke anak. Walaupun anak nangis dan merengek, peluk dan tenangkan dulu. Kalau masih merengek, coba diajak mengantar sampai depan pintu, depan gang, atau depan komplek. Dengan begitu anak juga akan belajar berkomunikasi dengan baik kepada orangtua.

Saya pernah membuktikannya lho. Ceritanya ada di postingan saya yang ini, hehe.

Begitulah, semoga berguna dan bisa menghindari kebohongan-kebohongan kecil ini ya para orangtua šŸ˜‰

Published by:
Keluarga Parenting

[Parenting] Biarkan Anak Menanggung Konsekuensi Perbuatannya

Postingan ini betul-betul reblog dari artikel diĀ Parents GuideĀ dengan judul yang sama. Hal ini juga yang ditekankan oleh Toge Aprilianto, agar anak menjadi mandiri dengan mengatasi masalahnya sendiri.

ā€œBermain air basah, bermain api hangus.ā€ Masih ingatkah pada pepatah lama ini? Benar, tiap perbuatan manusia memang selalu diikuti akibat. Datang terlambat di kantor ditegur. Telat bayar tagihan kartu kredit didenda. Kadang kita berusaha tidak peduli. Tapi setelah satu-dua kali terantuk akibat ā€“ apalagi kalau akibatnya berat ā€“ biasanya kita jera.

Hal serupa berlaku di dunia anak-anak. Tulisan ini membahas bagaimana membuat anak mengambil pelajaran dari konsekuensi perbuatannya. Ada dua jenis konsekuensi tiap perbuatan: alamiah dan logis.

Konsekuensi Alamiah

Published by:
Parenting

[Parenting] Kebiasaan Buruk 1, Menyalahkan Orang Lain

Saat Naia berumur 10 bulan pernah dia main di rumah ibu saya. Saking asiknya bermain, kepalanya sampai kejedot *bahasa bagusnya sih terbentur, hehee* lemari lalu menangis. Ibu saya lalu mendiamkannya sambil memukul2kan lemari itu dan bilang “lemarinya nakal ya, uh, uh. dah, udah dipukul ya lemarinya”.

Miris ya dengan pola pengasuhan yang sebagian besar ada di Indonesia ini. Dari kecil sudah diajarkan untuk selalu menyalahkan orang lain atau menyalahkan keadaan, bukannya introspeksi diri. Saat sudah dewasa, ya mau menyadari kesalahan bagaimana, lha wong dari kecil sudah terbentuk bahwa dirinya gak pernah salah kok.

Walaupun saya gak tau kata-kata yang seharusnya itu bagaimana, tapi saya selalu menghindari dan menjelaskan kalau tidak ada yang bisa disalahkan. Jadi saat itu saya langsung bilang gak ada yang nakal dan gak ada yang bisa disalahkan. Lemari kan gak bisa kemana-mana dan gak bisa memukul Naia, jadi lemari gak salah. Sakit? Ya sakit kalau kepala kita terbentur sesuatu yang keras.

Di lain waktu saat Naia bermain dengan senang baru saya “iklanin” pentingnya berhati-hati. Ya mengajarkan kehati-hatian ini memang tidak mudah juga dan tidak cukup sekali sih, perlu di”iklan”kan berulang-ulang kali, maka itu kita perlu cadangan sabar yang tak terhingga, hehe. Sampai sekarang walaupun Naia terkadang masih terjatuh dan kejedot, dia cuma cerita tanpa menyalahkan hal lain dan saya juga cuma bilang sakit sambil mengobati yang sakit tadi.

Tidak lupa saya juga bicara baik-baik dengan ibu saya kalau tindakannya bisa mengakibatkan Naia selalu menyalahkan orang lain. Pelan-pelan ibu saya mengerti juga dan Alhamdulillah sekarang sudah tidak seperti itu terhadap Naia :).

Mengajarkan untuk menjadi orang yang tidak pernah salah ini termasuk salah satu kebiasaan salah orangtua di bukuĀ karangan Ayah Edi berjudul “Mengapa anak saya suka melawan dan susah diatur?”. Di postingan 37 kebiasaan saya sudah menyebutkan apa-apa saja kebiasaan-kebiasaan yang salah itu dan kebiasaan ini disebut paling pertama dengan judulĀ “Raja yang tak pernah salah”.

Berjudul seperti itu karena kebiasaan kecil yang sering tidak kita (orangtua) sadari bisa menjadikan dia seperti raja yang sombong yang tidak pernah mau disalahkan. Jadi yuk, para orangtua, hindarkan kebiasaan kecil yang menyebabkan anak selalu menyalahkan orang lain atau keadaan ini. Saat menjadi orangtua saatnya berhati-hati dengan segala yang kita lakukan :D.

Published by:
Keluarga Lomba Blog Parenting

Memberi Mimpi Untuk Pemimpin Kecil

Saya semakin tidak berhenti belajar sejak memiliki anak, terutama belajar mengenai ilmu parenting. Hal itu tidak lain tidak bukan saya lakukan hanya untuk mengetahui cara mengasuh, mendidik, dan membesarkan buah hati saya dan suami dengan ideal sesuai dengan tujuan dan gaya pengasuhan kami.

Alhamdulillah saya dan suami satu suara dalam hal mendidik anak kami. Maka dari itu, peran saya sangat besar dalam hal pengasuhan dan pendidikan anak-anak kami kelak.

Yang pasti, InsyaAllah, hal paling pertama yang harus dan akan saya berikan adalah keimanan. Tanpa keimanan yang kuat, ilmu yang mereka miliki tidak akan cukup bermanfaat. Keimanan yang kuat juga diperlukan untuk menuntun mereka tetap berada pada jalur kehidupan yang baik tanpa menyulitkan siapapun.Ā Keimanan akan menjadikan anak-anak kami tumbuh menjadi anak yang akan selalu memikirkan kebaikan untuk orang lain, lingkungan, serta dunia.

Untuk bisa menjadikan mereka orang yang sangat bermanfaat, saya ingin sekali menanamkan mimpiĀ pada anak-anak saya. Mimpi akan profesi, mimpi akan perubahan lingkungan, maupun mimpi akan perubahan baik yang bisa dilakukan untuk dunia. Mimpi yang ditanamkan sejak mereka kecil akan membuat mereka memilikiĀ passion. Passion yangĀ terus menerus dipupuk akan menjadikan mereka mudah mewujudkan mimpi mereka kelak.

Orang-orang besar yang kita tahu memulai hidupnya dengan memiliki mimpi. Wright bersaudara misalnya. Mereka bermimpi akan adanya mesin yang membuat kita bisa terbang, dan berhasil menciptakan pesawat terbang pertama di dunia pada bulan Desember tahun 1903.

Wright Bersaudara

Penerbangan pertama Wright Bersaudara

Atau seperti pemimipin di negara kita sendiri, Soekarno – Hatta, yang memimpikan kemerdekaan untuk negaranya. Mereka kemudian dapat menggerakkan pemuda-pemuda untuk tidak berhenti berjuang merebut kemerdekaan hingga akhirnya berhasil dijadikan Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia.

Soekarno - Hatta

Soekarno – Hatta

Gambar diambil dari http://uniqpost.com/52862/polemik-pemberian-gelar-pahlawan-nasional-pada-soekarno-hatta/

Saya benar-benar ingin membiasakan mereka untuk bermimpi dan berimajinasi. Dengan mimpi dan imajinasi yang mereka punya, mereka akan berusaha mewujudkannya dengan melakukan hal-hal hebat.

Logic will get you from A to Z; imagination will get you everywhere.
~ Albert Einstein

Bagaimana cara saya membuat mereka berimajinasi? Semenjak Naia masih dalam perut saya, kami (saya dan suami) sudah membelikan buku cerita untuk kami bacakan. Saya percaya, dongeng dan cerita akan membuatnya memiliki banyak sekali pengetahuan dan memicu otaknya untuk terus berimajinasi.

Dongeng juga bisa membantu kita membentuk karakter yang kuat dan pemikiran yang cerdas bagi anak, yang memang diperlukan bagi para pemimpin. Suatu channel parenting yang saya ikuti mengajarkan kami, para orangtua, cara bagaimana menjadikan dongeng sebagai salah satu sarana pembelajaran karakter. Dan hal tersebut bisa dilakukan oleh semua orangtua, tanpa terkecuali.

If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.

~ Albert Einstein

Sejak 1 bulan sebelum melahirkan saya sudah sepenuhnya bekerja dari rumah.Ā Hal itu saya lakukan agar saya punya waktu penuh untuk mengasuh dan mendidik sendiri anak saya di rumah, bukan menyerahkannya ke orangtua saya atau orangtua suami, lebih-lebih menyerahkan pada pengasuh yang kami bayar. Terlebih dalam hal membentuk karakternya.

Bukan apa-apa, karena mendidik karakter itu jauh lebih penting daripada mendidiknya agar menjadi anak pintar dalam hal mata pelajaran. Dan pendidikan karakter itu sangat jauh lebih baik dilakukan oleh saya sendiri sebagai ibu, pendidik pertama bagi anak-anak.Ā Banyak orang-orang berkuasa yang akhirnya menyalahgunakan kekuasannya untuk kepentingan pribadi ~seperti melakukan korupsi atau semacamnya~. Atau orang berpendidikan tinggi mengabaikan hal kecil yang sangat penting, seperti mengantri atau membuang sampah di tempatnya. Menurut saya, hal tersebut salah satunya dikarenakan kurang kuatnya pemahaman karakter pada diri mereka. Perlu waktu bertahun-tahun untuk membiasakan diri melakukan hal-hal baik tersebut.

Salah satu lagi karakter yang saya ingin anak-anak saya miliki adalah tekad berjuang. Mimpi dan imajinasi yang dimiliki hanya akan menjadi mimpi apabila tidak diwujudkan. Dan untuk mewujudkan itu, mereka semua perlu untuk memiliki tekad berjuang yang besar. Tekad itu akan menjadikan mereka sangat sulit untuk menyerah dan mendorong untuk selalu mencoba.

You never fail until you stop trying

~ Albert Einstein

Semoga saya sebagai ibu, yang memiliki peran sangat penting bagi perkembangan dan pendidikan pemimpin kecil kami, bisa terus konsisten dalam mendidik dan mengasuh anak-anak kami seperti yang telah kami sepakati sebelumnya. Aamiin.

Lomba Penulisan Blog ā€œPeran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecilā€

Lomba Penulisan Blog ā€œPeran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecilā€

Links:

Published by:
Parenting

[Parenting] Kunci Utama Sebagai Orangtua

Hum, sebenarnya lanjutan dari tujuan pengasuhan itu adalah gaya pengasuhan. Dengan adanya kesepakatan tujuan pengasuhan antar suami istri, selanjutnya ya menerapkan gaya pengasuhan seperti apa yang cocok. Sebelumnya saya memang pernah menuliskan 4 gaya pengasuhan menurut Diana Baumrind. Namun, saya berniat untuk menuliskannya lagi, mungkin lain waktu šŸ˜€

Sekarang saya ingin berbagiĀ kunci utama yang harus dimiliki oleh orangtua menurut pengalaman dan pengamatan saya sendiri. Kuncinya itu ada dari dalam hati, cieeeh. Maksudnya, kuncinya adalah sifat yang harus ~banget kayanya~ dimiliki oleh orangtua.

Menurut saya ya, kunci itu adalah ikhlas, sabar, dan percaya saja. Dengan tiga hal itu, perjalanan mengasuh buah hati (termasuk mendidiknya menjadi orang yang bertanggung jawab) menjadi ringan dan mudah.

Sabar

Saya sendiri merasa masih kurang bisa sabar dalam menghadapi buah hati. Memang pelajaran sabar dan ikhlas itu adalah pelajaran hidup yang paling sulit kan? hehe. Tapii, kurang sabar saya masih bisa saya kendalikan, Alhamdulillaah *semoga semakin bisa sabar*. Jadi kalau terasa sedikit kehilangan kesabaran ~belum sampai tahap emosi~ saya biasanya berdiam diri dulu sedangkan anak bermain bersama papanya. Atau, kalaupun di rumah sedang hanya berdua saja, ya saya berdiam diri dengan anak bermain sendiri. Kalau dia tidak bisa bermain sendiri dan terus merengek ke saya, biasanya saya tetap diam namun melakukan apa yang diinginkan oleh anak sambil memberinya pengertian “mama sedang butuh waktu sendiri, sebentar saja, sampai mama ajak Naia main lagi”. Ya, kalau yang baru saja menerapkan pengertian begitu mimpi sih kalau anaknya bisa langsung mengerti dan langsung anteng main sendiri lagi. Tapi, kalau kita memang terbiasa berdialog begitu, biasanya anak bisa langsung mengerti dan bermain sendiri lagi.

Sabar Menunggu Naia Baca Buku

Sabar Menunggu Naia Baca Buku

Sabar itu benar-benar sangat diperlukan ketika kita mengajarkan anak mandiri. Ya misalkan saja mengajarkan anak untuk bisa makan sendiri, atau dia sudah ingin melakukannya sendiri walau kita masih ingin menyuapinya. Nah, nungguin anak makan itu gak sebentar. Walaupun kita juga ikutan makan, anak ya selesai makannya jauh lebih lama ketimbang kita. Belum lagi kalau berantakan *ini sih pasti ya, hehehe*. Berhubung koordinasi tangannya belum sempurna, ya ada lah nasi atau lauk yang terlempar kesana kemari šŸ˜›

Hal yang sama juga berlaku ketika menemani anak bermain. Harus sabar mengikuti kemana anak pergi dan mau main apa, asal yang aman-aman saja. Pokoknya bagi saya dan suami, selama hal itu aman ya kita tidak pernah akan melarang agar hasrat keingintahuannya tidak dibatasi. Tapi, memang kita gak pernah melarang sih, paling-paling kalau sudah tidak aman, ya anaknya kita amankan/ jauhkan dari tempat itu lalu diberi pengertian kenapa gak boleh kesitu.

Benar! Orangtua juga harus sabar dalam memberi pengertian dan menjawab segala pertanyaan anak. Apalagi kalau anak sudah tahap “cerewet-cerewetnya”, ya kita harus sabar selalu mendengarkan ceritanya berulang kali, juga harus sabar menjawab pertanyaannya yang berulang kali. Dari situlah anak belajar, melalui pengulangan. Tapi, kalau kita capek menjawab gimana? Coba saja ajak anak mencari tau jawabannya sendiri, mungkin dengan begitu akan langsung tertanam di otaknya mengenai jawaban pertanyaannya itu hehehe.

Ikhlas

Nah, ini nih salah satu yang mudah dibicarakan tetapi paling suliit dilakukan. Hum, maksudnya ikhlas dalam mengasuh anak itu ya kita gak perlu memikirkan apa yang nanti akan diberikan ke kita. Ikhlas menjalani dan menjaga amanah yang dimiliki. Dengan terus adanya rasa ikhlas ini, rasanya sabar akan selalu mengiringi.

Ikhlas juga maksudnya menerima hasil yang diberikan oleh anak. Seperti dalam hal belajar makan sendiri, kita ya ikhlas saja dengan hasil nasi yang tercecer dan berantakan di lantai, toh bisa kita bereskan. Yang penting kita sudah meningkatkan kepercayaan dirinya untuk makan sendiri. Selanjutnya kemampuan makan sendirinya pasti meningkat, jadi sedikit yang tercecer dan lama-lama ya sepenuhnya bisa makan sendiri tanpa ada yang tercecer.

Keikhlasan tetap diperlukan juga lho dalam mengajari tanggung jawab. Misalnya saja, dia harus membereskan mainannya setelah bermain atau sebelum tidur. Nah, kita cukup memberi tahu kalau dia harus membereskan mainan (kalau perlu ya kita bantu sedikit). Ikhlas dengan hasil yang diperoleh anak. Mungkin kita tidak puas dengan penyusunan mainannya, tapi toh dia sudah belajar bertanggung jawab, jadi ya ikhlas saja dengan hasilnya šŸ˜€

Dengan keikhlasan ini juga keinginan untuk bisa menjadi orangtua yang lebih baik lagi semakin berkembang. Dengan begitu, kita jadi terus menerus menambah ilmu kita mengenai pengasuhan yang baik sesuai dengan gaya pengasuhan yang telah disepakati sebelumnya.

Percaya saja

Ini sebenarnya pelajaran dari ruasdito* sih, hehe. Jadi, maksudnya dalam mengajarkan anak kemandirian, kita cukup perlu percaya saja dengan kemampuannya. Dia bisa loh melakukan sesuai dengan harapan kita, bahkan terkadang melebihinya.

Seperti dalam hal membereskan mainan. Kita gak perlu capek-capek teriak dan sekuat tenaga membuatnya membereskan mainannya sendiri. Ya dijelaskan saja kenapa dia harus membereskan mainannya dan itu merupakan tanggung jawabnya dia. Nah, kalau kita percaya saja diaĀ  bisa melakukan itu, insyaAllah dia memang bisa. Namun, balik lagi ke sabar. Kita harus sabar karena membereskan mainan tidak semudah yang kita bayangkan šŸ˜€

Dia bahkan bisa merapikan sandal yang habis dipakainya untuk bermain di luar. Iya, terkadang saya sendiri jadi malu sama Naia. Sehabis bermain, saat sandalnya saya copot, dia langsung mengambil sandal itu dan meletakkannya di rak sepatu yang ada di depan rumah kita. Sedangkan saya, saya biasa membiarkan sandal ngejogrok *apa bahasa bagusnya yak* di depan pintu karena merasa nanti akan dipakai lagi, huhu. Akhirnya sekarang-sekarang saya pun langsung meletakkan sandal di rak sepatu. Kalau mau dipake lagi ya tinggal ambil lagi, hehe. Agar kebiasaan baik Naia tidak berubah, saya harus selalu mencontohkannya. Anak belajar dari contoh kan? šŸ˜€

*RuasditoĀ (rute-asuh-didik-toge) ini diperkenalkan oleh Toge Aprilianto, penulis buku “Saatnya Melatih Anakku Berpikir”, buku ringan dan tipis namun isi yang terkandung merupakan pelajaran dan petunjuk pengasuhan anak secara rinci.

Itulah 3 hal paling mendasar yang benar-benar diperlukan oleh orangtua *menurut saya loh*. Kalau merasa ada lagi yang lain, silakan berkomentar yaa. Selamat menikmati menjadi orangtua!

Published by:
%d bloggers like this: