Momopururu » Blog Archives

Tag Archives: pengasuhan

Keluarga Lomba Blog Parenting

Memberi Mimpi Untuk Pemimpin Kecil

Saya semakin tidak berhenti belajar sejak memiliki anak, terutama belajar mengenai ilmu parenting. Hal itu tidak lain tidak bukan saya lakukan hanya untuk mengetahui cara mengasuh, mendidik, dan membesarkan buah hati saya dan suami dengan ideal sesuai dengan tujuan dan gaya pengasuhan kami.

Alhamdulillah saya dan suami satu suara dalam hal mendidik anak kami. Maka dari itu, peran saya sangat besar dalam hal pengasuhan dan pendidikan anak-anak kami kelak.

Yang pasti, InsyaAllah, hal paling pertama yang harus dan akan saya berikan adalah keimanan. Tanpa keimanan yang kuat, ilmu yang mereka miliki tidak akan cukup bermanfaat. Keimanan yang kuat juga diperlukan untuk menuntun mereka tetap berada pada jalur kehidupan yang baik tanpa menyulitkan siapapun. Keimanan akan menjadikan anak-anak kami tumbuh menjadi anak yang akan selalu memikirkan kebaikan untuk orang lain, lingkungan, serta dunia.

Untuk bisa menjadikan mereka orang yang sangat bermanfaat, saya ingin sekali menanamkan mimpi pada anak-anak saya. Mimpi akan profesi, mimpi akan perubahan lingkungan, maupun mimpi akan perubahan baik yang bisa dilakukan untuk dunia. Mimpi yang ditanamkan sejak mereka kecil akan membuat mereka memiliki passion. Passion yang terus menerus dipupuk akan menjadikan mereka mudah mewujudkan mimpi mereka kelak.

Orang-orang besar yang kita tahu memulai hidupnya dengan memiliki mimpi. Wright bersaudara misalnya. Mereka bermimpi akan adanya mesin yang membuat kita bisa terbang, dan berhasil menciptakan pesawat terbang pertama di dunia pada bulan Desember tahun 1903.

Wright Bersaudara

Penerbangan pertama Wright Bersaudara

Atau seperti pemimipin di negara kita sendiri, Soekarno – Hatta, yang memimpikan kemerdekaan untuk negaranya. Mereka kemudian dapat menggerakkan pemuda-pemuda untuk tidak berhenti berjuang merebut kemerdekaan hingga akhirnya berhasil dijadikan Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia.

Soekarno - Hatta

Soekarno – Hatta

Gambar diambil dari http://uniqpost.com/52862/polemik-pemberian-gelar-pahlawan-nasional-pada-soekarno-hatta/

Saya benar-benar ingin membiasakan mereka untuk bermimpi dan berimajinasi. Dengan mimpi dan imajinasi yang mereka punya, mereka akan berusaha mewujudkannya dengan melakukan hal-hal hebat.

Logic will get you from A to Z; imagination will get you everywhere.
~ Albert Einstein

Bagaimana cara saya membuat mereka berimajinasi? Semenjak Naia masih dalam perut saya, kami (saya dan suami) sudah membelikan buku cerita untuk kami bacakan. Saya percaya, dongeng dan cerita akan membuatnya memiliki banyak sekali pengetahuan dan memicu otaknya untuk terus berimajinasi.

Dongeng juga bisa membantu kita membentuk karakter yang kuat dan pemikiran yang cerdas bagi anak, yang memang diperlukan bagi para pemimpin. Suatu channel parenting yang saya ikuti mengajarkan kami, para orangtua, cara bagaimana menjadikan dongeng sebagai salah satu sarana pembelajaran karakter. Dan hal tersebut bisa dilakukan oleh semua orangtua, tanpa terkecuali.

If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.

~ Albert Einstein

Sejak 1 bulan sebelum melahirkan saya sudah sepenuhnya bekerja dari rumahHal itu saya lakukan agar saya punya waktu penuh untuk mengasuh dan mendidik sendiri anak saya di rumah, bukan menyerahkannya ke orangtua saya atau orangtua suami, lebih-lebih menyerahkan pada pengasuh yang kami bayar. Terlebih dalam hal membentuk karakternya.

Bukan apa-apa, karena mendidik karakter itu jauh lebih penting daripada mendidiknya agar menjadi anak pintar dalam hal mata pelajaran. Dan pendidikan karakter itu sangat jauh lebih baik dilakukan oleh saya sendiri sebagai ibu, pendidik pertama bagi anak-anak. Banyak orang-orang berkuasa yang akhirnya menyalahgunakan kekuasannya untuk kepentingan pribadi ~seperti melakukan korupsi atau semacamnya~. Atau orang berpendidikan tinggi mengabaikan hal kecil yang sangat penting, seperti mengantri atau membuang sampah di tempatnya. Menurut saya, hal tersebut salah satunya dikarenakan kurang kuatnya pemahaman karakter pada diri mereka. Perlu waktu bertahun-tahun untuk membiasakan diri melakukan hal-hal baik tersebut.

Salah satu lagi karakter yang saya ingin anak-anak saya miliki adalah tekad berjuang. Mimpi dan imajinasi yang dimiliki hanya akan menjadi mimpi apabila tidak diwujudkan. Dan untuk mewujudkan itu, mereka semua perlu untuk memiliki tekad berjuang yang besar. Tekad itu akan menjadikan mereka sangat sulit untuk menyerah dan mendorong untuk selalu mencoba.

You never fail until you stop trying

~ Albert Einstein

Semoga saya sebagai ibu, yang memiliki peran sangat penting bagi perkembangan dan pendidikan pemimpin kecil kami, bisa terus konsisten dalam mendidik dan mengasuh anak-anak kami seperti yang telah kami sepakati sebelumnya. Aamiin.

Lomba Penulisan Blog “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil”

Lomba Penulisan Blog “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil”

Links:

Published by:
Parenting Review

37 Kebiasaan

Oke, jadi beberapa waktu lalu saya dan suami sepakat untuk memberikan bacaan ringan ke tetangga sebelah tentang pengasuhan anak. Heheh, bukan berarti kita udah paham, ya sama-sama belajar sih, cuman pengen aja ilmunya gak cuma kita yang punya, tapi semua orang tua juga punya, dimulai dari yang terdekat 😀

Nah, nemu buku bagus deh waktu jalan sambil kondangan ~heheh~ karangan ayah Edy, judulnya sih “Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur?” tapi sub judulnya “37 Kebiasaan Orangtua yang Menghasilkan Perilaku Buruk Pada Anak”, hihi. Jadi, kalau sekilas sih ini kaya di pihak orangtua yang menyetujui anaknya susah diatur, padahal di balik itu buku ini menjelaskan kesalahan yang sering dibuat oleh para orangtua secara tidak sadar. Bagus kan? 😀

Buku 37 Kebiasaan

Buku 37 Kebiasaan

Ah iya, maksud saya nulis ini adalah mau membagi apa saja 37 kebiasaan itu. Eh, tapi gak saya jelaskan satu-satu yaa, kalau mau lebih jelas mungkin beli bukunya aja, gak mahal juga kook, hehehe.

37 Kebiasaan yang salah dan dapat menghasilkan perilaku buruk pada anak itu antara lain: *di bukunya, 1 kebiasaan 1 bab*

  1. Selalu menyalahkan orang lain atau hal lain. Di buku sih judulnya “Raja yang Tak Pernah Salah”
  2. Berbohong kecil dan sering. Contohnya: kalau kita mau pergi, sering berbohong “Mama/papa hanya pergi ke depan sebentar, gak lama”, padahal perginya bisa seharian penuh 😛
  3. Banyak mengancam.
  4. Bicara tidak tepat sasaran. Kaya apa tuh? Misalnya, padahal kita marah karena barang kesayangan kita dipecahkan oleh anak, tapi kita jadi mengungkit-ungkit kesalahannya yang lama2 bukannya menjelaskan apa yang harus diperbuat lain kali.
  5. Menekankan pada hal-hal yang salah. Mirip dengan yang nomer 4 sih 😀
  6. Merendahkan diri sendiri. Misalnya dengan menekankan kalau main PS terus nanti papa marah *yang ngomong mamanya*.
  7. Papa dan mama tidak kompak. Yang satu membela, yang satu menghukum. Harusnya dalam mengasuh anak, orangtua sudah sepakat dan satu suara.
  8. Campur tangan kakek, nenek, tante, atau pihak lain. Di sini kita jadi harus memastikan kepada siapapun untuk tidak ikut campur atau justru mendukung pola pengasuhan kita.
  9. Menakuti anak. Contohnya itu saat mendiamkan anak nangis, “Hayo, kalo nangis terus nanti disuntik lho”.
  10. Ucapan dan tindakan tidak sesuai. Misalnya kita udah berjanji mau memberikan hadiah, tapi ternyata tidak. Atau akan menghukum anak tapi karena tempat dan waktunya belum pas, jadi terundur dan lupa. Anak akan jadi sulit percaya kepada orangtua nantinya.
  11. Hadiah untuk perilaku buruk anak. Misalnya anak merengek untuk membeli jajanan tidak sehat dan kita gak mengabulkannya. Tapi dia terus merengek sampai kita tidak tahan dan akhirnya mengalah. Jajanan itu termasuk hadiah untuk perilaku rengekan tersebut.
  12. Merasa salah karena tidak memberikan yang terbaik. Mungkin karena kedua orangtua bekerja, jadi merasa bersalah jarang bertemu akhirnya memaklumi perilaku buruk anak.
  13. Mudah menyerah dan pasrah.
  14. Marah yang berlebihan.
  15. Gengsi untuk menyapa.
  16. Memaklumi yang tidak pada tempatnya. Misalnya anak kita bertengkar dengan temannya dan anak kita memukul. Terkadang dimaklumi dan bicara “Maklumlah, namanya juga anak2”.
  17. Penggunaan istilah yang tidak jelas maksudnya. Misalnya, “Awas, jangan macam-macam ya”. Definisikan “macam-macam” itu.
  18. Mengharap perubahan instan.
  19. Pendengar yang buruk. Sebelum anak menjelaskan panjang lebar dan baru 1 kalimat keluar, kita sudah memarahi dan menasehatinya panjang lebar. Nantinya anak jadi enggan bercerita dan enggan terbuka.
  20. Selalu menuruti permintaan anak.
  21. Terlalu banyak larangan.
  22. Terlalu cepat menyimpulkan. Mirip dengan no. 19 sih. Anak baru menjelaskan, kita seolah2 sudah mengerti dan membuat kesimpulan yang salah, jadi langsung memarahi panjang lebar.
  23. Mengungkit kesalahan masa lalu.
  24. Suka membandingkan. Ingat selalu bahwa setiap manusia itu unik, termasuk anak kita dengan anak-anak lainnya.
  25. Paling benar dan paling tahu segalanya.
  26. Saling melempar tanggung jawab.
  27. Kakak harus selalu mengalah. Kita harus selalu bertindak adil. Walaupun si adik masih kecil, tetap harus diberitahukan mana yang benar dan mana yang salah.
  28. Menghukum secara fisik. Sudah pasti tau ya, memukul.
  29. Menunda atau membatalkan hukuman.
  30. Terpancing emosi. Agak mirip dengan nomor 11 nih sepertinya. Jadi, kita harus bersabar dan tahan dengan rengekan anak dan tetap konsisten dengan yang kita katakan.
  31. Menghukum anak saat kita marah. Sebaiknya jika sudah tidak bisa tertahan lagi, segera menjauh dari anak dan pilih cara terbaik untuk menenangkan diri.
  32. Mengejek.
  33. Menyindir.
  34. Memberi julukan yang buruk. Julukan ini seperti “cengeng”. Jika anak terus-menerus diberi julukan cengeng sejak kecil, maka akan tertanam di otak kalau dia adalah pribadi yang cengeng.
  35. Mengumpan anak yang rewel.
  36. Televisi sebagai agen pendidik anak.
  37. Mengajari anak untuk membalas.

Yah, kira-kira begitulah isi buku itu, walaupun bukan penjelasan lengkap dan cuma daftar kebiasaannya saja, tapi lumayan kan? 😛

Dan yang terakhir, pengasuhan dan pendidikan itu dilakukan oleh kedua orangtua. Jadi, jangan ragu-ragu menghabiskan banyak waktu untuk mengkomunikasikan pengasuhan dan pendidikan anak kita kelak seperti yang diinginkan. Komunikasi antar orang tua itu sangat penting untuk menjaga kekompakan dan menghasilkan kesepakatan pola pengasuhan. 🙂

Published by:
Keluarga

Nina

Hehe, akhir-akhir ini saya nontonin video-video Nina lagi. Lumayan, buat acuan belajar pengasuhan anak. Apalagi, anak saya cewe juga, kaya Nina 😀

Awalnya sih waktu itu entah kenapa saya saangat bosan, jadinya saya liat-liat hal yang mungkin bisa bikin suasana hati saya berubah. Dan, saya ingat dengan video-video Nina ini, jadilah saya nonton-nontonin ulang hehe

Nina itu siapa?

Kalo ada yang sering nonton Nina di youtube sih tau yaa, hehe. Buat yang ga tau, ini video terakhirnya Nina dari channel http://www.youtube.com/user/geofg

Selama 6 tahun, papanya Nina selalu meng-upload video aktifitas Nina sehari-hari. Mulai dari nina belajar ngomong, baca, sampai akhirnya bisa merekam dirinya sendiri.

Nah, videonya sekarang sudah gak ada karena Nina sudah besar dan butuh privasi. Kalau mau tau alasannya sih, nonton video terakhirnya aja.

Saya bisa belajar banyak dari pola pengasuhan orang tuanya. Kapan-kapan saya ceritain apa aja yang bisa saya pelajari dari video-video itu ya tentang pengasuhan orang tuanya yaa 😀

The point is I am so admire her parents and so glad to get the lesson for raising up a child.

Published by:
%d bloggers like this: